Lelaki yang Menjelma Sinterklas

Karya . Dikliping tanggal 25 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

SEPASANG mata Alira tertuju pada tong sampah yang teronggok dekat pintu pagar. Berharap dari sana muncul jin yang biasa mengabulkan tiga permintaan. Kepada jin itu, Alira ingin menyampaikan dua permintaan. Pertama, dia ingin seseorang yang sangat dia rindukan datang ke rumahnya. Kedua, dia ingin seseorang itu lalu menetap selamanya di rumahnya.

Jin itu mungkin tidak akan pernah muncul. Tapi, dia tidak mau berhenti berharap.

Di luar pagar, dunia lain sedang memainkan perannya. Menampilkan kesibukan rutinitas seperti biasanya. Tak ada yang baru, hanya menciptakan kebisingan-kebisingan di udara. Namun, itu tak mampu mengusik Alira. Dia hanya mau peduli pada tong sampah.

Dulu, sekitar dua satu tahun yang lalu, satu hari sebelum Hari Raya Natal, dia pernah punya satu keinginan. Tong sampah yang sedang dipandanginya bisa menjadi sebab seseorang yang sangat dirindukannya datang ke rumahnya.

Rancangan peristiwa yang terlintas di benaknya waktu itu cukup sederhana. Alira membuang surat ke tong sampah, lalu petugas kebersihan kota (pasukan kuning) mengambil tong sampah dan memindahkan isinya ke gerobak sampah. Surat itu lantas jatuh sebelum sampai ke tempat pembuangan karena pembawa gerobak sampah ugal-ugalan waktu mendorong gerobak. Surat itu kemudian ditemukan seseorang yang dirindukan Alira, yang terenyuh membacanya sehingga terpanggil untuk mendatangi Alira yang sudah mencantumkan alamat rumahnya di dalam surat. Lalu, seseorang itu memutuskan untuk menetap di rumah Alira selama- lamanya karena merasa kasihan pada Alira. Sangat masuk akal, bukan? Tapi, waktu itu, akhirnya Alira tidak pernah membuat surat.

“Andai jin pengabul tiga permintaan itu muncul, pasti apa yang aku harapkan bisa terkabul,” suara batin Alira, memecah lamunannya sendiri.

Matanya masih belum mau berpindah ke tempat lain. Misalnya ke sudut halaman rumah, kepada pohon belimbing yang berbuah, dan sebagian buahnya jatuh membusuk di rerumputan, atau kepada bunga mawar atau melati yang tumbuh di sekitar belimbing. Tidak. Dia tidak suka pada semua itu. Dia lebih suka memandangi tong sampah.

Kalau sedang di kamar tidurnya, dia suka memandangi dinding yang berisi banyak gambar. Alira memang suka menggambari dinding kamarnya. Ada banyak macam gambar di sana. Semua gambar berbentuk siluet hitam penuh: gambar wajah seorang lelaki tanpa mata dan mulut, gambar lelaki menggandeng tangan bocah, gambar lelaki bersama bocah dan seekor kucing, gambar lelaki menggandeng tangan perempuan, gambar lelaki bersayap, dan gambar kepala lelaki yang muncul dari tong sampah. Semua gambar itu memenuhi dinding kamar berlatar putih. Alira seperti sengaja menciptakan dunia lain yang bercerita tentang kebahagiaan di dinding itu, kebahagiaan yang hitam. Oleh sebab sudah tidak ada ruang, Alira tidak menggambar lagi, tapi lebih suka memandanginya. Manisa, ibunya, tak marah dengan perbuatan Alira. Bahkan, disuruhnya Alira menggambar sepuasnya.

Alira menggambar ketika hatinya sedang kesal. Biasanya dilakukan ketika dia pulang sekolah. Dia memang sering dibuat kesal oleh teman sekolahnya. Dia sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, misalnya dipalak, diacuhkan, dan dijauhi. Tetapi, dia lebih sering kena palak salah satu teman sekolahnya yang konon anak orang miskin; bapaknya dipenjara karena mencuri dan ibunya hanya bekerja sebagai tukang cuci baju.

Alira sering mengadukan perbuatan temannya itu kepada Manisa. Manisa, yang sering tidak punya banyak waktu mengurusi Alira karena kesibukan pekerjaan kantor, sudah berkali-kali meminta tindakan tegas dari pihak sekolah agar teman Alira yang tukang palak itu dikeluarkan dari sekolah, atau dipindah kelas. Tapi, itu tidak pernah terwujud karena pihak sekolah tidak bisa bertindak hanya dengan laporan sepihak. Akhirnya, Manisa bersiasat. Alira tak lagi diberinya uang saku.

“Kamu sarapan saja yang kenyang, ya, tidak usah bawa uang saku, demi keselamatanmu,” begitu kata Manisa dan Alira menurut.

Tapi, Manisa memberi bekal roti berselai cokelat dalam kotak makanan dan ditaruh dalam tas Alira. Muslihat itu berhasil. Alira aman dari pemalakan. Tapi, tidak dari perundungan lainnya. Akhirnya, Manisa mendatangi sekolah dan meminta Alira dipindah kelas saja. Permintaan itu dituruti. Namun, di kelas baru, Alira belum menemukan teman yang cocok. Sebenarnya Manisa kasihan melihat kondisi Alira. Dia pernah memiliki niat menikah lagi, tapi takut. Dia takut menemukan lelaki yang salah. Sudah ada beberapa lelaki tampan dan berpenghasilan tetap mencoba mendekatinya. Namun, Manisa tidak berani membangun hubungan yang serius. Suatu waktu, ketika menemani Alira tidur, dia pernah bertanya, “Apa Alira ingin ayah baru?” dan Alira menjawab, “Tidak, Bu. Aku ingin Ayahku yang dulu.” Manisa menahan tangis saat mendengar jawaban Alira. Sejak saat itu dia hilangkan niat menikah lagi. Menolak siapa saja yang berusaha memilikinya, memilih menjadi janda selama-lamanya, demi menjaga hati Alira agar tak tersakiti.

Mandara, Ayah Alira, sebenarnya juga rindu kepada anak gadisnya itu. Tapi, tidak tahu cara mengungkapnya sebab sekarang dia menetap di tempat yang jauh, sangat jauh, yang tak mampu dijangkau mata manusia. Dulu, dia pergi meninggalkan Manisa karena pesawat yang ditumpanginya memilih laut sebagai landasan, lalu meledak, dan laut kemudian berubah menjadi kuburan massal bagi semua awak pesawat. Waktu itu, Alira masih berumur tiga bulan.

Manisa tidak pernah bercerita tentang peristiwa itu kepada Alira. Dia tidak memiliki kekuatan untuk menceritakannya.

Meski ditinggalkan waktu masih bayi, pada akhirnya Alira tahu siapa ayahnya. Itu karena Manisa masih memajang foto Mandara di dinding, di album foto, dan di atas meja kamar Manisa. Suatu waktu, karena rindu berat kepada sang ayah, Alira bertanya kepada Manisa, “Bu, kapan Ayah pulang?”

Manisa menjawab, “Hanya Tuhan yang tahu jawabannya, Lira.”

Alira bertanya seperti itu karena Manisa dulu pernah berkata, kalau Mandara sedang pergi ke sebuah tempat yang jauh, tempat indah yang hanya ada di langit. Tentu saja waktu itu Alira tidak mengerti tempat apa itu sebenarnya. Dia hanya tahu ayahnya pergi ke sebuah tempat yang jauh dan tak pulang-pulang. Lalu, di lain waktu, dengan sikap khusyuk, sambil bersimpuh di atas kasur, Alira bertanya kepada Tuhan:

“Tuhan, kapan Ayah pulang?” Dia sangat berharap Tuhan mau menjawabnya sehingga dia mengulang sampai tiga pertanyaan itu. Lalu, ada suara menggema di telinganya, berkata, “Ayahmu pasti pulang jika tiba waktunya, Lira.”

Dia pun senang bukan kepalang dengan jawaban yang dianggapnya berasal dari Tuhan itu.

Sampai jalanan di luar sana sepi dari kebisingan, Alira tetap terpaku pada tong sampah. Dia mulai teringat pada jawaban yang dia anggap datang dari Tuhan tempo hari. Dia tahu, besok Natal akan dirayakan kembali. Alira juga tahu Sinterklas, yang dia anggap sebagai pesuruh Tuhan, akan turun ke bumi untuk memberi hadiah kepada anak-anak. Hari Raya Natal kemarin, Alira mendapatkan hadiah boneka Panda yang besar. Hadiah itu dia anggap pemberian Sinterklas. Padahal, Manisa yang meletakkannya diam-diam di kursi belajar waktu Alira tidur.

Malam Natal pun tiba. Tepat pukul 9, Alira tidur tanpa harus ditemani Manisa atau Bik Nju, sang pembantu. Manisa masih ada di kantor, katanya ada beberapa tugas yang masih harus diselesaikan. Sebelum tidur Alira sudah berdoa. Meminta agar Sinterklas membawa pulang ayahnya. Saat sudah pulas dalam tidurnya, ada tangan yang mengguncang-guncang tubuhnya. Alira terbangun. Saat membuka mata, dia terkejut melihat wujud Sinterklas berdiri di samping kasurnya. Dia kucek-kucek matanya dan Sinterklas berjenggot putih itu masih berdiri sambil menyunggingkan senyum.

“Jangan takut Alira. Ini aku, Ayahmu.”

Mendengar kata ayah disebut, Alira merasa bahagia tak terbilang. Dia tak bisa bicara dan segera menghambur pada Sinterklas dan memeluk tubuhnya sambil menangis bahagia.

“Aku pulang untukmu, Alira.”

Alira tetap tak bisa bicara. Dia hanya ingin seseorang yang dipeluknya, yang sangat dirindukannya, tidak lepas lagi dari pelukannya. Dan dia tak peduli, kalau yang terjadi padanya itu cuma mimpi. Ya, cuma mimpi, yang hanya akan menjadi kenangan ketika dia bangun nanti. (M-2)

Asoka, 2018

Agus Salim, lahir di Sumenep, 18 Juli 1980. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017.


[1] Disalin dari karya  Agus Salim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 23 Desember 2018