Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring

Karya . Dikliping tanggal 27 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

1. Laki-laki yang Tertipu Angin

GEROMBOLAN angin berlari cepat dari arah barat. Riuh bergemuruh. Saling susul, saling kejar. Membentur apa saja. Daun berjatuhan. Ranting berpatahan. Keluarga bambu berderit. Lalu, sebagian angin melewati beranda. Membentur tubuh Romo. Dia tak memakai baju. Tapi tak berkutik. Tetap menekur kepala, geming. Dia, laki-laki berkekuatan gaib, sedang khusyuk. Memagari rumahnya dengan mantera. 
Di puncak langit, bulan sedang gerring (sakit). Sebagian tubuhnya merah, seperti dilumuri darah. Dua bintang berdampingan, satu redup satu terang, dalam sunyi menjadi pasangan.
Dalam keadaan lelah, Ratno keluar dari pintu. Berniat menemani sang ayah di beranda. Tubuhnya yang tipis diselimuti sarung. 
‘’Kenapa belum tidur? Apa anakmu sudah tidur?’’ tanya Romo pada Ratno.
‘’Aku merasa angin malam ini sangat ganjil. Jadi aku keluar. Ingin menemanimu jika masih lama. Anakku sudah pulas. Istriku juga. Kalau tak ada pekerjaan lagi, baiknya Ayah segera tidur. Ibu pasti kesepian dan menunggumu di kamar,’’ jawab Ratno.
‘’Tinggal sedikit, sebentar lagi aku masuk. Tak usah kau repot-repot menemani. Angin kencang macam ini tak banyak menyimpan bahaya gaib. Aku hanya memagari rumah seperlunya saja.’’ Ratno menurut.
Romo dikenal sebagai pemilik kesaktian berupa-rupa. Kebal senjata, berjalan di atas air, terbang secepat kilat, membunuh tanpa menyentuh, dan mesat. Pantang dia tidur seperti anak muda pemalas zaman sekarang. 
Karena merasa ada yang hilang di sisinya, Samiya bangun. Dan memanggil-manggil suaminya.
‘’Kak, kemarilah. Aku takut. Benar-benar takut.’’
Romo tetap geming. Seperti sengaja menuli telinganya. Memang, sudah hampir lima tahun, dia malas menyenangkan hati istrinya.
Tiba-tiba lampu padam. Tapi gelap tak sepenuhnya gulita. 
Romo bangkit. Melangkah ke halaman. Sampai di tengah, ada sesuatu berjubah hitam muncul dari balik pohon besar. Muncul dan bergerak dengan sangat cepat. Benda tipis melengkung terbuat dari besi, berkelebat menghantam tubuh Romo berkali-kali. Lalu tubuh Romo kehilangan daya. Rubuh ke
tanah. Seperti tertidur. Lebih dalam dari pulas. Secepat angin, sesuatu itu lenyap. Meninggalkan Romo.
Ada suara kaki berlari dari dalam rumah. Lalu berhenti di hadapan Romo. Kaki itu milik Ratno. Melihat ayahnya, mulutnya rapat dan bergetar. Getar yang getir. Tak ada kata-kata yang bisa mewakili perasaannya. Lalu suara Samiya muncul dari dalam rumah.
‘’Kak, cepat kemari. Lampu padam. Aku sangat takut. Benar-benar takut.’’ Tapi, Romo sudah tidak lagi bisa menyahut. Dia sudah tertidur. Lebih dari pulas.
‘’Kak. Kak. Ayolah, jangan main-main. Aku benar-benar takut. Kemarilah.’’ Samiya terus memanggil.

2. Laki-laki dalam Mimpi

Setelah mengunci pintu depan, Bedus melangkah tenteram. Masuk ke dalam kamar bersama senyum riang. Bibit nafsu ingin bercinta, tumbuh. Apalagi saat melihat posisi tidur istrinya yang memikat, semakin tak tertahan dan terus tumbuh. Tapi sebelum menyentuh pantat istrinya, Rumia tergeragap
bangun dan mengucap, ‘’Jangan!’’ 
Bedus  cepat meloncat. Kembali ke posisi semula. Berdiri, tegak, dan kemudian menanam pikiran curiga.
‘’Mimpi apa lagi sekarang kau, hah?’’ Rumiya kaget melihat laki-laki yang ada di samping ranjang. Dia terus memperhatikan, dalam-dalam. Seolah sedang memastikan bahwa laki-laki itu adalah suaminya. Bukan laki-laki yang ada dalam mimpinya. Begitu yakin, dia segera melompat dan memeluk Bedus. Dan berbisik panjang.
‘’Kak, aku mimpi laki-laki itu lagi. Dia hendak memeluk tubuhku. Aku tak berdaya menolaknya. Seperti ada mantera mengunci gerakku. Tapi, beruntung, segera ada laki-laki lain, entah dirimu atau bukan, mencegahnya. Laki-laki lain itu, tak hanya mencegahnya, tapi membunuhnya. Dia mati, Kak. Mati!’’
Bedus tak bereaksi macam-macam. Juga tak curiga. Dia hanya mendengarkan saja dan tersenyum-senyum setelahnya.
‘’Laki-laki itu, tak salah lagi, berasal dari desa ini. Wajahnya, ya, wajahnya, sangat aku kenal. Dia, ya dia, dulu sering bertamu ke rumah kita. Suka melirik kepadaku saat kau lengah. Suka merayuku saat kau tak di rumah.’’
Bedus terus mendengarkan. 
‘’Kasihan sekali laki-laki itu, matinya mengenaskan. Semoga saja itu hanya mimpi.’’ 
Tenang, Lek. Laki-laki itu tak akan lagi datang dalam mimpimu.
Bedus tak mengeraskan suaranya. Dalam hati saja.
Angin belum lelah berlarian. Mereka seperti gembira. Mungkin karena bulan yang sedang telanjang bulat di sana. 
‘’Dari mana saja kau tadi, hah?”
“Aku dari rumah Hemar. Ada yang perlu dibicarakan. Urusan pekerjaan.’’ Nafsu yang sempat pingsan, siuman. Dan bahkan, lebih segar dan liar. Seliar angin yang berlari sangar di luar. 
‘’Apa pintu depan sudah kau kunci rapat? Sekaramg musim maling baru belajar maling soalnya. Meski begitu, mereka tak kalah ganas dari yang sudah mahir.’’
‘’Sudah, Lek. Mari kita bercinta.’’ Tangan Bedus mulai merayap. Mengikuti leku-lekuk halus tubuh Rumiya.

3. Perempuan yang Tergila-gila pada Bulan

Anak kita pasti sudah besar sekarang. Wajahnya pasti secantik bulan itu. Rambutnya panjang terurai. Ya, rambut itu dulu pernah berjatuhan. Kalau hidup, dia pasti akan terkesima melihat bulan gerring itu. 
Sewaktu di rumah sakit, dia sangat suka bila diajak menengok bulan. Lebih suka lagi ketika melihat bulan tampil bulat seperti kue bundar raksasa. Telunjuknya suka menunjuk, seperti hendak menyentuhnya. Wajahnya girang bukan main. Sambil mengentak-entakkan ujung tumitnya ke perutku. Hanya saja, dia tak bisa bicara. Lidahnya lesu mengucap kata.
‘’Sudahlah. Jangan terlalu larut mengenang dia. Lebih baik kita masuk ke dalam dan tidur. Angin sedang mengamuk dan itu tak baik untuk tubuh kita.’’
Aku tidak mau. Aku sedang tergila-gila pada bulan itu. Serasa aku sedang menikmati wajah putriku. O, Malate yang anggun. Kau tak lihat, dia tersenyum pada kita? Ah, jangan-jangan kau sudah melupakannya. Kau sudah lupa pada semua penderitaannya.
Andai aku tahu, atau Tuhan sudi memberitahuku, siapa yang sudah melakukan kekejian dengan sihir kepadanya, pasti, tak usah diragukan lagi, aku akan mengajaknya bertarung sampai mati. Meski aku perempuan, sejengkal pun kakiku tak mundur untuk melawannya. Bukankah aku pernah menjatuhkan tubuh kekar si Kora, bajingan banci yang suka main-main dengan kelamin perempuan? Wajahnya kubuat memar dengan tinju dan tendanganku.
‘’Ya. Aku tahu kau kuat dan pemberani. Dan aku tak salah memilih dirimu sebagai istri. Tapi sekarang sudah malam. Udara begitu dingin. Kita masuk saja.’’
Rukiyah tak mendengarkan. Dia hanya tergila-gila pada bulan dan kata-katanya sendiri. Aku masih tak bisa lupa apa kata Mbah Maung. Dia katakan dengan jelas bahwa anakku kena sihir. Meski dibawa berobat ke mana pun, tak akan dapat penyembuhnya. 
Aku percaya sihir ada. Tapi, aku tak percaya sihir bisa membunuh manusia. Itu hanya sulap penipu mata. Permainan iblis. Tak jauh beda dengan sihir anak buah Fir’aun. Yang merubah tampar menjadi ular. Namun, Musa melakukan keajaiban lebih besar dari sihir. Dengan bantuan Tuhan, tongkatnya menjadi ular besar dan melahap ular-ular kecil yang hendak menggigit Musa. Tapi, andai saja Tuhan tak mengizinkan, itu tak akan terjadi. Aku masih percaya bahwa Tuhan adalah Mahakuat dan tak tertandingi.
‘’Tak usah kau meracau tak keruan. Sebab si penyihir pasti mendapat balasan seperti yang kau inginkan. Hutang nyawa sudah terlunaskan, Lek.’’  Kalau itu benar terjadi, aku bersyukur. 
Tapi aku belum puas sebelum tangan ini yang mencabut nyawanya. Aku ingin si penyihir merasakan betapa sakitnya saat nyawanya dicabut pelan-pelan. Andai memang dia sudah mati, aku ingin melihat jasadnya esok hari. Aku ingin menyumpahinya. Agar dia membusuk di neraka.
‘’Ya sudah. Kita lihat bersama-sama apa yang akan terjadi besok. Sekarang kita masuk dan tidur.’’

4. Titisan Jin Penunggu Lembah Payudan

Samira bingung bukan kepalang setelah bayi dalam perut Narema keluar. Sebelum itu, dia sudah mengancam si dukun beranak agar menutup mulutnya. Sebab Takgena, suaminya, sedang berpikir kuat-kuat tentang cerita apa yang layak disebarkan kepada tetangga esok hari. Habis si dukun beranak membersihkan Narema dan si bayi dari segala darah, si dukun beranak diperintah pulang segera, tak
mampir ke mana-mana lagi, dengan satu ancaman: kalau mulutmu sampai lancang mengeluarkan cerita yang sebenarnya, maka nyawa akan lepas dari badanmu. Dukun beranak langsung gentar mendengar ancaman itu. Selepas itu, Samira dipanggil Takgena ke ruang tengah. Di sana mereka menyusun siasat kebohongan untuk menutupi kebusukan anak semata wayangnya. 
‘’Cerita apa yang harus kita sebarkan kepada tetangga besok?’’
‘’Aku tak tahu. Tapi yang jelas suara bayi itu sudah terdengar. Besok tetangga akan berhamburan ke rumah kita untuk menjenguk si bayi dan ibunya. Mereka akan mengeluarkan pertanyaan tentang siapa bapak si bayi itu sesungguhnya.’’
‘’Kita buat cerita Bendoro Gung hidup lagi.’’
Mendengar itu, Samira berlagak kebingungan.
‘’Bagaimana cerita itu sebenarnya?’’ 
‘’Aku tak tahu jelasnya. Tapi yang jelas, hanya cerita itu yang mampu menyelamatkan kita dari hujatan tetangga.’’
‘’Coba ceritakan padaku.’’
‘’Bendoro Gung adalah cerita legenda yang dulu lahir dari desa ini. Inti dari cerita itu adalah: seorang putri raja, yang kemudian dikenal dengan sebutan Bendoro Gung, hamil saat selesai bertapa di Lembah Payudan. Cerita yang disebar, Bendoro Gung didatangi seorang pemuda tampan dalam mimpinya saat bertapa. Pemuda itu menggauli Bendoro Gung dan hamillah putri raja itu. Nah, jika ada yang bertanya besok, kita jelaskan pada mereka bahwa Narema sudah didatangi jin penunggu Lembah Payudan. Jin itu laki-laki dan telah menggauli Narema berkali-kali lewat mimpi. Sampai hamil. Jadi, bayi Narema, ceritanya, adalah titisan jin penunggu Lembah Payudan. Kalau mereka bisa percaya pada legenda Bendoro Gung, maka untuk cerita yang kita buat ini, pasti tidak akan jauh beda.’’
Samira diam sejenak. Dia tak percaya bahwa dirinya akan membuat kebohongan yang itu, sepanjang nyawa ada di badannya, akan menghantui hidupnya. Tapi, dia tak berdaya. Kalau berkata jujur, tak sanggup dia menanggung malu tiada tara.
‘’Harusnya Romo yang bertanggung jawab atas bayi itu. Tapi, aku tak berani mendesaknya. Takut disihir sama dia.’’ Takgena menelan napas.
‘’Sudah, sudah. Tak usah kau sebut lagi namanya. Saat ini, dia sudah tidur nyenyak dan tak akan bangun lagi.’’ 

5. Berkah Bulan Gerring

Hari masih gelap. Bulan di langit masih bulat dan merah. Bulan gerring, begitu orang-orang Desa Belleng menyebutnya. Dan di bawah bulan itu, rumah Romo sudah ramai dengan manusia. Mereka riuh. Sebuah mobil dengan lampu kelap-kelip di atasnya, bertengger sunyi di rumah warga. Entah siapa yang melaporkan kejadian itu.
Seorang petugas sibuk membentangkan pita kuning bertuliskan police line sepanjang yang dia mau. Sedang beberapa petugas yang lain sibuk mencari bukti-bukti di sekitar tubuh Romo yang bersimbah darah. Ratno masih belum sadar dari rasa tak percayanya. Matanya jarang berkedip. Mulutnya terus bergetar. Getar yang getir. 
Sementara Samiya, duduk berselonjor kaki tak berdaya memandangi suaminya yang terpajam. Lebih pulas dari tidur yang biasanya. Dia dikerubungi beberapa perempuan yang berupaya menenangkannya. Beberapa warga, berdiri di tempat agak jauh, berbincang-bincang.
‘’Ini adalah berkah bulan gerring. Berkurang lagi satu penyihir yang suka menyakiti warga.’’
‘’Benar. Ini adalah berkah. Kalau perlu, kita adakan kenduri untuk merayakannya.’’
Sumenep, 2015
Agus Salim, lahir dan tinggal di Sumenep, Madura, 18 Juli 1980. Cerpennya dimuat di beberapa media massa.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agus Salim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 26 Juli 2015
Beri Nilai-Bintang!