lnfus

Karya . Dikliping tanggal 31 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Pikiran Rakyat

SORE pucat, matahari mulai menepi. Tubuhku limbung, kepala pusing, bumi serasa berputar. Sementara sesenggukan masih terus rajin mengganggu tenggorokanku. Sejak pagi hari aku didera sesenggukan, setelah ikut membantu membereskan rumah kuriak di Jalan Kopo Bandung, rumah yang kusediakan untuk anak cucu nanti.

AKU ingat, sudah tiga hari membantu merehab rumah itu, pagi sampai sore. Selama itu aku kurang tidur, malam hari menghabiskan diri de­ngan menulis, di depan laptop didampingi rokok serta kopi. Baru bisa tidur jam 3 pagi atau setelah salat subuh. Setelah itu kem­bali ke pekerjaan membantu rumah. Kini gelap.

Tiba tiba aku berada di Jakartra, untuk menerima hadiah lomba menulis berita, aku juara 3 dalam lomba antar wartawan se-lndonesia itu. Sebelumnya aku tidak pemah tertarik dengan lomba semacam itu. Setelah menerima hadiah sebesar 8 ju­ta, aku titipkan uang itu pada Adi, kepo­nakanku.

Dari Jakarta menuju Bandung,bus nyemprung dengan kecepatan mahadah­syat. Duduk di sampingku seorang wanita cantik, usianya sekitar 30 tahunan.

“Bandung Neng?’

“lya,” jawabnya pendek.

Suasana hening, kecuali suara deru mo­bil dan sesekali suara klakson. Sekitar 20 menit berlalu,wanita itu berdiri, lalu memegang pundakku dan berkata:

“Saudara saudara sekalian, perkenalkan ini calon suami saya,” katanya seraya tersenyum dan menunjuk ke arah saya. Para penumpang menoleh padaku, diam, hanya menoleh. Lalu wanita cantik itu meneruskan perkataannya.

“Sebentar lagi kami akan menikah, tem­patnya di sebuah gedung termahal mele­bihi Taj Mahal. Kami akan berbulan madu di hutan, di keindahan alam raya yang sa­ngat indah” katanya. Penumpang tak ada yang peduli, aku juga enggan mendengar­nya. Lantas aku tertidur .Tak ingat apa apa lagi.

“Pak, pak…bangun! sudah sampai,” sese­orang menepukku. Kemet bus.

Aku sudah sampai di Terminal Leuwi­ panjang Bandung. Penumpang bus sudah tidak ada, tinggal aku. Buru-buru turun dan culang cileung. Dua wanita nampak menghampiriku dan tanpa berkata apa-apa, ia mengikat tanganku dengan rantai,kuat sekali.

“Ada apa ini? Lepaskan!” aku meronta. “Hey…kalian komunis ya? Kenapa saya ditalian seperti ini,ayo lepaskan!” semakin aku meronta, rantai yang mengikat ta­ nganku semakin kuat

Dan aku kini berada di penjara, bukan di kantor polisi, entah di mana. Dengan ta­ngan diborgol, aku menghampiri petugas.

“Kenapa saya ada di sini, Pak?”

Tak ada yang menjawab, sunyi, suara air hujan terdengar, itu pasti air hujan, suaranya begitu jelas.

**

TEMAN-TEMANKU satu persatu berdatangan menengokku, seperti daun yang merindukan angin.

“Bapak dari pemerintahan, ya?” tanya wanita berpakaian putih-putih.

“Bukan, saya wartawan!”

‘Wah, wartawan baladnya Aher ya?” tanyanya lagi.

“Bukan, saya tidak suka Aher, ini calon pemimpin saya,” kataku seraya menunjuk Sapei, sahabat saya.

“Ha ha ha maneh ngalongok uing...,” teri­akku pada seorang kawan.

“Nah…ini calon istriku yang keempat..,” teriakku pada perempuan tua yang entah siapa namanya.

“Tah…kalau ini suka lacur ya,” kawanku Beni kena semprot, aku seperti gila, de­ngan dua tangan terikat rantai,dan bibirku terus meracau tak keruan.

I Love yu, lyen…,” bisikku pada gadis cantik berkulit putih, ia adalah lyen, ang­ gota komunitasku yang sudah kuanggap anak.

Seseorang berpakaian kumal datang dan berbisik.

“Don…masih inget saya, Priston, Si Fir­man bikin lagu bagus, geura dengekeun ku maneh,” katanya. Aku hanya tertawa. Kawan-kawan yang menengokku dalam penjara sudah berkumpul. Wartawan dari berbagai media juga nampak berebut ingin mengabadikan aku sedang gila, bener-be­nar gila.

Beberapa saat kemudian, tiga wanita cantik menghampiriku, lalu mereka buka baju, menari lagu india. Aku tak peduli,tiga wanita itu terus meliukkan badan penuh birahi, seksi. Lalu hilang menjadi asap, se­mentara kawan-kawanku dan wartawan masih setia menunggu.

“la sudah mati, kita harus menerima kenyataan, ayo baca Alfatihah,” bisik Sopi­ah, seorang wanita beranak tiga, tangan­nya menunjuk padaku. Anakku marah, ia marah dan bicara lantang.

“la belum mati, itu Bapakku, ia masih hidup, jangan mendahului takdir Tuhan,” katanya seraya menghampiriku, tapi malah aku tampar.

***

ENAM hari aku berada dalam penjara. Jam 3 subuh sekarang, lapat-lapat ter­dengar suara azan, lapat-lapat pula terde­ngar doa-doa lirih dari ratusan orang, datang dari gedung YPK, dari masjid­ masjid, dari rumah, dan dari seorang wani­ta yang kini duduk di sampingku, Neni istriku.

“Bu… di mana ini?” tanyaku.

Tak ada jawaban, kecuali surat Ar­ rohman mengalun lembut dari bibirnya. Perlahan mataku menyapa dinding sekeli­ling. Tanganku sudah tidak diikat rantai, tapi kabel-kabel infus menelikung tubuhku, masuk ke hidung, teliga, dan mulut

kabel kabel itu menelikung tubuhku

masuk ke hidung, mulut,qubu/, dan dubur

ratusan malaikat sembunyi di sana

siap mengantarku ke liang lahat

 

ratusan bidadari menari

menawarkan anggur

pantat dan bibir mereka menggoda

tapi kabel-kabel itu makin sepeti beton

atau terali besi

 

cairan entah apa namanya menetes pelan-pelan

meresap kejantungku, ke darahku, ke otakku, ke ajalku

enam abad aku tenggelam dalam kemes­raan maut

Mencoba bangkit tapi tak bisa, Adi keponakanku mencoba menenangkanku.

“Mang… emut, Mang,” katanya.

“Adi…mana uang hadiah saya?” tanyaku

“Ada Mang… santai,” katanya agak kikuk

“Oh siap atuh, ari ieu di mana, Di?”

“Di rumah sakit Mang… sudah enam hari.”

Tiba tiba datang tiga wanita cantik lagi, kali ini berpakaian suster. Mereka tetap menari, kali ini lebih lembut, tak lagi seksi. Sambil mengucap alhamdulillah ketiga wanita itu tersenyum.

selang-selang infus saling tatap

air yang ngeclak di dalamnya

seperti gerimis

iramanya orkestra kematian

ruangiccu ini merawat sepi

tembok kamar saling menuding

saling memantulkan cahaya

aku beringsut ke tepi ranjang

tapi tanganku diborgol

kepalaku dihantam palu godam;

hitam

**

HUJAN pagi hari, mengguyur bumi,tiga wanita itu sudah tak ada, Adi juga, tinggal istriku.

“Pa, bapak ada di rumah sakit ini sudah enam hari, sekarang sembuh, harus sem­buh,” bisiknya.

Aku mengangguk aku mengerti. lstriku membelai kepalaku penuh kasih sayang. Dua tetes air matanya menetes di keningku.

“Alhamdulilah… kita pulang besok, Pak,” bisiknya lagi.

menemukan tuhan

di setiap kabel infus

ia menjadi cairan o2

respirasi di antara kulit, nadi dan darah

senyumnya ramah.•••

 

 

[1] Disalin dari karya Matdon
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 29 Juli 2018