Laron – Siluet Telapak Tangan – Sembahyang Bulan – Sendu Batur – Tuhan tak Mendengar Doamu

Karya . Dikliping tanggal 5 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Laron

Tak ia temukan 
jalan pulang 
Setelah ia tunaikan 
mimpi menuju cahaya 
dan gugur sepasang 
sayapnya 
(2015) 

Siluet Telapak Tangan 

Dan terbayang sungai 
di telapak tangan. Dan 
terlihat beberapa kematian 
kecil yang memintas.
Bulan merah padam 
setia berlayar. Menjalarkan 
cahaya tembus sampai dada.
Kau masih saja laju 
sebagai nasib. Masih 
berupaya keluar dari 
mimpi yang mengurung 
sedemikian karib.
(2015) 

Sembahyang Bulan 

Duduk dan diam 
Dupa menyala di dalam 
Raga ini piatu 
Jauh darimu 
Melintasi kabut 
Sebuah fana berlarut 
Rumah yang kusinggahi 
Tak menggenapkan tapa 
Cahaya semu 
Jalan tak bertuju 
Semoga dalam telaga diri 
Kutemukan puisi sejati 
Sebelum bulan purnama 
Sembahyang paripurna 
(2015) 

Sendu Batur 

Di balik kokoh bebatumu 
kulihat sendumu Batur.
Gumpal awan membalut 
sedih kisahmu berlarut.
Semakin tambah merasuk 
tak kuasa menusuk lubuk.
Batur yang tegar dan tegak 
diam menghitung almanak.
Beberapa waktu lagi kisah 
bertahan atau dipuihkan.
(2014) 

Tuhan tak Mendengar Doamu 

Tuhan tidak akan mendengar doamu.
Saat ini Tuhan sedang sibuk. Sedang 
memilah-milah ribuan doa para buaya 
di kebun binatang raja kita yang buta.
Usaha yang sia-sia sebenarnya. Tuhan 
sedang ingin mencari tahu barangkali 
ada doa yang memihak kepada kita.
(2015) 
Putu Gede Pradipta, lahir dan tinggal di Denpasar. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Dwijendra Denpasar. Puisinya tergabung dalam antologi Bersepeda ke Bulan.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Gede Pradipta
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 5 Juli 2015