Love Is [Not] Magic

Karya . Dikliping tanggal 25 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
TAHU apa persamaan magic dengan jatuh cinta? Keduanya sama-sama menyuguhkan ilusi. Tak percaya? Lihat saja bagaimana pesulap menyihir mata penonton dengan  kelihaiannya memainkan satu demi satu trik, sehingga penonton nyaris hanya bisa mendesiskan kata ‘wow’ bersahut-sahutan. Padahal sebenarnya mereka hanya terpedaya ilusi sang pesulap.
Sedangkan orang yang sedang jatuh cinta, jatuh dalam ilusi yang diciptakan hatinya sendiri. Ya, hati tetiba menjadi induk semang segala khayalan semu yang menyulitkannya memilah, mana yang nyata mana yang imajiner perasaanmu sendiri. Dan ketika hal itu terjadi pada salah seorang sahabatmu, percaya deh kau akan menjadi orang yang paling tak tahan berada di dekatnya, sekalipun ia sahabatmu sendiri.
***
Aku, Feby dan Della bersahabat sejak SMP, meski kami bertiga tergolong “berbeda” dalam segala hal. Feby sosok paling ceria dan enerjik di antara kami. Tak ada yang menghalanginya ketika ia ingin mendapatkan sesuatu. Dan ia selalu memeroleh apa yang diinginkannya. Della lain lagi, ia kutu buku, tapi jangan dibayangkan sosoknya berkacamata tebal dengan oldies mirip Betty La Fea, atau sosok kutu buku selayak yang digambarkan di sinetron ABG. Della cukup manis dengan lesung pipi dan kulit kuning langsat. Ia hanya pendiam, atau lebih tepatnya pemalu. Sedangkan aku, mungkin ada di tengah-tengah, kalau boleh dibilang irisan karakter dua sahabatku itu. Tak terlalu pendiam seperti Della tetapi tak juga se-enerjik Feby.
Untuk urusan hati, tentu saja Feby jawaranya. Maksudnya, Feby lebih banyak naksir atau ditaksir cowok daripada aku, apalagi Della. Namun aku merasa akulah yang lebih rasional untuk masalah cowok, tak se-lebay Feby kalau lagi naksir seseorang. Dan memang, urusan hati tak pernah emngusik persahabatan kami, hingga kehadiran cowok bernama Miko, tetangga sebelah rumah yang merupakan teman masa kecilku.
Sejak kedatangannya dari Amrik, Miko langsung memikat mata cewek-cewek di kompleks perumahan dan juga di sekolahku, termasuk Feby.
Tampan. Supel. Dan sederet karakter cowok idola lainnya melekat erat pada sosok Miko. Sebenarnya aku sudah terbiasa mendengar Feby bercerita –atau tepatnya merapal– nama cowok yang sedang digandrunginya. Paling aku dan Della hanya iya-iya atau cukup memamerkan gigi pertanda setuju saja, bagaimana cowok-cowok itu memuja  Feby. Paling tidak cara itu manjur membuat Feby mengakhiri kalimat tentang “gebetan.”
Jahat sih, tapi kalian juga akan sepakat melakoni hal yang sama, bukan, ketika seseorang mendnegungkan satu nama hampir dua puluh kali di telingamu seolah nama itu akan muncul dalam ujian besok?
Namun sekali lagi, untuk cerita-cerita Feby soal Miko, seperti kataku di awal tadi, Feby tak sadar sedang terjebak oleh ilusi hatinya sendiri.
***
PESTA ulang tahun Shelly.
Miko menjadi bintang pesta yang bikin sirik cowok lain. Para perempuan itu rela ngantri hanya untuk berdansa tak sampai lima menit dengannya, termasuk Feby.
“Kalian lihat enggak cara Miko memegang tanganku. Dan tatapan matanya. Romantis banget!” Ujar Feby dengan mata berbinar. 
“Pandnagannya lebih lembut dan aku satu-satunya yang paling lama dansa ama dia ketimbang Shelly yang lagi ultah. Dan kalian lihat enggak sih, setelah itu ia sering menoleh ke meja kita… dan tersenyum padaku…”
Feby sering menyeringai kegirangan, dan inilah yang kusebut sebagai ia sedang 
mengalami fase ilusi. Terjebak dalam kreasi yang dibikin imajinasinya sendiri.
Mulai keesokan harinya pula hampir si tiap percakapan kami, Feby tak pernah luput mengaitkan nama Miko, Miko dan Miko lagi. Pun ia semakin sering menyatroni rumahku. Pura-pura menggarap PR, pura-pura belajar kelompok, sampai pura-pura bantuin mamaku berkebun, hanya demi mengintip aktivitas Miko di halaman sebelah. Lama-lama kupikir tingkah Feby mulai  tak waras.
“Kamu cemburu karena Miko naksir aku?” Pertanyaan atau lebih tepatnya tuduhan bernada sinis Feby di siang bolong usai melihat keacuhanku pada cerita-ceritanya tentang Miko.
“Cemburu? Enak aja kamu bilang! Ngapain juga cemburu ama kamu, apalagi soal Miko yang aku sudah kenal sejak kecil. Aku cuma kasihan aja kalau kamu terus-terusan kegeeran seolah-olah Miko ada perhatian khusus ama kamu, Feb, padahal nyatanya tidak!” suaraku agak meninggi. Ya, ini mungkin menjadi ambang batas kehjengahanku.
“Kelihatan banget kalau kamu cemburu, akui saja! Tapi siap-siap saja patah hati karena aku yakin Miko lebih tertarik padaku!” Lengkung bibir Feby menerbangkan benaknya entah ke khayalan antah berantah mana lagi. 
Kalimat sinis Feby menyulut emosiku. Oke, benar, sejak kecil aku memang tertarik pada Miko. Kami sering main bersama, dan yang Feby tidak tahu adalah, sebelum Miko pergi ke Amrik, ia pernah memberi kalung manik-manik dengan bandul sepasang merpati sembari membisikkan janji ia akan selalu mengirim kabar meski diantar merpati. Surat-surat Miko memang tak pernah datang, tetapi ia memenuhi janji untuk kembali. 
“Kamu bukan sahabat! Menyerobot milik sahabat, kau tak pantas disebut sahabat, tapi pagar makan tanaman!” hardik Feby.
“Bangun dari mimpi dong, Feb, sudah jelas-jelas hubunganku dengan Miko ada sejak kami kanak-kanak, kau saja yang terlalu banyak berharap. Ilusi!” Kali ini aku yang menyeringai sinis.
“Cukup!” Hampir bersamaan aku dan Feby menoleh sumber suara yang terdengar mirip bentakan. Suara Della.
“Untuk apa kalian setiap hari saling hujat, sedangkan Miko tidak pernah tahu tentang perasaan kalian. Kenapa kalian tidak tanya bagaimana perasaan Miko pada kalian? Come on, love is not magic, girls!”

Kalimat Della menamparku, dan melihat ekspresi muka Feby, nampaknya begitu juga yang dirasakannya.
“Tahu apa kamu soal cowok, Del!” hardik feby. “Nggak nyangka, ternyata kamu diam-diam juga cemburu.” Feby kian sinis.
Beep… Beeppp…. Suara klakson motor menghentikan adu mulut kami. Wajah di balik helm yang sedang  memamerkan senyum manis di depan pagar rumahku adalah Miko. Ia melambaikan tangan yang cepat-cepat dengan sigap dibalas oleh feby.
“Tuh kan, pasti dia mau ketemu ama…”
“Aku pergi dulu… Daaaaah!” Pamit Della memotong kalimat Feby dan menghambur ke arah Miko. Tawa lepas Della tak terhenti hingga punggungnya menghilang dalam boncengan Miko.
Ya, aku dan feby ternyata telah terlampau jauh diombang-ambing ilusi hati masing-masing. Hanya Della saja yang tidak berpikir secara “magic” kali ini. Detik berikutnya aku dan Feby terbahak sembari melucuti satu persatu ilusi yang membungkus kami. []


Alvi AH. Tinggal di Jalan Godean KM 1 Sleman Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alvi AH
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 21 Agustus 2015