Mawar Laut – Orasi Laut – Sajak Ombak – Pesta Perahu – Pukat-Pukat Menjerat –

Karya . Dikliping tanggal 9 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Mawar Laut

tumbuhlah mawar di laut saat sang pelaut
membawa cinta di atas perahunya
lantas ia menyebarnya
aromanya menguar
harum

di atas geladak batangnya menjalar ke tiang layar
bendera cinta dikibarkan berwarna jingga
durinya menjadi pagar
dari amuk badai
dan ombak

Indramayu, 2018

Orasi Laut

di ketinggian ombak laut jawa suaramu memecahkan
haluan perahu kayu retak luluh lantak burung
elang pantai mengabarkan pada berlukar
rimbun akar bakau tentang tubuh yang dimakan
ikan-ikan kecil namun berkali musim melaut tiba
gairah menebarkan jaring tak reda angin dan ombak
menjadi sajak laut mengumandangkan jiwa
yang tegar dalam drama tarling orang pesisir
meniti hikayat pelaut-pelaut jawa mengarung samudera
nan luas berlabuh di dermaga-dermaga
singgah di negeri-negeri bahari dan kota-kota
pelabuhan hanya untuk mengorasikan tentang
laut yang menjadi jiwa dalam dalam tubuhnya
mengkristal dalam butir-butir garam yang menyatu
dalam peluh keringatnya

Indramayu, 2018

Sajak Ombak

ombak yang berkejaran di matamu,
menggoda perahuku melaju,
ke hatimu.

naiklah kau ke atas kesunyian,
melaut menjala bintang,
pujaanku.

di sini kita mengeja desir angin,
layar dinaikkan terkembang,
ke lautmu.

pelayaran kaya dengan gelombang,
pulau-pulau terlampaui sudah,
bahagiaku.

Indramayu, 2018

Pesta Perahu

perahu-perahu berhias botol-botol minuman karbonasi
dan buah-buah hasil kebun tanah pesisir
digantung pada tali-temali tiang layar setelah semalam
suntuk pagelaran wayang kulit mendongengkan
kisah-kisah pengajaran sebagai
warisan wali mengajarkan dua kalimat suci dengan
seni dan budaya yang melekat pada darah
dan daging orang-orang jawa

hari ini pesta perahu digelar di pantai utara untuk
memberi makan ikan-ikan kecil sebagai simbol
hubungan timbal balik antara laut dan pelaut
yang saban hari menangkap ikan dan menjemurnya
di para-para dalam panas matahari
bercampur aroma garam dan peluh keluarga
nelayan yang mengipas gerah udara memainkan
gitar dan suling mendramakan kehidupan

adapun lembu yang disembelih dan kepala yang
diarak ke tengah laut dengan tetabuhan dan tembang
tarling dalam perahu kain dengan sesaji
makanan dan minuman adalah persembahan
terimakasih kepada ikan-ikan dengan mengganti
sehari ini memberi tanggungan sebagai cerita sulaiman
menghidangkan jamuan pada ikan nun
dan itu hanya sekecil mampu manusia

Indramayu, 2018

Pukat-Pukat Menjerat

akulah pukat-pukat yang ditebarkan pada luas
samudera
mengurung gerombolan ikan-ikan agar mendekat
tercekat dalam jerat yang menyesat

2
sesekali tubuhku robek terkena sirip dan kulit ikan
yang keras
luka menganga disiram arus lautmu yang berkejaran
mengejar pasir-pasir putih di pantai

3
meloncatlah kau di papan-papan yang dibelah
dengan cinta
pengrajin perahu merajahnya di bantaran cimanuk
serupa tangan-tangan nuh merenjana

Indramayu, 2018

*) Faris Al Faizal, lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishhing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) ❑-e

 

[1] Disalin dari karya Faris Al Faizal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 8 Juli 2018