Mata Ibu – Monolog Ibu Malin Kundang – Kangen Ibu – Berguru Pada Ranting

Karya . Dikliping tanggal 1 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Mata Ibu (1) 

di matamu ibu, seribu tahun mengekal jadi satu
kupu-kupu mengembangkan sayapnya tanpa harus jadi kepompong
bersama belalang terbang berputar berpacu di segala taman,
halaman, dan pohon-pohon
dibawanya segenap rimbunan kenangan
rindu yang menyala di sepnajang jalan
di matamu ibu, segala isyarat dan tanda-tanda tertinggal
seperti kitab yang terbuka tempat segala peta dan segenap warna-warna
danau dan sungai tempat ikan-ikan membiakkan harapan
tempat segala sunyi ditandai
dan di sana pula, di balik matamu
: Tuhan begitu memesona

Mata Ibu (2)

di bola matamu itu, ibu
kubaca peta-peta, seluruh pesisir,
beribu laut bergelora, benua-benua baru,
dan hamparan jazirah-jazirah hijau
yang kelak melambai untuk kujelajahi
di bola matamu itu, ibu
kukenal bendera warna-warni
ingatkanku pada keagungan kakek-kakek kita
akan kujelajahi peta itu, ibu
akan kuseberangi gelora laut,
akan kutemukan benua-benua baru itu,
dan di sepanjang jazirahnya akan kupancangkan bendera
kukibarkan kembali segala kegagahan nenek moyang
ibu, di bola matamu itu
menyimpan gairah semangat kebangkitan baru

Mata Ibu (3)

di kedalaman bola matamu
bulan dan bintang bersemayam
mengajakku berbincang tentang
cinta, rindu dan tuhan
dari kedalaman bola matamu itu
kujenguk sumur teka-teki
kalimat-kalimat rindu sebuah sujud
yang menjadi bait-bait puisi tafakur cinta pada tuhannya
bola matamu itu, ibu
muara segala kalimat cinta
kalimat ruh yang rindu pada Nur
         : dan segala nur itu berbilik di kedua bola matamu!

Monolog Ibu Malin Kundang

Malin, anakku
aku tahu tabu tubuhku untuk kau sentuh
aku tahu tubuh tuaku akan mengundang malu
karena itu aku pilih untuk berdiri di sudut paling jauh
sekadar melambai pada kepulanganmu
biarlah ibu cukup sekadar memanjangkan kenangan
buat anaknya yang telah jadi garuda menangkan pengembaraannya
Malin anakku,
kuikhlaskan kau mencatat jejak sendiri
menggurat telapak nasib sendiri
tak pernah tersirat di hati renta
langkah tuaku jadi kuda beban kakimu
lihatlah, aku tersenyum menatapmu
aku tersenyum melihat matahari bersinar di kepalamu
kuikhlaskan engkau membuat silsilah sendiri
Malin, tak mungkin kukutuk engkau
sebab engkau adalah anakku
sebab aku adalah ibumu
berlayarlah dengan mataharimu
biarlah ibu cukup jadi saksi yang membantu

Kangen Ibu (1) 

di tengah belukar baja, hutan beton yang merajam dada
aku ingin kembali ke pelukanmu, ibu
betapa perihnya mengenang bau gerai rambutmu,
belai lembut tanganmu dan putih kasih matamu
bayanganmu, ibu. melindap di hati
seperti mercu suar melambai
pada para mualim yang sunyi
seperti bulan langsir
di kaki malam yang pernah beranjak ke pagi
seperti pelangi melambai di tepi horison
mengucap selamat tinggal pada hujan
pelukanmu masih terasa di lenganku
yang sselalu ringkih jauh dari tanganmu
sedang sampanku makin jauh melaju
meluncur dalam kabut yang tak pasti
O, kangen yang tak pernah damai dalam hati
membuat lambungku nyeri
tak bisa lagi menemani ibu menanak nasi
atau mendendangkan kinanti
ibu, kangenku kini jadi uap terbang perlahan
meninggalkanku snediri dalam perjalanan tak pernah selesai
wajahmu berada di tapal batas kampung halaman
sedang aku berdiri di seberang tapal batas pesisir lain
ufuk yang berbeda, begitu luas dan sunyi
sampanku meluncur di tengah belukar baja dan hutan beton
peta yang tak miliki batas saat tanganmu begitu jauh melambai
melepaskanku dari mata air tempat menyusu
perih kangen membiakkan pilu
tanpamu, ibu, aku nahkoda tak berlampu
tanpa pelampung dan dayung
tak bisa menerka cuaca, angin, dan daratan
ibu, ingin kukenalkan kenangan tentangmu

Kangen Ibu (2)

mendekap kangen ibu
seperti menataop rimbun ingatan
kangenku tak berucap
jadi isyarat yang samar berasap
o,alangkah gairahnya memuisikan seribu tahun kangen ini, ibu
hanyalah puisi yang sanggup merumuskan kenngan
hanya puisi yang sanggup mengabadikan kangennya anakmu

Berguru Pada Ranting

* buat lindung dan tengsu

bergurulah pada ranting yang setia menemani musim
ruang singgah burung-burung emmahatkan legenda
yang dipungutnya dari celah-celah candi dan sela-sela prasasti
juga tempat angin merebahkan sayap
melepas keluh menatap kota
bergurulah pada ranting yang patuh menatap langit
setia menemani bumi setia pada dahan
membahasakan sepi dan isyarat musim.
bergurulah pada ranting kita akan segera tahu betapa berartinya
menatap kehidupan
bergurulah pada ranting yang melengkapi dahan dengan amat sederhana
namun, daun-daun tumbuh semi di situ
Ngawi-Malang


Tjahjono Widarmanto: Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Guru SMA 2 Ngawi. Tinggal di Perumahan Chrisan Hikari B6 Jalan Teuku Umar, Ngawi.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 1 Mei 2016