Lelaki Tua dan Kekasih Setia

Karya . Dikliping tanggal 28 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
DI depan pintu masuk bank, sepasang manula baru saja keluar. Mereka berdua belum beranjak meski terik semakin panas. Dibukanya oleh lelaki tua buku tabungan yang baru saja disetorkan. Diamatinya deretan angka yang mulai mengaburkan pandangan mata.
“Coba kau lihat, apakah benar nilainya sudah cukup?”
“Mana, coba kulihat.” Didekatkan mata istrinya ke arah buku tabungan;
“Rasanya memang belum cukup, tapi syukur angkanya kian bertambah meski sedikit.” Nadanya menenangkan.
“Rasanya setua ini tak bisa berbuat banyak ya Min,” keluh sang suami
“Sabarlah,” tutur istri sambil menggenggam tangan suaminya dengan lembut.
“Min”
“Ya”
“Terima kasih” ucap suaminya sambil tersenyum tenang.
Istrinya balas tersenyum. Ia tahu ucapan itu. Ucapan tulus yang sering diucapkan suaminya semenjak lelaki itu sadar. Tak ada “karena” dalam sebuah petanyaan cinta. Terlebih pada Min, istri satu-satunya. Istri yang menemaninya berpuluh tahun lamanya. Menemani menjerang takdir dan getir liku kehidupan.Hingga kini mereka hidup hanya berdua di sebuah pucuk desa terpencil yang jauh dari pusat kota. Jauh dari anak-anak mereka yang telah lama lupa.
“Kau belum sarapan. Hari sudah kian mendekati zuhur. Sebaiknya kita cari sarapan dulu,” ajak istrinya.
“Aku ingin pecel.”
“Mak Sri?”
“Masih adakah wanita berjarik itu?”
“Terakhir kudengar warungnya digantikan Wati cucunya dari anak yang kedua.”
“Jika waktu pergi, seolah tak ada detik dan jam sebagai tenggang.”
“Begitu juga dengan kita, tak terasa sudah setua ini.” Keduanya saling sejajar memandang ke arah jauh ke depan.
“Tak apa, asal aku masih tetap bersamamu.” Lelaki itu tersenyum.
“Dan aku tetap bangga bisa tetap menemani hingga saat ini, masihkah kau perlu bertanya kenapa aku mencintaimu?”
Lelaki itu menggandeng istrinya menuruni tangga bank. Dengan isyarat itu, istrinya berusaha memapah suaminya. Kakinya tak kuasa berjalan seperti biasa lantaran terjatuh dari kamar mandi kemarin. Keduanya menyusuri pasar menuju ujung gang yang menyimpan kenangan di masa silam. Seorang lelaki uzur beserta istrinya yang juga tak kalah uzur menikmati dua pincuk pecel yang mengepul. Dua gelas teh manis terhidang. Dengan hati-hati dan pelan keduanya sarapan. Nampak snag lelaki sedikit kesulitan menggigit peyek yang bertekstur cukup keras. Sang nenek memandangi lelakinya sambil tersenyum dan sesekali tersipu. Seolah mengingat masa silam yang tersimpan. Mungkin ia bergumam. “Kau dulu begitu gagah dan tampan.”
Sang kakek juga sesekali mencuri pandang kepada istrinya. Sambil menyuapkan pecel ke mulutnya yang tua. Ia pun tersenyum di sela kunyahannya. Seolah ia bergumam juga, “Meski setua ini, kecantikanmu tak pernah pudar oleh waktu, selalu terpancar bak surya yang berbinar.”
Ia tersipu sendiri. Istrinya menyadari ketersipuan itu. Diusapnya dengan pelan ujung bibir yang belepotan oleh sambal pecel dengan sehelai kain jarik. Tiba-tiba lelaki tua itu memegang tangan istrinya. Mereka slaing pandnag. Memandangi semesta makna rasa syukur yang tak terukur dari kedalaman mata masing-masing. Menakar umur yang kian menjamur. Sepasang bibir itu tersenyum.
Di warung pecel itu, mereka dengan khidmat menikmati makan pagi sekaligus siangnya kembali. Angin matahari menyapu jalanan kota pasar desa itu. Pasar yang letaknya jauh dari rumah dua sejoli yang sedang kasmaran untuk kesekian kali. Namun, angin yang panas itu bukanlah sebuah hal baru bagi mereka berdua. Bukan hal yang tidak mengenakkan pula. Namun, sebuah rasa yang membawa ingatan-ingatan lama yang dibawa angin panas dan berdebu itu.
Mereka beranjak setelah menghabiskan pecel di warung langganan serta memesan beberapa bungkus. Dengan perlahan sekali keduanya berjalan. Sang nenek memegang lengan kiri kakek. Sedang sang kakek nampak awas dengan jalanan yang semakin brutal dengan kendaraan yang semrawut. Pandangan mata-mata tua itu awas ke sekitarnya. Lamat-lamat keduanya bergumam ketika sampai terduduk dalam lambung angkot desa.
“Aku kangen sama anak-anak Min.”
“Sudahlah, ikhlaskanlah. Biarkan mereka tenang dan bahagia di sana.”
“Mungkin aku bukan Ayah yang baik bagi mereka.”
Sang nenek mengelus-elus punggung suaminya ketika tiba-tiba terbatuk berkali-kali. Ia ambil sebuah bungkuasan kecil di tangan kanannya. Dalam benak istrinya ia masih ingin mengerti meski sering bertanya-tanya sumbang, untuk apa bungkusan pecel itu. Mereka juga masih sangat sadar bahwa mereka kerap membawa pecel, nasi kesukaan anak-anaknya dulu ketika masih kecil. Ketika sepulang dari bank pasar desa untuk melihat tabungan amal yang bisa mereka bawa di kedalaman liang lahat nanti. (k)
Pungging, 2014

Nasrulloh Habibi: lahir dan tinggal di Mojokerto 22 Mei 1988. Bergiat di Komunitas Arek Japan (KAJ). Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sastra dan Budaya Universitas Airlangga.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nasrulloh Habibi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 28 Desember 2014