Manusia Lumpur – Tuhan Lumpur – Bekicot Lumpur – Perempuan Lumpur – Malaikat Telah Mati – Tuan Diancukan

Karya . Dikliping tanggal 24 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
kepada korban lumpur Lapindo Mei 2006-2015

(1)

Manusia Lumpur

Kami manusia lumpur
yang dijeburkan manusia takabur
tetap hidup dalam sejarah peradaban
atas nama kebenaran

Kami manusia lumpur
tak pernah bisa mengerti
mengapa negara tak sudi
melindungi kami

Kami manusia lumpur
berTuhan dan berAgama
tak pernah kering berdoa
mengapa kalian
: hanya diam saja

(2)

Tuhan Lumpur

Agama kita bisa sama
Tuhan kita bisa beda

Kerna Tuhanku
menyuka sorga

Tuhanmu
penyuka sengsara

(3)

Bekicot Lumpur

Bekicot beringsut pergi
mengular tapaknya
mengalir tangisnya

Ia lenyap dalam batu
tanpa nyanyian rindu
tak ada jerit kemayu

Bekicot terus saja
bertapa dalam rumah
cangkangnya pecah
: terbelah

Warnanya
abu-abu

(4)

Perempuan Lumpur

Tak bolehkan aku merinduimu
lelaki seberang bintang yang
tiba-tiba hadir menghadang
di tengah malamku

Tak bolehkah aku memujamu
lelaki yang hanya kukenal
sekelebatan lantas lenyap
membawa seluruh gemetarku

Tak bolehkah aku menunggu
lelaki bertangan pedang bermata
tombak yang menancap tepat
di jantung sundal itu

Duhai, lelakiku
malam ini aku kangen
kembang mimpimu
muncrat bersama
lumpur
-lumpurmu

(5)

Malaikat Telah Mati

Atas nama dengan segala atas nama
bumi dan langit – api dan air
malaikat-malaikat tak sanggup lagi
menata hati yang telah berwujud
batu, baja, besi, saban hari

Atas nama dengan seluruh atas nama
malaikat-malaikat tidak sudi kembali
membisikkan rupa datu surga di
telinga-telinga manusia yang bertaring
macan, ular sawa dan beruang
jika dini

( di lumpur
-lumpur desa
jerit doa melafal-lafal meluncur
langit pun sesak tak beranjak
tetap saja : suwung… )

Menyebuti nama-nama pada atas nama
malaikat-malaikat telah mati
dan membiarkan bumi
tak perlu diurus
lagi
* Lapindo, 2006-2015

(6)

Tuan Diancukan

Tuan sungguh hebat
mengakali Tuhan
menipu para Malaikat
Menelikung rakyat
membudakkan Negara
mengumpulkan nyawa
memangku boneka Panda
tertawa penuh suka-suka

Taring Tuan sangat berbisa
lidah, lendir dan lilitan gigi Cakilmu
melantakkan masjid, tegalan, warung,
rumah, sekolah dan semua kitab suci
Tuan memang diancukan
dihamba para diancuk
agar tetap bisa menyanyi
lagu diancuk
Jonegoro, 041214

*) Arieyoko, penyair Sastra Etnik, tinggal di Bojonegoro, Jatim
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arieyoko
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 24 Mei 2015