Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-Ikan Kecil

Karya . Dikliping tanggal 19 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

KETIKA itu, ia masih tiga tahun. Hampir saban sore aku menggendongnya menuju pantai, tempat di mana sampanmu biasa ditambatkan. Aku berdiri dengan kaki tanpa alas, terendam pasir, terjilat lidah ombak. Pada hari-hari yang lewat, di tempat yang sama dan pada waktu yang sama, aku selalu menantikan titik hitam muncul dari garis batas antara langit dan laut. Berkedip-kedip diguyur matahari sore. Titik hitam yang perlahan mengembang menampakkan wujudnya sebagai sebuah sampan. Sampan kecil yang setia. Dengan kau di dalamnya. Serta sebuah jala tua yang selalu kuyup.

Hingga sore itu, sampanmu pulang dengan limpahan ikan—berbaga jenis dan ukuran, yang tak bisa kuhisab jumlahnya, namun tanpa tuan. Tanpa tuan.

Dua belas tahun kemudian, ketika ia telah berumur lima belas tahun, ia mengikuti jejakmu. Ia mulai bersampan untuk pertama kalinya. Pergi ke tengah laut, seorang diri. Hari itu, aku begitu cemas. Terbayang sebuah senja dengan sampan penuh ikan, yang berenang ke tepian tanpa tuan. Aku takut, kisah kehilangan dua belas tahun silam itu terulang. Lepas dari itu, selama ini ia tak pernah melaut seorang diri. Ia hanya ikut-ikutan saja jadi buruh nelayan. Seperti juga remaja-remaja pesisir sebayanya. Dari satu perahu ke perahu lain, bantu-bantu sekadarnya, dengan upah yang juga sekadarnya, hanya cukup buat jajan.

Seringkali ia berujar dengan murung, bahwa ia sudah cukup besar untuk pergi melaut sendiri, dengan perahu milik sendiri, dengan jala milik sendiri. Tak peduli sekecil apapun perahu itu. Lantas menghasilkan ikan sendiri. Tak peduli meski itu cuma seekor ikan teri.

Kerap kubisikkan padanya, “Dengar, Nak, suatu saat, kalau tiba waktunya, kau akan pergi melaut dengan perahumu sendiri, sebagaimana para lelaki dewasa pergi melaut dengan perahunya sendiri. Namun, untuk itu, kau harus banyak belajar…

“Dengar, Nak, laut tak setenang kelihatannya. Butuh keahlian dan nyali yang cukup untuk mengarunginya. Dan kau bisa mempelajari itu dari perahu-perahu tempatmu bantu-bantu itu, dari orang-orang yang telah menelan begitu banyak rasa asin di lautan. Sejatinya, kau sangat beruntung. Pada mereka kau belajar, dan kau dibayar…”

Dan kata-kataku rupanya tidak mempan untuk meredam gelegak kelelakiannya yang mulai matang. Dari hari ke hari ia semakin bersikeras, katanya, “Mak sudah mulai tua, upah Mak sebagai buruh di pengeringan ikan tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sudah saatnya aku menggantikan bapak, bekerja dan mengurus emak, bukan sebaliknya.”

Dan pagi itu, dengan wajah mengkilap, kulihat ia menyeret sampan kecil milikmu. Sampan setia yang telah mati suri selama dua belas tahun. Ia berjibaku seorang diri memperbaiki sampan kecil itu. Berbekal palu, paku, serta kayu-kayu bekas yang ia dapat entah dari mana. Hampir seharian ia membuat suara gaduh di belakang rumah. Jelang petang, ia menuntunku ke buritan seolah ingin memberikan kejutan.

“Lihatlah!” serunya. Dan sampan lawas itu, meski nyaris tak ada bedanya dengan sebelumnya, tampak telah siap untuk digiring melaut. Sebuah jala tua dengan benang senar yang telah diperbaharui juga telah siap untuk dijabar. Rantainya yang karatan bergemerincing menyentuh tanah.

“Semuanya akan dimulai dari sampan dan jala ini,” ungkapnya penuh harapan.

Esok harinya, ia pun pergi, dengan jala tersampir di bahu. Dengan langkah tak terpatahkan ia menyeret sampan itu. Menyisakan jejak panjang di atas pasir. Setiap jengkal langkah dan gerak tubuhnya yang merapat ke bibir pantai mengingatkanku padamu.

“Tak usah terlalu keras pada diri sendiri, kau masih berlatih. Jangan bersampan terlalu jauh, pulanglah kalau merasa lelah,” pesanku di antara gemerisik ombak.

Ketika sampan itu mulai berayun-ayun di atas lidah ombak, bersimpangan dengan perahu-perahu lain, tubuhku berguncang sebentar. Seolah telah siap digempur kehilangan untuk kedua kali. Kulihat ia tersenyum tiada lepas, melambaikan tangan, lalu mendayung ke tengah laut. Menjelma titik kecil yang hilang di garis batas antara langit dan laut.

Hari itu, hampir setiap jam aku berjingkat ke lepas pantai. Dengan perasaan cemas tiada dua. Ketika matahari telah mencodongkan bayang-bayang rindang ketapang ke arah timur, aku melihat titik hitam kecil di batas garis antara langit dan laut. Titik kecil hitam yang mengembang menampakkan wujudnya sebagai sampan kecil dengan seorang anak lima belas tahun di dalamnya. Aku bersorak girang melihatnya pulang. Aku tak peduli, bahkan seandainya ia tak membawa ikan sama sekali. Ini adalah hari pertamanya melaut. Seorang diri. Dan satu-satunya hal yang kuharapkan adalah ia cepat kembali. Dan ia kembali. Bahkan lebih cepat dari yang kubayangkan.

Ketika sampan itu sampai ke bibir pantai. Bocah itu berseru lantang dan melompat dari dalam sampan. Ikan-ikan seperti berjatuhan dari tubuhnya.

“Lihatlah! Semua berkat bapak! Semua berkat bapak!” serunya. Tubuhnya berkilapan dan menguarkan amis laut yang begitu pekat.

Aku melongok ke dalam sampan, dan di dalam sampan itu tampak ikan-ikan berbagai jenis dan ukuran berserak, berlompatan, menggelepar, melimpah ruah.

“Aku hampir saja tenggelam, karena sampannya terlalu mungil untuk menampung ikan sebanyak itu,” imbuhnya dengan wajah berbinar.

Orang-orang berhamburan mendekati sampanmu yang kini telah menjadi sampannya. Pemandangan seperti itu—sampan kecil dengan ikan melimpah di dalamnya, hampir tak pernah dijumpai orang. Nelayan kecil dengan sampan kecil tak mungkin bisa menangkap ikan sebanyak itu. Pemandangan seperti itu terlihat untuk terakhir kalinya dua belas tahun silam. Saat kau pergi dan hanya memulangkan sampan.

Dimakan Ikan-Ikan Kecil“Bagaimana kau menangkapnya?” seru riuh teman-temannya.

Bocah itu menjawab dengan bangga, “Aku hanya melemparkan jala, dan ketika aku mengangkatnya, ikan-ikan itu sudah tersangkut begitu saja di sana.”

“Aku tak percaya, melaut tidak mungkin semudah itu!”

“Menurutku ini adalah balas budi ikan-ikan atas kebaikan bapakku,” serunya kemudian.

Barangkali orang-orang menganggapnya sebagai bocah pembual. Bukankah bisa saja, seorang nelayan dengan perahu besar melihatnya terimbak-imbak di tengah laut dengan jala bobrok yang tak mungkin menghasilkan apapun, lantas nelayan itu merasa kasihan dan menuangkan sejumlah ikan ke sampan kecilnya.

“Aku yakin, ikan-ikan itu hanya membalas budi. Kata bapak, ikan adalah makhluk yang tahu balas budi,” ujarnya lagi.

Barangkali orang-orang tak akan paham dengan apa yang ia maksudkan. Tapi aku segera paham. Cerita itu. Cerita itu barangkali telah menjamur dalam kepalanya. Telah ia percayai sebagai sebuah kejadian nyata di masa silam. Mendekati sebuah legenda.

Dulu, selepas kau menghilang, ia kerap memintaku menceritakan kisahmu sebelum tidur. Ke mana kau pergi? Mengapa kau tak pernah pulang? Dan aku pun mengarang cerita itu. Cerita tentang lelaki yang tubuhnya habis dimakan ikan-ikan kecil. Orang-orang menceritakan sebuah kebenaran padanya, bahwa bapaknya hilang saat melaut, barangkali tenggelam oleh badai. Tapi ia tak pernah memercayai cerita orang-orang. Ia lebih memercayai ceritaku…

Kusampaikan padanya, bahwa kau takkan mungkin pergi tanpa alasan. Kau tidak hilang begitu saja. Tidak pula tenggelam oleh badai. Kau hanya pergi untuk memberi makan ikan-ikan kecil yang ada di lautan. Ikan-ikan kecil yang kurus dan kelaparan. Ketika itu, musim memburuk, dan ikan-ikan seperti menghilang begitu saja dari peredaran. Hasil tangkapanmu, atau tangkapan siapapun, tak pernah memuaskan. Berhari-hari kau pergi melaut, pulang menjelang malam, dan hanya membawa beberapa ekor ikan.

Maka kau berkata padaku, “Ikan-ikan menghilang, mereka tak mau menghampiri jala, hanya ada ikan-ikan kecil yang berenang di permukaan. Ikan-ikan yang kecil, kurus dan tampak lapar. Ketika tanganku kucelupkan ke permukaan air, ikan-ikan itu mengerubuti dan memakan tanganku sedikit demi sedikit, mulai dari daki yang menempel sampai bagian kulit yang paling tipis… Tak ada rasa sakit, hanya ada rasa geli yang menyenangkan.”

Lantas, semenjak cerita pertama tentang ikan-ikan kecil itu, kau pun terus pergi ke laut. Bukan untuk menangkap ikan, tapi untuk memberi makan ikan. Ikan-ikan kecil.

Dari waktu ke waktu, ikan-ikan itu pun perlahan menjadi gemuk. Dan kau telah begitu setia memiara mereka. Dan mereka telah begitu setia menunggu tubuhmu. Setiap kali pulang melaut, kau selalu kehilangan bagian tubuhmu. Karena ikan-ikan itu telah memakannya sedikit demi sedikit. Tanpa rasa sakit. Hanya rasa geli. Mulai dari jemari tangan kiri, lalu jemari tangan kanan. Lalu lengan bagian bawah, lalu lengan bagian atas. Lalu jemari kaki, lalu betis. Dan seterusnya, dan seterusnya… Membuat tubuhmu aus dan susut.

Ikan-ikan itupun semakin besar dan gemuk, lalu beranak pinak. Dan tubuhmu pun semakin kurus, semakin habis. Lalu, pada hari ketika tubuhmu habis dimakan ikan-ikan, kau berpesan kepadaku, “Mungkin hari ini aku tak akan plang. Jadi jangan pernah menungguku. Jangan pernah mencemaskan aku. Sisa tubuhku ini akan menjadi kenduri bagi ikan-ikan kecil, sampai habis. Sampai ikan-ikan itu menjadi benar-benar gemuk dan kekenyangan. Selama berabad-abad, sejak pertama kali ikan diciptakan, ikan-ikan telah memberi makan begitu banyak anak manusia, dengan tubuhnya. Termasuk nenek moyang kita, para nelayan. Kini, saatnya aku membalas budi mereka, memberi makan anak-anak ikan. Dengan tubuhku…

“Kelak ikan-ikan yang kuberi makan itu pun akan memberitahu para keturunan mereka untuk membalas budiku. Memberi makan anak cucuku. Ikan adalah makhluk yang tahu balas budi. Kelak, setelah tubuhku habis tak bersisa. Anak cucuku tak akan pernah kelaparan. Mereka tak akan pernah kehabisan ikan. Jala-jala mereka akan dihampiri ikan-ikan, dan sampan-sampan mereka akan dilimpahi ikan-ikan.”

Lantas, aku kembali pada cerita yang sesungguhnya. Cerita tentang sebuah senja dengan sampan kecil yang berenang ke bibir pantai. Sampan kecil berisi penuh ikan. Sampan kecil tanpa tuan. Sampanmu seorang.

Sejak hari pertama pergi melaut dan pulang dengan segunung ikan, ia semakin bersemangat. Setiap pagi dan petang pekerjaannya hanya memeriksa sampan dan memperbaiki jala. Lalu pergi melaut lagi esok paginya, dan pulang dengan tangkapan ikan yang tak pernah sedikit. Dengan hasil tangkapan yang lumayan itu, ia bisa membeli sampan yang lebih layak. Membeli jala yang lebih lumrah. Bahkan ia bisa membangun kakus dan merenovasi rumah papan yang selama puluhan tahun nyaris tak tersentuh perbaikan.

Bocah itu begitu membanggakan, ia telah berdiri di atas cita-citanya untuk mengurus dan menghidupi emaknya di usia senja. Hingga di usianya yang ke tujuh belas, tepat tujuh belas hari selepas hari kelahirannya, sebuah sampan penuh ikan berenang ke bibir pantai. Tanpa tuan. Sampan itu adalah sampannya.

Sehari sebelumnya, salah seorang nelayan mengatakan, sebelum senja benar-benar turun, dan beberapa nelayan yang pulang sore mulai menepikan perahunya, ia memergoki bocah itu tengah melamun di atas sampan yang bergoyang ringan. Satu tangannya dicelupkan ke permukaan laut. Ketika ditanya apa yang sedang dilakukannya, bocah itu menjawab dengan seruan, “Aku sedang memberi makan ikan-ikan kecil.” Dan nelayan itu bersumpah, ia memang melihat ikan-ikan kecil—yang tak terhitung jumlahnya, tengah berenang di permukaan laut. Mengerubuti tangannya.

Sejak hari itu, ia tak pernah pulang. Tak pernah pulang.***

Ngijo, Malang, 2017

Mashdar Zainal. Lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya tepercik di berbagai media. Buku terbarunya adalah “Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran” terbitan 2018. Kini bermukim di Malang


[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 18 November 2018