Malam-Malam Dazai

Karya . Dikliping tanggal 9 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

DAZAI Kagari menutup daun jendela setelah semua di luar begitu pekat. Saat ini memasuki November. Udara terasa kering dan malam hari sangat dingin. Musim gugur menjelang dan daun-daun mapel berubah warna. Kental dengan merah menyala. Seperti darah. Ya, darah.

Hanya lampu di tengah kamarnya yang terus menyorotkan sinar setelah jendela dia tutup. Sudah begitu malam dan angin dingin baru saja masuk. Dazai menggelar futon di tengah-tengah kamar. Menutup pintu sorong yang memperlihatkan ruang kerjanya yang berantakan. Besok dia mesti berbenah. Pikirnya. Seperti pikirannya di hari-hari lalu. Hanya ada inisiatif tanpa tindakan. Sebab, dia hidup sendiri. Sebelum tidur, lintasan masa lalunya berhasil menerobos rasa kantuk yang memberati diri. Sebagaimana orang-orang yang hidup dengan masa kecut, penuh penyesalan, dan kegundahan. Dazai mengingat sesuatu yang terasa jauh walau dirinya seolah teryakinkan, masa yang jauh itu baru saja dilalui. Seakan itu hanya selompatan kodok menuju luasnya danau.

Ingatan Dazai memasuki usia mudanya, saat mengajak seorang perempuan bunuh diri dengan melompat dari tebing karang di pinggir laut. Waktu itu malam hari dan polisi antihuru-hara mencari-cari para pendemo yang berhasil melarikan diri. Dazai muncul di kegelapan gang, lalu masuk ke sebuah bar dengan tubuh penuh keringat dan ketakutan. Seorang perempuan yang dikenalnya berhasil menyembunyikan dirinya di bawah meja, dengan kepala menelusup di sela-sela selangkangan si perempuan yang saat itu mengenakan terusan panjang. Perempuan itu penghibur di bar tersebut. Polisi tak berhasil menemukannya.

Nanaseko, nama perempuan itu. Namanya seakan menjadi pengikat kepribadiannya yang riang gembira dan tak mudah gemetar menghadapi cobaan hidup. Dazai menghabiskan waktu bersama Nanaseko setelahnya.

Dazai, seorang pesimis yang muncul dari lembah kegelapan dan linglung akan idealisme, terkapar sehabis mabuk dengan perempuan itu di sampingnya. Seperti yang dia kenang dengan begitu jelas, saat itu Nanaseko mengajaknya meninggalkan dunia bersama-sama. Dazai tentu saja menyanggupinya. Toh, dia sudah lelah hidup dalam limbung.

Baca juga:  Sensei dan Aku

“Besok malam?” tanya perempuan itu.

Dazai hanya mengangguk. Saat itu dia sudah mendengar deru laut memanggilnya.

Ingatannya terputus oleh suara kertap genting. Badai menjelang. Tiap kali musim gugur tiba, selalu ada badai dengan gumpalan-gumpalan angin kering. Dingin makin terasa. Futon tipis yang telah menemani malam-malam sepinya tak bisa menangkal dingin. Dia pun menghidupkan hibachi di sudut ruang. Untuk menghangatkan tubuhnya yang telah menua, dia menaruh seteko teh di atas hibachi yang mulai panas tersebut.

Lamunannya kembali menyeruak setelah merasa nyaman dalam kehangatan.

Si perempuan tentu saja tewas setelah pertama terjun, lalu diikuti Dazai. Sayang, Dazai masih bisa hidup usai dua minggu dirawat di rumah sakit. Penyesalan menghantuinya sampai hari ini.

Nanaseko berangkat ke Tokyo bersama-sama dengan rombongan teater yang salah seorang anggotanya adalah Dazai. Setelah lulus dari sebuah universitas kecil di Kansai, mereka menyeberang ke pusat negeri yang bergejolak dengan denyar perang dan segala yang modern. Karena banyak hal yang berbeda, Dazai meninggalkan rombongan itu untuk menjadi penulis, tinggal di tempat kumuh di Asakusa, sedangkan Nanaseko menjadi penghibur sampai bertahun-tahun hingga malam celaka tersebut. Keduanya tak pernah mengatakan cinta satu sama lain. Mereka hanya saling mengerti. Dazai selalu tenang di samping Nanaseko. Begitu juga sebaliknya. Namun, keduanya dingin, menjaraki diri satu sama lain.

Setelah menjalani perawatan dan mengambil semua barang berharganya di Asakusa, Dazai memilih pulang ke tempat keluarganya dulu di Tarumi. Mewarisi rumah yang dia tinggali sendiri hingga kini.

***

Bayangan tubuh yang jatuh ke laut tak pernah lekang barang sejenak dari ingatan Dazai. Maka, hingga kini dia memandang segalanya begitu gelap. Sampai-sampai bau rambut Nanaseko di malam-malam mereka bersama tercium tak mampu lenyap. Dazai tentu tak percaya hantu, dia hanya terus terguncang selama bertahun-tahun karena tidak dapat melupakan perempuan yang mengajaknya mati itu.

Baca juga:  Sumur Gumuling

Ketika pagi setelah tidur kesekian Dazai yang selalu berakhir tidak nyenyak itu muncul, momiji sudah sempurna nyalangnya. Dan daun-daun merah mengambang di alir sungai kota itu. Dazai membiarkan dirinya hanyut lagi, berkali-kali oleh perasaan yang serupa: Kenapa dia tidak ikut mati bersama Nanaseko. Buddha yang welas asih rupanya telah memintal jaring ke tungkai Dazai sebelum dia melompat memutuskan mati. Jadinya, dia masih ada di dunia fana ini. Dazai selalu berpikir semacam itu.

Sampai di Chidorigaoka, entah bagaimana kakinya melangkah tiba di sana. Pohon-pohon hinoki dan sedar menyelubungi taman itu dan suara burung di kejauhan. Dazai duduk di tengah rerumputan dan mendengarkan dirinya sendiri bersuara. Sesuatu yang terkubur di kegelapan telah muncul kembali dalam dirinya. Hanya, dia merasa sudah terlalu lama menunda itu semua.

Saat ingin menghilangkan kegelisahan, atau lebih tepatnya ketakutan, Dazai memasuki sebuah kuil di taman itu. Terdengar gesekan lidi-lidi sapu menggarit dedaunan yang gugur. Seorang biksu tersenyum kepadanya.

Dari atas patung Nio mungil di depan sebuah torii, air mengucur pelan ke dalam bak batu yang di pinggir-pinggirnya dipenuhi gayung kayu. Dazai membasuh kedua tangannya dengan air tersebut. Dia akan berdoa kepada Buddha untuk rencananya malam ini.

Biksu yang menyapu halaman kuil tadi kini menghampirinya.

“Cuacanya cerah.”

“Musim gugur, setelah badai kemarin,” balasnya.

“Banyak burung kecil hinggap di atap genting ini. Dan Anda bisa mendengar mereka bernyanyi pagi-pagi sekali.”

“Terkadang nyanyian burung membawa petaka.”

“Seperti?”

“Musim gugur, dengan badai.”

“Itu sudah biasa.”

“Orang-orang meninggal sebelum pagi waktu burung tiba.”

Baca juga:  Coup de Grace

“Orang meninggal setiap saat, Tuan.”

Biksu itu tersenyum dan pergi meninggalkannya.

***

Malam ini dia tak dapat tidur. Tepatnya tak dapat lagi tidur. Meski butuh keberanian lebih; walau dia sudah berniat melakukan hal yang telah ditundanya selama bertahun-tahun.

Pisau kecil itu telah diposisikannya di perut sebelah kiri. Berkali-kali Dazai mengambil ancang-ancang. Mengubah sedikit letak ujung pisau menyentuh kulit perutnya; dan berkali-kali itu pula dia gagal melaksanakan niatnya. Sampai malam itu terlalui begitu saja dan pagi tiba dengan ditandai suara burung-burung. Dazai masih menginginkan kematian yang dipaksakannya itu.

Di malam kedua, dengan semangat yang masih sama, dia mencoba lagi usaha penuh keringat tersebut. Sekali lagi hal yang serupa: memosisikan pisau di sebelah kiri, menyentuh kulit perutnya berkali-kali, dengan niat yang sama seperti malam sebelumnya.

Di malam ketiga, tak ada lagi tekad yang menyembul seperti malam-malam sebelumnya. Dazai hanya merasa dirinya wajib mati untuk bertemu Nanaseko, perempuan yang tak bisa dilupakan. Namun, bagaimanapun dia berusaha, hatinya belum cukup kuat menginginkan kematian.

Pagi muncul kembali. Membawa suara-suara yang diredam malam. Juga, burung-burung dan dedaunan terus muncul di depan matanya yang ketakutan karena ingin memutus benang waktu.

Hingga bermalam-malam tiba tanpa hasil. Dunia pun tahu, Dazai seorang pengecut. Pecundang belaka. Dan akan selalu begitu sejak dia lari dari kejaran polisi bertahun-tahun lalu.

2018–2019
untuk Osamu Dazai


Bagus Dwi Hananto. Lahir di Kudus, gemar menulis puisi dan prosa. Pemenang III Sayembara Menulis Novel DKJ 2014. Novelnya yang terbit tahun lalu Elegi Sendok Garpu (Buku Mojok) | “Jawa Pos.

Keterangan

[1] "Malam-Malam Dazai" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Jawa Pos ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 7 April 2019