Maneki Neko

Karya . Dikliping tanggal 24 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
EMOSI kian memuncak. Hisa menyait porselin yang terletak di meja rias. Porselin tak begitu besar konon berusia ratusan tahun itu, diayunkan ke arah suaminya. Dilempar. Tanpa dikomando, Hans Refleks menghindari. Poselin membentur tembok. Praakkk.. Hancur berkeping-keping.
“Laki-laki tolol. Bodoh. Tak berguna!” umpat Hisa berwajah makin beringas.
“Kamu yang goblok. Perempuan pembawa sial.” Hans tak mau kalah
Pertengkaran itu puncak dari cekcok harian yang selalu menghiasi rumah yang belum dimeriahkan suara tangis bayi, meski sudah menginjak usia tujuh tahun perkawinan mereka. Hanya beberapa bulan Nerhisa dan Hans Sukono menikmati bahagia. Menginjak bulan kedelapan, mulau muncul ombak yang menggoyah bahtera mereka. Dari eprsoalan sepele. Semisal, tidak mau menjemput pulang kerja karena sedang mengerjakan pekerjaan yang tanggung bila ditinggal. Atau, tidak mau membuatkan makanan karena kelelahan. Sejak itulah, perselisihan mencuat. Memayungi keluarga muda itu. Dan puncaknya dua bulan ini.
Kecewa Hans tak terbendung setelah ngonangi istrinya selingkuh dengan mahasiswa yang kos di sebelah rumah. Selingkuh dalam arti sebenarnya. Berhubungan badan. Di rumah. Siang hari, saat Hans keluar rumah.
Bila tidak segera lari, ‘brondong’ itu sudah dihajar Hans. Hisa menghalangi dengan badannya, sehingga selingkuhannya itu bisa menyelamatkan diir. Hans tak bisa apa-apa selain ngomel tak karuan. Ia bisa saja memukul istrinya, atau menyabetnya dengan pedang. Tapi Hans tak punya nyali melukai fisik istrinya. Sejak pertengkaran timbul, tak pernah laki-laki itu memukul Hisa. Hans terlalu cinta Hisa. Malah Hisa yang sering melukai Hans. Mencakar tubuhnya, memukul dengan tangan. Istrinya itu juga lebih sadis kalau berbicara. Nama binatang selalu dicuatkan.
“Dasar bebek wudunen. Tidak tahu kebutuhan perempuan. Egois.”
“Dasar perempuan sundal. Gatal!”
“Kamu kok mau menikahi perempuan sundal?”
“Aku tertipu. Kamu memang penipu ulung?”
“Trus kamu mau apa? Kalau tertipu, napa kamu nggak mau menceraikan aku? Laki-laki nggak punya nyali.”
“Untuk sekarang harus. Kamu harus kuenyahkan dari hidupku. Perempuan kotor pembawa sial sepertimu harus keluar dari rumah ini.”
“Ayo buktikan. Jangan asal ngomong saja.”
“Baik. Kau akan kucerai. Kau akan berstatus janda!”
“Nggak peduli. Bisa lepas darimu lebih membahagiakan daripada hidup di neraka sempit ini.” Hisa tak lelah memaki Hans.
Selalu terpojok. Hans acap kalah dalam perselisihan itu. Pada dasarnya Hans pendiam. Mengalah. Tapi kadang juga bisa emosi, meski hanya kata-kata. Tapi ketemu Hisa, selalu kalah omongan. Maka pertengkaran, Hans selalu kalah. Ngalah. Tapi tidak untuk saat ini.
“Oke tunggu saja. Mulai sekarang kamu pergi dari rumah ini.”
“Oke. Nggak amsalah. Aku memang akan pergi dari rumah pengap dengan lelaki gombal sepertimu. Laki-laki yang tak punya gairah, loyo, impoten, plekcur.”

***
SEDIKIT tenang beberapa hari ini. Minimal tak ada pertengkaran lagi. Tenang, juga sepi. Namun sudah niat Hans meminggirkan Hisa, istrinya. Tidak ada manfaat mengulur waktu hidup bersama perempuan sial itu.
Ya, Hans menganggap seperti itu. Hisa mendatangkan kesialan beruntun. Sudah lama Hans memikirkan itu. Menganalisis, kemudian menyimpulkan. Perjalanan hidupnya bertahun ini mayoritas dalam kemurungan. Ada-ada saja kejadian tidak mengenakkan yang muncul. Puluhan, bahkan mungkin ratusan peristiwa, yang dicatat benak Hans.
Pertama, yang paling diingat Hans, ia dikeluarkan dari pekerjaannya. Padahal kantor Hans termasuk bonafid. Alasan pihak kantor, ada strukturisasi. Latar belakang pendidikan Hans dianggap tidak tepat dengan bidang usaha tempat kerja. Kenyatan pahit itu memaksa Hans mencoba berbisnis pakan ayam. Ada pengalaman di bidang itu. Keluarganya pernah punya usaha itu. Namun terhenti sembilan bulan sebelum Hans menikahi Hisa, setelah mamah Hans meninggal. Sementara papahnya tak bergairah lagi berdagang. Mmeilih merantau ke negeri leluhur: Xinjiang China. Juga omanya. Menyerah, enggan mengurusi bisnis keluarga. Waktunya dihabiskan membikin cahkwe, makanan tradisionalleluhurnya. Oma Hans dikenal ahli bikin makanan itu. Maka Hans tertatih sendiri menggeluti usahanya.
Meski menurutnya telah bekerja kera, menerapkan kiat berbisnis yang benar, pun jujur, tetap saja usaha tak berkembang. Malah berkali ditipu. Ini yang bikin heran Hans. Juga membuat laki-laki yang kini berusia 35 tahun itu menerima pekerjaan serabutan. Bila ada teman yang minta dibenahi komputer atau laptopnya ngadat, Hans bersedia membantu. Juga bila ada yang minta didesainkan rumah, Hans menyanggupi. Namun pekerjaan dadakan itu tidak setiap hari ada. Kadang kala. Belum tentu sebulan atau dua bulan sekali.
Kesialan kedua di mata Hans, tak segera diberi momongan. Padahal ia dan istrinya sehat. Dokter bilang oke-oke saja. Kenyataan itu memukul semangat Hans. Pun memicu timbulnya cekcok tak bermutu.
Berbagai analisis menggenangi otak Hans. Dan salah satu yang hingga kini diingat, peristiwa awal pernikahan. Hisa mmebanting manike neko warisan keluarga Hans. Boneka kucing yang dipercaya sebagai pembawa keberuntungan itu hancur berkeping-keping.
“Syirik. Takhyul,” kata Hisa saat itu.
Meski sudah berusaha keras, Hans tak bisa mencegah istrinya melakukan perbuatan itu. PAsrah. Apalagi saat itu ia masih sayang-sayangnya Hisa, perempuan pribumi yang dinikahinya. Hans kenal Hisa di tempat kerja. Kegesitan Hisa menarik perhatian Hans, yang akhirnya menikahi perempuan tersebut, meski pada awalnya keluarga menentang.
Hans masih terbayang maneki neko tersebut. Saat kecil ia pernah tanya kepada omanya tentang benda itu.
“Itu penyedot rezeki. Kalau rumah ada maneki neko, dijamin akan tentram. Rezeki juga terjamin.”
Hans hanya bisa mengangguk, menerima cerita sang oma. Apalagi setelah oma mendongengkan tentang muasal maneki neko.
“Saat rombongan orangbersamurai yang dipimpin Ii Naotaka beristirahat di suatu tempat, ada kucing berdiri di depan mereka. Kucing itu melambaikan tangan, seolah memanggil. Lalu kucing itu lari ke semak-semak. Rombongan itu mengikuti. Mereka menemui sebuah kuil. Ketemu pendeta penjaga kuil, mereka dipersilakan masuk. Dijamu teh panas. Setelah berada di dalam kuil, tiba-tiba kucing itu melompat ke depan kuil, mendongakkan kepala. Tak lama hujan turun lebat, disertai angin kencang. Rombongan samurai itu terheran dengan kucing tersebut. Cerita itu kemudian tersebar di wilayah tersebut. Ada yang menganggap, kucing itu jelmaan dewa. Maka setelah kucing itu meninggal, pendeta membuat patung kucing, untuk mengenangnya. Dari situlah, maneki neko selalu berada di rumah orang hingga sekarang.”
Hans akhirnya percaya karena leluhurnya juga meyakini. Meski setelah besar, setelah kuliah, Hans sempat bertanya pada diri sendiri: “Kenapa maneki neko dipercaya leluhurnya, etnis Tionghoa. Padahal cerita maneki neko bermula di Jepang.”
Karena percaya keyakinan leluhur itu, Hans mengaitkan kesialan hidupnya setelah istrinya membanting maneki neko. Namun kegelisahan Hans hanya bisa mengembara dalam benak. Tak ada yang bisa menjelaskan detail. Yang ia hadapi saat ini: hidupnya telah hancur, tak tersisa lagi.
***
OMA memandangi wajah lusuh Hans. Ia merasa kasihan, cucu satu-satunya itu porak poranda nasibnya.
“Sudahlah, yang terjadi telah terjadi. Tak bisa dihapus atau disesali. Biarkan mengalir.” Sang oma menenangkan Hans.
“Apa yang harus kulakukan, Oma? Sulit untuk bangkit. Seolah semua jalan sudah tertutup.”
“Berdoa. Kita orang beragama. Itu yang harus dilakukan.”
“Sudah Oma.”
“Lagi. Jangan putus asa.”
Hans hanya diam. Seolah trauma berdoa, karena tak pernah terkabulkan.
“Satu lagi, kirim doa ke leluhurmu, terutama Mamahmu. Bersihkan altarnya. Besok kan Imlek. Saat yang tepat melakukannya.”
Hans mengangguk. Pikirannya menerawang. Terbelah pada maneki neko, juga Hisa. (k)

Sleman, Februari 2015


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dyah As
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 22 Februari 2015