Mari – Di Pintu Pagi I – Di Pintu Pagi II – Cerita-cerita Tentang Laut

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Mari

Kawan mari kita saksikan lagi
Bagaimana angin berdesir menjatuhkan butir-butir
embun dari kelopak-kelopak daun
Atau mari kita pulang sebagaimana Adam dari surga ke bumi
Takjub memandang ganasnya dunia
Mari sekali lagi kita pandang diri sendiri jaiuh ke
jantung kita yang paling putih
Sebab di sana Tuhan bersembunyi memanggil-
manggil nama kita

Di Pintu Pagi I

Subuh yang putih datang lagi
Memaksa mataku yang seperti bunga mengatup
dan membuka
Menatap jauh menembus langit-langit kamarku dan
menyuruhku untuk bangkit
Lalu kuraba ujung kelambu
Dan kubuka lebar-lebar daun jendela di sisi kananku
Siapa tahu ada seberkas cahaya yang mengajakku
untuk keluar memandang dunia


Di Pintu Pagi II

Di pintu pagi aku mengetuk
Siapa di luar
Aku embun yang sebentar lagi akan pecah dihardik
cahaya
Epitaf Bulan yang Pucat
Lewat celah dedaunan
Kuintip wajah dunia yang gersang
Lalu kusapa permukaan embun yang tenang
Oh ternyata wajahku memang cantik
Meski hanya terpantul dari sisa-sisa gerimis
Oh kelelawat engkaulah yang sering menggodaku
Dengan suaramu yang seperti derak pintu itu
Lewat celah awan
Kutatap paras lautan yang tenang tanpa gelombang
Di sana wajahku dicium ribuan ikan
Aku cantik bukan, bisikku pada bayang-bayang –
diriku sendiri
Memang kadang dalam sendiri tak ada hal lain yang
lebih menyenangkan
Selain menyanjung diri
matahari ke mana engkau pergi
Apakah engkau tengah menyambangi negeri-negeri
jauh
Menyaksikan bagaimana manusia saling bunuh?
Ke mana engkau wahai asal usulku, cepatlah ke –
mari
Jemput aku
Sebelum bintang-bintang menggodaku
Dan aku melupakanmu

Cerita-cerita Tentang Laut

1/
Akulah Malik bin Dinar
Kupanggil kalian wahai ikan-ikan
Dongkakkan kepala kalian dan lihatlah perahu-
perahu itu
Layar hitam telah berkibar masuklah kalian ke da-
lam jala doa-doa mereka
2/
Akulah Yunus yang diselimuti tiga lapis kegelapan
Gelapnya perut ikan
Gelapnya malam dan dasar lautan
3/
Akulah Khidir yang melubangi geledak perahu
Membunuh anak kecil, menegakkan rumah yang
nyaris runtuh
Dan mengajari Musa rahasia-rahasia dan
melarangnya untuk bertanya
Kenapa? 
4/
Akulah Musa yang membelas lautan jadi dua jalan
Satu jalan untukku
Dan jalan yang lain untukmu
5/
Akulah Sinbad yang tak takut dan tunduk pada
Gelombang
Setiap badai kutantang dan kuhadapi dengan
hidung lancipku
6/
Akulah karang
Akulah mutiara yang terpendam di kedalaman
rahasia
Berharap engkau menemukannya
2016
*Ridhafi Ashah Atalka: santri Pondok Pesantren Maulana Rumi Sewon Bantul. Lahir 21 September 1992diSumenep Madura Jawa Timur


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ridhafi Ashah Atalka
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 4 September 2016