Mas Wedana Marasemu

Karya . Dikliping tanggal 3 Mei 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
MAS Wedana Marasemu telentang menghitung usuk, rangka atap rumahnya. Berulang usuk kayu penyangga reng dan genteng itu ia hitung telaten. Padahal, ia tahu usuk rumahnya tidak pernah berubah jumlah, tak pula beringsut tempat. Menghitung usuk baginya buat meresapi nikmat hidup sebagai bilangan berulang, cakra manggilingan. Mengalir dalam rangkaian ketetapan dan kepastian yang berulang. Baginya, perubahan dalam hidup, tak lebih sebagai keberulangan yang sempurna.
Jajaran berbanjar usuk-usuk terus dihitungnya. Ia malah tidak menghitung uang dalam amplop yang baru saja diterimanya. Segepok uang itu ia letakkan begitu saja di pembaringan. Seakan, uang dalam amplop itu menemani rebahan badannya. Teman sepembaringan. Sesekali, uang dalam amplop itu ia lirik. Lirikan sekejap, lirikan mata keraguan.
Sejatinya, Marasemu sedang bimbang. Kehormatan baginya, ketika nyadhong, menerima kucah paring Dalem, uang tanda kasih, selama lebih dari 36 tahun. Artinya ia telah terima kucah tak kurang dari 432 kali selama pengabdiannya di Kraton sebagai andi pradangga, penabuh gamelan. Marasemu menganggap kucah Dalem sebagai berkah penanda pengabdian, bukan upah kerja. Tiba-tiba, hari ini ia terima kucah dalam jumlah besar, berlipat jumlahnya ketimbang jumlah yang biasa ia terima selama ini. “Aku musti menakar ulang makna pengabdianku,” bisik kata hatinya.
Perjalanan pulang dari Kraton ke Kampung Gendingan, selalu ia tempuh dengan berjalan kaki. Setiap kali datang hari menerima kucah, ia membelajakannya untuk membeli otek, biji jewawut pakan perkutut piaraannya. Pasar Ngasem selalu dihampirinya. Kucah Dalem  ia resapi berkah bagi perkutut piaraannya. Ia mengharuskan diri, setiap rupiah yang ia terima dari Kraton, akan dibelikannya otek. Betapapun kecilnya jumlah rupiah itu, betapa tak seberapanya otek yang didapatkannya, Marasemu selalu memikulnya sebagai pemberian terbesar berulang setiap bulan.
Ilustrasi Oleh Joko Santoso
Marasemu merasa, sukses sebagai peternak perkutut bagian dari sawab Dalem, hikmah dari rasa berketerimaan atas kucah tanda tresna Ngarsa Dalem kepadanya, juga kepada ribuan abdi dalem lainnya. Namun hari ini Marasemu tidak mampir pasar Ngasem. Marasemu tidak membelanjakan kucah yang ia terima di luar jadwal, sekaligus dalam jumlah yang berlipat. Marasemu bimbang. Biasanya ia membelanjakan seluruh kucah yang diterimanya untuk membeli otek. Khusus otek yang dibelinya dari kucah Dalem, akan menjadi rangsum utama bagi perkutut-perkutut yang telah sempurna anggungnya. Marasemu yakin, otek yang dibeli dari kucah Dalem punya kekuatan tersembunyi. Suatu kekuatan yang menyebabkan perkututnya berpindah tangan dengan suatu mahar dalam jumlah menggiurkan.
Sekali lagi, ia melirik amplop isi uang di sisi pembaringannya. “Masih akan menjadi berkah bagi perkutut piaraanku?” tanyanya kepada diri sendiri. Ia bermaksud beranjak keluar kamar.
Waktu pemberitahuan adanya “bonus kucah” disampaikan pekan lalu, Marasemu sebenarnya langsung rerasan bersama sejawatnya, Mas Lurah Babarlayar. Mereka berdua duduk di atas halaman berpasir di bawah rindang sawo kecik. “Adimas Lurah, benar demikiankah berita itu?”
“Ya, Kangmas Wedana. Bakal terima duwit banyak. Memang sudah begitu rancangan dan kenyataannya. Disyukuri saja Mas Wedana.”
“Iya. Disyukuri.”
Keduanya diam, menahan pembicaraan karena ada seorang Kanjeng sedang lewat di depannya. Mereka bersembah takzim kepada abdi dalem berpangkat Bupati Sepuh yang melintas di dekatnya. Ketika telah berlalu, Marasemu dan Babarlayar kembali bercakap lirih. “Adimas Lurah, ini ganti alam, harus ganti rasa juga. Ganti rasa.”
“Owah gingsir, kodrat alam Mas Wedana. Tak ada yang kuasa menahannya, haris berubah. Berubah bukan pilihan, melainkan keharusan,” kata Babarlayar kalem. “Ganti rasa yang bagaimana Mas wedana?”
“Soal rasa, musti dikembalikan ke ruang batin Mas Lurah. Bukan buat diperbincangkan. Sesama abid dalem, kita tidak boleh saling mendahului.”
“Kayak semboyan bis kota,” sahut Babarlayar smebari tertawa lirih. “Jangan kira aku juga tidak merasakannya Mas wedana. Pasti yang andika maksud muasal kucah yang bakal kita terima.”
“Diam-diam kita ini diajak mulai sedikit merasakan uang rakyat,” kata Marasemu setengah berbisik. Babarlayar mengangguk-angguk.
Babarlayar balas berbisik, “… kita ikut kecipratan… he… he…”
Mengingat percakapan kecilnya dnegan Babarlayar, Marasemu bangkit dari rebahan. Sekali lagi, uang dalam amplop itu diliriknya ulang. Tidak berubah, tetap tergeletak pasrah. Marasemu ebranjak melangkah keluar rumah. Masuk waktu buat menambah persediaan makanan perkutut, mengganti air minum, membersihkan sangkar dan menaikkansejumlah di antaranya ke tiang gantangan. Setiap siang sepulang dari caos, nikmat anggung perkutut-perkutut piaraannya akan menjadi hidangan terindah baginya.
Ketika selesai mengurus, ia biasa langsung leyeh-leyeh di lincak dekat pohon sawo manila yang rindang. Ia menikmati sahut menyahut anggung perkutut sembari memilih dan memilah keunggulan anggungan. Marasemu akan melacak perkutut yang anggungnya landhung dan keteg-nya jelas. Sebagai abdi dalem karawitan, telinganya terlatih untuk memilah suara dan irama. Namun, betapa terkejutnya ketika ia mulai menyadari, sepanjang siang tak satupun perkutut piaraannya manggung. Diam. “Ada apa ini?”
Marasemu mulai singsot dan metheti. Juga memanggil nama-nama perkutut. “Jantir… Jantur, ayo Jantur.. Bondet.. Ancur.. hayoo…,” katanya memnacing suara anggung para perkutut. Namun belum juga terdengar anggung mereka. Biasanya, bersahut-sahutan adu kebolehan. “Ada apa ini?” bisik Marasemu sembari bangkit dari lincak berjalan mendekat ke arah kandnag dan kurungan. Ia bermaksud mencermati keberadaan dan keadaan perkututnya.
Sebelum melangkah, ia teringat uang dalam amplop yang ditinggalkannya di atas kasur pembaringan kamarnya. Marasemu bergegas menuju kamar khawatir amplop itu keburu ditemukan istrinya. Kalau sampai terlihat oleh istrinya, tamatlah riwayat uang itu. Ketika Marasemu melongok ke kemarnya, amplop isi uang itu sudah tak ada.
“Nyai…Nyai…,” teriaknya memanggil. Nyai Marasemu pun muncul dari arah dapur. “Kamu ambil amplop di atas kasur?”
“Amplop? Saya dari tadi di dapur, Pakne. Tidak kemana-mana. Amplop apaan? Amplop isi uang ya?”
“Amplop ya amplop,” sahut Marasemu sembari bergegas kembali ke kamar tidurnya. Ia geledah seluruh kamar, tak juga amplop ditemukan. Ia mendongak dan hanya deretan usuk yang dilihatnya. Dari dulu usuk-usuk itu tetap dmeikianlah adanya, mungkin juga pada hari-hari berikutnya. [] -g
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Purwadmadi
[2] Pernah tersiar di suart kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 4 Mei 2014