LELAKI MASA SILAM

Karya . Dikliping tanggal 14 Juli 2012 dalam kategori Arsip Cerpen, Harian Waspada
Mungkin surat ini tak akan pernah sampai padamu. Mungkin pula tidak akan berarti apa-apa. Tapi biarlah kuungkapkan pada kelengangan di antara kita. Aku kian menyadari bahwa selama ini aku menggantungkan kebahagiaan di seutas tali yang amat rapuh.
Aku yang selama ini telah menggadaikan nafasku di bening matamu. Akhirnya harus tersungkur kehilangan arah ketika mata itu tak jua ku temui. Sebagai lelaki cacat bukan berarti tak punya kemampuan mengheningkan hati. Kau tahu dulu aku telah tidak perduli dengan kebahagiaan sentimental ini. Sampai kau datang mengguncang apa yang ku yakini, menawarkan hati, dan aku tak mampu tegak untuk tidak. Aku terlanjur menggantungkan hati dan kebahagiaanku. Cuma di hatimu, di matamu.
Cinta ketika saat ini datang, maka sesungguhnya aku telah menjemput kematian. Tidak ada yang ku sesali dari mencintaimu tapi badai datang tanpa menghitung kemampuan kakiku berdiri. Aku limbung, betapa aku masih ingin berkisah tentang rimbun daun hutan, sungai kecil, malam gelap yang gerimis. Keping-keping yang tak pernah kulepaskan dari ingatan. Cinta, aku begitu miskin dan tak nyata. Walaupun begitu aku tetap bertahan. Karena aku tahu cinta padaNya lebih baik. Karena hanya yang satu yang tahu terbaik untukku.  Tapi ini hanya kisahku, kisah yang tak lebih dari kenyataan. Kisah yang dilukis kembali lewat tulisan bukan hanya di gurat-gurat hati bertaburan.
***
LELAKI MASA SILAM
Ternyata nama gadis itu Aghnia Kamila. Nama yang bagus nama yang berasal dari bahasa Arab yang artinya kekayaan yang sempurna. Semoga bukan arti nama saja. Tapi juga kaya hati.
Hari ini aku bergabung dengan Komunitas Penulis Anak Kampus yang disebut Kompak, sebuah komunitas penulis yang bertengger di Taman Budaya Jl.Perintis Kemerdekaan, Medan. Setelah dua minggu dalam rentang waktu untuk proses seleksi menjadi anggota baru. Menjadi penulis harus memupuk empati kita terhadap sesama. Menalar pada apa yang dilihat, dirasa dan yang dibaca. Kemudian menuliskannya dalam bentuk diskripsi, narasi, atau puisi.
Manifestasi dari tulisan mengajak agar terus menalar untuk merasakan sebuah keadaan yang dirasakan pengarang dan pembaca. Dikondisikan untuk menggugah hati dan merangsang pikiran yang simpati pada suatu karya.
Hari sabtu pukul 14.30 WIB aku tiba di Taman Budaya bersama sahabatku Ani. Pelataran taman yang indah, bangunan-bangunan sesuai budaya yang ada di Indonesia. Atap-atap bersimbolis sesuai ciri khas daerah. Seperti ciri khas Batak, Minang, Melayu dan lain-lain. Dan ukiran-ukiran dinding luar bangunan yang sangat bagus menurut pandanganku. Tiba-tiba sehelai daun asem Jawa jatuh di kepalaku.
“Kepalamu kotor!” kepala Ani di baluti jilbab berwarna brown.
Saat aku menepis daun yang mengotori kepala Ani. Tiba-tiba ada seorang wanita ingin mengendarai sepeda motornya, seperti mau pulang. Dengan langkah seribu aku dan Ani langsung menghampirinya.
“Maaf kak, Sekret Kompak di sebelah mana ya kak? “ tanya Ani.
“Lurus, belok kiri paling ujung dek.”
“Terima kasih kak.” Dengan serempak kami menjawab.
Sambil menunggu pengurus Kompak, aku dan Ani duduk di depan sanggar tari. Setelah sekian lama duduk berdiri, menerima telepon dari kawan, melihat suasana taman yang lumayan banyak penghuni atau pengunjungnya. Memang, jadwal yang ditentukan pukul 15.00 WIB. Aku dan Ani saja yang kecepatan. Karena kami takut terlambat ketinggalan informasi, dan kemungkinan besar semangat kami yang ingin masuk komunitas penulis bahkan nggak sabar menerima hasil kelulusan anggota baru.
Tiba-tiba ada di sampingku seorang gadis seperti setangkai bunga Lilium Albanikum, bunga bakum yang sedang mekar dan postur tubuhnya yang kontras dengan raut wajahnya yang manis. Terlihat cerah. Gadis yang mengenakan jilbab ungu kemeja garis-garis ungu, rok hitam.
“Anggota baru Kompak juga ya?”
“Iya mbak.”
Begitulah pertama kali aku menyapanya. Yang sebelumnya aku dan Ani hanya diam seperti orang bodoh. Sebenarnya, pendiam bukanlah tipeku. Akupun mengajaknya bercerita tantang mahkluk sosial yang ada di muka bumi ini yaitu sama di mata Tuhan. Aku orang yang terbuka dan sangat netral. Apalagi aku dan gadis manis ini masih asing di Taman Budaya.
“Suka warna ungu ya? ungu itu kan warna janda,” kata Ani.
Si gadis menjawab, “Suka. Banyak orang mengatakan ungu warna janda. Kenyataannya tidak. Ungu adalah warna yang bermakna kemenangan.” Senyum terlihat di bibirnya ketika menjawab pertanyaan Ani.
Dengan komunikasi yang baik aku akan mendapatkan informasi juga cerita yang memang dibutuhkan. Saling tanya menanya, cerita panjang lebar di antara aku dan si gadis manis. Bahkan aku dan dia sudah saling mengetahui nama. Ternyata dia berasal dari Mandailing. Sama denganku.
Perbincangan ini, mengingatkanku pada masa silam, tentang perjalanan 17 tahun yang mendayung sampan kehidupan dan hampir retak di tengah-tengah lautan kemiskinan. Menempuh perjuangan hidup sebagai penuntut ilmu di pesantren Musthafawiyah. Ada seorang yang sekian lama tertanam dalam ingatanku setelah enam tahun terpisah. Namanya Kholis Alfarisi. Adalah lelaki sindrom bawaan lahir. Sehingga tubuhnya menginjak dewasa masih seperti anak SD. Itulah suatu keajaiban yang diberikan Tuhan kepadanya. Dia sangat dikenal banyak orang. Apalagi kecerdasannya ibarat mata air yang mengalirkan air terus menerus tanpa henti.
Dia cacat, tapi dia tidak cacat hati tidak pula cacat pikiran. Penggemar dia banyak termasuk aku. Dia memang lelaki ada kekurangan tapi ada kelebihan. Aku mengenalnya ketika dia juara I pidato bahasa Arab dan Inggris yang diadakan di lapangan depan sekolah. Kadang aku ingin seperti dia, menjadi orang yang luar biasa. Akan tetapi setelah kurenungi, bahwa dalam kehidupan ini ada batas-batas untuk setiap yang dimiliki. Namun, ini bukan batas yang menghentikan langkah melainkan batas untuk memaknai arti hidup ini sehingga gerak-gerik langkah menjadi ringan.
Aku dengan Kholis tidak begitu kenal hanya dari pandangan jauh. Dan waktu yang bergulir cepat telah memberikan pelajaran sangat berharga bagiku. Walaupun sesaat itu dahulu aku melihatnya. Yaitu keberanian, semangatnya dalam memecah karang menyelami lautan menelusuri semenanjung dengan gemuruh ombak dan kembali lagi ke dermaga untuk berlabuh. Dan dia tak putus asa selalu berjuang seperti laba-laba yang terus berjuang membuat jaring. Walaupun diusik atau digusur manusia. Di putaran waktu cepat inilah aku tahu kalau untuk mendapatkan sesuatu harus rela menempuh resiko.
“Jadi dia abangmu?”
“Iya. Saudara sulung.”
Inilah saat dimana suatu hal yang tak disangka-sangka menjadi benar nyata. Si gadis manis adalah adik Kholis Alfarisi. Dan si gadis manis inilah Aghnia Kamila.
“Maka, tak ada sesuatu yang tak mungkin di muka bumi ini, kalau Allah menghendakinya.”
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Ratna Sari Mandefa
[2] Pernah dimuat di “Waspada”