Lelaki di Toko Roti dan Perempuan yang Menembak Kepalanya Sendiri

Karya . Dikliping tanggal 28 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Lelaki di Toko Roti

PADA pagi 7 Juni 2015, tepat lima menit sebelum Marie menembakkan pistol ke kepalanya sendiri, sebuah taksi berhenti di Barker Bake, dan menurunkan seorang penumpang–lelaki parlente berstelan jas warna abu-abu–ke trotoar. Laki-laki itu–jenis makhluk yang akan membuat perempuan sekaliber Anne Hathaway bertekuk lutut–menyentuh ujung topinya dan mendongak, memandang deretan huruf-huruf ELAINE yang terpancang mencolok di gedung berjarak satu blok dari tempatnya berdiri. Huruf-huruf itu–ia mengingat–mirip dengan huruf-huruf yang pernah diciptakan seorang mahasiswa seni rupa yang dulu pernah dikenalnya, yang sekarang ia sudah lupa namanya. Mahasiswa itu seingatnya seorang perempuan berambut kecoklatan dengan tato naga kecil yang disusun dari aneka rupa bunga, di lehernya. Perempuan itu cantik–ia mengenang lagi–seandainya dulu sempat mengenalnya lebih jauh, mungkin dia akan jatuh cinta pada perempuan itu, atau sebaliknya.
Ia tersenyum sejenak mengenang momen ketika melihat huruf-huruf yang diciptakan gadis itu di kertas gambarnya. Manis dan kuat, tipikal huruf yang akan digunakan merk fashion manapun untuk menanamkan citraan ke benak orang banyak. Mungkin huruf-huruf ELAINE itu diciptakan oleh si mahasiswa–pikiran itu masuk begitu saja ke benaknya. Tahun-tahun berlalu, dan boleh jadi perempuan itu kini menjadi disainer huruf atau apapun itu namanya, yang sangat dikenal.
Sial, ia lupa namanya.
IA melangkahkan kaki ke Barker Bake. Anak perempuan kesayangannya memesan banana roll, sejenis roti pisang gulung yang diisi selai nanas. Ia sudah berjanji untuk membelikan selusin banana roll kemarin, sayangnya ia lupa. Ah, lupa! Pertanda tua atau penyakit? Padahal usianya masih 45 tahun.
Ia menyentuh pintu Barker Bake. Dari sini ia bisa mencium wangi roti, keju lelehan, peterseli, oregano dan madu kental. Madu? Ia teringat lagi mahasiswa seni rupa itu. Bukankah rambutnya berwarna madu? Dan matanya, ya Tuhan, seperti lelehan madu yang berkilau di bawah cahaya matahari. Betapa menakjubkannya cara Tuhan menaruh warna, dan betapa mengagumkan hasil ciptaannya. Rambut perempuan itu halus dan bergelombang, seperti riak laut di hari yang tenang. Matanya berpendar-pendar seperti bulan 14 hari. Pernahkah ia mengagumi warna di kedua bagian tubuh perempuan itu dulu? Ya, pasti pernah. Sebab ia laki-laki, dan laki-laki tak mungkin abai dengan keindahan semacam itu.

Ia berhenti di pintu. Senyum. Ah, ya! Dia ingat lagi perempuan itu pernah tersenyum padanya. Kapan itu terjadi? Ia mengingat-ingat. Apakah saat si perempuan menunjukkan huruf-huruf ciptaannya? Atau saat ia memuji? Ya Tuhan! Benar! Ia pernah memuji perempuan itu. “Bagus, Marie!” ucapnya kala itu, “bakatmu luar biasa.”

Tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Marie. Ia kini bahkan ingat nama mahasiswa seni rupa itu. Marie.

IA masuk ke satu momen saat wewangian, bentuk dan warna mengingatkannya pada hal yang sudah ditekan jauh ke lapisan terbawah alam sadarnya. Kenangan datang di ujung pancing, dan benaknya menarik perlahan-lahan, ke luar dari lautan ingatan yang luas dan dalam. Ia kini bisa melihat–di ujung tali pancing– bagaimana perempuan bernama Marie itu duduk di dekat jendela kaca yang besar, dan cahaya matahari menyinari rambut dan wajahnya seolah-olah itulah satu-satunya hal terbaik di muka bumi yang paling patut disinari. Butiran kristal berlompatan di seluruh permukaan rambutnya, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis membentuk siluet yang mengingatkannya pada gadis-gadis dalam lukisan Leonardo Da Vinci. Ia ingat pernah berhenti sejenak di pintu kelas dan terpesona melihat pemandangan agung itu. Betapa kadang Tuhan menaruh hal-hal terbaik dalam hidup, di tempat dan waktu yang takkan mungkin bagi seseorang untuk melaluinya.

ADA yang berdiri di belakangnya dan dengan sopan meminta jalan untuk masuk ke dalam Barker Bake. Ia tersentak dan dengan gugup menyilakan. Perasaan apa ini? Ia menggosok-gosok rambutnya yang keriting. Pintu menutup di depannya, menggoyangkan papan tanda “Yes, We are Open”. Dari balik pintu kaca ia melihat bayangan orang-orang di dalam toko yang melihat-lihat puluhan roti di etalase. Ia ingat kembali dengan banana roll itu. Bukankah ia kemari untuk membeli pesanan anak gadisnya? Ia masuk ke toko dan mencoba mengabaikan segala kenangan tentang Marie yang tiba-tiba membanjir dalam kepalanya. Betapa ganjilnya perasaan ini.
“BANANA roll satu lusin,” ia berkata pada pelayan perempuan di belakang etalase. Pelayan itu mengangguk dan mengambil kotak. Ada gambar roti croissant dalam keranjang di permukaan kotak itu. Bukankah Marie pernah melukis yang seperti ini? Ia membatin. Gadis itu melukis roti croissant, donat, muffin dan lolipop dalam keranjang. Warna keranjang itu coklat muda, alasnya berwarna putih dengan motif tanaman sulur berbunga-bunga. Kalau tak salah warnanya biru dan merah muda. Dan o ya, bukankah keranjang itu diletakkan di padang rumput? Seingatnya ada bayangan kepala rusa di kejauhan. Ia terpaku. Kenangan! Bisik hatinya. Mengapa semua kenangan ini datang? Mengapa ia mengingatnya begitu detail? Seperti apa sesungguhnya dulu perasaannya pada mahasiswa seni rupa itu? Apakah dulu ia jatuh cinta?
CINTA! Ia tersentak. Jantungnya berdegup kencang memikirkan satu kata itu. Benarkah dia jatuh cinta? Sungguhkah ia terpesona pada gadis berambut warna madu di depan jendela kaca itu? Pada perempuan yang sering melontarkan senyum padanya? Pada mahasiswa yang hanya muncul satu semester dalam mata kuliah yang diasuhnya? Ia kini bahkan ingat di mata kuliah mana gadis itu pernah berada. Sejarah seni rupa. Ingat di bangku mana perempuan itu sering duduk. Ingat baju apa saja yang pernah dipakainya. Dan ingat rok bermotif bunga mawar yang dulu pernah dikenakan perempuan itu. Yah, dia memang cantik. Anggun dan menarik.
“ROTI anda, Pak,” si pelayan toko mengangsurkan kotak kue yang penuh terisi. Ia beranjak ke kasir dan membayar. Tapi, benaknya tidak di situ. Benaknya berada di sebuah ruangan kelas yang besar, saat ia menatap mahasiswa seni rupa itu dengan takjub. Ia mengamati rambutnya, senyumnya, lekuk tubuhnya, kaki jenjangnya, menikmati renyah suaranya, manis tawanya, cemerlang matanya, daya hidupnya. Ya, ia jatuh cinta. Sungguh-sungguh jatuh cinta.
Apakah ia mencintai gadis itu ataukah kenangan? Dia tidak tahu. Ia ke luar dari Barker Bake dan memandang deretan huruf-huruf yang menyusun ELAINE itu lagi. Perempuan itukah yang membuatnya? Dimana ia berada sekarang? Di kota ini? Pindah ke tempat lain? Mendadak ia merasa rindu, begitu ingin berjumpa.
“Marie, Marie, Marie,” ucapnya seperti merapal mantra. Sudah berlalu 15 tahun sejak ia melihat perempuan itu di ruang kelasnya, dan betapa anehnya ia baru menyadari perasaan cinta itu sekarang.

Perempuan yang Menembak Kepalanya

“AKU akan mati,” demikian Marie berpikir. Ia menatap bayangannya di depan cermin. Lisut dan layu seperti tanaman yang berhenti tumbuh. Kedua sudut bibirnya menekuk ke bawah, seperti bibir yang terlalu lama terpenjara dalam duka. Apakah sesungguhnya yang ia sedihkan selama ini? Hidupnya? Ibunya yang telah lama tiada? Cita-citanya yang tak kesampaian? Atau karya-karyanya yang dicuri teman baiknya sendiri, dan dijual tanpa sepengetahuan dirinya? Ia teringat huruf-huruf yang diciptakannya dan kini digunakan merk fashion ELAINE. Itulah satu-satunya hal terbaik yang ia lahirkan selama belasan tahun usia karir seni rupanya. Tapi apakah dunia mengetahui?      Apakah ada yang peduli?
Ia mengangkat tangan kanannya yang memegang pistol. Mungkin sekarang hari yang tepat untuk mati, ujar hatinya. Saat dunia melupakannya. Saat orang-orang meninggalkannya.
Ia memejamkan mata. Seperti apa kematian itu? Sakit? Gelap? Kosong? Tak mungkin kosong. Sebab, bila ia kosong, takkan mungkin bernama. Sesuatu yang kosong takkan pernah sanggup diberi nama.
Itu ucapan siapa? Ia membuka mata. Oh dia ingat, itu ucapan Ron Howard, dosen seni rupanya. Lelaki muda tampan yang selalu memandangi rambunya, “rambutmu bagus, seperti warna madu,” demikian dulu Howard pernah berkata, “ betapa beruntungnya lelaki yang bisa membelainya.”
Ada isyarat dalam kata-kata Howard, tapi ia tak berani menafsirkan. Teman-temannya jatuh cinta pada Howard dan selalu menemukan cara untuk bisa bercakap-cakap dengannya. Ia menyesal kenapa dulu ia tidak pernah punya cukup keberanian untuk bicara dengan Howard. Dia selalu gugup berada di dekat lelaki itu. Selalu merasa tidak cukup cantik, tidak cukup percaya diri.
“Karyamu bagus,” pernah dulu Howard memuji saat ia menunjukkan huruf-huruf ciptaanya, “bakatmu luar biasa.”
Saat itu ia hanya diam. Seandainya ia mengucapkan sesuatu, mungkin Howard akan memiliki kesan tertentu terhadapnya. Atau mungkin, jatuh cinta.
Cinta? Ia tertawa sendiri. Cinta adalah sesuatu yang mustahil untuk dimiliki, terutama sejak Pete, tunangannya, memutuskan untuk menikahi perempuan berambut blonde penjaga bar itu. Cinta mungkin jatuh ke pundak orang-orang, tapi tidak kepadanya. Cinta kadang terlalu pilih kasih, terlalu pemilih.
Ia memejamkan mata kembali. Ya, sekarang hari yang tepat untuk mati. Dia menarik pelatuk.

Lima Menit

LELAKI itu berdiri di pinggir jalan. Kembali diliriknya huruf-huruf ELAINE yang terpancang mencolok.
“Marie,” ia menggumamkan nama gadis itu kembali. Ah, Marie, seandainya dulu ia menyadari perasaan cintanya, dan seandainya ia punya keberanian untuk mendekati gadis itu, mungkin saat ini mereka sudah menikah dan beranak-pinak. Marie akan jadi pelukis atau desainer grafis, dan ia akan berdiri di belakang Marie untuk menyokong semua cita-citanya. Bukankah mereka berdua adalah pasangan yang tepat? Bukankah Marie memenuhi seluruh kriteria perempuan idealnya?
Kenyataan kadang membawa manusia ke simpang-simpang yang mengaburkan semua impiannya.
Ia melirik jam. Lima menit, ujar hatinya. 
Dan apakah yang dilakukan Marie selama lima menit ini? Melukis? Atau memikirkan seorang Ron Howard, dosen Sejarah Seni Rupanya 15 tahun lalu?
Lelaki itu menarik napas. Diliriknya kembali huruf-huruf yang membentuk ELAINE itu. Tiba-tiba ia terkesiap. Balok huruf A terlihat bergerak miring. Apa yang terjadi? Ia mengerutkan dahi. Orang-orang masih berlalu lalang, di sekitarnya, tak ada yang menyadari kejadian tersebut. Ataukah peristiwa ini cuma terjadi di pikirannya saja?
Ia memperhatikan lebih cermat. Balok A itu makin miring untuk akhirnya terbalik dan tergantung dengan puncak huruf yang menghadap ke bawah.
“Awas!” ia berteriak. Persis sedetik setelahnya, penahan terakhir balok itu lepas dan huruf A berukuran satu meter itu meluncur ke bawah. Terdengar suara jeritan dan kalang kabut orang-orang di jalanan. Lelaki itu ternganga. Alih-alih menjauh, ia malah mendekat untuk menyaksikan balok itu pecah berkeping-keping.
“Oh tidak…Marie,” ucapnya tanpa sadar.
Lima menit perjalanannya di Barker Bake usai sudah. **
Padang, 23 Juni 2015
Maya Lestari Gf tinggal di Padang, Sumatra Barat. Buku termutakhirnya berjudul Labirin Sang Penyihir (2015)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Maya Lestari Gf 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Minggu 26 Juli 2015