Malam Ini Sunyi Sekali

Karya . Dikliping tanggal 28 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

AZAN Maghrib sudah lama lewat. Di dalam bus itu, sunyi terasa menekan mendesak. Gedung, pepohonan, dan lampu jalan berlari cepat di luar jendela, meninggalkan perasaan ngelangut di kedalaman dadanya. Ia memejamkan mata. Pada terminal ketiga atau keempat, harapnya, ponselnya akan berbunyi. Dan ia, dengan tangan gemetar dan dada berdebar, bakal mengangkatnya setelah dering kelima.

“Halo….”

“Halo… kau di mana?” seru suara di seberang. Suara yang penuh kecemasan. Ia akan tersenyum. Namun, demi martabat seorang perempuan yang berada pada posisi benar dalam sebuah perselisihan, ia akan meredam kecamuk kegembiraan dalam dadanya. Ia akan menahan teriakan. Ia akan mengikis kikik tawa yang rawan merucut ke speaker ponsel.

“Bukan urusanmu,” ia bayangkan menjawab, dengan nada yang dipaksakan ketus.

“Jangan begitu. Kembalilah,” suara di seberang memohon. Ia membayangkan mimik muka dan gestur pemilik suara itu; sebutir keringat meluncur dari kening lebar melintasi hidung mancung, kumis yang jarang dan bergerak lucu seiring gerak bibir yang bergetar, mata yang berkaca-kaca, satu tangan yang bebas dari kewajiban memegang ponsel akan terus-terusan menyisir rambut ke belakang dan perjalanan mondar-mandir di ruang tamu berukuran tiga kali tiga meter dalam rumah kontrakan mereka di kawasan Medaeng -kebiasaan-kebiasaan untuk mengatasi kecemasan khas lelaki itu.

Ia pernah mencintainya. Dan ia masih mencintainya. Sebelas tahun mereka hidup bersama, melewati desir hari lari. Mereka pernah mereguk berahi yang membara, saling memuaskan satu sama lain dalam malam-malam dingin, dalam malam-malam gerah, dalam malam-malam di bawah guyuran cahaya neon, dalam malam-malam ketika listrik mati, dalam pagi-pagi buta, dalam remang cahaya fajar sebelum gosok gigi, dalam siang-siang terik ketika keringat membanjiri jasmani, dalam sore-sore penuh kecapekan setelah dikerjai kerja.

Mereka pernah saling memeluk dengan lambung melilit pada masa-masa di mana pemasukan seret yang tak bisa ditebak. Sesekali, mereka tidur saling memunggungi ketika terlibat pertikaian sederhana untuk hal-hal kecil, semisal kenapa jemuran abai diangkat sewaktu gerimis turun. Atau melewati jam-jam dengan saling membisu. Duduk berjauhan di ruang makan -yang karena ruang itu tidak terlalu luas, maka jarak mereka sesungguhnya tidak akan bisa terlalu jauh meski masing-masing sudah merapat di dinding yang berseberangan. Memasang muka masam dan menghapus senyum. Namun, mereka selalu saling kembali menghadapkan muka, mengucapkan kalimat-kalimat lembut, saling merapat, saling memagut, saling menenangkan.

Jauh sebelumnya, mereka juga pernah tenggelam dalam lembah nista. Lembah kelam. Sewaktu mereka masih muda dan merasa bahwa mereka akan selamanya muda. Mereka akan menenggak arak murah di warung tepi rel, mereka mengisap ganja di kamar sempit kos-kosan kawasan Wonokromo. Sesekali, mereka pergi ke bar mahal, menghabiskan isi dompet demi martini atau wiski, sebelum kemudian, dalam keadaan teler berat, berpelukan dan memuaskan geriap nafsu tanpa ikatan pernikahan.

Episode-episode kekelaman itu berakhir setelah mereka menikah. Orang-orang bilang, mereka yang telah memuaskan hasrat kenakalan sebelum menikah akan cenderung hidup tertib dan baik setelah berumah tangga. Dalam kasus mereka, penyataan itu mendapatkan pembenaran. Suaminya meninggalkan botol minuman keras dan obat-obatan terlarang lantas menghabiskan hari dengan membaca dan mengarang cerita, membiayai kehidupan mereka yang sederhana sebagai penulis yang meski tidak begitu sukses secara finansial, namun telah mampu menerbitkan tiga kumpulan cerpen dan satu novel.

Sedangkan ia sendiri terdorong oleh perasaan berdosa di masa remajanya, mulai mengganti kaus ketat dan jins belel dengan gamis dan jilbab serta memilih memanfaatkan waktu luang yang ia miliki di antara kesibukan berjualan kosmetik online dengan mengaji. Dari sesama pelapak online-lah ia mendapatkan jalur untuk menemukan dan menghadiri secara langsung pengajian yang diselenggarakan ustad yang selama beberapa bulan sebelumnya membuatnya terkesima melalui video Youtube – menurutnya, hal itu disebabkan sang ustad tampan, muda, cerdas, dan berpenampilan modis serta berkelas.

Ustad itu, seorang lulusan sebuah universitas Mesir, kerap mengatakan dalam majelis pengajiannya betapa kita tinggal di sebuah negeri yang keliru. Negeri para thaghut. Negeri yang tidak menerapkan syariat Islam dalam pemerintahannya. Ustad itu pula yang dengan berapi-api, beberapa waktu sebelumnya, menyerukan demonstrasi untuk menghukum para penista agama, mengimbau jamaahnya mendatangi dan menuntut seorang pemuda yang mengunggah meme olok-olok pada seorang habib di  Facebook agar meminta maaf, dan tak henti-hentinya menggelorakan semangat untuk menciptakan negara syariat.

Ia percaya. Tentu saja ia percaya. Ia hanya bekas remaja badung yang mencari pencerahan dan pengampunan. Kadang kala, ketika menghadapi kesusahan -uang belanja yang kurang, misalnya -ia kerap berpikir bahwa itulah azab yang harus ia tanggung. Kini, setelah beberapa kali pengajian ia ikuti secara langsung dengan ketekunan dan kekhusyukan yang menakjubkan, setiap kali kesusahan itu menghampirinya, ia meyakini bahwa itu semata akibat dari pemerintahan yang tidak betul, pemerintahan yang sengaja melawan Tuhan.

“Azab Tuhan itu teramat pedih dan bisa turun dalam berbagai cara. Dan semua itu disebabkan oleh pemimpin yang laknat,” ia ingat betul bagaimana sang ustad, dengan mata merah dan tangan terkepal, kerap mengulang kalimat itu.

Ia, sebagai istri yang baik, selalu meneruskan apa yang didengarnya dari ustad kepada suaminya. Lelaki itu biasanya hanya tertawa sebelum kembali membaca atau menulis meski kadang-kadang menyahuti juga, “Itu kan cuma politisasi agama saja. Mbok ya kalau mau ikut pengajian itu cari ustad yang bener, yang adem ceramah-ceramahnya, dan tidak mencampurkan agama dengan politik.”

Jawaban semacam itu selalu sukses membikin pertengkaran kecil di antara mereka.

Bus melaju seperti kesetanan. Ia tadi memilih bus secara acak, mengabaikan plang keterangan di Terminal Bungurasih. Ia sedikit terkejut ketika kondektur -sewaktu menarik ongkos- mengatakan bus itu bertujuan Semarang. Ia belum pernah ke Semarang. Ia juga tak tahu apa yang akan ia lakukan di sana. Namun, ia membayar karcis untuk tujuan akhir -Semarang. Malam semakin ketat. Sunyi sekali di dalam bus. Padahal sejumlah penumpang tengah bercakap. Padahal kondektur berkali-kali berteriak dari jendela mencari penumpang. Padahal bus berkali-kali berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penunpang. Padahal kepalanya penuh percakapan-percakapan.

“Dia itu PKI. Kau tahu, komunis!” teriaknya tadi selepas asar.

“Dari mana kau tahu dia komunis? Kau tahu, PKI sudah lama tamat. Pemerintah sendiri yang menghabisinya. Jutaan orang dibantai tanpa diadili, jutaan lainnya dipenjara juga tanpa pengadilan. Dan sekarang kau bilang PKI masih hidup? Omong kosong macam apa ini!” kata suaminya.

“Ustad yang bilang begitu. Dan kalau kau tak percaya, kau bisa melihat ceramahnya di Youtube.”

“Ustad lagi, ustad lagi. Youtube lagi, Youtube lagi. Bosan aku mendengarnya.”

“Tapi, itu kebenaran.”

“Itu berita bohong!”

“Jadi kau mendukungnya? Dia itu keturunan China. Dia itu akan mengubah negara kita menjadi negara komunis.”

“Aku bosan dengan pembicaraan semacam ini. Sudah kubilang, aku akan tetap memilihnya. Dan kau tahu, yang kau pilih itu, yang kau dukung dan bela habis-habisan, yang katamu didukung ulama-ulama, dia itu penculik orang, pelanggar HAM, dia penjahat!”

“Kau kafir!”

“Apa katamu?”

“Dia komplotan penista ulama. Karena itu dia kafir. Dan dengan begitu, camkan ini baik-baik, setiap orang yang mendukungnya adalah kafir. Maka, kau kafir. Kau dengar aku, kau kafir!”

Lantas sebuah tamparan melayang. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia memegangi pipi kirinya. Panas. Suaminya masuk ke kamar dan menutup pintu dengan satu bantingan keras. Ia menangis. Tubuhnya terguncang-guncang. Ia mulai meratapi dirinya sendiri. Ia menyesal kenapa ia tidak menikah dengan seorang lelaki saleh yang akan menuntunnya ke jalan yang benar, yang akan membawanya memasuki gerbang surga.

Ia, sesungguhnya, masih bisa menerima kalau suaminya mengabaikan salat atau puasa, asal lelaki itu tetap memegang keimanan dan dengan keimanan itu memilih pemimpin yang amanah, pemimpin yang direstui ulama dan akan membuat negeri ini diguyur keberkahan Ilahi. Namun, suaminya benar-benar keras kepala, sebuah ciri khas dari kaum yang belum mendapatkan hidayah. Tak peduli berapa kali ia berusaha mencerahkan suaminya, lelaki itu bersikukuh pada pendapatnya sendiri. Dan tak peduli berapa kali suaminya menyampaikan alibinya, ia tetap tidak mengerti kenapa suaminya mesti membela pemimpin kafir. Dan celakanya, itu berarti suaminya juga seorang kafir.

Namun, tiba-tiba sebuah pencerahan menghinggapi batok kepalanya. Ia berpikir bahwa perbedaan pendapat yang seakan antara ia dan suaminya adalah ujian baginya. Bila ia mampu menyadarkan suaminya, ia berhasil melewati ujian itu dengan mulus. Dan bila ia tidak berhasil menyadarkan suaminya sudah seharusnya meninggalkan lelaki itu. Sebuah pilihan yang berat, sebuah pilihan antara agama atau cinta.

Namun, akhirnya ia memilih. Ia memilih agama -apa yang diyakininya sebagai ajaran agama seperti yang dikatakan ustadnya. Ia ingin menjadi perempuan ahli surga. Maka begitulah, ia pergi. Ia berkali-kali menggumamkan kepada dirinya sendiri bahwa kepergiannya demi kebaikan, demi agama, demi masa depan yang lebih baik , bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi segenap penduduk negeri. Kepergiaannya adalah jihad. Dan karena ganjaran jihad adalah surga dan bukannya kipas angin, maka itu tidak akan mudah. Semakin sering ia mengulangi gumaman itu, keyakinannya semakin membulat. Dan semakin membulat keyakinannya, semakin kerap ia mengulang gumaman itu.

Ia hanya tak menduga bila kepergian semacam ini tidak semudah kelihatannya. Ia terus memikirkan suaminya. Sebelas tahun yang penuh kenangan. Hari-hari dengan aneka penuh kenangan. Hari-hari dengan aneka kemaksiatan yang mereka lalui. Kehendak untuk memulai hidup yang baru bersama-sama. Janji untuk saling setia, saling mengingatkan. Suara kentut suaminya. Cara suaminya bersendawa setelah makan. Ia mengusap mata yang hangat. Malam terasa sunyi. Ia berharap ponselnya berdering. Dan suaminya memohonnya untuk kembali seraya menyadari kesalahannya.

“Kembalilah. Aku akan menurutimu. Aku akan menuruti apa yang dikatakan ustad. Aku sadar aku keliru,” begitulah yang ia harapkan bakal diucapkan suaminya.

Dan ia akan kembali setelah memastikan kepada suaminya, “Benarkah kau menyadari kekeliruanmu?”

“Iya, aku sungguh-sungguh. Aku menyesalinya,” jawab suaminya.

Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia mengamati benda berukuran 6 inci itu. Layar ponsel Android dengan RAM 2 GB dan memori internal 64 GB yang dipenuhi foto-foto ia dan suaminya -dan satu folder khusus untuk gambar kosmetik dagangannya- tampak gelap. Ia berusaha membukanya, meletakkan telunjuknya di pemindai sidik jari. Layar ponsel itu lebih kelam dari malam. Ia mengulangi apa yang barusan dilakukannya. Namun, ponsel itu tetap bersikukuh dalam kegelapan layarnya. Ia menepuk jidat. Ia ingat ia tidak memeriksa baterai sebelum berangkat. Namun, bagaimana ia sempat kepikiran untuk memeriksa dan mengisi baterai ponselnya? Ia sedang murka waktu itu. Ia menyesali ketololannya. Seharusnya ia lebih bisa menenangkan diri, menahan diri, dan tak terburu kabur seperti ini. Matanya kian hangat. Dadanya kian sesak. Ia ingin kembali. Ia tak tahan lagi. Ia tak peduli bila suaminya seorang kafir. Toh, pikirnya, mereka masih sama-sama manusia bukan? Mereka juga masih menjadi warga dari negara yang sama, bukan?

Ia membetulkan jilbabnya yang lebar sebelum bangkit dari kursi. (*)

 

DADANG ARI MURTONO

Lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018)

 

[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi 26 Agustus 2018