Mayat Itu Tergeletak di Tengah Jalan

Karya . Dikliping tanggal 6 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
MAYAT itu tergeletak di tengah jalan. Telentang dan telanjang. Mirip mayat Jacques yang melambangkan virtuvian man dalam lukisan Da Vinci. Tapi mayat ini berbeda. Tak ada simbol-simbol di tubuh atau di sekelilingnya. Hanya satu hal yang bisa menjadi titik terang kematiannya, sebuah gergaji yang kemungkinan usai merobek leher serta mengalirkan darahnya.
Suman menemukan mayat itu ketika ia hendak ke kali untuk mandi. Sontak saja ia kaget melihat aliran merah kehitaman di atas rerumputan dan tanah di jalan setapak menuju kali. Ia semakin tercekat saat melihat pangkal aliran darah itu: leher seonggok mayat. Tanpa pikir panjang, masih dengan mengenakan celana komprang dan telanjang dada, Suman berlari menuju perumahan desa.
‘’Ada mayat di jalan menuju kali!’’ begitu teriaknya berkali-kali.
Orang-orang desa berhamburan keluar, mengekori punggung Suman yang menuju tempat ditemukannya mayat itu. Di sana, mereka menaruh berbagai ekspresi di wajah masing-masing. Beberapa orang yang memiliki nyali mencoba mengamati wajah mayat itu lebih dekat dan mengenali siapa mayat itu.
‘’Kang Salim! Ini Kang Salim suami Salamah!’’ kata seorang bapak.
‘’Benar, ini Kang Salim. Ada tahi lalat di pipi kirinya,’’ tambah yang lain.
‘’Betul. Saya juga kenal dengan tanda lahir di lengan kirinya itu. Itu Kang Salim!’’ timpal yang lain lagi.
Keriuhan kembali membahana. Dan, tak lama, datang seorang perempuan dengan deraian air mata dan isakan pilunya menyibak kerumunan orang-orang. Dialah Salamah, istri Salim, yang pada saat melihat mayat suaminya langsung pingsan.
Kang Salim, orang-orang desa mengenalnya sebagai orang yang paling giat mengajak warga menolak didirikannya pabrik semen dua kilo meter di selatan desa. Orang-orang juga mengenalnya sebagai pribadi yang baik, santun, bersahaja dan gampang berkawan. Itu pula yang membuat orang-orang tergerak mendukungnya melakukan aksi penolakan pendirian pabrik. Namun, walau bagaimana pun, usahanya melawan perusakan alam itu memiliki banyak lawan dan sedikit kawan. Bahkan, kepala desa sendiri pernah mengadang langkah juang mereka. Desas-desus tumbuh di antara kerumunan. Prasangka demi prasangka tentang siapa pembunuh Kang Salim bermunculan. Ada yang menggunjing bahwa Suman pelakunya. Ada pula yang menggunjing bahwa Kang Salim meregang nyawa di tangan tukang begal, atau preman bayaran, atau bunuh diri. Namun, yang paling menarik sorot mata adalah apa yang dikatakan Mbah Samin —lelaki tua yang lebih dikenal sebagai cenayang.
‘’Sebenarnya, aku sudah mendapatkan wangsit tiga hari lalu, akan ada mayat mati tak wajar di desa ini. Tapi, aku tak tahu benar siapa pembunuhnya.’’
Ganjil! Sungguh ganjil. Bagaimana mungkin seseorang bisa meramalkan kematian? Bukankah kematian adalah rahasia di genggaman Tuhan? Dan dari kata-katanya, ‘’Aku tak tahu benar siapa pembunuhnya.’’, tentu justru dia tahu siapa pembunuhnya. Tapi baiklah, mari kita telisik siapa pembunuhnya.

Selidik Satu: Suman

DIA lelaki pendatang yang baru dua bulanan tinggal indekos di salah satu rumah penduduk desa ini. Kedatangannya di desa tak lain adalah untuk bekerja di bagian kelistrikan pada pabrik semen di selatan desa. Suman tahu, tempat dia tinggal adalah sarang pejuang perlawanan perusakan alam, pabrik tempat di mana dia bekerja.
Tapi, melihat kepribadian Suman yang baik kepada siapa pun, rasa-rasanya tak pantas menaruh curiga dan prasangaka bahwa dialah pembunuh Kang Salim.
‘’Saya baru pulang bekerja dan berniat untuk pulang kampung. Istri saya mau melahirkan, kata ibu mertua saya. Jadi, saya segera menuju kali untuk mandi. dan di perjalanan itulah saya melihat aliran darah yang berpangkal pada mayat Kang Salim. Kemudian, seperti yang saudara-saudara saksikan, saya berlari ketakutan dan memberitahu adanya mayat ditengah jalan menuju kali. Kalian tahu sendiri, saya bahkan belum sempat mandi sampai sekarang,’’ aku Suman.
Memang benar, Suman bahkan tak sempat mandi. Mungkin karena saking takut dan kagetnya. Dan dari hal itu, cukup janggal bila mencurigai Suman sebagai pembunuh atau akal pembunuhan mengingat dia juga memiliki hubungan yang baik dengan semua warga desa. Tapi, bukankah di zaman edan seperti ini, orang-orang yang terlihat baik justru adalah orang-orang bandit? Sama halnya dengan koruptor yang bicaranya santun dan berwajah ramah, namun kenyataanya mereka copet! Entahlah, rasanya semua orang patut dicurigai.

Selidik Dua: Bunuh Diri

KEMUNGKINAN ini sangat kecil sekali. Kang Salim, selain baik kepada orang, dia juga orang taat pada Tuhan. Sangat kecil kemungkinan jika dia sampai hati melakukan perbuatan keji menzalimi diri sendiri dengan bunuh diri. Lalu, jika memang benar dia bunuh diri, tentu ada sebabnya. Tapi apa? Apakah motif bunuh dirinya seperti kasus di Lamongan: seorang lelaki bunuh diri dengan menggergaji lehernya karena tak mampu membayar utang?
Salamah bilang, meski miskin dia dan suaminya merasa pantang untuk berutang. Sebab utang akan menimbulkan kecanduan. Dia juga mengaku bahwa tak pernah ada selisih antara dirinya dengan suaminya. Rumah tangga mereka baik-baik saja karena Salamah tak pernah meminta banyak pada suaminya seperti istri-istri tetangga.
‘’Bisa makan saja sudah alhamdulilah,’’ kata Salamah masih terisak.
Atau, mungkin saja Kang Salim bunuh diri karena belum juga memiliki anak? Mereka memang tak mempunyai anak. Tapi prasangka bahwa korban bunuh diri karena tak memiliki anak rasanya sangat tak mungkin. Perihal memiliki anak, bukankah soal anak-beranak itu masalah kaum perempuan? Jelas ini tak mungkin dipikirkan oleh Kang Salim yang notabene lelaki perkasa yang bahan berani memimpin perlawanan terhadap perusakan alam
oleh pabrik semen!
Istrinya, Salamah, dia mengaku dirinya tak pernah menuntut untuk diberikan anak. Karena Salamah tahu, Kang Salimlah yang mandul. Meminta anak kepada suaminya tentu seperti membeberkan aib di hadapan suaminya sendiri.
Jadi, kemungkinan bahwa Kang Salim mati bunuh diri, rasanya urung menjadi selidik atas kematiannya. Atau, ada hal lain yang sengaja disembunyikan keluarga miskin itu? Ah, pandangan seperti itu saya rasa terlalu mengada-ada.

Selidik Tiga: Tukang Begal dan Preman Bayaran

TENTU kecurigaan yang satu ini sangat mungkin terjadi mengingat belakangan ini sering terjadi kasus pembegalan yang tak jarang menelan nyawa korban. Tapi coba kita berpikir lebih jernih lagi. Kang Salim, dia orang yang tak kaya bahkan bisa dikatakan miskin. Bertahun-tahun lalu, ia sering mengantre di kantor pos untuk mendapatkan be-el-te. Lalu, apa yang mau dibegal dari orang semiskin dia? Jika mengira preman bayaran adalah pembunuhnya, rasanya cukup mungkin karena memang itu bidang mereka. Tapi di desa bahkan kota ini sudah tak ada yang namanya preman. Preman-preman di kota ini telah berhijrah ke luar kota untuk mengikuti syuting film pertobatan kaum preman.
Mungkin, bisa saja preman dari kota tetangga yang dibayar untuk membunuh Kang Salim. Lalu, siapa yang membayarnya dan untuk apa? Apa yang bisa diharapkan dari orang kecil macam Kang Salim?
Baiklah, saya terima selidik kalian semua. Anggap saja pabrik semen yang membayar  preman itu untuk membungkam mulut Kang Salim berikut antek-anteknya dalam usaha menentang pendirian pabrik. Tapi buat apa? Toh, tanpa membungkam krucil-krucil macam Salim dan antek-anteknya itu, pabrik semen juga bisa berdiri tanpa halangan.
Lalu apa lagi? Soal tanah penduduk desa yang tak mau dibeli? Ah, sepertinya itu perkara sepele. Selagi uang bisa bicara, manusia bisa bisu seketika. Toh, gubernur mereka juga telah teken kontrak persetujuan pendirian pabrik semen itu. Apa yang bisa mereka lakukan kalau pemerintah yang mendekengi pabrik itu? Apakah mereka akan demo? Hahaha.
Kalian tahu sendiri, bukan? Para mahasiswa yang mulutnya lebar kemarin itu, mereka yang berniat memberontak dan mengudeta presiden itu akhirnya pulang dengan air mata. Tak ada satu media pun yang mau meliput demonstrasi mereka. Itu mahasiswa! Mahasiswa yang konon punya pemikiran cerdas. Yang punya uang untuk membela rakyat jelata. Tapi, ketika mereka dibujuk dengan perjamuan malam, toh kepala mereka
menjadi dungu!
Ingat! Itu mahasiswa! Apalagi Salim dan antek-anteknya yang jelas-jelas kaum jelata. Mau apa mereka? Tunggu, mengapa kita tidak menyelidiki cenayang itu? Bukankah pada awal tadi kita telah mencurigainya lantaran ramalan dan kata-kata ganjilnya yang mengganjal. Tentu kalian tahu sendiri sepak terjang Mbah Samin. Dia juga pandai menyantet orang. Cukup mungkin bila dia melalui ilmu sesatnya itu menghipnosis Kang Salim agar bunuh diri.
Apa kalian bilang? Untuk apa? Ya. Siapa tahu dukun tengik itu punya dendam mendalam pada Salim.
Misalnya Salim merebut Salamah dari tangan dukun Samin. Bisa saja bukan?! Tunggu, tunggu, apa yang sebenarnya kalian gunjingkan?
Saya? Apakah kalian mau mencurigai saya? Silakan. Kalian tahu sendiri, saya hanya kepala desa yang merangkap sebagai juru cerita di sini. Benar. Juru cerita! Dengan menjadi juru cerita, saya bisa menentukan posisi saya sebagai apa saja dan siapa pelakunya. Saya bisa membelokkan cerita ini kalau saya mau. Urusan saya hanya pada cerita ini, bukan pada mayat Salim yang tergeletak di tengah
jalan. Bukan! Sekali lagi saya katakan, saya hanyalah juru cerita. Titik! (62)
Tuban, 30 September 2015
Umar Affiq lahir di Rembang, 14 Desember 1992. Lelaki penyuka wayang kulit ini kini mengabdikan hidup sebagai santri Ponpes As-Somadiyyah Tuban. Meski menempuh Studi Teknik Informatika Unirow Tuban dan pegiat sastra di Kostra (Komunitas Sanggar Sastra).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Umar Affiq
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 4 Oktober 2015