Mahar Empat Puluh Tujuh Jeumpa

Karya . Dikliping tanggal 5 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Pada catatan kaki sebuah buku yang gagal untuk diterbitkan, tersebutlah perjalanan seorang pelaut Prancis, Maurice yang Jangkung saat berlayar ke Ceylon; kekurangan air minum membuat lelaki itu menurunkan jangkar di sebuah dermaga yang terletak di ujung Samudera, sebuah dermaga yang air sungainya tidak akan keruh meski disimpan selama enam bulan di atas galiung. Maurice, seperti halnya orang-orang Eropa yang telah beradab dan mengenal hukum undang-undang, begitu terkejut melihat apa yang dilakukan oleh penduduk pulau. Untuk lebih memahami apa yang terjadi di pulau tersebut, mari kita dengarkan cerita Maurice di ruang duduk rumahnya yang berlantai dua di Marseille, menjelang musim semi tahun 1751, tiga hari sebelum Maurice menemui Tuhannya di alam baka, itu pun semisal Maurice masih mempercayai keberadaan Tuhan. Lelaki itu memilih kota pelabuhan itu di masa tuanya, karena lautan adalah kehidupannya yang lain. Berkatalah Maurice pada Abelia dan Ferdinand, cucu perempuan dan cucu laki-lakinya dari sang putra yang kini menjadi ahli perkapalan, menggantikan peran Maurice yang telah keriput.

“Kapal kami merapat ke Bandar Achey melalui pintu kedua, menghindari karang-karang yang mengutuk setiap kapal yang melaluinya. Kami disambut oleh orang-orang pendek kulit berwarna yang memiliki bahasa yang tidak kami kenal sebelumnya. Beruntung, beberapa dari mereka mengerti bahasa Melayu, kebetulan aku sendiri dan beberapa awak kapal kami juga telah mempelajari bahasa tersebut. Kami dituntun melalui mulut sungai, menuju kota mereka, di mana rumah-rumah dibangun di atas tiang dengan dindingnya dari jalinan bambu. Kami dijamu di sebuah rumah milik orang aneh bernama Meurah Saga, dan untuk tempat penginapan itu, kami harus membayarnya dengan sangat mahal. Andai tidak kehabisan air minum, tentu kami tak sudi berlabuh di bandar yang dipenuhi orang udik setengah pemeras itu.”

“Yang lebih menarik, kami dilayani oleh empat puluh tujuh perempuan yang berbeda selama empat puluh tujuh hari kami tinggal di tempat itu. Lada dan emas adalah alasan yang membuat kami betah tinggal lebih lama dari sekadar mampir untuk mengisi gentong air minum. Suatu hari, setelah mengurus gudang lada miliknya, Meurah Saga datang menemui kami. Sebelumnya, tanpa diketahui awak kapalku, aku telah sangat tertarik pada perempuan ketiga puluh yang datang untuk meladeni kami, membersihkan rumah dan menyediakan makanan. Perempuan mungil berkulit gelap dengan senyum yang sangat manis. Mulanya, kukira itu ketertarikan alami seorang pelaut pada perempuan yang ditemui di daratan demi untuk menunaikan berahi semata. Untuk kebaikan semua pihak, aku mendatangi sebuah rumah bordir yang berada di utara kampung demi memenuhi hasrat yang sudah lama tertahankan di atas birunya samudra. Ternyata aku salah, wajah perempuan mungil itu tetap datang dalam mimpiku, bahkan mulai ingin mencekikku karena pengkhianatan yang kulakukan. Ketika Meurah Saga muncul di rumah yang disewakan kepada kami itu, aku mencoba berbasa-basi, kelihatannya Tuan memiliki sangat banyak pelayan perempuan, setiap harinya kami dilayani oleh perempuan yang berbeda ….”

“Lelaki itu malah terbahak-bahak sampai menutup mukanya dengan tapak tangan lalu menjawab, Anda salah, Anda salah, mereka bukan pembantu saya, perempuan itu istri-istri saya, Jeumpa-Jeumpa saya. Sebuah jawaban yang menamparku, membuatku menekan rasa cemburu yang berkecamuk dalam dada. Lalu ia bercerita kalau beberapa tahun yang lalu negerinya bermasalah dengan negara tetangga, yang membuat Sultan memutuskan menyerang Pedir, negara tetangga mereka. Dalam penyerangan tersebut, mereka menang besar, mayat-mayat musuh mereka jatuh bergelimpangan. Lalu mereka memotong organ-organ kelamin mayat-mayat itu biar musuh mereka tidak bisa bersenang-senang dengan bidadari yang telah menunggu di surga. Meurah Saga berhasil membunuh empat puluh tujuh orang musuh. Karena itu, ketika mereka pulang dengan membawa kemenangan, Sultan mengawinkan Meurah Saga dengan empat puluh tujuh perempuan. Besok dan lusa kau akan mengenal kesemua istriku itu, ujar Meurah Saga kala itu. Mahar keempat puluh tujuh istriku adalah empat puluh tujuh tengkorak musuh. Tuan memanggil mereka Jeumpa, itulah nama mereka? Tanyaku lebih untuk mengalihkan perhatian. Oh, tidak, mereka sangat banyak, susah mengingat masing-masing nama mereka, jadi saya panggil saja semuanya Jeumpa, meski saya juga lupa yang mana di antara mereka yang sebenarnya bernama Jeumpa, jawab Meurah Saga seraya tersenyum bangga.”

“Mengetahui kalau perempuan ketiga puluh adalah istri Meurah Saga, aku berusaha sekuat tenaga untuk melupakan perempuan itu, namun cinta memang seperti iblis yang tak kenal belas kasih. Semakin berusaha kulupakan, perempuan itu malah tak mau pergi dari lamunanku, ia mulai nekat datang dalam setiap mimpiku. Aku menjadi tidak selera makan dan lekas marah, menanggung derita menyukai istri orang lain, membayangkan mereka bercinta membuatku sangat tersiksa. Karena derita yang tak terbayang itu, aku memutuskan melakukan makar saat Meurah Saga menyambangi kebun ladanya di lembah. Sebelumnya kami memuat kapal dengan lada dan emas, mengisi gentong dengan air-air sungai. Dan pada malam keempat puluh delapan, aku menghasut awak kapal untuk membakar rumah tempat kami tinggal sementara, rumah yang berdempetan dengan bangunan lain di perkampungan yang padat itu. Api menjadi tak terkendali, aku menyelinap ke rumah Meurah Saga dan menarik tangan perempuan ketiga puluh yang terlihat ketakutan untuk mengikutiku dengan perahu menuju galiung.”

“Dengan laut biru sebagai saksi, aku menikahi perempuan itu, perempuan yang tak bisa berbahasa melayu, apalagi bahasa kita. Menurut awak kapal, aku telah menjadi gila, untuk perempuan seperti itu, aku bisa menidurinya layak seorang pelacur tanpa perlu menikahinya seperti perempuan terhormat Eropa. Cinta memang membutakan. Saat singgah di Gujarat, aku menemui seorang pendeta untuk menikahkan kami secara resmi. Perempuan mungil itu kulihat mulai bisa tersenyum kembali, meski tidak kunjung mengatakan namanya padaku, sepertinya ia telah menerima sepenuhnya nasib yang menimpanya dan mencoba berbahagia dengan itu. Kami tinggal beberapa lama di negeri itu. Saat bertolak dari Gujarat, perempuan itu telah hamil beberapa bulan.”

Maurice terbatuk-batuk, kemudian Abelia memberinya air putih yang ia tuangkan dari ceret yang berada di atas meja dan Maurice melanjutkan ceritanya kembali.

“Kembali ke Prancis bukanlah perjalanan singkat. Hujan dan badai silih berganti meneror galiung kami. Perempuan yang telah mengandung anakku itu sebelumnya pasti tidak pernah mengarungi lautan, lautan yang seakan tak bertepi. Keadaannya mulai memburuk, ia demam dan muntah. Hingga pada suatu pagi, setelah semalaman aku merawatnya karena demam, ia menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Aku membuat repot awak kapal dengan menyuruh mereka memanaskan air dan merebus pisau. Pada siang hari, putraku lahir dengan selamat, tapi perempuan itu terbujur mati. Aku menangis di sisi tubuh itu, terus menungguinya, berharap ia bangun kembali. Setelah tiga hari, bau busuk mulai keluar dari mayat perempuan yang kucintai itu. Dengan tanganku sendiri, aku membuang tubuhnya ke laut, menjadi santapan ikan-ikan. Sejak saat itu, aku tidak pernah menginjakkan kaki di gereja lagi. Tuhan telah membunuh perempuan itu.”

Mahar Empat Puluh Tujuh JeumpaMaurice terlihat sangat emosional, ia mulai tersedu-sedu. Abelia menyodorkan sapu tangan bersulam yang dirajutnya sendiri. Gadis itu baru mengetahui ada perempuan lain dalam hidup sang kakek selain nenek mereka. Dan ada seorang anak laki-laki di antara mereka. Abelia dan Ferdinan terlihat menahan diri untuk bertanya nasib anak lelaki itu kepada kakeknya yang terlihat menyedihkan itu. Maurice pamit untuk beristirahat pada kedua cucunya, dan kesibukan kampus membuat keduanya tidak sempat berbicara lagi dengan Maurice. Setiap mereka ingin menemui kakeknya, lelaki itu selalu dalam keadaan tidur atau tidak ingin ditemui. Tiga hari kemudian, mereka mengubur Maurice, tanpa sempat menanyakan nasib anak lelaki Maurice yang notabene paman mereka itu. Dan kemungkinan terburuk lainnya, anak lelaki itu bisa saja ayah mereka. Mereka mulai memikirkan ciri-ciri fisik ayah mereka yang bisa menautkannya pada ibu kulit berwarna.

Penasaran dengan suku yang diceritakan sang kakek, Abelia mulai mencari referensi tentang suku tersebut di kampus. Membaca banyak jurnal, bertanya pada para cendekia membuat Abelia sampai pada satu kesimpulan; suku yang diceritakan kakeknya ketika kakeknya berlabuh di sana bukanlah lagi suku primitif. Dalam sebuah jurnal disebutkan, adat pernikahan dalam kerajaan Aceh adalah dengan membayar mahar berupa emas pada calon istri dan mereka sudah memiliki undang-undang. Cerita Maurice seperti bercampur baur dengan sebuah jurnal lain yang ditulis pada tahun 851 oleh seorang penjelajah angkatan pertama. Mungkin yang diceritakan Maurice adalah mimpi terakhir seorang lelaki yang akan mati dan teringat pada cinta masa mudanya. Hal itu sekaligus memupus keraguan bahwa ayah mereka bukanlah putra nenek mereka. Jika pun cerita itu benar, tak mungkin seorang bayi bisa bertahan hidup tanpa belaian perempuan yang menyusuinya dalam mengarungi lautan luas tak bertepi hingga sampai ke Prancis. Abelia tersenyum memandang potret Maurice yang berbingkai emas di ruang duduk rumah berlantai dua itu, tak pernah menyadari bahwa seorang perempuan mungil berkulit gelap juga sedang menatap potret yang sama di samping gadis itu.

Ida Fitri, lahir di Bireuen, Aceh. Kumpulan cerpennya berjudul Air Mata Shakespeare (2016) dan Cemong (2017).


[1] Disalin dari karya Ida Fitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 2-3 Februari 2019.

Beri Nilai-Bintang!