Lelaki Sampan

Karya . Dikliping tanggal 21 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
DULU aku telah bercerita pada kalian kisah tentang lelaki pemarah. Dia mudah sekali marah. Jika marah, matanya jadi merah dan bola matanya tampak seperti kelereng yang membara. Tak banyak kata yang diucapkan, tapi sekali bicara akan terdengar seperti mantra teluh. Menyengsarakan.
Dulu aku juga pernah cerita tentang lelaki pendusta. Dapat diibaratkan lidahnya bercabang. Pandai mengelabuhi. Setiapkali dia bicara, tak pernah ada yang sanggup mendebatnya lalu tunduk pada dusta maut yang dia ciptakan.
Sebenarnya dua lelaki yang kuceritakan itu orang yang sama. Lelaki yang punya perangai buruk. Namun meski begitu dengan modal ketampanan dan kekayaannya dia mudah memikat perempuan. Meski mudah marah dan suka berdusta tapi dia pandai merayu. Saat dia menjumpai perempuan yang disukainya, dia akan merayu perempuan itu. Tak membutuhkan waktu lama perempuan itu akan jatuh dalam pelukannya dan jika dia sudah bosan, perempuan itu akan dicampakkan begitu saja.
Lelaki itu sering melakukan perjalanan untuk berdagang permata dengan sampan kecil.  Meski sampannya kecil tapi sangat kuat. Sampan itu tak mempan oleh gempuran ombak sebesar apa pun. Bahkan dia sendiri juga punya kesaktian. Kata orang yang pernah berjumpa dengannya, tubuh lelaki itu tak dapat ditembus dengan belati atau peluru. Kabarnya, kekuatan itu didapat dari persekutuannya dengan iblis. Karena itulah dia tak pernah takut mengarungi hamparan laut lepas sendirian. Di setiap perjalanannya itu dia selalu singgah di pelabuhan yang dia lewati. Selain untuk memasarkan permatanya tentu saja dia juga ingin memikat perempuan dari daerah itu. Kekayaan  dan ketampanannya itulah yang dijadikan daya tarik untuk memikat para perempuan. Tentu saja keahlian merayunya jadi pelengkapnya.
Suatukali lelaki itu mendengar desas-desus kalau duda kaya, pengusaha permata yang selama ini dikenal sebagai bapaknya bukan orang tua kandungnya. Kabarnya bapaknya membeli dirinya dari seorang penculik anak. Dan penculik itu mendapatkannya sewaktu lelaki itu dilahirkan di sebuah rumah sakit Metropolitan. Kalau kabar itu benar, jadi sebuah hal yang lumrah jika lelaki itu akhirnya berperangai begitu. Hidup di lingkup kejahatan tentu saja akan ada pengaruhnya, bukan? Dan apakah benar, sentuhan tangan dari seorang ibu memang mutlak diperlukan untuk membentuk karakter seorang anak? Jika hal ini benar, maka beralasan kenapa lelaki itu akhirnya tumbuh jadi sosok yang cenderung tidak menghargai pribadi perempuan. Hal itu dikarenakan masa lalunya tidak pernah mengenal sentuhan tangan perempuan, yaitu ibu. Dan jika ada kesempatan dia dipertemukan dengan ibunya, akankah ibunya akan mampu memperbaiki perangainya?
Tentu saja tidak semua perempuan mau diperlakukan seperti itu olehnya. Sebenarnya banyak perempuan yang dapat memandang sesuatu bukan hanya dari luarnya. Banyak perempuan yang telah diiming-imingi kemewahan dan keindahan tapi menolaknya, terlebih jika semua yang ditawarkan itu hanya berarti di permukaaanya saja. Perempuan jenis begini akan lebih memilih hidup bersahaja dengan keyakinan bahwa dengan itu akan menemukan kebahagiaan. Dan salah satu perempuan itu bernama Sembadra, seorang perempuan ayu yang berasal dari daerah pesisir selatan.
Lelaki sampan itu berjumpa dengan Sembadra waktu dia singgah di salah satu pelabuhan di pantai selatan. Sewaktu lelaki itu merayu Sembadra, sembari memberi beberapa permatanya, Sembadra sama sekali tak tertarik.
“Apa untungnya bagi saya jika saya mau dengan Tuan?” Begitu pertanyaan yang justru terlontar dari bibir aduhai Sembadra.
“Tentu saja kau akan jadi kaya!” jawab lelaki.
“Hal itu tak membuatku tertarik,” kata Sembadra datar.
“Lalu kau ingin apa?” tanya lelaki agak meninggi suaranya.
“Saya tidak ingin apa-apa. Saya hanya sekedar bertanya begitu,” jawab Sembadra.
“Aku ingin menikahimu,” kata lelaki itu kemudian.
“Urungkan saja niat Tuan. Saya tidak mau,” jawab Sembadra tegas.
“Aku belum pernah menjanjikan pernikahan pada perempuan mana pun dan dengan begitu saja mereka sudah mau kepadaku. Sedangkan kepadamu, aku menjanjikan itu, tapi kau justru menolakku,” kata-kata lelaki itu dengan mata merah. Bola matanya mulai menampakkan seperti kelereng yang membara.
“Jangan samakan aku dengan mereka,” sahut Sembadra tetap dengan nada datar.
“Aku tidak terima. Boleh saja kau tak dapat kumiliki tapi kau harus mati!” kata lelaki itu sembari menikam perempuan itu dengan belati. Belati yang sebelumnya secara diam-diam dia ambil dari dalam tasnya. Dan Sembadra tak menyadari semua itu. Sembadra tertusuk belati persis di jantungnya. Seketika Sembadra roboh. Sebelum lelaki itu mencabut belati itu dari tubuhnya, Sembadra sempat berkata-kata.
“Kelak Tuan akan benar-benar jatuh cinta pada perempuan bersahaja. Dan jiwa Tuan akan sengsara olehnya.” Setelah mengatakan begitu Sembadra  gugur.
***
Cerita itu memang belum selesai. Dan kini, aku akan cerita kepadamu tentang lelaki pemurung. Hari-harinya selalu dilalui dengan kemurungan. Hatinya terus gundah gulana.  Apakah lelaki ini juga orang yang sama? Benar, lelaki ini memang lelaki pemarah dan pendusta itu. Lelaki yang suka berkelana dengan sampan dan selalu singgah di setiap pelabuhan yang dia lewati. Lelaki yang sangat tangguh karena hanya dengan sampan kecil dia mampu mengarungi ganasnya laut. Tapi kini tidak dia lakukan lagi. Lelaki itu sekarang jadi lelaki pemurung. Kemurungan itu terjadi setelah dirinya berjumpa dengan perempuan bersahaja yang mampu memikat dirinya. Dia bukan sekedar terpikat seperti pada perempuan-perempuan sebelumnya. Kepada perempuan-perempuan yang dulu, dia hanya terpikat sebatas pada pesona fisik. Dia hanya terbawa hawa napsu birahinya. Tapi terhadap perempuan ini, dia benar-benar terpikat. Lelaki itu jatuh cinta terhadapnya.
Pertamakali dia melihat perempuan itu di sebuah teras salah satu rumah yang ada di perumahan elit daerah Bandung. Rumah satu-satunya di perumahan itu yang di halamannya terdapat pohon manggis, pohon yang kabarnya mencerminkan lambang kejujuran. Dan lelaki itu sedang berkeliling di daerah itu karena hendak membeli rumah. Pada akhirnya dia memang membeli rumah di sana. Belum jelas, keputusan cepat itu karena dia memang tertarik dengan rumahnya atau karena  sebelumnya dia melihat perempuan itu. Tapi yang pasti akhirnya dia memang berhasrat mendekatinya.
Mungkin lelaki itu telah belajar dari kesalahan yang dulu makanya saat menghadapi perempuan itu dia menggunakan kata-kata yang sopan dan halus. Perempuan itu terkesima dan sepertinya juga tertarik dengannya. Dari waktu ke waktu semakin rekat hubungan mereka, sampai suatu hari tiba-tiba sikap perempuan itu berubah. Memang tetap bersikap baik tapi sekarang agak menjaga jarak. Lelaki itu heran. Lalu dia berpikir kalau sikap perempuan itu berubah karena dia tidak segera melamarnya. Akhirnya dengan kesungguhan hati lelaki itu melamarnya. Tak pernah dia sangka, perempuan itu ternyata mengajukan syarat.
“Buatkan aku sebuah sampan yang besarnya dan ketangguhannya sepuluh kali lipat dari sampanmu. Dan sampan itu harus jadi dalam sehari semalam,” kata perempuan itu dengan manja.
Lelaki itu kaget, dan berkata, “Itu permintaan yang tidak masuk akal.”
“Kamu sanggup atau tidak?” tanya perempuan itu.
Lelaki itu berpikir sejenak, setelah itu bilang sanggup. “Tapi untuk apa sampan sebesar itu?” tanya lelaki itu kemudian.
“Keliling dunia bersamamu,” jawab perempuan itu tambah manja.
***
Oya, aku perlu mengatakan hal ini dulu, ada kabar yang mengungkap penyebab mengapa sikap perempuan itu dulu berubah. Kabarnya perubahan itu dimulai selepas perjamuan makan di keluarga besar lelaki itu. Setelah acara perjamuan makan selesai, mereka bercengkerama di taman samping rumah. Duduk mereka sangat berdekatan dan mereka berbincang mesra di sana.
“Kenapa kamu selalu menali rambutmu dengan pita ungu?” Saat lelaki itu bertanya begitu, perempuan itu tidak konsen dengan pertanyaannya karena dia sedang memperhatikan sesuatu yang aneh ada di pangkal lidah lelaki itu.
“Di pangkal lidahmu masih ada sisa makanan,” kata perempuan itu.
Lelaki itu spontan tertawa lirih. “Ini bukan sisa makanan tapi tanda lahir. Aku punya tanda lahir di situ,” kata lelaki itu sebelum dia menjulurkan lidahnya bermaksud menunjukkannya.
Melihat tanda lahir itu dan mendengar penjelasannya, perempuan itu langsung gugup lalu terdiam sejenak.
“Ada apa?” tanya lelaki itu.
“Tidak apa-apa,” jawab perempuan itu sembari menggelengkan kepalanya pelan.
***
Apakah kalian ingin tahu bagaimana kisah kelanjutan tentang syarat sampan itu? Inilah dia. Dengan bantuan iblis, lelaki itu mulai membuat sampan itu. Dan celakanya, ketika matahari fajar menyingsing, sampan pesanan perempuan itu belum selesai. Hanya kurang satu papan kayu yang belum terpasang.
“Kamu gagal mewujudkan permintaanku. Itu artinya kita tak jadi menikah,” kata perempuan cantik itu.
Tiba-tiba mata lelaki itu memerah. Bola matanya tampak seperti kelereng yang membara. “Kamu sengaja menggagalkannya!” katanya dengan suara meninggi.
“Memang,” jawab perempuan itu singkat.
“Kenapa?” tanya lelaki itu geram.
“Tuhan telah memberi pertanda kepadaku agar aib ini tidak terjadi. Aku yakin, hanya anakkulah yang punya tanda lahir di pangkal lidah. Dan asal kamu tahu, dulu aku menamaimu Sangkuriang.”
Lelaki itu marah besar. Sampan raksasa itu ditendangnya hingga terbalik. Sejak saat itulah dia jadi lelaki pemurung dan suka duduk termangu sendiri di atas sampan terbalik itu sampai datang waktu ajalnya.***
Yuditeha menulis puisi dan prosa, aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta. Dia telah menerbitkan Buku Puisi Hujan Menembus Kaca (2012) dan Novel Komodo Inside (Grasindo, 2014)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 20 September 2015
Beri Nilai-Bintang!