Lembar Pengharapan

Karya . Dikliping tanggal 13 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
BERAWAL dari senja di keramaian kota metropolitan. Matahari yang kelelahan mulai merunduk tertutup tingginya gedung pencakar langit. Hanya sisa-sisa dari sinarnya yang bisa menembus sampai tanah. Ruangan yang tadinya penuhsesak kini sudah berkurang karena ditinggal para penghuninya. Suara raungan mesin pun sudah hilang sedari tadi. Hanya lampu kecil yang masih menyala di bagian belakang ruangan ini.
Dari sinilah aku berasal. Sebuah percetakan buku terbesar di Pulau Jawa yang telah emnghasilkan buku-buku ternama yang tersebar di sleuruh penjuru nusnatara. Dan kini sudah saatnya bagiku emrasakan apa yang telah dirasakan para pendahuluku. Sebuah keadaan di mana aku akan dicari oleh banyak orang. Dibaca dengan penuh penghayatan dan disimpan di dalam rak kaca tembus pandang sehingga mudah untuk ditemukan.
Tak terasa waktu yang terus bergulir kini telah mengubah senja menjadi malam yang dingin. Angin malam berhembus melalui ventilasi yang sedikit terbuka di samping mesin cetak yang etrtutup oleh selembar kain berwarna putih. Rasa dingin yang menjalar masuk melalui sela-sela tubuhku bak obat bius yang mematikan sementara semua fungsi organ tubuhku. Aku pun terlelap dalam kesunyian malam.
Getaran besar yang mengguncang kuat tubuhku membuatku terbangun dari tidur panjang yang melelahkan. Suasana yang berbeda mulai membuatku menyadari hal aneh yang terjadi pada diriku. “Ada di mana aku, mengapa semuanya gelap?” tanyaku dalam hati.
Itulah pertanyaan besar yang kini menghinggapi perasaanku. Kuambil napas panjang dan mulai berpikir dengan tenang. Kucoba mengingat peristiwa sebelum aku berada di tempat ini. Tapi semua sia-sia, tak ada satu pun peristiwa yang bisa kuingat. Hanya menunggu yang kini bisa aku lakukan untuk saat ini. Sampai akhirnya tibalah aku ke suatu tempat yang entah ada di mana.
Kudengar langkah kaki seseorang sedang menuju tempatku. Terdengar lagi suara gesekan benda tajam yang emncoba membuka tempat ini dengan paksa. Sedetik kemudian terpancarlah sinar terang yang masuk melalui celah yang sedikit menganga. Sinar yang masuk terasa sangat menyilaukan karena telah berjam-jam mataku tidak bisa melihat apapun. Pemandangan menakjubkan pun tersaji di hadapanku.
Pandangan samar kini telah beralih emnjadi pandangan nyata. Kulihat bangunan megah dan indah yang sedang kutapai lantainya. Lampu yang menyala terang menambahkan kesan luas akan bangunan yang telah lama aku bayangkan. Rak-rak buku tertata rapi dengan nama yang tercetak di bagian samping supaya dengan mudah orang-orang dapat menemukan apa yang mereka cari.
Terlihat pula orang-orang yang dengan dengan sibuk membolak-balikkan lembar demi lembar halaman buku yang dibawanya. Kini aku telah berada di ujung rak deretan pertama di bagian paling atas. Dengan bangga kusandang nama indah yang tertulis rapi dengan tulisan tegak bersambung di bagian depan halaman sampulku. Warna hijau dominan yang terpancar dari sampulku pun menambah kesan natural yang menarik pandangan para pengunjung. Jam dinding menunjukkan pukul 15.00 Tempat ini semakin ramai saja dikunjungi banyak orang. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan seragam sekolah dan berjalan secara bergerombol. Dengan semangat mereka mencari buku yang mereka butuhkan. Satu per satu tangan mereka terangkat ke atas untuk mengambil buku yang sedang mereka cari.
“Ini dia buku yang aku cari. Pasti tugas-tugasku selesai jika membeli buku ini,” kata seorang lelaki remaja berkacamata.
“Aku juga sudah dapat buku yang aku perlukan untuk adikku,” kata temannya yang berambut pendek.
“Kalau aku belum dapat novel yang bagus sih. Coba aku cari dulu ke sana ya,” kata teman perempuannya yang menunjuk ke arahku.
Perempuan muda itu pun mulai melangkah ke arahku. Dengan teliti ia memilah buku-buku yang tertata rapi di rak buku itu. Diambilnya beberapa buku yang akan menjadi nominasi yang nantinya akan dibeli. Dia pun samapi di depanku. Dilihatnya sebentar buku-buku di sampingku. Dengan sabar dia membaca satu persatu judul buku yang berjumlah puluhan itu. Sampai akhirnya pandangannya pun terhenti padaku. Diambilnya aku yang kini sudah berada di dalam dekapan tangannya.  Dia pun langsung menghampiri kedua temannya.
“Kamu sudah dapat bukunya,” tanya temannya yang berkacamata.
“Iya, tapi aku bingung nih harus milih yang mana,” kata perempuan itu.
“Mana biar aku lihat dulu bukunya,” kata lelaki berambut pendek.
“Ini buunya,” kata perempuan itu sambil menyerahkan bukunya.
“Kalau menurutku, lebih baik kamu pilih yang ini,” kata lelaki berambut pendek yang menunjuk buku berwarna biru.
“Menurutku juga begitu, lagi pula buku itu kan dibuat oleh penulis terkenal. Jadi pastinya lebih berkualitas,” kata lelaki berkacamata memberikan pendapat.
“Ya sudahlah alku akan membeli buku sesuai saran kalian,” kata perempuan itu.
Sedetik kemudian aku pun sudah kembali ke tempatku semula. Rasa kecewa mulai menyelimuti tubuh kurusku. Kejadian tadi telah menggoncang habis seluruh semangatku. Tapi aku tak ingin larut dalam kesedihan. Kucoba untuk tetap tersenyum dan terus berharap agar ada orang yang akan membeliku.
Hari demi hari terasa cepat berlalu. Tak terasa sudah sebulan aku menghabiskan wkatuku di tempat ini. Inilah kesempatan terakhirku pergi dari tempat ini. Hanya ada dua pilihan bagiku. Terjual atau tersimpan dalam gudang bawah tanah. Aku pun hanya bisa pasrah menghadapi takdir yang akan segera aku jalani.
Jam yang menunjuk angka 5 mulai menuntun para pengunjung meninggalkan tempat ini. Hanya ada beberapa orang saja yang masih berdiri di depan meja kasir untuk melakukan  transakasi. Para petugas mulai berdatangan untuk mengganti buku-buku lama yang tak laku terjual dengan buku-buku yang baru saja diterbitkan. Dengan cekatan tangan mereka meraih buku-buku itu dan menggantinya dnegan buku baru yang dibawanya. Mereka pun semakin dekat denganku.
Kini mereka sudah berada di hadapanku. Tangannya yang besar mulai menjulur ke atas untuk meraihku. Secepat kilat aku telah berada di dalam genggamannya. Dia pun mengarahkan aku ke dalam troli kecil yang berada di sampingnya. Akan tetapi tangannya terhenti ketika ada suara teriakan perempuan yang memanggil dari belakang. “Mohon maaf Pak, bolehkah saya melihat buku yang anda pegang?” tanya perempuan itu.
“Oh, silahkan,” kata sang petugas sambil menyerahkanku ke perempuan itu.
Kini aku telah berada dalam genggamannya. Dibolak-baliknya aku dengan cermat dan teliti. Wajah penasarannya pun sudah berganti dengan senyuman manis dari bibir kecilnya. Tiba-tiba aku etringat akan seseorang. Ya, perempuan inilah yang hampir membeliku sebulan lalu. Dan sekarang dia kembali ke sini untuk benar-benar membeliku.
Di bawanya aku ke meja kasir. Dengan nota yang ditandatangani, sekarang telah sah aku berpindah kepemilikan. Diletakkannya aku ke dalam tas merah muda yang dibawanya sedari tadi. Perjalanan pulang pun terasa sangat singkat. Diletakkannya tas merah muda itu di atas tempat tidurnya. Dengan tidak sabar dia mengambilku dari dalam tas itu. Dibacanya bagian depan halaman sampulku dan berlanjut ke lembar-lembar berikutnya. Ekspresi wajahnya pun berubah-ubah menikmati alur ceritaku. Kata ‘tamat’ menjadi akhir perjalanannya mengikuti setiap kisah demi kisah ceritaku. Cerita indah yang terbuat dari pemikiran handal seorang penulis yang menumpahkan gagasan-gagasannya kepadaku. Kini kewajibanku telah kulaksanakan. Telah kusampaikan semua pemikirannya kepada perempuan ini. Perempuan yang kini tertidur dalam senyum  yang mendekapku erat. []

Wahyu Adi Nugroho Carikan RT 02 Mulyodadi Bambanglipuro Bantul Yogyakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wahyu Adi Nugroho
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 12 Juli 2015