Mawar Biru

Karya . Dikliping tanggal 3 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

“KUTANAM mawar biru di pojok halaman. Rawat dengan baik. Kelak ayah akan datang melihat bunganya.”
Aku tidak pernah melupakan satu kata pun dari kalimat itu. Kalimat yang terucap saat senja keemasan. Setelah beberapa saat, ayah jongkok di pojok halaman, menanam sebatang bunga mawar yang bisa kuhitung daunnya. 
AKU diam saja saat ayah membawa kepalaku ke dalam dadanya yang mendamaikan dan mendekapku lama. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungnya saat itu. Detak yang cepat. 
Saat kutatap matanya, ada semburat lain di sana. Mata itu sepertinya ingin bicara. Tetapi, setelah berdetik lamanya, tak ada suaa dari bibirnya yang kering dan sejak tadi gemetar. Hingga, ayah pergi tanpa berucap sepatah kata pun setelah mencium kepalaku beberapa kali. Sepertinya aku mendengar isakan. Ingin sekali kulihat apa ada air mata yang jatuh dari matanya. Namun, langkah lebar membawanya dengan cepat lenyap di ujung jalan.
Aku tak pernah tahu kalau itu adalah senja terakhir aku bersama ayah. Melihatnya dan menyembunyikan kepalaku dalam dekapan dadanya yang hangat.
Yang kutahu, ayah selalu pergi pada setiap senja dan akan datang pada senja berikutnya. Jadi, aku tak pernah berpikir tentang apa pun pada senja itu, kecuali dekapannya yang lama, tatapannya yang seakan bicara, dan tentu saja bunga mawar di pojok halaman.
**
“Your Litlle Secret” oleh Mawar Diah Pratiwi
SENJA esoknya aku duduk di samping mawar yang bisa kuhitung daunnya. Penuh harap aku menunggu ayah muncul dari ujung jalan, dengan langkah yang panjang dan mendekatiku. Meraih kepalaku, membawaku ke pelukannya, dan menciumnya.
Namun, beberapa kali yang muncul bukan ayah, tapi orang-orang yang kemudian memandangku lama. Sebagian mereka bergumam yang bagiku mirip dengan dengungan lalat, “Kasihan… kasihan…” Kemudian pelan-pelan mereka pergi.
Lalu, hari-hariku hanya berkutat di pojok halaman. Dari matahari memanjangkan bayang-bayangku di sebelah barat hingga matahari memanjangkan bayanganku di sebelah timur. Aku tak pernah meninggalkan mawar itu, yang daunnya mulai jatuh satu-satu.
Senja itu, ayah tidak pernah mengatakan kalau daun mawar itu akan jatuh satu-satu hingga habis tanpa sisa. Ayah hanya mengatakan bahwa kelak dia akan datang melihat bunganya. Ayah juga tidak memberitahu kalau batang mawar kehabisan daun itu artinya bunga akan mati dan aku tak usah menunggunya lagi. Atau… aku harus terus menyiramnya hingga tumbuh tunas-tunas daun baru. 
Tidak, aku tidak pernah mengerti. Yang aku tahu hanyalah, kelak ayah akan datang melihat bunga itu. Dan aku terus berharap, tidak lagi pada sosoknya yang tiba-tiba muncul pada suatu senja dari ujung jalan. Tapi, aku berharap tunas-tunas baru dari batang mawar itu.
Lalu, malam-malam kemudian menjadi malam-malam yang panjang. Bahkan aku pernah bangun saat purnama tepat di atas kepala hanya untuk duduk di pojok halaman melihat kapan mawar itu kembali memunculkan daunnya.
**
“KUTANAM mawat biru di pojok halaman. Rawat dengan baik. Kelak aku akan datang melihat bunganya.”
Rasanya, masih segar dalam ingatan, masih terngiang dalam pendengaran kata-kata ayah pada senja itu. Kepadaku, ya, hanya kepadaku. 
Yang tak pernah aku tahu, kenapa ibu waktu itu tidak mencegah ayah? Apakah ibu juga tidak tahu, sama seperti diriku? Atau, ibu, seperti biasanya, yang memang tak pernah mengantar ayah pergi pada setiap senja?
Aku hanya tahu, setelah senja hilang dan berganti malam, kulihat ibu masih mengadap halaman belakang. Pundaknya berguncang-guncang. Tidak ada suara. Dan aku… aku tak berani untuk memanggilnya atau mendekatinya. Apakah ibu begitu karena ayah? Aku juga tidak pernah tahu karena yang aku tahu, ibu akan begitu setiap ayah pergi pada senja hari. Dan ibu baru akan masuk ke dalam rumah saat azan Magrib terdengar. Mengusap matanya berulang kali. Mata yang memerah dan basah.
**
“KUTANAM mawar biru di pojok halaman. Rawat dengan baik. Kelak aku akan datang melihat bunganya.”
Kata-kata itulah yang membuatku selalu bertahan di sini. Di pojok halaman, berharap senja membawanya kembali. Aku masih ingat pada senja pertama saat mawar itu muncul daunnya satu. Bagiku, itu seperti senja yang penuh harapan.
Tiba-tiba semangatku kembali meluap-luap setelah beberapa senja aku diselimuti kekhasatiran. Bagiku, saat itu, munculnya tunas baru dari batang mawar adalah kembalinya sebuah harapan. Harapan akan mucul lagi daun-daun berikutnya, lalu akan muncul bunga mawar biru yang selalu membuatku penasaran. Bahkan, lebih dari itu, krena mawar biru berarti ayah akan datang.
Aku juga tidak pernah melupakan bagaimana sulitnya aku membahasakan perasaanku saat kuncup mawar pertama muncul. Aku bahkan tidak tidur semalaman. 
“Masuklah, nanti kamu sakit,” ucap ibu dengan selimut garis-garis hitam putih yang sudah kusam dari ambang pintu. Aku menggeleng. Aku tak mau meninggalkan bunga itu. Aku takut jika aku tidak menjaganya, akan ada tangan jahil yang mengambilnya, atau…akan ada binatang nakal yang memakannya.
Ibu, wanita itu tidak penah memaksaku. Meski dia tidak pernah bicara banyak, aku tahu ada banyak kalimat yang tersimpan di matanya. Seperti juga setiap kali aku enggan pergi dari pojok halaman. Dia akan masuk ke dalam rumah, mengambil sarung kumal, dan menaruh di punggungku.
Dan, pada senja yang entah ke berapa, aku memotong beberapa batang mawar, kubuat lubang di sampingnya, lalu kutanam batang-batang mawar itu. Persis seperti dulu ayah menanamnya. Dan, sejak senja itu, aku selalu melakukan hal yang sama, dengan rasa percaya yang sama. Bahwa dia, lelaki yang kupanggil ayah itu, akan datang dari ujung jalan meski entah kapan.
**
“KUTANAM mawar biru di pojok halaman. Rawat dengan baik. Kelak aku akan datang melihat bunganya.”
“Aku bahkan sudah tidak bisa lagi menghitung senja, sama seperti aku sudah tidak bisa lagi menghitung bunga-bunga mawar itu. Beberapa kali orang-orang datang, menawar-nawar ingin membeli mawar-mawar itu, aku tak pernah memberikannya. Mawar itu bukan dagangan. Mawar itu tidak aku perjualbelikan. Bahkan, ketika ada orang yang menawarnya dengan lembaran-lembaran warna merah yang  banyak aku tetap bergeming.
Ingin rasanya aku bertanya pada ibu, kenapa ayah tak jua datang? Aku juga ingin bertanya, apakah ibu yakin ayah baik-baik saja? Apakah ibu tak rindu seperti yang kurasakan sehingga ibu tak pernah mau sekali pun menemani aku duduk di dekat mawar-mawar itu saat senja?
Ah, tapi toh semua itu hanya keiginan. Terlalu sulit aku mengisyaratkan tumpukan tanya itu kepada ibu. Karena ucapan-ucapan itu hanya sampai tenggorokan dan lidahku sulit untuk kugerakkan. Apalagi yang kupilih selain diam? Sementara ibu justru lebih memilih menghadap halaman belakang dengan sesekali pundaknya terguncang-guncang. 
**
“KUTANAM mawar biru di pojok halaman. Rawat dengan baik. Kelak aku akan datang melihat bunganya.”
Senja ini halamanku penuh warna biru. Bunga itu mekar hampir bersamaan. Dan, aku tahu, aku tak perlu khawatir kalau aku akan kehilangan bunganya karena masih banyak kuncup-kuncupnya.
“Mawar biru?”
Aku mencari suara itu, suara yang kukenal, suara yang tidak pernah kulupakan. Aku sudah tidak bisa lagi menghitung berapa senja dia pergi. Yang aku tahu, aku menantinya sebanyak bunga yang ada di halaman ini.
“Mawar biru?” suara itu bergetar, suara seorang lelaki kurus, dengan cambang dan rambut yang tidak terawat.
“Ayah?” ingin kuucapkan itu, tapi suaraku tak pernah keluar.
Kami saling berlari mendekat. Aku segera menyembunyikan kepalaku di dadanya. Dada yang berbeda, dada dengan tuang-tulang yang menonjol.
“Maafkan ayah ya”
“Pak?”
Ibu berlari ke arah kami. Lalu tak ada suara lagi, selain isak ibu dan ayah, juga isakku. Senja tak lagi emas, langit berubah abu-abu. Kami berpelukan erat.
“Usir dia!”
“Bakar rumahnya!”
“Tak sudi desa ini diijak oleh mantan narapidana sepertimu! Pergi!
Orang-oang itu terus mendekat rumah kami dengan obor-obor di tangan. Aku melihat ibu gemetar dan ayah yang pucat. Lalu kulihat bunga-bunga mawar itu semakin banyak bermekaran. Tumbuh tinggi, memagari kami, memenuhi halaman. kutarik lengan ayah dan ibu ke dalam rumpun bunga mawar itu. Lalu kami tenggelam di sana. ***
Gading Kirana, suatu April
*) Shabrina Ws lahir dan besar di Pacitan. Sekarang tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shabrina Ws
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 1 Februari 2015