Lik Warno

Karya . Dikliping tanggal 22 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
MENJELANG Natal, Lik Warno dibuat pusing tuju keliling, Prengil anak satu-satunya itu terus merengek-rengek dan menangis tak henti-henti meminta ketemu dengan Santa Claus saat malam Natal. Anak itu ingin bertemu dan meminta kado Natal dan ingin mengelus-elus jenggot panjang Santa Claus. Lik Warno, benar-benar bingung, sebab ia tidak berani menjanjikan pada Prengil untuk bisa bertemu laki-laki tua berjenggot putih itu di malam Natal.
Sore itu Prengil ngambek dan tidak mau belajar, ia ingin jawaban pasti dari Lik Warno.
“Sudahlah sekarang kamu belajar dulu, Natalkan masih dua hari,” ucap Lik Warno sambil menyodorkan buku pelajarannya.
“Nggak mau, aku ndak mau belajar. Bapak harus mengundang Santa Claus ke rumah di malam Natal nanti,” jawab Prengil sambil tangannya menggeser buku pelajarannya ke sudut meja.
“Coba kamu dengar Bapak, Santa Claus itu akan datang dan memberi kado Natal bagi anak yang baik. Lha kalau kamu tidak mau belajar Santa Claus tidak mungkin datang menemui kamu,” jelas Lik Warno.
“Apa kalau sekarang aku belajar, Santa Claus akan datang di malam Natal nanti,” tanya, Prengil dengan cemberut.
“Ya…, belum tentu” Jawab Lik Warno ragu.
Mendengar jawaban Lik Warno, Prengil mengambil buku yang tergeletak di meja dan membuangnya ke lantai. Kemudian ia berlari ke kamar dan menangis. Lik Warno, mengambil buku-buku itu dan dikumpulkan kembali ke meja. Ia terus berpikir keras bagaimana menerangkan pada anak semata wayangnya itu.
“Andai ibumu masih ada, ia pasti bisa merayu dan menjelaskan,” ucap Lik Warno lirih di depan foto almarhum istrinya yang dipajang di dinding ruang tengah.
Tangis Prengil tidak juga mereda, justru semakin keras. Lik Warno, menghela napas panjang untuk menenangkan diri agar tidak marah. Akhirnya Lik Warno, mendatangi Prengil di kamarnya. Ia telah memutuskan untuk menempuh risiko yang sangat berat.
“Sudah, berhenti menangisnya, kemarin malam sewaktu Bapak mau tidur Santa Claus menemui Bapak,” ucap Lik Warno sambil duduk di pinggir tempat tidur Prengil.
Serta merta tangis Prengil terhenti, kemudian bangkit dan duduk persis di depan Lik Warno. 
“Bapak ketemu Santa Claus?”
“Iya, dan Santa Claus berjanji akan datang menemui kamu di malam Natal dengan syarat kamu harus rajin belejar.”
“Benar Pak, Santa Claus akan datang ke sini.”
Lik Warno, mengangguk dengan tersenyum tipis. Prengil melonjak girang, janji Lik Warno, menyejukkan dan menentramkan hatinya. Malam itu Prengil tidur dengan pulas.
Pagi menjelang, matahari memancarkan sinar menerobos jendela rumah. Prengil tersenyum puas, ia berangkat sekolah dengan semangat. Lik earno tersenyum kecut melihat anaknya yang sangat gembira itu. Perasaannya justru dibalut-balut kebingungan yang maha dahsyat, bagaimana ia akan mendatangkan Santa Claus di rumah ini nanti malam. Pagi itu dimanfaatkan Lik Warno untuk menghias ruang tamunya dengan berbagai hiasan. Pohon Natal di pojok ruang tamu dengan berbagai lampu, ia juga membungkus berbagai kado yang telah dibelinya seminggu yang lalu. Rumah Lik Warno begitu gemerlapan, penuh kedamaian.
Matahari bergeser, berganti siang. Lik Warno bergegas meninggalkan rumah menuju kota. Pikirannya hanya mendapatkan pakaian Santa Claus yang akan ia pakai nanti malam. Rencana telah disusun sedemikian rupa, ia akan menjadi Santa Claus bagi Prengil. Ia terus berjalan dari toko satu ke toko yang lain.
“Ada Pakaian Santa Claus Mbak,” tanya Lik Warno pada penjaga toko.
“Ndak ada Pak,” jawab, penjaga toko itu sambil tersenyum.
Sudah hampir sepuluh toko ia datangi, tapi semua tidak menyediakan pakaian Santa Claus. Ia semakin gelisah sudah menjelang sore belum juga di temukan pakaian Santa Claus. Ia terus berjalan, masuk ke pasar-pasar, menuju kompleks pertokoan lain. Keluar lagi, masuk ke toko yang lain. Tubuh Lik Warno sangat lelah, sudah lebih lima jam ia berjalan tapi belum juga menemukan toko yang menyediakan pakaian Santa Claus.
Malam telah tiba, ia duduk istirahat di sebuah trotoar matanya terus memandang deretan toko-toko yang persis di depannya. Hingga dalam kondisi kecapaian itu, mata Lik Warno menatap tajam pada sebuah toko yang terletak paling pojok. Diusap kedua matanya, ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“Santa Claus!!” ucap, Lik Warno dengan perasaan bahagia. Cepat-cepat ia bergegas lari, menerobos padatnya lalu-lintas. Ia terus berlari, hingga sampai di depan toko yang memajang patung manekin Santa Claus komplet dengan pakaian merah dan berjenggot panjang. Manekin Santa Claus komplet dengan pakaian merah dan berjenggot panjang. Manekin Santa Claus itu duduk, di kursi dan sebuah pohon Natal berdiri tegak sangat indah. Lik Warno terus menatap manekin Santa Claus yang dipajang di etalase itu, dengan takjub. Perasaannya melambung, detak jantung bergerak cepat. Ia ingat rencana yang disusunnya, untuk menjadi Santa Claus untuk anaknya.
“Pak saya mau beli, pakaian Santa Claus,” ucap, Lik Warno setelah masuk ke toko itu.
“Maaf Pak, kita tidak menjual pakaian Santa Claus,” jawab pegawai toko dengan sangat ramah.
“Lha yang di etalase itu?” ucap Lik Warno menunjuk etalase. 
“Wow, yang di sana itu tidak dijual,” jawab pegawai toko.
Lik Warno lemas mendengar jawaban pegawai toko itu, ia duduk lesu di kursi plastik tempat pegawai toko itu. Tanpa ia sadari air mata menetes di kedua pipinya, sambil cerita panjang lebar perihal rencananya pada pegawai toko itu. Dalam sekejab Lik Warno sudah dikerubungi banyak orang, mereka ikut mendengar dan larut oleh cerita yang dialami Lik Warno.
Waktu terus bergerak, jam menunjukkan pukul delapan malam. Lik Warno, terus bercerita dengan mata sembab. Tiba-tiba kerumunan itu tersibak, seseorang berjalan ke arah Lik Warno. Laki-laki Cina pemilik toko itu, mendekati Lik Warno dengan membawa pakaian Santa Claus yang dicopotnya dari patung manekin.
“Pak Anda bisa pinjam pakaian ini, tolong kembalikan besok pagi sebelum toko buka,” ucap, pemilik toko itu sambil menyerahkan pakaian Santa Claus.
Haru biru perasaan Lik Warno. Kebahagiaannya tak terbendung lagi. Dengan cepat dipakainya pakaian Santa Claus itu, kemudian ia keluarga uang di dompetnya membeli banyak kado dan dimasukkan di karung. Orang-orang yang melihat Lik Warno sangat mirip Santa Claus ikut merasa bahagia. Bahkan beberapa anak kecil sengaja meminta digendong Lik Warno Santa Claus dan merogoh uang untuk mengisi kado di karung yang dibawa Lik Warno.
Malam bintang gumintang memancarkan kedamaian dan kebahagiaan. Lik Warno sang Santa Claus, terus berjalan menyusuri jalan-jalan. Bahkan disepanjang jalan, Lik Warno disambut dengan ramat oleh setiap orang yang bertemu dengannya. Bahkan di sebuah perempatan depan gereja jadi macet total, ketika Lik Warno melintasinya. Mobil-mobil berhenti sebab anak-anak mereka berlarian meminta kado pada Lik Warno. Kabar kehadiran Santa Claus di kota itu, dengan cepat tersiar di berbagai lapisan masyarakat. Bahkan salah satu media televisi, sempat mengambil gambar saat Lik Warno sang Santa Claus memberika kado-kadonya pada anak-anak di perempatan jalan. Malam itu hampir seluruh anak-anak di kota itu, menunggu-nunggu dan berdoa berharap Santa Claus hadir di rumah mereka.
Malam semakin larut. Lik Warno sampai di rumah, ia mengendap-endap masuk ke kamar Prengil. Tapi alangkah kagetnya Lik Warno, Prengil tidak ada di kamarnya. Kedua mata Lik Warno menyusuri tiap sudut kamar. Dengan cepat Lik Warno, meloncat dan berlari mencari anak satu-satunya itu ke seluruh rumah. Tapi Prengil tak ditemukan.
Lik Warno duduk lesu di ruang tamu, dan tiba-tiba..
“Pak!!” Suara Prengil, mengangetkan Lik Warno.
“Kamu dari mana?”
“Kamar mandi,” jawab Prengil dengan tertawa setelah melihat Lik Warno, memakai pakaian Santa Claus.
“Jadi Santa Claus yang datang ke meari tadi Bapak?” ucap, Prengil, sambil duduk di pangkuannya.
“Bukan? Bapak baru saja sampai,” jawab Lik Warno heran.
“Jangan bohong, Pak, tadi Bapak pulang dan ngasih kado Prengil lalu pergi lagi to?” jelas Prengil, sambil tersenyum bahagia,
Lik Warno semakin bingung mendengar penuturan Prengil, ia semakin yakin bahwa Santa Claus telah hadir menemui anaknya.
“Terima kasih Tuhan, terpujilah nama-Mu” ucap Lik Warno dalam hati. [] – g
Spesial untuk Dei, semoga lekas sembuh. Tuhan menjagamu. 
Tangerang, 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Menthol Hartoyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 20 Desember 2015