Lelaki Badai Hujan

Karya . Dikliping tanggal 23 Mei 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
KAKEK Sahono masih mencangkul di sawah dengan khusyuk. Kaki-kaki ringkihnya terpacak kuat, terkubur di dasar genangan lumpur, walau hujan turun begitu lebat serupa badai salju yang amat putih dan suram.
Di tengah sawah yang luasnya berhektar-hektar itu, ia seperti sebatang kecil aluminium yang kebal terhadap angin dingin dan petir yang kerap meledak-ledak di langit. Ia terbiasa seperti itu, telrebih pada sore ini, ada hasrat tinggi dna besar yang membuatnya bertahan mengolah sawah meski ribuan jarum hujan berkali-kali menusuk punggungnya.
Kakek Sahono, yang kemudian kau ketahui sebagai suamiku, berpesan pagi-pagi sekali sebelum keberangkatannya, bahwa ia baru akan pulang menjelang senja berakhir. Ingin rasanya aku gerakkan seluruh persendian tubuh untuk membantunya sebisa mungkin, namun ia melarang keras. Ia tidak mau penyakit lanjut usiaku bertumpuk-tumpuk dan kambuh. Aku disuruhnya menunggu di rumah saja seorang diri. Anak-anakku sendiri telah tumbuh besar dan tinggal masing-masing di tempat yang jauh.
Yusup, anak sulungku. Ia memiliki kepribadian yang kuat dan keras melebihi baja-baja terbaik. Sepanjang masa remaja, ia habiskan waktu untuk mengumpulkan uang di tanah perantauan. Ia tak melanjutkan sekolah ke tingkat SLTA seperti teman-temannya. Di pulau seberang itu pula ia kepincut dengan gadis asna. Semula aku dan Kakek Sahono menolak keinginan Yusup. Namun, karena sebuah janji, kami pun hanya bisa mengalah. Yusup berjanji bahwa setelah menikah, akan sering-sering berkunjung kemari. Nyatanya tidak, ia hanya mengirim uang sebagai pengganti kehadirannya. Selama itu ia tak pernah pulang, sekadar mencium bau rumah kami pun tidak.
Sementara Rijal, anak kedua sekaligus anak bungsuku, memiliki watak yang jauh berbeda dengan abangnya. Ia rajin membantu Kakek Sahono berladang, kadang ikut pula memetik daun singkong di kebun, atau menumbuk tanah pada musim kemarau untuk menanam biji-biji kacang hijau. Hampir dalam setiap kesempatan, selalu ikut serta membantu kami.
Selepas pernikahan abangnya, Rijal bercita-cita ingin hidup di sebelah rumahku. Sama sekali tak ada keinginan merantau walau banyak tetangga mengajaknya ke kota, barangkali mau jadi kuli bangunan, atau pembantu. Sama seperti abangnya, ia tak melanjutkan sekolah ke tingkat SLTA. Ia ingin memiliki sitri dari tempat yang dekat, karena ia ingin menjagaku dan juga Kakek Sahono ketika usia senja menghampiri kami.
Tentu saja, hal itu membuat dadaku yang serupa kendi kosong, seakan diisinya dengan air-air yang begitu sejuk dan menyegarkan. 

Namun, menjelang anak pamungkasku berumur 20 tahun, kendi-kendi dalam dadaku pecah, segala air harapan yang begitu menyejukkan terburai berpencar-pencar lenyak entah ke mana. Isi hatiku kembali kosong dan dingin. Tentu Kakek Sahono yang pertama kali merasakannya, pertama kali bersedih dan berteriak-teriak, sebab ia yang pertama kali menemukan tubuh Rijal hangus tersambar petir ketika tengah bersama-sama dengannya mencangkul di sawah pada waktu hujan turun lebat menyerupai badai salku.
Kedua anakku kini telah tumbuh besar dan masing-masing tinggal di tempat yang jauh.
Setiap kali hujan lebat turun, aku teringat kejadian paling menyakitkan itu. Sudah kucoba tahan Kakek Sahono agar mengurungkan niat ke sawah. Langit semenjak pagi menyingsing sudah begitu hitam, kelam, dan menggantungkan mendung yang tampak seperti seorang ibu hamil tua. Namun ia tetap bersikeras, karena esok Minggu Yusup akan berkunjung kemari dan ia tak mau pekerjaan di sawah terbengkalai gara-gara itu, sementara para tetangga sudah mulai menanam padi.
“Kalau aku tak menyawah, tentu kita akan sulit mendapatkan kepercayaan lagi dari tuan-tuan tanah. Secepatnya kita harus menyebar benih-benih padi. Nasib kita ini hanya penggarap tanah, tergantung dari kemuliaan-kemuliaan mereka. Engkau kan tahu sendiri, bagaimana laku kerjaku  yang begitu lamban. Bila hari ini tak bekerja, akan lebih lama lagi kita mengejar masa tanam padi,” kata Kakek Sahono pada waktu kami tengah sarapan.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (13)

“Namun, mendung di luar amat tebal, Pakne. Menurut prakiraan cuaca di televisi, tempat kita bakal kedatangan tamu hujan yang amat lebat. Mungkin tidak apa-apa kalau Pakne menunda pekerjaan dahulu. Mereka akan paham mengenai kondisi seperti itu.”

“Tidak, Bune. Pekerjaan jika ditumpuk akan bertambah berat nantinya. Lagi pula belum tentu juga kunjungan Yusup itu benar. Lebih baik kita tak perlu terlalu berharap.”

“Engkau meragukannya, Pakne?”

“Habis, mau bagaimana lagi? Terakhir kunjungannya adalah ketika adiknya tiada.”

Baca juga:  Sorot Mata Syaila

Aku diam menyaksikan tubuh Kakek Sahono bergetar-getar mengambil cangkul di pojokan ruangan. Kalau ia sudah berkata, tak seorangpun bisa menghalangi atau pun menghentikannya.

Ia membuka pintu anyaman bambu yang sudah rapuh, sehingga ketika ditutup, pintu itu kembali membuka otomatis. Ada segaris kekecewaan pada punggungnya yang hitam itu, ketika berjalan terbungkuk-bungkuk di jalan pematang dengan dipayungi oleh langit yang begitu hitam.

Sejak pagi itu hingga senja kini, ia belum pulang-pulang, menatap Kakek Sahono yang begitu kecil jauh di sana dengan perasaan was-was. Hujan yang turun bersama petir semakin membesar, hingga setitik kecil dirinya tak terlihat lagi.

Baca juga:  Hujan Gajah

Di meja sudah kusiapkan nasi yang diambil dari kukusan satu jam yang lalu. Singkong yang kemarin diagkat dari kebun pula telah kumasak dan kujelmakan menjadi pasrahan, lengkap dengan urap garamnya. Di sebelah pasrahan dan sewadah nasi, tepung ketela sebagai pelengkap adanya menu makanan sore. Ketiganya kututup dengan tudung saji. Namun uap-uap hanganya sudah hilang dan lama mendingin. Aku masih menunggu Kakek Sahono pulang, walau perutku sudah menggeliat minta diisi.

Senja hari sudah berakhir. Namun belum ada tanda-tanda Kakek Sahono pulang. Sedangkan hujan masih saja deras. Samar-samar kulihat halaman rumah telah tergenang air cukup tinggi. Kegelapan begitu menguasai alam, hanya kadang-kadang kilat yang membelah dan menjalar di lagit itu menerangi sekejap.

Hatiku begitu terdorong ingin menyusul Kakek Sahono, namun segera kukuatkan-kuatkan sambil berdoa dalam hati: semoga lekas pulang. Aku tak mau melanggar apa yang sudah dipesankan olehnya. Dan tentu saja, dalam kegelisahan yang begitu menguasai, bayangan Rijal muncul kembali di antara kilat-kilat yang memendarkan cahaya. ❑  -(c)


Purworejo, 2015
* Seto Permada: lahir tanggal 12 Oktober 1994 di Purworejo. Ia sehari-harinya bekerja sebagai perajin bata merah. Bergiat di Komunitas Bisa Menulis. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Seto Permada 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 22 Mei 2016