Lelaki yang Mencintai Kesunyiannya

Karya . Dikliping tanggal 10 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi

TETANGGA kami di kampung halaman ada yang meninggal, namanya Pak Muji. Bisa dibilang Pak Muji sudah seperti keluarga kami. Karena itu keempat kakakku yang tinggal di Yogya dan Jakarta memintaku jadi wakil keluarga, untuk menyampaikan bela sungkawa kepala keluarga duka, karena kebetulan aku yang bisa berangkat melayat. Tetapi yang ingin aku kisahkan ini bukan tentang peristiwa duka itu. Karena acara melayat itulah, sekalian aku bisa bertemu dengan lelaki itu. Dulu dia bertabiat keras, pemberani, dan tidak punya rasa takut. Aku pernah iri dengan keberaniannya.

***

AKU sudah sampai di kampung halaman, dan tiba di sebuah rumah yang sederhana. Rumah di mana dulu aku dilahirkan. Begitu masuk halamannya, lelaki itu muncul dari dalam rumah, menyambutku. Sekilas kami saling tersenyum tipis lalu berjabat tangan. Kami sudah lama tidak bertemu karena aku bertempat tinggal di kota lain. Otomatis lelaki itulah yang menghuni rumah itu, sementara bapak yang sudah sepuh, ikut bersama kakak yang di Yogya.

Sewaktu muda dulu, tubuh lelaki itu tegap dan wajahnya begitu tampan dengan rambut hitam panjang sebahu. Banyak perempuan cantik menyukainya. Dia sangat memerhatikan penampilan. Untuk mendukung pernyataan itu, ada ceritanya. Pernah suatu kali dia menjadi korban salah sasaran pengeroyokan massa. Lelaki itu disangka sebagai orang yang pernah berbuat ulah di sebuah kampung. Dia dihajar orang sekampung sewaktu melihat hiburan tayub. Lelaki itu lari menuju sawah. Tetapi tidak juga berhasil lolos. Di tengah sawah itu dia dibantai ramai-ramai. Tanaman padi yang buahnya mulai menguning roboh, membentuk lingkaran karena terinjak-injak kaki orang-orang yang menghajar. Pagi harinya, ketika paklik mendatangi tempat itu, di sana ditemukan 25 lima kayu yang disinyalir sebagai alat untuk memukuli lelaki itu. Di antara kayu-kayu itu dia ditemukan dalam keadaan tengkurap di bagian belakang dan punggung lelaki itu berwarna hitam memar. Tetapi begitu paklik mengangkat tubuhnya, dan melihat wajahnya, lelaki itu masih bisa bicara. Di wajahnya hanya ada satu luka kecil di dekat alis. Kelak, lelaki itu bercerita kepadaku, bagaimana wajahnya bisa selamat dari amukan massa.

“Mau layat Pak Muji, ya?” Dia yang memulai percakapan.

“Iya. Kau belum berangkat?”

“Bukannya masih nanti, jam sebelas?”

“Maksudku, kau tidak ikut misa? Ada misa sebelum pemberangkatan jenazah.”

“Oya, dengar dari siapa Pak Muji meninggal?”

“Aku kan dimasukkan ke grup WA Askod.”

“Apa itu?”

“Grup yang namanya Askod. Admaja Sukodono. Yang anggotanya orang-orang Sukodono.”

“WA itu apa, maksudku?”

Mendadak aku tertegun. Tiba-tiba aku seperti ditarik kembali  ke masa 20 tahun yang lalu, di mana ponsel belum beredar. Aku jadi berpikir, tanpa ponsel sesungguhnya kita tetap masih bisa hidup. Tapi aku tersadar dan tak ingin kebingungan lelaki itu tidak terjawab. Aku meraih ponselku, menyalakannya lalu membuka aplikasi WhatsApp. Di sana aku tunjukkan kepadanya grup itu, termasuk anggota-anggotanya. Dia tersenyum. Kurasa senyum itu bukan karena senyum malu, tapi mungkin karena memang dia ingin sekadar tersenyum.

Kami sama-sama duduk di selasar samping rumah. Kulihat dia mengeluarkan rokok, mengambil sebatang lalu menyalakannya. Dia menawariku tanpa suara. Aku menggeleng dan menepuk-nepuk saku celanaku, bermaksud memberitahu kalau aku sudah punya rokok. Lalu aku ikut-ikut mengeluarkannya, mengambil sebatang dan menyalakannya juga. Sembari menghisap rokok, pandangan kami sama-sama ke depan, melihat ke arah kebun samping rumah. Kuamati pohon-pohon yang dulu banyak tumbuh di kebun itu, sekarang telah berkurang. Tetapi aku merasa perubahan itu justru memberi kesan pekarangan itu terlihat lebih luas. Sinar matahari bisa bebas menghujam ke tanah.

“Kau sengaja mengurangi pohon-pohon itu?” Gantian aku yang membuka percakapan setelah sebelumnya sempat jeda hening.

Kulihat dia mengangguk. “Bila hujan, pohon-pohon yang besar sangat membahayakan rumah,” tambahnya.

“Oya, kita berangkat sekarang?” ajakku.

Dia menunjukkan rokoknya. Aku yang gantian mengangguk, dalam hati aku menyetujuinya untuk menuntaskan dulu sebatang rokok  yang telah kami nyalakan. Selama kami asyik menikmati rokok, pikiranku khusyuk mengingat bagaimana sepak terjang lelaki itu dulu. Hampir segala kenakalan pernah dia coba. Berbeda dengan diriku. Tapi kurasa bukan masalah tentang aku lebih alim atau lebih baik, tapi justru aku sendiri menganggap bahwa aku tidak punya keberanian untuk melakukan seperti yang dia lakukan. Sebenarnya di jiwaku dulu, juga ada kenakalan yang ingin kulampiaskan tetapi aku merasa tidak punya hati yang kuat untuk melakukannya. Dan jika boleh aku jujur, hal itu kuanggap bukan sebagai kebaikan. Seringkali di diriku ada keinginan melakukan kenakalan karena aku justru merasa iri terhadap keuntungan yang justru didapat oleh mereka yang melakukan kenakalan. Pemikiran ini memang seperti pemikiran anak kecil, tetapi itulah kenyataannya. Kenyataan bahwa dulu aku ingin mempunyai keberanian melakukan kenakalan, dan dari sana aku berharap akan menerima keuntungan dan kemudahan yang tak terduga.

“Tidak selalu begitu,” ucap lelaki itu.

“Apa?” tanyaku.

Kulihat dia seperti terkejut atas pertanyaanku. “Tidak apa-apa. Dia selalu mengajakku bicara,” katanya, sembari jarinya menunjuk ke arah depannya.

Aku tersenyum. Bukan masalah tidak percaya atau percaya. Mungkin semacam pengertian, tidak menjadi masalah aku mengetahui kondisi psikologis dia seperti itu. Aku jadi teringat dengan sebuah film yang dulu pernah kulihat. Film itu berjudul Beautiful Mind. Tokoh Profesor yang menderita scizofrenia akhirnya bisa menyadari, bahkan menguasai keganjilannya. Dia menjadi tahu mana yang nyata dan mana yang tidak nyata. Kupikir lelaki di sampingku ini sudah sama tingkatan pemahamannya. Dia tahu yang dianggap mengajaknya bicara itu sesuatu yang tidak nyata.

“Berangkat sekarang?” Gantian lelaki itu yang mengajak. Tapi kali ini aku langsung mengangguk dan beranjak dari kursi, mempersiapkan motor, sembari menunggunya mengunci pintu rumah.

Sampai di rumah duka, aku langsung masuk, karena aku harus menyampaikan pesan keluarga. Sementara lelaki itu memilih untuk di luar saja. Usai proses pemberangkatan jenazah dan tuntas tugasku, aku langsung mengajaknya pulang. Aku ingin santai di rumah itu sejenak sebelum kembali ke kotaku. Pada saat di rumah itu kami menikmati hening dalam kesunyian kami masing-masing. Hanya sesekali terjadi obrolan. Ketenangan itu kunilai bukan sebagai sebuah masalah tetapi memang seakan kami telah tahu sama tahu keadaannya. Bersikap seleluasa mungkin, tanpa rikuh satu dengan yang lain.

“Mau kopi?” Tiba-tiba lelaki itu ada di depanku dan bertanya begitu.

Aku mengangguk. Dia cepat berlalu dan tak lama kemudian telah muncul kembali dengan membawa dua gelas kopi.

“Pulang jam berapa nanti?” Dia bertanya sembari meletakkan kopi di meja.

Aku yang sedang asyik membuka media sosial sedikit terhenyak, “Ada apa?” tanyaku.

“Kalau masih lama, aku buatkan nasi goreng.”

“Boleh.”

Dia langsung berlalu dari ruang tengah, tempat di mana aku sedang bersantai. Kupikir lelaki itu keluar masuk, keluar masuk ruangan, seperti adegan di sebuah restoran, pramusaji sedang menemui pelanggannya. Tetapi tentu saja aku tidak pernah menganggap seperti itu. Dan aku pun yakin, lelaki itu juga tidak pernah menganggap dirinya seorang pramusaji bagiku. Kedudukan peristiwa ini tak ubahnya seperti sebuah pengertian tentang hening dan ketenangan tadi. Salah satu bukti bahwa peristiwa itu adalah peristiwa kasih karena dia membuat kopi bukan hanya untukku, dan aku yakin, nasi gorengnya nanti juga dua, satu untukku dan lainnya untuk dia sendiri. Menurutku ini semacam kisah kasih yang terjadi di meja makan.

Sementara lelaki itu membuat nasi goreng, aku tetap santai di ruang tengah ini, di depan pesawat televisi yang sudah lama tidak dinyalakan karena rusak. Tebakanku benar. Ketika lelaki itu muncul lagi sudah membawa dua piring yang berisi nasi goreng. Dia memberikan satu piring kepadaku, tanpa berkata. Aku menerimanya dengan antusias. Kujeda sebentar biar agak mendingin nasinya. Pada saat memakan nasi goreng itu aku berungkali mengunyah sesuatu yang rasanya kenyal. Aku penasaran apakah itu, lalu menanyakannya.

“Bawang merah yang sudah sedikit layu,” jawabnya.

Kurasa lelaki itu sudah sangat berbeda dengan dulu. Perasaannya lebih halus, selain itu, kisah pemukulan dulu sepertinya berakibat buruk, terlebih di bagian kepalanya. Karena selang beberapa tahun dari peristiwa itu, Lelaki itu terkadang seperti kehilangan jiwanya. Jika sedang kumat, dia sampai tidak ingat dengan siapa pun dan suka bicara sendiri. Hal ini terjadi jauh sebelum dia bisa menyadari tentang ilusi dan delusinya. Melihat awal-awal sikap lembutnya itu seakan aku tidak percaya. Karena kenyataannya dia yang dulu sangat berbeda. Dulu dia cenderung blak-blakan, kasar dan mengarah ke urakan. Berbeda denganku. Saking bedanya, dulu kami seperti langit dan bumi, bahkan dapat dikata 180 derajat bedanya. Waktu sekolah, kami menyewa satu kamar berdua, dan setiap kali ada temannya yang datang, hampir selalu tak percaya, kalau lelaki itu punya saudara seperti diriku. Demikian juga teman-temanku, tidak ada yang percaya, aku punya saudara seperti dia.

Karena sifat yang bertolak belakang itu, dia tidak begitu menyukaiku. Pernah suatu kali dia marah dan menantangku berkelahi, tetapi aku tidak ingin berkelahi dengan saudara sendiri, hingga waktu itu aku memilih tidak melayani tantangannya. Bahkan aku mengatakan padanya, bahwa aku dan dirinya, dialah juaranya.

Kini, kami sudah sama-sama menua. Bulan ini aku memasuki usia 50 tahun. Tidak terpaut jauh dengan usianya, hanya selisih dua tahun. Dia yang lebih muda. Bedanya dia belum berkeluarga, atau mungkin tidak ingin berkeluarga. Aku merasa, lelaki itu lebih memilih mencintai kesunyiannya.

 

*Yuditeha: aktif di Sastra Alit Surakarta dan Kamar Kata Karanganyar

 

[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Minggu 8 Juli 2018