Mawar Terakhir

Karya . Dikliping tanggal 11 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi

“Sayang, ayo kita main ke pasar malam,” ajak Ayah.

Kupikir Ayah sedang becanda dengan ajakan yang tidak masuk akal itu. Bagaimana tidak? Mungkin jika di hari biasa, aku tidak akan menolak diajak Ayah main ke pasar malam. Karena aku sendiri sangat menyukai pasar malam. Tidak pernah sekali pun aku absen setiap di kampung mengadakan pasar malam. Hanya saja, kali ini situasinya berbeda. Bunda tengah dirawat di rumah sakit dan tidak tahu kapan akan sembuh.

Lihatlah di sampingku, Bunda tengah tertidur pulas setelah minum obat. Mungkin pengaruh dari obat yang dimakannya. Wajah Bunda pucat. Tidak ada wajah cerah seperti biasanya. Bagaimana bisa aku menerima ajakan Ayah di kala Bunda terbaring lemah seperti ini?

“Tidak, Ayah. Aku mau menunggui Bunda di sini,” tolakku lemah.

“Sayang, pasar malamnya terakhir hari ini. Bukankah kemarin kamu ngotot mau pergi ya?”

Aku menggeleng lemah. Tetap aku tidak mau pergi. Memang kemarin aku bersikeras pergi ke pasar malam. Sampai-sampai ngambek dan tidak mau bicara dengan Ayah. Karena saat itu Ayah terus lembur. Tapi itu ketika Bunda belum masuk ke rumah sakit.

“Mawar, ayo kita pergi ke pasar malam. Kudengar ada permainan baru di sana. Bunda kamu juga masih tidur. Besok kita bisa ke sini lagi,” bujuk Rano.

Kutatap Rano, sahabatku yang setia menemaniku saat Bunda sakit. Dia ini sahabat cowokku yang rumahnya berada di samping rumahku. Kami sudah bersahabat lama. Bahkan dari TK sampai SMP, kami satu sekolah.

“Tapi Rano… aku mau di sini.”

“Kamu tidak kasihan dengan ayah kamu? Dia kan sudah izin tidak lembur kerja demi mengajakmu main ke pasar malam,” lanjut Rano.

Kutatap wajah Ayah. Ada semburat lelah di sana. Aku jadi merasa menyesal karena telah menolak ajakan Ayah. Benar yang dikatakan Rano. Ayah seharusnya lembur hari ini demi membiayai rawat inap Bunda di rumah sakit. Tapi demi aku yang ingin main ke pasar malam, Ayah rela izin lembur.

“Ya udah. Aku mau pergi.”

Kami bertiga kemudian bertolak ke pasar malam yang diadakan di kampung kami. Suasana di sini begitu ramai. Mungkin karena lebih banyak permainan yang tersedia. Aku dan Rano bergandengan tangan bersama. Dan senyumku mulai mengembang. Aku sejenak melupakan kegelisahanku pada kesehatan Bunda.

Mawar TerakhirPerhatianku terenggut oleh rangkaian bunga mawar yang dipajang sebagai salah satu hadiah. Aku ingin mendapatkan bunga mawar itu. Bunda sangat suka dengan bunga mawar. Bahkan saking sukanya, dia memberiku nama Mawar. Kata Bunda, mawar itu sangat cantik dan harum. Tapi kuat karena memiliki duri di tangkainya. Bunda berpesan agar aku menjadi bunga mawar yang tegar dan kuat.

Aku ingin memberikan bunga mawar sebagai hadiah untuk Bunda. Mungkin jika Bunda mencium harumnya bunga mawar kesukaannya, sakitnya bisa hilang. Maka aku mencoba dan terus mencoba permaian lempar bola. Aku harus meruntuhkan semua kaleng agar mendapatkan bunga kaleng. Dan butuh lima kali percobaan bagiku untuk memenangkannya.

“Ayah, ayo kita ke rumah sakit. Aku mau memberikan bunga mawar ini pada Bunda. Bunda pasti senang.”

“Sayang, ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang saja. Jam besuknya juga sudah habis.”

Aku sedikit kecewa. Tapi Ayah ada benarnya juga. Besok pagi aku akan pergi ke rumah sakit. Semoga bunga mawar ini tidak layu sebelum Bunda menciumnya.

Setelah puas bermain, Ayah membawaku pulang ke rumah. Aku memeluk rangkaian bunga mawar yang kudapatkan. Saking tidak sabarnya memberikan bunga mawar ini pada Bunda. Aku mulai memejamkan mata. Tapi baru beberapa menit menutup mata, aku mendengar sirine ambulans yang keras. Suaranya seperti berada di depan rumah.

Aku langsung terbangun. Masih sambil memegang bunga mawar, aku keluar rumah. Betul dugaanku. Di halaman rumah, sudah ada ambulans. Para tetangga juga berkerumun di sekitar ambulans. Kulihat Ayah dan seorang lelaki berseragam putih menggotong sosok tubuh yang entah siapa.

Aku memeluk erat-erat bunga mawar. Ketika sosok tubuh itu dibawa masuk ke dalam rumah. Pikiranku sudah kacau. Membayangkan itu adalah tubuh Bunda. Ini tidak mungkin. Bukankah baru beberapa jam yang lalu Bunda masih di rumah sakit? Bahkan aku belum sempat memberikan bunga mawar ini. Sungguh aku ingin ini semua adalah mimpi. Tapi bukankah tadi aku sudah bangun?

Kebumen, 07 Juli 2018

Umi Salamah. Dukuh Ganggeng Desa Tanjungrejo RT 06 RW 03 Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen.


[1] Disalin dari karya Umi Salamah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi Minggu I September 2018