Makplaaas, Tiba-Tiba Lupa

Karya . Dikliping tanggal 13 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

SEUSAI menonton pentas Teater Gandrik yang mengangkat lakon Hakim Sarmin, ia jadi punya ilmu baru yang amat tak disangkanya. Ilmu “tiba-tiba lupa”. Makplaaas, lupa.

Maka, dengan wajah yang jauh lebih tenang dibanding sidang-sidang sebelumnya, ia duduk di kursi terdakwa yang biasanya terasa panas dan melelahkan dengan dada membusung dan wajah memandang tegak.

Sidang pun dimulai.

Hakim bertanya, “Apakah Saudara Terdakwa mengakui terlibat dalam pencurian APBD itu?”

“Maaf, Bapak Hakim yang Mulia, saya dituduh korupsi, bukan mencuri. Jaksa penuntut umum juga menyatakan demikian pada sidang-sidang sebelumnya. Tolong jangan rendahkan martabat saya. Ini ujian dari Allah kepada saya, saya harus kuat dan sabar sebagai mukmin,” sahutnya dengan sangat mantap.

Hakim terkekeh. “Oh, jadi Saudara Terdakwa yang mukmin tidak sudi disebut mencuri, ya?”

“Iya, dong! Itu rendah, hina, nista. Saya wakil rakyat, Bapak Hakim yang Mulia, saya mukmin yang taat ibadah pada-Nya. Tolong tempatkan saya pada derajat yang pantas.”

“Baiklah, baiklah….” Hakim melirik kawan-kawannya yang saling melempar senyum kecil. “Saudara Koruptor….”

“Pak Hakim!” Kali ini suaranya agak tinggi. “Saya ini belum divonis, belum inkracht, jadi jangan pakai sebutan itu. Ini sidang pengadilan atau Sri mulat, ya?”

Hadirin terbahak. Sangat keras. Termasuk jaksa penuntut umum dan kawanan pengacara yang minggu-minggu lalu saling beradu otot leher.

Hakim mengetukkan palu keras-keras. “Tenang, tenang, ini sidang pengadilan, bukan Srimulat, harap hormati sidang ini!”

Hadirin pun diam. Diam-diam saling menunggu adegan-adegan menghibur berikutnya. Sebagai pengusir stres. Maklum, semua pengunjungnya, termasuk jaksa penuntut umum, para pengacara, dan para hakim, di Jakarta ini, sama-sama terindikasi mengidap risiko stres akibat diterkam kemacetan-kemacetan.

“Saudara Terdakwa, sekarang jelaskan bagaimana Saudara bisa memiliki rekening gendut itu? Menurut data dari PPATK, lima tahun lalu, Saudara punya tanggungan kredit macet pada sebuah bank untuk membeli becak. Sekarang, jangankan kredit, apalagi macet, apa pun bisa Saudara beli dengan cash….”

“Rezeki dari Allah-lah itu, Bapak Hakim….”

Kekehan kembali menggelegar. Termasuk para hakim.

“Wooy, lucunya….” Terdengar celetukan demikian; ditimpali lainnya, “Tapi dia jujur dan syari, semua rezeki pasti dari Allah dong!”

“Saudara Terdakwa,” kata hakim sesaat setelah suasana mereda. “Pertanyaan saya adalah apa kaitan antara bertambahnya saldo rekening Saudara yang tak lazim itu dengan pertemuan Saudara dengan Reza Nufa, Gunawan Tri Atmodjo, Iqbal Aji Daryono, Kalis Mardiasih, dan Kiki Supriadi?”

“Maaf, Pak Hakim, makplaaas, saya lupa itu….”

“Saudara Terdakwa tolong jangan main-main, Anda berada di bawah sumpah Alquran, lho….”

“Lha, saya tiba-tiba lupa soal itu, Pak Hakim, makplaaas….”

“Ya sudah, orang lupa tak bisa dipaksa.” Hakim ketua mengelap wajahnya yang mulai berminyak. Sudah lama ia lupa facial, perawatan, juga massage. Ah, nanti, sehabis sidang ini, gumamnya. “Begini, Saudara Terdakwa….”

“Siap, Bapak Hakim yang Mulia….”

“Anda lihat ini, ya, sebuah kuitansi dengan tanda tangan dan nama Anda. Nilai uangnya satu juta dolar Amerika. Ini uang diterima dari siapa?”

“Lupa, Pak Hakim…”

“Uang untuk apa?”

“Itu pun jelas lupa, Pak Hakim….”

“Berapa kali Saudara menerima uang-uang lupa begini?”

“Nah, itu juga lupa, Pak Hakim….”

“Ah, taiklah….”

Suara itu menyentak semua pengunjung; suara yang terlontar dari hakim kedua yang mendengus di sebelah hakim ketua.

“Interupsi, Pak Hakim Ketua, mohon bapak-bapak hakim tidak mengucapkan kata-kata yang bernada negatif atau meneror Saudara Terdakwa,” cetus pengacara yang paling tua dan patut diduga sebentar lagi akan stroke. “Ini sidang pengadilan yang terhormat, bukan pasar malam….”

“Kata-kata apa, ya?” sahut hakim kedua.

“Lha, barusan, bilang taiklah….”

“Duh, kapan? Makplaaas, lupa saya….”

“Halah….”

“Saudara pembela hukum,” cetus hakim ketua. “Tolong dijaga kata-katanya, jangan halah-halah gitu kepada kami….”

“Lho, kapan saya bilang begitu, Pak Hakim?”

“Barusan!’

“Lupa saya, makplaaas….”

“O, wong edan!”

“Saudara Jaksa Penuntut Umum!” ujar hakim ketua. “Anda jangan turut mengacaukan kehormatan sidang korupsi APBD ini dengan mengumpat begitu, ya. Ini sidang terhormat, bukan pentas Gandrik!”

“Apa ya, Pak Hakim?”

“Barusan, Anda bilang wong edan!”

“Lha, kapan? Lupa saya, makplaaas….”

Seekor kucing berambut tebal melintas ke depan sidang. Duduk tenang di hadapan terdakwa. Hakim berteriak. “Ini siapa yang bawa binatang piaraan ke dalam ruang sidang?!”

Seorang gadis cantik berambut kepirangan dengan tato di lengan mengacungkan tangan dengan kepala dirunduk-rundukkan.

“Mohon maaf, Pak Hakim, tak sengaja lepas dari pangkuan saya….”

“Oalah, Dek, ya sudah, Dek, ambil segera, pelan-pelan ya agar kucingnya tak kaget, malah lari ke mana-mana. Kucing juga punya perasaan kan, ya. Apa perlu bantuan saya?”

Makplaaas, Tiba-Tiba LupaGadis cantik itu maju ke dekat terdakwa, lalu mendekati kucingnya, memegangnya, menggendongnya. Kucing yang beruntung, gumam Pak Hakim. Matanya tak lepas sedetik pun dari tubuh gadis cantik itu.

“Siapa nama kucingnya, Dek?”

“Pilkada, Pak Hakim.”

“Halah, serius tho, Dek….”

“Iya, serius itu namanya, Pak Hakim. Jantan dia….”

“Nama yang bagus, kucing yang mujur,” ujarnya, kemudian menghela napas. “Eh, siapa namanya, Dek? Kok makplaas lupa saya….”

“Pilkada.”

“Eh, bukan, namamu maksud saya….”

“Duh, saya kok lupa tiba-tiba ya, Pak Hakim, makplaaas. Nanti kalau ingat saya sebutkan, Pak Hakim….”

Hakim batuk-batuk wibawa sambil mengetukkan palunya keras-keras, menenangkan suasana sidang yang riuh. “Mohon tenang, itu hanya intermeso. Jangan terlalu tegang agar pikiran kita fresh. Kita mulai lagi sidang ini dengan mengucap bismillah…”

“Tadi sudah, Pak Hakim….” tukas terdakwa.

“Halah, apa salahnya baca bismillah lagi, makin banyak makin berkah, agar sidang ini membuahkan hasil yang adil. Iya, kan?”

“Gimana kalau tahlilan sekalian, Pak Hakim?” timpal seseorang yang tak kelihatan di mana duduknya meski suaranya keras terdengar ke seluruh ruangan.

“Anda pikir ini malam Jumat, usai Yasinan, lalu tahlilan? Sekalian istighotsah, ya. Ada-ada saja….” Ia mengernyit, memasang kembali puing-puing wibawanya yang krowak gara-gara kucing; tepatnya empunya.

Susana seketika riuh. Pada ngakak semua, kecuali terdakwa yang angkat tangan dan bersuara keras.

Hakim menggeleng-geleng dan menyeka keringatnya lagi. “Tenang, tenang, maaf, saya kok makplasss lupa tadi. Sekarang sudah ingat. Begini, Saudara Terdakwa, sekarang ceritakan bagaimana ihwal diputuskannya anggaran yang dikorupsi itu….”

“Kalau ini panjang ceritanya, Pak Hakim. Kalau diceritakan semua, bakal sulit dimuat kisah ini di koran karena keterbatasan ruang ….”

Ia pun memulai ceritanya:

Sengaja, aku datang lebih awal ke Bandara Halim pagi ini. Menikmati black coffee Excelso di smoking area—dengarkan baik-baik, Tuan, bandara tanpa smoking area adalah bentuk lain dari diskrimi nasi, itu artinya ketidakadilan, pelanggaran HAM, kejahatan struktural!—sembari menyelesaikan kegemaranku menulis cerita atau catatan yang tak pernah berujung karena terus dimulai. Buku Seno Gumira Ajidarma, Saksi Mata, menemani sampai kumal. Dua orang lelaki usia 30-an menggunjingkan pilkada yang riuh sembari terkekeh-kekeh penuh kelucuan. Ia pasti datang—seperti WhatsApp-nya semalam. “Tak masalah dong aku buang tiket Citilink demi keamanan kita, heee…”

Di belakangku, cahaya matahari menempias, terhalangi gedung julang yang entah isinya apa saja. Sangat mungkin di dalamnya sedang ada pekerja yang saling jatuh cinta, berjanji makan siang bersama, lalu bobok kilat. Ini kota besar! Manusia laksana semut-semut belaka—siapalah yang peduli pada semut, kecuali semut yang kurang kerjaan atau iri dengki?

Pukul 10.30 pas, ia melempar senyum sambil meletakkan dua bungkus Marlboro merah di atas meja. Seorang waitress cantik mengantarkan secangkir kopi. Ia berterima kasih, sedikit menyela, “Mbak, pulang jam berapa?” Waitress menyebutkan sebuah angka. Ia mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya yang makin tebal saja sejak ikut sebuah pengajian di masjid kota yang ia ingat rajin menasihatkan begini: memelihara jenggot itu sunah Nabi, seyogianya kita mengamalkan sunah-sunah Nabi….

Mereka janjian, aku terbahak. Kau tak berubah, celetukku. Laki-laki, Bro, kapan lagi? Ia mengekeh. Sebuah amplop besar dikeluarkan dari tasnya. Ia lantas berkisah panjang lebar tentang susunan taktiknya yang ia nyatakan, “Tak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya!”

“Ini uang lelaki, Bro,” kekehnya lagi.

“Sampai keluar angin saja kalau semuanya dipakai, ya, heee….”

“Eh, bagaimana dengan Tuan Besar?”

“Beres, sesuai arahanmu, sudah dikondisikan.”

“Langsung?”

“Tidaklah, Bro, tidak mungkin. Tapi ini ring satu, bereslah.”

“Yakin?”

“Yakin dong!”

Kami lalu saling bertukar cerita tentang “kawan-kawan”—dulunya mereka lawan; maklumlah, bisa karena malu-malu atau takut karena belum pengalaman—yang seperti terkaan kami lebih serakah dibanding kawan-kawan yang sesungguhnya.

“Si Cocot Takbir, itu…ah, dia cen asu kok! Serakahnya nggak ketulungan. Sudah kukasih dua juz, seminggu lagi tanya lagi, minta cewek lagi, rupanya dia ketagihan sama yang kemarin itu, ampun dah….”

“Kalau Iqbal bagaimana, sudah mau terima servismu?”

“Ah, taik kucing lah, lelaki Broohhh…” Mengekeh.

“Jidat aja dia hitamin, malam-malam dia WhatsApp, butuh teman katanya, bhaaaa…haaa….”

“Sebentar, sebentar,” tukas Bapak Hakim. “Jadi, sangat banyak ya yang terlibat sebenarnya berdasar cerita Saudara Terdakwa barusan?”

“Iya, Pak Hakim, ada 41. Ini kan saya saja yang jadi martir, seperti biasanya….”

“Wolah, maling kabeh!” sergah pengunjung.

“Jinguk, korupsi kok akuran….!” timpal lainnya.

“Rombongan ya ke nerakanya….!”

Suasana sidang riuh benar. Hakim berkali-kali mengetukkan palunya. Barulah cukup reda. Ia mengangkat suara lagi, “Siapa saja, coba sebutkan nama-nama yang belum pernah dimunculkan dalam sidang sebelumnya.”

“Aduh….”

“Kenapa? Makplaaas lagi, lupa lagi, tiba-tiba lagi?”

“Iya, Pak Hakim, maaf….”

“Itu makplaaas-makplaaas-nya juga bagian dari martir, dong?”

“Tidak, Pak Hakim, itu bagian dari pentas lakon Hakim Sarmin.”

“Apa itu?”

Ia terbahak; hakim memang kurang sekali sentuhan seninya, ya. Ia masih terus saja ngakak, sangat kencang, begitu lepas dan semringah.

Suog, desis Hakim dari balik meja tingginya.

Jogja, 4 September 2018

Edi A.H. Iyubenu. Esais dan cerpenis, tinggal di Jogja. @edi_akhiles


[1] Disalin dari karya Edy AH Iyubenu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 11 November 2018