Mas Riya Murtilangen

Karya . Dikliping tanggal 7 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
TIBA saatnya, gending Gati Sumirat, penuh getar-getar menderap suara tambur, lengking terompet, saat para penari bedaya baris kapang-kapang, undur dari pendapa, Mas Riya Murtilangen, penari sepuh srimpi-bedaya, bernapas lega. Sembilan murid asuhannya membawakan Bedaya Tambangraras nyaris tanpa cela.
Sembilan penari telah masuk Bangsal Kotak, tempat para penari dirias, juga tempat mereka berkemas. Di ruang itu, Mas Riya Murtilangen lebih dulu undur dari pendapa, dan menunggu para muridnya. Bu Murti, demikian para murid menyebutnya, berdiri santun di tepi dinding di bawah cermin rias. Satu persatu, para perempuan penari yang masih bersimbah keringat dan napas terengah, berjalan beriringan mendekat ke arah gurunya. Para penari bedaya itu dipeluk Bu Murti satu-satu. Setiap kali memeluk, dielus-elusnya punggung para penari sembari bersisik,”… bagus. Genep, jangkep, bener, pener.”

Mata para penari sembab oleh tangisan bahagia. Satu jam mengalirkan gerak halus dan perlahan, mengatur embusan napas secara lembut, mengikuti irama gending gamelan yang nyaris datar, bukan perkara ringan. Di Bangsal Kotak ini mereka terbebas dari beban menahan berat tubuh pada kekuatan kaki yang mendhak, bertekuk di bagian lutut, atau pada trisik, saat berjalan mengalir dengan tumpuan lembut ujung telapak kaki di atas lantai. Termasuk menahan embusan napas agar mengalir selembut mungkin, sehingga tidak terlihat kembang kempis. Selesai menari, segala beban itu dilepaskan. Mereka bebas bernapas, bebas berjalan, melakukan peregangan otot-otot badan.
Satu persatu, dalam otot yang telah kendor dan napas ringan, para penari mendapat pelukan hangat sang guru, Bu Murti. Saat penari ke sembilan hampir tiba dalam giliran dipeluk, Mas Riya Murtilangen sedikit terperanjat. Wajah penari termuda ini tampak pucat meski kesan kuat riasnya masih sangat kentara. Peluhnya meleleh sekujur wajah dari irah-irahan hingga dagu dan pipinya. Segera Bu Murti merengkuh tubuh penari itu. Dipeluknya erat-erat.
“Sudah bagus. Sakit, Mbak?” bisik Bu Murti.
“Dalem sewu, Ibu. Maafkan Ibu. Saya mendapat saat di tengah tarian. Mohon ampun, Ibu.”
“Hah? Lenggah. Duduk dulu. Lenggah sama Ibu di sini. Lenggah perlahan.”
Bu Murti dan Raden Ajeng Sustiwiningtyas perlahan duduk berhadap-hadapan. Amat dekat. Bu Murti tetap mengulungkan kedua tangannya, membimbing penari itu duduk di depannya. RA Susti wajahnya merunduk takzim di depan gurunya. Para penari lain, para perias, dan para abdi dalem yang bertugas terheran-heran. Mereka mula-mula fokus memandang. Lantas segera mafhum, ada sesuatu yang serius pada diri RA Susti. Bahwa, sesuatu sedang terjadi atas putri seorang pangeran itu. Sekali lagi Bu Murti memeluk RA Susti sembari mengusap wajah anak gadis itu.
“Tidak apa, Mbak. Segala sesuatu sudah ada yang mengaturnya. Kita sekadar menjalani.”
“Inggih Ibu. Saya tidak tahu kenapa begitu cepat datangnya”
“Sampun, Mbak. Sudahlah. Ibu mau tanya ini. Jawab sejujurnya. Apa ada yang sampai menetes di pendapa?”

RA Susti menggeleng. Bu Murti mengembus napas lega. Narasi Bedaya Tambangraras ada pada persimpuhan dara-dara jelita tatkala menyongsong kedewasaannya. Sebagaimana bedaya pada umumnya, ditarikan oleh perawan-perawan tak terjamah. Pada saat menari, mereka harus sedang tidak menstruasi. Khusus Bedaya Tambangraras, ditarikan hanya oleh dari dara yang belum genap tujuh kali mengalami datang bulan. RA Susti, dara yang baru sekali mendapatkan menstruasi. Peserta pergelaran akhir tahun, bukan karena ia putri seorang pangeran, melainkan karena kemampuannya menari. RA Susti tahu betul syarat sakral dalam menarikan Bedaya Tambangraras. Ketika tengah menari bersama delapan dara lainnya, tatkala baru masuk rakit kedua pada lajur baris pertengahan gending Ladrang Pareanom, RA Susti merasakan sesuatu terjadi atas dirinya. Saat tarian berpindah dari karakter gending ladrang menuju ketawang, sesuatu telah terasa mengalir deras. RA Susti sangat khawatir, pada saat gerak lenggah jengkeng dan nglayang menjelang akhir bedaya, sesuatu akan membekas di bagian belakang sinjang persis pada ornamen gurda di kain motif parang barong itu. Terlebih pada saat lenggah sembahan di akhir tarian, segenap pantatnya akan menyentuh lantai. Saat menari ia diliputi perasaan was-was. Ia khawatir saat kapang-kapang balik, langkah undur selesai menari, sebentuk noda akan tergambar jelas. Apalagi, ia memainkan peran endhel, dalam posisi baris paling belakang.

“Memang kalau sampai menetes di lantai pendapa, kenapa Ibu?”
“Hmmm…” Bu Murti tidak menjawab. Malah balik bertanya, “…menembus kain, sampai ngecap membasah?”
RA Susti menggeleng. “Tidak sederas yang saya bayangkan, Bu. Kalau menetes ke lantai pendapa, memangnya kenapa, Ibu?”
“Sudahlah, Mbak Susti tidak perlu cemas. Tidak apa-apa. Sudah diselamatkan. Tidak menetes, tidak pula membasah. Kita semua selamat.”
“Terselamatkan? Agaknya ada ancaman besar macam apa?”
“Hmm. Sudahlah,” kata Bu Murti sambil memegang kertas tisu dan mengusap wajah berkeringat RA Susti. “Sebaiknya, berganti di kamar mandi. Membawa ganti dalaman, bukan?”
RA Susti beranjak, diikuti perempuan abdinya. Meninggalkan Bangsal Kotak menuju ruang paturasan di sisi belakang bangsal itu. Bu Murti memandang pias dan berulang kali menarik napasnya dalam-dalam. Benaknya menerawang masa keemasannya sebagai penari. Bedaya Tambangraras sangatlah sakral. Berulang ia ikut membawakan, dan selalu saja terdapat kejadian mencengangkan. Tidak sembarang penari dara boleh memainkannya. Tanggung jawab dalam memilih penari ada pada guru tari istana yang ditunjuk. RA Susti bagian dari yang ia pilih.
Pergelaran Bedaya Tambangraras kali ini dimaksudkan sebagai agenda tutup tahun, sajian sedekah Dalem untuk para kawula. Sedekah berupa karya seni adiluhung. Bu Murti merenung. “Semua tanggung jawabku. Gusti, jangan timpakan kuasa tulah sarik padanya. Biar aku yang menanggungnya,” kata Mas Riya Murtilangen dalam hati.
“Ketika seluruh penari bedaya selesai berkemas, berganti busana pentas menjadi busana harian, Bangsal Kotak sudah tampak sepi. Tidak lagi riuh, karena para penari telah pula bersiap pulang. Bu Murti masih terpekur duduk di dekat dinding bawah cermin rias. Para penari belum berani langsung pulang sebelum mendapat persetujuan Bu Murti. Saat itu RA Susti belum tampak kembali di antara mereka. “Yang mau pulang silakan. Biarkan aku yang menunggu Mbak Susti.”
Para penari dan perias pun bergegas meninggalkan Bangsal Kotak. Tinggal beberapa perempuan abdi dalem menemani Bu Murti. Malam makin terasa sepi. Lantai marmer kian mendingin ketika dari arah belakang bangsal, masih dalam pakaian bedaya, RA Susti berjalan perlahan-lahan seorang diri dalam pose kapang-kapang, mirip ketika para bedaya memasuki pendapa pertunjukan. RA Susti menuju sisi kanan pendapa, duduk bersila lalu melakukan sembahan. Sejurus kemudian, RA Susti sudah menari bedaya seorang diri tanpa iringan. Bu Murti hanya memandang dan tak kuasa memupus rasa herannya, seolah tersihir oleh gerak mengalir super halus dari RA Susti.
Bu Murti tak kuasa bertanya apalagi menghentikannya. Mulutnya seperti terkunci dan tubuhnya gemetar seakan tak sanggup menyaksikan tarian tunggal RA Susti. Getaran gerak tarian RA Susti menyusup ke dalam lubuk hati Bu Murti. Keindahan sempurna suatu rasa tari yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Tak ada noda setitik pun. Baik di lantai maupun di kain sinjang batik parang barong pada bagian belakang tubuh. Sejurus kemudian RA Susti di mata Bu Murti makin tampak kabur, seakan menjadi menghilang dalam gelap tatapan matanya. Hitam dan gelap. Tidak sesuatu pun diingat Bu Murti.
Tatkala mata Bu Murti kembali bisa melihat terang hari, ia dapati dirinya sudah terbujur di pembaringan serba putih, dengan segenap bagian tubuhnya tidak bersedia digerakkan. Di dekatnya, seorang dara belia sedang duduk menunggu sembari bermaksud menyuapkan cairan bubur dari piring yang disangganya. Dara belia itu tersenyum lembut. Senyuman itu pula yang tak kuasa membangkit ingatan tentang hidup di hari-hari kemarin. Juga tentang dara belia itu. Dara belia yang tak dikenalnya. Bu Murti telah melampaui pergantian tahun tidak dalam ingatan. Bahkan untuk sekadar memaknai baring lemah tubuhnya. [] -k
Karangmojo, Desember 2014


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Purwadmadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 4 Januari 2015