Laut tak Pernah Lupa Mengirim Airnya ke Pantai

Karya . Dikliping tanggal 12 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina
Kemarin orang-orang dari laut itu dibawa Kantib. Empat puluh orang. Sembilan belas perempuan, empat lelaki dan enam belas anak-anak. Bersama mereka satu mayat lelaki dewasa.
Perahu tongkang kecil, 2,5 meter lebarnya dan 7,5 meter panjangnya, terdampar di pantai. Penumpangnya bergeletakan tanpa tenaga di sekitar perahu. Pagi yang dingin di dua hari yang lalu. Pasi wajah orang-orang asing itu, bibirnya pecah-pecah, lebih mirip mayat ketimbang tamu dari antah berantah. Haus dan lapar. Tak berdaya hendak merusak ketentraman pantai dengan kedatangannya. Meski begitu, orang-orang dari laut yang tak berdaya itu mampu membangunkan dusun pantai dari sepinya yang purba.
Melihat perahu yang kukuh di tempatnya, bertahan dari tarikan lidah laut yang datang sesekali, orang heran perahu sekecil itu bisa memuat empat puluh orang.
Orang-orang, tua-muda, perempuan-laki-laki, berdatangan ke pantai. Ada kecewa karena mereka berharap melihat paus terdampar. Tetapi hal baru seperti itu tetap jadi tontonan. Seolah meneliti, apakah ada seseorang di antara mereka yang menggeletak dikenalinya. Orang-orang yang terlelap atau pingsan. Tidak ada yang menolong, sekian lama sebelum kepala dusun meminta semua orang membawa mereka ke serambi puskesmas.
Seorang dari mereka telah meninggal, teronggok di dasar perahu. Bau mayat menguar ketika orang menurunkannya. Cepat-cepat dibawa untuk dimakamkan.
Kaum ibu memasak bubur untuk mereka. Seperti yang dilakukan tadi pagi, sebelum mereka diangkut dengan truk ke kota. Dan mayat yang sudah dikuburkan diambil lagi, untuk pencatatan sebentar sebelum dikuburkan lagi.
Sejak hari itu, banyak orang melihat-lihat laut dari pantai. Seolah mengawasi kalau-kalau ada yang datang, menyusul mereka yang sudah dibawa ke kota.
Aku duduk di serambi bersama suamiku, seperti ikut-ikutan mengawasi. Pantai kelihatan dari sini, meski sepetak-sepetak, dibatasi batang-batang pohon kelapa yang berdiri di antara pantai dan rumah.
“Orang itu meninggal di perahu. Berapa hari di laut? Aku belum pernah lihat empat puluh orang… ditambah satu mayat…,” berkata suamiku. Tak selesai ucapannya. Ia tak berniat menyelesaikannya. Ia memandangku dan aku melihatnya dari sudut mata.
“Benar. Tapi kenapa mesti menyabung nyawa? Perahu yang berlebihan muatan, bagaimana mereka bisa tidur sementara tempatnya sekecil itu?” Aku membayangkan apa yang terjadi di lautan. Berhari-hari di perahu tanpa makanan yang cukup. Karena di mana lagi mereka tempatkan bahan makanan, kecuali sedikit. Imigran ilegal, begitu sebut pak kepala dusun. Mereka berkelit, bersembunyi dari kepolisian. “Dan kenapa tidak dibuang ke laut?”
“Mayat itu? Agama mereka tentu mengajarkan untuk menguburnya. Mungkin seperti ikan tangkapan melaut. Nelayan sesekali menyirami air laut pada ikan tangkapannya, agar segar dan tak terlalu amis.”
“Tapi kenapa sebuah negara bisa mengusir warganya? Jangan-jangan mereka itu kaum pemberontak?” kupandangi suamiku. Muncul kecemasan. Pemberontakan selalu berarti musuh negara, pengkhianat bangsa, orang-orang yang mesti dihukum mati. Kami bertemu pandang. Ia mengangkat bahu.
Siang hari sudah, suamiku masih belum tidur, menyiapkan diri untuk melaut nanti malam. Pantai mulai ditinggalkan para pengawas. Aku pergi ke sumur, untuk mengurangi panas dengan mengguyur wajah, ketika kulihat sesosok tubuh meringkuk di kamar mandi yang tak terkunci.
“Siapa kamu?” Kukalahkan takutku dengan membentaknya, masih berdiri di ambang pintu. Kuamati sosok itu, sambil kuredam degup jantung yang berpacu karena kaget. “Ah! Kau salah satu dari mereka? Ya ya, kau tentu salah satunya.”
Barangkali mendengar kagetku, suamiku datang. Perempuan itu semakin memperkecil tubuhnya. Meringkuk di pojok bak mandi. “Please, help me. Help me!” Ia merintih. Aku gemetar memandangnya. Tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Suamiku masuk dan berusaha mengangkat perempuan itu. Basah tubuhnya. Ia seperti berusaha menyembunyikan lekuk tubuhnya yang tercetak karena air di bak mandi. Aku tak bergerak, perasaan iba dan takut membuatku gamang.
Perempuan itu lebih tua dariku beberapa tahun, ukurku. Ia sedang dibopong suamiku. Kuikuti di belakang. Ia tampak meronta-ronta, tetapi terlalu lemah. Aku tak tahu apa yang dipikirkan suamiku, apa yang ditanggungnya. Tapi dapat kupahami, apa yang menuntunnya hanyalah rasa kemanusiaannya. Tiba-tiba aku terharu karenanya.
Selesai diletakkan di bangku, ia memintaku menghandukinya. Bergegas ke kamar, kuambil handuk dan pakaian yang bisa dikenakan perempuan asing itu. Kembali ke ruangan, tak kulihat suamiku di situ.
“Maaf,” kataku ragu-ragu menghanduki rambut perempuan asing itu. ia menggenggam pergelangan tanganku, menariknya ke bawah. Ia tersenyum dan tampak olehku matanya yang berkaca-kaca. Kutarik dua tanganku. Perasaan gamang belum lagi hilang. Ia orang asing, tak tahu baik buruknya. Tak tahu kenapa kawan-kawannya harus dibawa dengan pengawalan Kantib.
Kudengar suara di dapur, begitu saja kutolehkan pandang ke arah suara. Suamiku menyalakan kompor.
“Aku buatkan teh atau kopi panas?” tanyanya padaku tanpa melongokkan wajah. Kujawab ada susu kaleng.
Perempuan itu masih mengeringkan dirinya. Rasa kasihan akhirnya mengalahkan kegamangan. Kupanggil ia, dan memintanya berganti pakaian di kamar. Segera sadar, ia tentu tak mengerti bahasaku. Jadi kupakai bahasa isyarat, menunjuk-nunjuk pakaian kering di pangkuannya, lalu menunjuk kamar di belakang. Ia memperhatikanku dan menengok menuruti arah yang kutunjuk.
Suamiku tertawa, ia kembali dan duduk di dekatku. Aku meninjunya.
“Ia tentu tak paham bahasamu,” kataku bersungut-sungut.
“Terimakasih. Terimakasih banyak, Tuan dan Nyonya.”  Kami terenyak. Kulihat ia tersenyum.
“Kau bukan salah satu dari mereka?” tanya suamiku dengan nada keras.
Kulihat rona merah wajah suamiku. Aku tahu ia malu. Kubayangkan suamiku menilai bantuan yang diberikannya tadi tak layak untuk seorang tunawisma. Masih keheranan, kutuntun ia ke kamar, dan menunggunya berganti pakaian. Sebentar kemudian ia kembali.
“Siapa dirimu?” serang suamiku. Aku mendengar nadanya berubah, alih-alih berwelas asih.
“Namaku Mutia Mirah” Suamiku diam. Ia memandang meja di depannya dan sekali-kali terus ke depannya, perempuan asing itu. Aku bertanya-tanya juga. Tetapi aku masih meyakini, ia salah satu penumpang perahu yang terdampar itu. Hanya saja tak tahu kenapa ia bisa berbahasa Indonesia.
“Rusuh Aceh menyeretku, ayah, ibu dan paman ke laut. Ombak dan angin mengantar kami ke pantai itu. Pesisir Kyaukpyu. Orang-orang di sana mengasuhku. Nasib menggariskan luka padaku. Ibu meninggal, tak lama kemudian ayah, lalu paman. Kehidupan jadi berat di tanah Kyaukpyu. Minoritas di mana pun mestilah ditindas. Tetapi belakangan, itu lebih dari penindasan. Saudara kami lebih mudah mati. Barangkali negeri kami yang dulu kami tinggalkan masih lebih bagus, dan kami tak mampu beradaptasi di negeri itu.” Ia berkisah apa yang Tuhan timpakan padanya.
Aku memperhatikan raut wajahnya. Orang Aceh? “Kalau kau warga negeri ini, bukankah itu bagus? Kau bisa mencari saudaramu di Aceh dan tinggal di sana,” kataku.
Kurasakan beban di pikiranku hilang. Tetapi mendung masih menggayuti wajah perempuan di depan.
“Aku tidak punya KTP. Pun yang lainnya,” rintihnya. “Aku hanya punya ini.” Ia mengambil sesuatu dari bagian bawah celana, tempat yang tidak wajar. Sebuah saku tambahan. Ia membuka lipatan. Sebuah foto.
Suamiku mengambilnya dan kami memandangi gambar yang sedikit kabur. Sebuah keluarga, barangkali. Latar belakangnya entah pemandangan apa.
“Bayi di gendongan perempuan itu adalah aku. Dan keduanya itu ayah ibuku.” Jelasnya.
“Bagaimana foto ini menunjukkan tanah Aceh?” tanya suamiku. Aku membenarkannya. Pemandangan latar belakang yang tak jelas. Tak ada petunjuk apa pun. Lagipula, untuk apa?
Perempuan itu tertunduk lesu. Suamiku bergegas ke dapur, mematikan kompor, karena terdengar suara ceret menandakan air telah panas.
Kubayangkan sebuah keluarga kecil mengungsi karena kekacauan politik. Tetapi tak menemukan tempat yang lebih baik. Kekacauan politik pula yang akhirnya memangsa mereka.
“Aceh sudah lebih baik. Kekacauan waktu itu, kubaca di berita-berita, memang tak kuikuti terus, aku ingat, itu hanya sebentar.” Kuterima segelas susu yang disodorkan suamiku ke meja. Ia letakkan segelas lainnya di depan perempuan dari laut. “Kenapa tidak kembali ke Aceh? Tentu kabar soal gencatan senjata, soal perdamaian sampai jadi berita internasional.”
Perempuan itu menggeleng. “Tidak tahu, Nyonya. Kami tidak tahu. Sampai tsunami datang ke pantai kami. Banyak orang diseret laut. Ibu meninggal waktu itu. Seminggu kemudian ayah menyusul karena luka-luka akibat bencana itu.”
Perempuan itu menangis. Suamiku pamit pergi. Ia tak suka pembicaraan yang mengharukannya.
Kugenggam tangan perempuan itu di atas meja. Tangannya kurus, tak bertenaga, tetapi hangat. Kurasakan berat dunia yang dihadapinya. Pergi dari tanah nenek moyangnya, terusir oleh kekerasan dengan harapan yang baik, tetapi harapan itu kandas karena tanah yang ditinggali digerus oleh kekerasan yang sama.
“Kalau suamiku membolehkan, tinggallah di rumah ini.” Ia menatapku, dalam. Tetapi kembali menangis. Kuambil sapu tangan dan kuberikan padanya. “Menangislah. Tapi biarkan kucoba membujuk suamiku.”
“Jangan, Nyonya. Jangan. Saya imigran gelap. Seorang yang tak punya identitas. Seperti hewan di muka bumi ini. Kalian akan susah karenaku.”
“Kami akan merahasiakan semuanya. Hiduplah sebagai saudara kami.”
Terpikir olehku membuatkan gubuk kecil untuknya. Karena bagaimana akan jadi pergunjingan jika ia serumah dengan suamiku. Tetapi jika pun sebuah rumah untuknya, saudara-saudaraku dan orangtuaku akan bertanya dan memarahiku karena orang asing mendiami tanah keluarga.
Perempuan itu menggeleng. Tetap pada pendiriannya, menolak. Tak tahu aku apa yang bisa kulakukan untuk menolongnya.
“Kulitmu, wajahmu, sama persis dengan kami. Karena memang kau orang Indonesia. Hanya logatmu. Tapi kukira itu bisa dilatih….” bujukku. Telah kuyakinkan diriku sendiri untuk memajukan pertolongan tanpa perlu berhitung.
“Seseorang akan menjemputku di Pangumbahan, Nyonya. Tanggal 25. Ya, tanggal 25. Masih jauhkah Pangumbahan?” ia memotong ucapanku.
“Kenapa kau masih mau meneruskan pelarianmu? Di sinilah negerimu. Di sini tanah nenek moyangmu. Bukan negeri lainnya. Kenapa harus keras kepala?”
Ia menangis lagi. Aku menyesal terlalu kasar. Tapi aku masih sangsi kalau suamiku setuju ideku menampungnya.
“Ini soal hukum. Ini soal negara. Terlalu pelik dan besar bagiku, bagi Nyonya dan suami Nyonya. Aku hanya sebutir pasir di pantai. Banyak pengungsi lainnya, saudara-saudara kami, bertumbangan di laut. Rasanya aku tak layak dapat keistimewaan. Apa pentingnya diriku bagi sebuah negeri? Tidak, Nyonya. Maafkan aku. Terimakasih atas belas kasih yang tulus ini. Tapi aku seorang yang bebas.”
Pertama kulihat ia tersenyum, begitu murni, tanpa duka di dalamnya. Membuatku terkejut dan terpana dalam ketidakpahaman.
“Ya, Nyonya. Lihatlah ikan-ikan di laut. Ia bebas berenang, tak peduli di wilayah negeri mana.”
Diam tiba-tiba mematri kami. Kulihat kepul uap dari susu di gelas, merayap naik dan buyar karena helaan nafasku.
“Aku telah menikah, Nyonya,” katanya lirih.
Aku mengangkat wajahku, memandang ke dalam matanya yang sembab. “Aku mencintai orang itu.”
“Salah satu dari empat puluh orang kemarin?” tanyaku.
Ia tertunduk kembali. “Sayang, ia wafat di perjalanan.”
“Mayat itu?” 
Ia mengangguk. Seperti disembunyikannya sepasang matanya. “Maafkan aku.”
“Anakku bersama bibinya,” katanya lagi, seolah hendak membuat teka-teki untuk kujawab. “Mereka, kau melihatnya juga. Ia yang memakai kaus sebuah klub sepakbola.”
Aku mengingatnya. Masih kecil, seorang balita yang sehat. Terbayang diriku yang belum dikaruniai putra. Empat tahun usia rumah tangga. Tetapi aku yakin keluargaku berbahagia. Tak perlu hijrah ke tanah baru.
“Tanggal 25 katamu? Kota apa tadi? Asing di telingaku.”
“Pangumbahan.”
“Kota Pangumbahan?”
Perempuan dari laut memandang ke luar pintu yang dibuka suamiku tadi. Aku tahu pantai tidak bisa dilihat dari dalam rumah. Barangkali perempuan dari laut ini mencium bau garam air laut lebih pekat siang ini, seperti ajakan untuk datang.
***
Solo, September 2013 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya pembaca Femina a/n Gatot Prakosa
[2] Pernah termuat di situs www.femina.co.id –bukan diambil dari karya yang terbit di Majalah Femina Cetak