Lima Langkah Perjamuan – Catatan November – Lilin Ulang Tahun – Traveling

Karya . Dikliping tanggal 18 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Lima Langkah Perjamuan

1//
mungkin ini semacam rindu
menjelma api dan kering kayu
Kau menyulutnya
aku mengobarkannya
2//
cinta mendidih di atas tungku
bergumul rempah menghantar bumbu
Kau cita rasanya
aku mencicipinya
3//
tergelar menu di atas meja
piring dan cawan mengelilinginya
Kau yang menuang
aku nguucr perlahan
4//
lalu usai sudah pesta kita
bersama turunnya senja
Kau yang menelan
aku juga yang kenyang
5//
perlahan malam datang
di langit bulan pualam
kutemukan di rahim sunyi
Kau-aku sebatang diri
Kebumen, 2014

Catatan November
ada getir mengalir 
bersama Novemberku yang kian samar
sunyi yang menggantung di daun-daun
perlahan akan tanggal
pada tangkainya akan dijamah tangan waktu
entah sebagai ajal atau awal kelahiran
dari sunyi kamar
hingga jalan ramai
kesenduan seperti tak usai menakar salam
sampai rindu dan dahaga bertemu
sampai hamba dan Tuan slaing menjamu
Kebumen, 2014

Lilin Ulang Tahun

sudah menanjak usiaku
lalu dalam diam terdengar seru
Tuhan!
akan kutiup lilin itu
agar padam selain Kau
Kebumen, 2014

Traveling

lamat-lamat 
kuingat lagi suara bapak
pada hening pagi yang sebentar beranjak
nak, katanya.
lihat! bapak menggambar sebuah peta
goresan garis-garis memeram segala rupa dan warna
himpunan titik-titik yang menjadi muasal sarwa buana
oh, tidak.
ini bukan tentang peta dunia
tetapi dari sinilah engkau dapat 
rasakan eloknya semesta
Gunung Rinjani kukuh berdiri
saling berteguran lewat ruap awan dengan Merapi
ditingkahi bau-bau dupa di Pura Bali
dibakar bara tanah Pamekasan dengan Apinya Abadi
lihat juga itu
gugusan batu kukuh tempat para lelaki Nias
melakukan Fahombo
dengan keberanian liat laksana Patung
Naga emas di Singkawang
mereka melompati rasa takut yang bercuraman
securam memandang Candi-Candi udzur
dari ketinggian Dieng penuh gigil
aha, lihat juga ini
garis yang menunjuk ke Fatumnasi
yang bebukitannya membiarkan
pohon-pohon dnegan rupa aneh bertumbuhan
menjadikan Gunung Mutis yang magis terus terkepung
dari mimpi-mimpi basah petualang
coba kau juga terka
matahari sepagi ini, di manakah ia berhiba
di Gunung Kerincikah
atau di slea-sela daun teh Kayu Aro yang hijau rekah?
menghangatkan butiran-butiran embun yang tenang
setenang wajah Saraswati di puncak diam
lihatlah, Nak
inilah surga yang dilukiskan Tuhan
agar enkau tak melulu dicekam minder dan ketakutan
indah dunia tak harus di luar sana
seperti gulungan ombak yang juga tak mesti di samudera
jika siang sudah memancang
engkau bisa bertandnag ke Palalawan
mendaki ajaibnya gulungan Bono di Sungai Kampar
meresapi elus angin Selat Malaka dan Laut Cina Selatan
berbagi desir
pak, seruku kemudian
mimpikah itu yang baru saja aku dengar
atau kenyataan yang lama tak berkabar?
bapakku tersenyum lalu menggeleng perlahan-lahan
tidak, katanya lantang inilah sarwa yang kamu punya
segaris kenyataan yang membuat seluruh dunia
pernah bermimpi memilikinya
Nusantara, 2013
*) Salman Rusydie Anwar, lahir di Sumenep tahun 1981. Menulis puisi dan juga cerpen. Saat ini aktif mengelola Pakempalan Sastra Kuwarasan (PSK) Kebumen, Jawa Tengah.
Cerpennya dibukukan dalam antologi bersama, “Perempuan Bermulut APi” (Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2002).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Salman Rusydie Anwar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 18 Januari 2015