Lina dan Perihal Babi yang Divisum

Karya . Dikliping tanggal 13 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Matahari telah jatuh dan nyaris tenggelam di ufuk barat, sementara tiga perempat dari warna biru langit telah menguning. Perempuan paruh baya yang baru saja tiba di rumahnya langsung bergegas ke dapur. Dengan tangan kanan, ia meraih lapi [1] dari handuk bekas yang kumal di atas balai bambu, menaruhnya di bahu kiri, sementara tangan kirinya sigap meraih sebilah arit. Bersama cuit camar yang pulang ke sarang, dari dapur, ia bergegas mengayunkan langkah ke bukit di sisi utara kampungnya.

Setapak curam, semak ilalang tua, pendakian terjal, dedaunan kering, patahan ranting rapuh adalah teman perjalanannya menuju bukit. Perjalanan ke bukit, baginya, bukanlah perjalanan biasa. Sebab, perjalanan itu akan menjadi penanda akhir sebuah pertarungan. Sekali lagi ini adalah jalan penting baginya.

Musim panas yang panjang telah menguapkan separuh kehidupan di kampung. Dedaunan meranggas, rumput mengering, dan ranting merapuh. Satu-satunya tempat yang menyisakan warna hijau kehidupan hanyalah di lembah, sisi selatan dari bukit. Ke tempat inilah, Lina, nama perempuan paruh baya itu, menuju. Dedaunan dan rumput hijau telah menarik langkah kakinya.

Perjalanan yang menempuh hampir tiga kilometer jarak pulang dan pergi itu dilakukannya dengan bahagia. Sebab, ia tahu, sebentar lagi pengorbanannya akan terbayar. Witu, demikian nama babi betina piaraannya, akan segera beranak. Harga pakan pabrik yang akhir-akhir ini melambung di pasar tak mungkin terbeli, sementara babi itu tetap butuh banyak makanan bergizi agar dapat beranak dengan baik. Dedaunan dan rumput hijau bisa menjadi pengganti yang cukup sepadan sebagai asupan gizi.

Menurut hitung-hitungan, berdasarkan kebiasaan yang sudah-sudah, Witu mungkin akan beranak lebih-kurang delapan ekor. Jika benar delapan ekor, dengan pembagian lima puluh persen untuk pemelihara, tiga puluh persen untuk pemilik pejantan, dan dua puluh persen untuk pemilik babi, Lina akan mendapat empat ekor, dua ekor untuk Pak Mateus sebagai pemilik, dua ekor sisanya lagi akan diambil Om Goris, pemilik babi pejantan yang telah dikawinkan dengan Witu.

Semenjak menjanda nyaris dua belas tahun lalu, ditinggal mati Tinus, suaminya, Lina menyambung hidup dengan segala macam pekerjaan. Pendidikannya yang hanya sekolah dasar kelas tiga, juga tidak cukup cakap menulis dan membaca, membuatnya sulit mendapat pekerjaan lebih baik. Misalnya, menjadi tukang masak di pastoran [2] atau karyawan di biara susteran [3].

Memelihara babi memang pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh orang kebanyakan di kampungnya. Tetapi, bagi Lina, meski sampingan, bukan berarti ala kadarnya. Ia jelas tak ingin seperti orang kampung lainnya. Dahulu saat muda, ia mampu memelihara delapan ekor babi. Sendirian. Namun, ketika semakin tua, ia hanya mampu memelihara dua sampai tiga ekor babi. Pekerjaan ini terlihat tampak mudah karena hanya memberi dedaunan dan rumput. Tetapi, saat musim panas, di mana sumber makanan berkurang, pekerjaan ini akan menguras banyak energi, seperti yang dilakukan Lina hari ini. Mencari pakan hingga jauh ke bukit.

Belum lama, di awal tahun, wabah penyakit yang belum dilaporkan secara pasti oleh dinas peternakan telah membunuh dua ekor babi betinanya. Sejak saat itu, ia memutuskan menerima permintaan Pak Mateus untuk memelihara babinya dengan persyaratan, jika babi itu mati karena serangan penyakit, ia tidak perlu menanggung kerugian.

Sudah sepekan perut Witu semakin besar, bergantungan hingga menyentuh tanah, jalan lahir dan puting susunya tampak membengkak, lebih besar dari biasanya. Ini adalah tanda babi siap beranak. Lina memutuskan berhenti sementara dari pekerjaan berkebunnya, buruh cuci di rumah Ibu Udis, pembersih ladang milik Pak Matius, atau berjualan hasil kebun di pasar. Itu dilakukan demi menunggu Witu beranak. Sebab, jika tidak diperhatikan, babi sering salah menindis anaknya saat lahir. Ini tentu berbahaya. Anak babi akan mati dan usahanya selama ini jelas akan sia-sia.

Setelah terjaga menanti beberapa malam, juga diam menanti di rumah, waktu yang dinanti akhirnya tiba. Malam itu, selepas doa penutupan bulan Rosario [4] di KUB [5], Witu akhirnya beranak. Meleset dari prediksi, Witu beranak hingga sepuluh ekor. Ini sungguh menggembirakan. Malam itu, Lina segera melapor kepada Pak Mateus juga Om Goris. Ia tak ingin berita gembira itu menjadi miliknya sendiri. Ia juga tak lupa bergegas ke rumah Ibu Udis, perawat di Pustu kampungnya, juga tempat ia bekerja menjadi buruh cuci, agar dapat memberi kabar baik ini melalui pesan WhatsApp kepada anak semata wayangnya di Malang yang sedang menempuh pendidikan ilmu keguruan.

“Tanta Ibu Udis, nanti beri tahu mama, kalau sudah ada uang hasil jual anak babi, tolong kirim untuk saya, kami harus kumpul uang wisuda, yang tidak kumpul sampai bulan depan, tidak boleh mengikuti wisuda.”

“Butuh uang berapa lagi?”

“Satu juta dua ratus.”

“Iya, nanti tanta ibu sampaikan ke mama.”

Mengetahui balasan anaknya, Lina jelas bergembira, anaknya akan wisuda. Setidaknya ini akan jadi pertempuran terakhir yang harus ia jalani demi menuntaskan proses perkuliahan anaknya. Usaha kerasnya selama bertahun-tahun akan terbayar sebentar lagi.

Di pasaran, harga seekor anak babi sedang bagus. Anak babi berusia sebulan bisa berharga lima ratus hingga tujuh ratus ribu, tergantung bentuk tubuh dan jenis kelamin. Yang gemuk dan jantan memiliki harga yang lebih tinggi. Jika menjual lima ekor anak babi, sesudah dibagi dua untuk Pak Mateus dan tiga untuk Om Goris, jelas ia akan mendapat uang yang lebih dari cukup untuk dikirim ke anaknya.

Sejak Witu beranak, hari-hari Lina dilalui seperti biasa, ia semakin rajin ke bukit untuk mengumpulkan makanan bagi Witu dan lima ekor anaknya. Calon pembeli pun beberapa kali datang untuk melihat. Harga telah disepakati, seekor akan dihargai enam ratus dua puluh lima ribu. Itu artinya, tidak lama lagi ia akan mendapat uang tiga juta seratus dua puluh lima ribu.

Hari berganti, keenam anak babinya makin kuat dan sehat. Mereka mulai bergerak aktif, beberapa sering keluar dari kandang lewat celah kecil di sepanjang sisi kandang. Berulang kali Lina menutup celah itu dengan bilahan bambu juga batu, tetapi tetap saja ada celah yang terbuka. Sebab, Witu sering mengendus dan mendorong batu penutup dengan ujung mulutnya. Sedikit saja lalai menambal lubang, anak babi itu akan berkeliaran di luar kandang. Berada di luar kandang jelas berbahaya bagi anak babi. Mereka akan jadi santapan anjing yang berkeliaran.

***

Lina dan Perihal Babi yang DivisumTiba-tiba pagi itu, Lina menangis sejadi-jadinya, seperti sedang mengalami peristiwa duka yang luar biasa. Air matanya terus menetes sejak pagi buta, badannya terasa lemas, tak tahu harus berbuat apa, setelah memindahkan kelima ekor anak babinya dari luar kandang. Di tengah kebingungan, ia ke kamar, mengenakan kain, dan tanpa membasuh wajah ia berjalan cepat menuju kantor polisi.

“Selamat pagi, Pak, saya mau melapor, Pak.”

“Selamat pagi, ada apa, Ibu?”

“Saya, mau melapor babi saya.”

“Kenapa babinya, Ibu?”

“Babi anak, yang kecil lima ekor punya saya, digigit anjing.”

“Siapa punya anjing yang menggigit babinya Ibu?”

“Anjing tetangga, Pak.”

“Hahahaha.”

Seluruh isi ruangan menertawakan laporan itu. Beberapa orang polisi merekam laporan itu dengan telepon genggamnya dan membagikannya ke media sosial. Sebab, ini kali pertama ada yang melapor kasus anjing menggigit babi.

“Baik, Ibu, kami terima laporan Ibu, nanti besok Ibu bawa babinya, kita akan visum di puskesmas, supaya tahu penyebabnya.”

“Baik, Pak, terima kasih.”

Sepulang dari kantor polisi, hati Lina tetap tak tenang. Ia tak paham apa itu visum dan tak mengerti apakah visum itu bisa menyelamatkan lima ekor babinya dari kematian. Ia mengiyakan sebuah anjuran yang tak pernah ia pahami.

Sesampainya di rumah, kelima ekor babinya yang terluka parah itu telah mati. Luka di sekujur tubuh telah merenggut nyawa anak-anak babi itu. Hatinya remuk. Dari luar kandang, ia menatap babi-babi kecil yang tergeletak di samping induknya dengan harapan yang pupus. Ia jelas teringat akan putrinya di Malang yang menanti kiriman uang sejak tiga minggu yang lalu.

Dua hari sejak laporan kepada polisi itu, wajah Lina dalam video berdurasi kurang dari lima menit telah bertebaran di laman akun media sosial. Orang-orang menertawakan laporan itu. Mereka menganggap itu kisah yang aneh. Ada juga yang beranggapan perempuan di dalam video itu tidak waras. Beberapa lainnya mengkritik polisi yang tidak cukup cerdas, bagaimanapun, polisi mestinya mampu mendefinisikan maksud laporan Lina dan menunjukkan jalan keluar, bukan malah menyuruh melakukan hal di luar nalar-memvisum babi di puskesmas.

Sementara putrinya yang jauh di kota melihat wajah ibunya yang bertebaran di laman akun media sosial dengan air mata berlinang. Derita bagi orang kecil selalu menyisakan getir yang dalam tepat ketika derita itu dianggap hanya sebagai lelucon.

Perihal permintaan memvisum babi itu masih terus jadi pergunjingan di lini masa hingga hari ini di seluruh penjuru negeri. Sementara di kampungnya, Lina tak pernah tahu bahwa ia sedang dibicarakan di mana-mana. Ia hanya terus memikirkan jalan untuk mendapatkan uang agar bisa sesegera mungkin dikirim untuk anaknya. 

Keterangan:
[1] Sebutan untuk alas yang digunakan di kepala saat memikul sesuatu
[2] Tempat kediaman pastor
[3] Tempat kediaman suster
[4] Bulan yang ditetapkan dalam agama Katolik untuk berdoa khusus kepada Bunda Maria, biasanya dilakukan pada Mei dan Oktober
[5] Komunitas Umat Basis: kelompok terkecil dalam struktur gereja Katolik

Petrus Kanisius Siga Tage, lahir di pedalaman Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 1990. Aktif menulis opini dan esai di media massa. Cerpennya, Juru Kunci Terakhir (2018), masuk dalam antologi Lomba Cerpen Petani Dewan Kesenian Indramayu


[1] Disalin dari karya Petrus Kanisius Siga Tage
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 10-11 November 2018