Malam Jakarta – Nyonya Kedai – David – Sajak Cinta untuk Daun dan Kupu-Kupu

Karya . Dikliping tanggal 26 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Malam Jakarta 

Air, air,
melayang terbang di bawah pohon kersen
burung di ranting, basah sayapnya
memandang Jakarta

Jauh di langit gadis kecil mencangkung
nenteng plastik, mengunyah permen,
matanya bening seperti bulan.
Ia merajuk pada Tuhan,
“Tuhan, Tuhan, ambilkan bola mainku
yang nyangkut bersama mayatku
di selokan.“

Gedung jangkung, ada perempuan
panjang rambutnya,
berdiri di balkon
dipeluk pacar
dari belakang

hujan di luar, tapi hangat tubuhnya hingga ke
payudara

“Lihat pacar, lihat, ada gereja terendam,
ada pasar tenggelam, ada orang-orang berenang
di jalan dalam. Apakah mereka
dikutuk menjadi ikan?“
Pacar tertawa, berkata bahwa di kolam
dan akuarium ikan-ikan pasti bahagia.
Lelaki meremas kutang, memandang jalan,
dan menghujani
tengkuk perempuan
dengan ludahnya

Sunyi sirene melintas pintas,
di bawah kersen air melayang
dan burung basah terbang malam.
Gadis kecil nenteng plastik di langit.
Bermain dengan Tuhan yang memberinya permen
dan bola mainan.
Ia tak lagi mengingat ibunya.
Ia tak lagi ingat ayahnya.
Bahkan lupa pada mayatnya.

Jalan-jalan mengambang, plastik mengambang,
motor dan truk, mengalir bersama diam,
hanyut ke luas arus,
ke hitam lumpur. Atap rumah berendam,
berbisik saling berdiam.
Ada listrik masih nyala,
di gedung jangkung
tempat sang pacar ngajak senggama.
“Sayangku, banjir tubuhku, banjir tubuhmu.“

Pohon kersen ditinggal burung,
di bawah langit,
menggigil malam. Buahnya jatuh,
menuju laut.
Jakarta, 2015 

Nyonya Kedai 

Nyonya Kedai Kegenitan, menyaring ampas kopi
belian. Burung hantu penunggu pohon,
melihat kutang dari ketinggian.
Di lincak, lelaki buta duduk menghadap nampan.
Langit malam beraroma petang,
debu dan jalan, berdiam
di simpang selatan.

“Ada lebah di bibirmu, Nyonya!“
lelaki buta tiba berkata.
Nyonya bilang itu kisah bukan sembarang,
dari leluhur yang penuh kedengkian.

Susu bergoyang di atas nampan. Lelaki-lelaki
petang di jalan, bergegas nuju arah simpang.
Kopi dan ketan dipanggang bara.
Burung hantu terbang ke malam,
melihat kutang dari ketinggian, dan lelaki jalang
penuh kesepian, menembang asmara
lebah di taman.

“Tak ada lebah di bibirku, Orang Buta!
“ Nyonya Kedai Kegenitan,
memandang Si Buta penasaran.
Ia dekatkan aroma kutang, susu dan kopi berkejaran.

Aku tak ingin melihat cahaya.
Terang dan gelap, tentu tak sama.
Apakah aku harus belajar membaca?

Membeda warna menghitung
rupa. Alangkah sengsara.
Aku cukup berjalan saja, dan orang-orang
melayaniku di semua jalan.
Aku cukup menyemir sepatu,
untuk membeli segelas kopi.
Aku cukup memijit tanpa membaca,
dan setiap orang menghujaniku dengan rezeki.
Ketika tiba di simpang,
keributan, maka Tuhan menyuruh kalian
menuntunku sayang.
Kalian bertanya begitu rupa,
apa enaknya menjadi buta?
“Maka jauhkan kutangmu dari hidungku.“
Nyonya Kedai Kegenitan.
Lelaki jalang kesepian.
Susu dan kopi
berkejaran.
Jakarta, 2015 

David 

Seperti mimpi, ketemu David. Ia mungkin boneka,
atau tanah liat yang dibikin tergesa, pada suatu
siang yang khilaf. Atau malaikat kecil yang sengaja
lahir dari lapar nafsu, antara perempuan
dan lelaki.

David kecil menjelma helikopter,
dari matanya muncul kebencian.
Ia bergasing seperti pusaran, berteriak.
Ia berlari: “Bapakku anjing. Ibuku kambing.
Bapakku kucing. Ibuku lintah.“

Demi Tuhan seperti mimpi.
Ketemu David, yang meraung
memunculkan masa lalu,
yang menyihir masa depan menjadi
jalanan menanjak, menurun,
berkelok, –menuju tebing batu.
“Jangan kauludahi gurumu, David!“
Seribu kata hanyut
dimuntahkan menuju laut.

David menerjang.
Tangannya berputar seperti helikopter,
menjangkau apa saja, dan menghancurkannya
menjadi serpihan.

Bapakku anjing
Ibuku kambing
Bapakku kucing
Ibuku lintah

Ada gurun tercipta di sana,
begitu lengang,
begitu dalam.
Jakarta, 2015 

Sajak Cinta untuk Daun dan Kupu-Kupu 

Di bawah rindang mahoni,
Kakek memandang kupu-kupu
seperti waktu yang lenyap
dalam ingatan.

Dahulu, ada banyak perompak menenggelamkan
perahu, tapi ia berangkat sendiri
menuju pulau gadis bergigi manis.

Membuka ladang, menanam
kembang di pekarangan. Ia panggil kupu-kupu
bersayap biru, menggiring rindu
di senja basah.

Lelaki melukis langit,
menurunkan gerimis pada manis
matahari. Ratusan kupu-kupu biru,
terbang menuju langit.
Dikalungkannya warna pelangi,
bagi selendang gadisnya
yang senantiasa sembunyi
di rimbun melati.

Di tanah basah menanam akar, meminang gadis
bergigi manis, dan mencinta daun yang
menumbuhkan kupu-kupu.
Dikalungkannya warna, untuk harum
di tanah negeri.

“Gadisku bergigi manis, kulitmu tanah,
mataku sipit, perahu telah kubakar di dermaga,
menjadi abu yang dikirimkan ombak
kembali menuju negeri asalku,
di tanah Tiongkok.“

Ada hujan yang turun
dari matamu, dari mataku. Ada matahari di bahu kirimu,
bulan bintang di rambut kilaumu. Maka
kutiupkan angin agar cuaca selalu pagi,
untuk menanam benih
di rahimmu basah

Kakekku memandang kupu-kupu:
dan aku petik melati, untuk gadis bergigi manis
yang hingga kini,
harum abu mayatnya
menjelma benih
di hati.

Jakarta, 2015 
Hanna Fransisca, penyair, lahir di Singkawang, Kalimantan Barat. Buku puisinya yang telah terbit Konde Penyair Han (2010) dan Benih Kayu Dewa Dapur (2012).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hanna Fransisca
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 26 Juli 2015