Mata Hati Mata Kaki – Tanah Apakah Ini Tuan? –

Karya . Dikliping tanggal 24 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Mata Hati Mata Kaki

Siapa yang punya tulus?
Di negeri ini..
Kuat-kuatkan pundak dan batinmu
Agar tak kena tipu pada ‘rang kaya
Yang katanya.. jika duduk di sana bawa mata Hati
Padahal mata kaki
Udara membeku, bagai salju menyeret panas ke hulu
Bagai mulut mereka yang merajang
Hanya bis asarapan bangkai buruh
Hanya bisa menelan aspal jalan-jalan.
Hati-hati janji dengan Mata hati
Yang dibawa mata kaki.
                     “Akan perbaiki kehidupan kalian” desahnya lewat orasi
                     Manja dan ingusan
                     Sepertinya sih.. bukan ketulusan
                     ‘rang kaya ingin kaya
Mengikat yang tak punta, menyiksanya, menghisap keringatnya Dengan mata kaki
Pabila ‘rang kaya butuh yang miskin tapi banyak,
Seperti kami dirangkul setiap saat
Membelai kami dengan ta’at. Mengemis suara kami di jalanan dekat
Ah.. saat itu kami terlena
Udara memuntahkan dusta
Kini kami tercekik pilu.
Mana mata hatimu? Yang mau disumbangkan pada kesusahan
Saat kami yang bawah tapi banyak terpuruk,
Saat kami berteriak menusuk telingamu.. kau tak menoleh
Kami dilirik..
Dengan Mata kaki bukan mata hati

Cianjur, Agustus 2014

Tanah Apakah Ini Tuan?

Pernahkah dia perhatikan intrik-intrik langit di kampung halaman
Adakah langit senantiasa mengasah keris berkilauan
Adakah taman langit memeprtontonkan tanda keadilan Tuhan
Adakah langit yang akan sedia menghujam tanah ini dnegan irisan hujan
Tolong lemparkan!
Kami rindu pekarangan basah bau tanah segar
Selimut asap dari kepulan bumi kering yang kehausan.
Lemparkan saja, Tuan! Lemparkan!
Guyur raga kami dengan hujan agar tak mati kebimbangan
Oy, kami bosan jika dada malam menjelma, peluh berjatuhan
Oy, kami bosan dengan kepanasan, kami bosan emrangkak dalam kekeringan 
Kami bosan melihat surya angkuh mengalahkan hujan..
Tolong lemparkan!
Kami butuh hujan, Tuan! Karena.. panen tak akan indah
Lihat daun yang ranggas- meranggas, menganga dicabik ulat yang murka
Lihat duri-duri daun yang menusuk lensa mata, mereka menangis..
Di balik cerutu-cerutu penuh karat dan hiasan tawa, tangis mereka ada
Di antara sajadah dan tangan yang menengadah, di antara percakapan bersamaNya.
Para pembajak sawah itu tak lagi menikam tanah yang basah akibat langit yang senang
Akibat tak ada tangis langit lagi..
Bumi.. tanah ini.. mereka belah. Kering tak basah selama puluhan pekan lamanya
Jadi, Tanah apakah ini Tuan?
Cianjur, Oktober 2014

Sri Rahayu Febriari, pelajar SMAN 1 Warungkondang
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Rahayu Febriari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 24 Mei 2015