Matinya Guru

Karya . Dikliping tanggal 26 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

BU Sulasih melontarkan pertanyaan, sebelum mengakhiri pelajaran kimia. ”Siapa ingin menjadi guru?” Tak satu pun murid menjawab. Semua diam.

”Tak adakah yang ingin jadi guru? Menggantikan saya kelak ketika pensiun?” Bu Sulasih mengulang pertanyaan. Namun semua murid tetap diam.

”Mirna?”

”Tidak, Bu. Mirna tak ingin jadi guru.”

”Bayu?”

”Tidak, Bu. Jadi guru susah, murid nakal- nakal,” jawab Bayu. Sontak suasana kelas menjadi ramai. ”Nyadhar ta kowe, nek muride kaya awakmu, gurune susah 1),” timpal murid lain.

”Dari satu kelas ini tak adakah yang ingin jadi guru?” ulang Bu Sulasih.

”Tidak!” Kali ini semua murid menjawab serempak.

Bu Sulasih kecewa dan sedih. Tidak inginkah anak-anak sekarang bercita-cita jadi guru? Bu Sulasih menutup pelajaran. Dengan hati sedih, dia meninggalkan kelas.

***

”Mau melanjutkan ke nama, Asih?” tanya Pak Santo kepada Sulasih yang saat itu bakal lulus dari SMA.

”Ilmu gizi, Pak.”

”Bagus. Tidak inginkah kamu jadi guru?” tanya Pak Santo lagi.

Sebenarnya sejak kecil Sulasih bercita-cita menjadi guru atau dokter. Itu cita-cita masa kanak- kanak. Namun, entah kenapa, semenjak duduk di bangku SMA, Sulasih tak ingin lagi jadi guru. Rasa-rasanya profesi guru kurang menarik lagi bagi dia. Menurut Sulasih, guru bukan profesi bergengsi.

”Menjadi guru memang tak memberikan kekayaan materi. Namun batin guru sangat kaya,” kata Pak Santo, seolah-olah tahu pikiran Sulasih. ”Apa pun yang kamu pilih, lakukanlah sungguh- sungguh. Jika kelak pilihan kamu tidak tercapai dan kamu harus menghadapi kenyataan lain, lakukanlah dengan sungguh-sung- gun pula. Siapa tahu kamu jadi guru yang hebat.”

”Nggih 2), Pak,” jawab Sulasih ketika Pak Santo hendak berlalu.

Pak Santo lalu melangkah menuju ke ruang guru di pojok gedung SMA Harapan, Kota Demak.

Sulasih sangat menaruh hormat pada Pak Santo, guru di sekolahnya. Pak Santo bukan orang kaya. Namun semua anaknya berpendidikan tinggi, sopan, dan baik. Mereka rajin dan dapat menjaga nama baik keluarga. Sulasih mengenal betul keluarga Pak Santo, karena mereka tinggal di satu desa. Mereka berbeda dari anak-anak orang kaya di desanya. Kebanyakan anak dari orang tua yang sukses dalam materi, justru tidak dapat membawa diri. Rusak dalam pergaulan. Sulasih melangkah pergi, menyusul teman- temannya.

Mereka hendak mendaftarkan diri mengikuti seleksi masuk ke perguruan tinggi.

***

Sulasih memandangi gedung SMA Harapan, tempat dulu dia bersekolah. Namun saat ini dia bukan murid. Dia telah menjadi guru. Dia teringat kembali kata-kata almarhum Pak Santo. ”Perkataan Bapak benar. Aku sekarang jadi guru, Pak,” gumam Sulasih.

Pagi hari. Sejuk, seperti pagi-pagi sebelum- nya. Murid-murid berdatangan. Ada yang ber- jalan santai sambil mengobrol. Ada pula yang berlari-lari kecil ketika gerbang sekolah perla- han ditutup.

Sulasih selalu suka melihat pemandangan itu. Dia berdiri di depan gerbang menyambut mereka. Mata Sulasih menangkap tiga laki-laki berseragam polisi berjalan tergesa menuju ke sekolah. Dia sangat mengenal salah seorang di antara mereka. Pak Gede.

Lelaki itu berbadan tinggi besar, berkulit cenderung gelap. Sesuai dengan namanya. Namun wajahnya tak menunjukkan keramahan. Ia salah seorang wali murid. Menjadi polisi makin membuat dia bersikap gemedhe. 3)

”Ada apa lagi ini?” Sulasih menerka-nerka. Seperti yang sudah-sudah, kedatangan Pak Gede pasti membawa bencana.

Mereka mendekat. Hanya satu yang ada dalam pikiran Sulasih. Gawat!

”Pak Kepala ada? Pak Ridwan ada?” ucap Pak Gede kasar, tanpa salam, dan bernada per- intah. Ia tak pernah menghargai orang lain.

”Ada, Pak,” sahut Sulasih cepat.

Ketiga tamu tak diundang itu segera melangkah menuju kantor Kepala Sekolah. Tak berapa lama, terdengar Pak Gede mengumpat- umpat. Kepala Sekolah berupaya menenangkan dan bernegosiasi. Sulasih menajamkan telinga. Untunglah, hampir seluruh murid telah masuk ke kelas sehingga suasana sudah tidak ramai.

”Saya akan memproses kasus ini ke peng- adilan, Pak. Saya akan pidanakan Pak Ridwan,” terdengar suara Pak Gede marah.

”Sabar, Pak. Masalah ini bisa kita selesaikan baik-baik secara kekeluargaan,” jawab Kepala Sekolah.

”Ini kekerasan dan penganiayaan.”

”Maaf, Pak Gede. Itu hanya usaha Pak Ridwan mendisiplinkan siswa. Pak Ridwan orang baik. Saya yakin beliau tidak akan meng- aniaya murid.”

”Saya sudah membuat laporan dan sudah ada surat penangkapan Pak Ridwan.”

”Tapi, Pak….”

Kata-kata Kepala Sekolah menggantung. Lawan bicaraya telah keluar ruangan bersama kedua temannya dengan arogan. Mereka kini menuju ke ruang guru. Tergesa Kepala Sekolah menyusul.

Sulasih segera menghampiri Kepala Sekolah. Ada seribu tanya di kepalanya. Namun tidak terucap, hanya berupa isyarat; dia meman- dang Kepala Sekolah. Dengan isyarat pula Kepala Sekolah meminta Sulasih tenang.

Sulasih menyaksikan ketiga polisi itu meng- giring Pak Ridwan. Wajah Pak Ridwan tetap tenang. Dia tidak membantah atau melawan. Benar, kedatangan Pak Gede merupakan bencana.

Memang Pak Ridwan menampar Topan, anak Pak Gede. Namun bukan tanpa alasan. Pak Ridwan mendapati Topan hendak meraba- raba salah seorang murid perempuan sambil mengucapkan kata-kata kasar dan menjijikkan. Baru kali ini Pak Ridwan menampar murid. Hanya tamparan kecil. Tamparan yang pantas didapatkan Topan.

Namun tindakan Pak Ridwan menurut Undang-undang tentang Perlindungan Anak merupakan tindak kekerasan yang tak boleh dilakukan. Bagaimanapun kronologi peristiwa itu dan apa pun alasannya, guru tak boleh menampar siswa.

Kini, Pak Ridwan di penjara. Topan bebas berbuat sesuka-suka. Tak ada lagi guru berani berurusan dengan dia. Mereka tak lagi peduli untuk memperbaiki sikap dan karakternya. Buat apa repot-repot mendidik Topan jika akhirnya masuk penjara?

***

Jumat, 3 Februari 2018, pukul 05.00 WIB.

Matinya GuruKring! Kring! Telepon Sulasih berdering. Ia bergegas mengambil telepon yang tergeletak di meja. Tertera nama sahabatnya di layar. Ujung jarinya menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan.

”Hallo, Fit?”

”Asih, Mas Budi meninggal semalam,” suara Fitri lirih.

Fitri mengabarkan perkara Budi, kakak tingkat mereka sewaktu kuliah.

Memilukan. Kemarin, Sulasih sudah mendapat kabar tentang seorang murid memukul guru hingga sang guru dilarikan ke rumah sakit. Kini, guru itu yang ternyata orang yang sangat dia kenal telah terbaring kaku.

Pagi ini, Sulasih melangkah gontai menuju ke sekolah. Berita kematian Mas Budi menjadi topik serius di ruang guru.

Kejadian demi kejadian di sek- itarnya, dari kasus Pak Ridwan dan Mas Budi, telah mengubah segalanya; harapan, impian, dan idealismenya. Sulasih berdiam diri, duduk di belakang meja kerja di ruang guru. Sulasih masih muda, dengan segala angan- angan. Namun kini angan-angan itu melayang diempas kenyataan.

”Bu Asih, inilah pendidikan kita saat ini. Jika ingin selamat tak usah terlalu idealis. Nanti malah celaka.”

Sulasih menoleh ke sumber suara. Seorang rekan kerja yang sudah senior berdiri di samping mejanya.

”Awake dhewe mung saderma mulang, ngarahke lan ngelingke yen bisa dielingke. Yen gak kena dielingke, ya wislah,” imbuh sang rekan.

Para guru seolah-olah telah kehilangan harapan dan semangat. Tugas administrasi merapat. Beban di pundak makin berat. Susah- payah guru menasihati dan memberikan contoh di sekolah, dengan mudah luntur oleh pergaulan siswa di luaran.

Sulasih berada di kelas siang ini. Di kelas itu ada murid yang sangat bengal. Murid itu terus-menerus membikin ulah, memancing kemarahan. Dia mengingatkan dengan lisan. Tak mempan. Namun dia ingat, tak ingin berna- sib sama seperti Pak Ridwan dan Mas Budi. ”Biarlah dia bengal,” pikir Sulasih.

Dia merasa jiwanya sebagai guru harus mati, seiring kematian seorang guru, kakak tingkatnya ketika kuliah. (28)

Catatan:
1) Kamu sadar ya jika muridnya seperti kamu, guru memang jadi susah.
2) Iya
3) Pongah, jemawa.
4) Kita sekadar mengajar, mengarahkan, dan mengingatkan kalau bisa kita ingatkan. Jika tidak bisa kita ingatkan, ya sudahlah.

Ismul Farikhah, guru SMP Negeri 5 Kepil, Wonosobo


[1] Disalin dari karya Ismul Farikhah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 25 November 2018