Lebah

Karya . Dikliping tanggal 3 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
DI setiap halaman rumah penduduk di kampung kami, kau akan menemukan buah-buah beligo kering yang berlubang di dalamnya dan menggantung di sembarang pohon. Atau kalau tidak, kau akan menjumpai rumah-rumahan kecil serupa rumah-rumahan merpati yang menyampir di atas dahan-dahan paling rendah, atau berjajar di antara bunga-bunga perdu. Di dalam tempat-tempat itulah lebah-lebah peliharaan kami tinggal, menimbun madu dari bebungaan yang mereka kecup saban hari.
Penduduk di perkampungan kami tidak memelihara ayam atau pun sapi. Tidak pula itik atau pun babi. Tidak juga ikan atau kelinci. Tapi mereka memelihara lebah. Lebah madu yang sengatnya begitu nyata. Lebah madu yang tabiatnya begitu mulia. Perihal mengapa penduduk kampung kami lebih suka memelihara lebah ketimbang ternak yang lain, itu ada hikayatnya. Konon para pendahulu
kampung kami telah mencoba memelihara berbagai binatang piaraan di rumah mereka. Namun tak satu binatang pun melegakan hati.
Unggas yang mereka pelihara suka memakan tumbuh-tumbuhan muda yang baru saja berkecambah di ladang mereka, sedangkan binatang-binatang lain yang berkaki empat, mereka cenderung bau dan kalau berjalan suka merusak pagar dan menabrak apa saja. Sedangkan ikan, akan selalu hilang ketika air
meluber di musim hujan. Hingga suatuketika, salah seorang pendahulu kampung kami menemukan buah beligo raksasa yang sudah kering di pedalaman hutan. Maka ia membawanya pulang. Sampai di rumah, barulah ia sadar bahwa buah beligo yang ia bawa itu adalah rumah lebah. Anehnya, tak satu lebah pun keluar, alih-alih menyengat. Hingga pendahulu kampung kami itu menganggap bahwa lebah adalah sahabat.
Baca juga:  Pertengkaran Ivan Satu dan Ivan Dua
Ia memelihara lebah itu di halaman rumahnya. Dan ia lekas menyadari bahwa bunga-bunga yang tumbuh di halaman kian berseri, buah-buah kian melebat dan meranum. Betapa ia menyadari bahwa lebah-lebah piaraannya itu selalu mendekatitumbuhan-tumbuhan itu di pagi hari, mengisap wangi madunya dan menempelkan pada dinding dalam buah beligo kering yang kian berat oleh madu itu. Betapa ia menyadari bahwa lebah adalah binatang paling mulia dan paling suci. Ia tak pernah sudi hinggap di tempat-tempat hina dan jorok. Ia selalu mendatangi tempat-tempat tinggi, tempat-tempat bersih, manis lagi wangi. Lebih dari
itu, madunya pendahulu kampung kami menyebut kotorannya dapat digunakan sebagai obat oleh penduduk kampung. Selain lebah, makhluk apalagi yang bahkan kotorannya pun bisa berkhasiat dan bermanfaat bagi makhluk lain?
Semenjak itu, pendahulu kampung kami banyak memanen buah-buah beligo liar di hutan, melubangi dalamnya dan mengeringkannya, menjadikannya hunian lebah di halaman rumahnya. Kian waktu, pemikiran penduduk kampung kami pun kian berkembang hingga mereka mencoba membangun rumah-rumahan merpati di atas pohon, dan memancing beberapa ekor lebah ke dalamnya, dan lebah-lebah lain pun mendatanginya dan kemudian mendiaminya. Demikianlah mula hikayat mengapa penduduk kampung kami lebih suka memelihara lebah ketimbang binatang lain.
Bagi penduduk kampung kami, lebah adalah sahabat karib. Suara nguingnya seperti lantunan lagu yang ceria yang dibawa angin sampai ke beranda. Sebulan sekali, penduduk kampung kami akan menyisihkan sebagian madu mereka untuk dijual dan uangnya digunakan untuk keperluan kampung. Setiap penduduk wajib menuangkan satu gelas besar madu murni ke dalam gentong yang diletakkan di balai kampung. Mereka bisa menuangkan madu-madu mereka kapan saja selepas mereka memanennya, mereka bisa datang ke balai kampung di siang hari ataupun di malam hari tanpa diketahui penduduk lain. Konon, dulu, gentong madu itu selalu terisi penuh madu murni nan melimpah setiap bulannya. Namun kini cerita telah berbeda. 
”Kita bisa menuangkan madu sumbangan itu kapan saja tanpa diketahui orang lain, bukan? Jadi mengapa kita tidak menuangkan air saja, supaya kita tidak rugi, toh tak ada yang tahu. Dari sekian banyak madu yang dituang ke dalam gentong itu, tentu air kita yang sedikit ini tak akan berarti. Tak akan tampak. Yang tampak hanyalah madu.”
Berkalang waktu, seiring perkembangan pikiran manusia. Mungkin seorang atau beberapa orang penduduk kampung pernah berpikir demikian. Hingga setiap bulan, gentong di balai desa kami tak lagi terisi oleh madu murni, melainkan oleh air berwarna kuning kecokelatan. Lebah-lebah itu mungkin juga tahu, bahwa lambat laun, ketidakjujuran itu menjadi teramat busuk dan bau. Dan karena lebah-lebah adalah binatang mulia yang tak sudi meninggali tempat-tempat hina, kotor dan bau, maka perlahan lebah-lebah itu pun pergi meninggalkan sarang-sarang mereka. Lebah-lebah itu kembali ke hutan dan meninggalkan warga kampung kami yang telah larut oleh madu kebohongan. ❑ – k
Malang, 2014
Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 2 Agustus 2015