Layang-layang Keberuntungan

Karya . Dikliping tanggal 2 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Bobo
DARI halaman rumahnya, Pian menonton layang-layang di udara. Bentuk dan warnanya bermacam-macam. Ah, andai aku punya layang-layang, batin Pian. Sayang, kali ini ia tak mampu membelinya. Sekarang uang saku Pian terbatas. Sejak bapaknya menganggur ia mesti berhemat. 
Pian terkejut. Ada yang menyentuh bahunya.
“Kau ingin main layang-layang, ya?” bapaknya sudah berdiri di sisinya.
“Ah, Pian sudah senang, meski cuma melihat ….” Pian tak ingin berterus terang. Ia tak ingin membuat bapaknya sedih. Namun, 
“Kalau ingin layang-layang, Bapak bisa buatkan. Sekarang kan Bapak punya banyak waktu. Tidak sibuk seperti dulu. Kau mau?”
Pian cepat-cepat mengangguk.
“Di belakang rumah ada sebatang bambu. Oh ya, benang sisa musim layang-layang kemarin masih ada, kan? Jadi kita cuma perlu kertas minyak. Bapak punya uang untuk beli kertas.”
Keesokan harinya, Bapak membuat dua layang-layang. Pian sangat gembira. Persis buatan pabrik, pujinya dalam hati. Pian membawanya ke tanah lapang. Ia sebenarnya sayang, kalau mesti mengadu layang-layangnya. Tapi kalau tidak diadu, mana asyiknya? pikirnya.
Sekali dua kali adu, layang-layang Pian menang. Namun pada pertarungan berikutnya, layang-layang Pian putus. Pian sempat kecewa. Tapi tak lama. Bukankah itu resiko bermain layang-layang? Lagipula, ia masih memiliki sebuah layang-layang.
Beberapa hari kemudian, ada tamu yang mengembalikan layang-layang Pian yang dulu putus. Pian ingat. Ia memang menulis alamat rumahnya di layang-layang itu. Tetapi, aneh juga kalau ada orang yang mau mengembalikan layang-layangnya.
Bapak dan tamu itu bercakap-cakap di ruang tamu. Pian mendengar percakapan mereka. Menurut tamu itu, layang-layang itu jatuh di halaman rumahnya. Bentuknya yang bagus membuat ia tertarik. Ia pun mendatangi alamat yang tertulis di layang-layang tersebut.
“Jadi, Bapak yang membuatnya? Kebetulan. Saya kemari ingin memesan layang-layang seperti ini. Layang-layang buatan Bapak layak dijual di toko-toko besar. Untuk pesanan pertama, saya ingin Bapak membuat lima puluh layang-layang. Apa Bapak bersedia?”
Setelah berpikir, Bapak mengangguk. Ini kesempatan untuk mendapatkan uang, batin Bapak. Sebagai uang muka, tamu itu memberi uang sebanyak tiga puluh ribu rupiah. Orang itu akan datang seminggu lagi.
Sejak kedatangan tamu itu Bapak jadi sibuk. Ia tak mau mengecewakan orang itu. Pian pun turut membantu. Malah, Ibu yang biasanya alergi pada layang-layang, kali ini turun tangan.
Dengan membuat layang-layang, keluarga Pian tak khawatir kekurangan uang. Untuk mengenang kejadian itu, Pian menggantung layang-layang pertamanya di dinding kamarnya. Sekaligus, sebagai layang-layang keberuntungan.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Chozin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Bobo” nomor 50 Tahun XXVII 16 Maret 2000