Mayat Masa Lalu

Karya . Dikliping tanggal 6 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Seonggok mayat dirubung lalat di halamanku, persis di bawah pohon nangka. Jauh sebelum itu terjadi, berpuluh tahun lalu, pohon itu tempatku main petak umpet. Setelah agak dewasa, aku jadikan pohon itu sebagai tempat nongkrong bersama teman-temanku sesama pengangguran. Sesudah menikah, pohon itu tidak lagi kuperhatikan.

Aku tinggal di rumah peninggalan orangtuaku sejak bayi. Jadi hafal tiap sudutnya. Ketika seonggok mayat ditemukan di bawah pohon nangka tersebut, aku pikir seseorang sengaja membuat masalah.

Mayat itu tukang kebunku. Kardi namanya, yang mengaku bernama Sapono saat awal kami kenal kira-kira tujuh tahun silam. Lalu, kuketahui dia pernah menipu seseorang di suatu dusun di kaki gunung, dengan KTP palsu bernama Markoni, dan menyaru jadi guru SD. Dia mencabuli dua perempuan dan kabur membawa beberapa ekor sapi, dan mengganti nama menjadi Kardi.

Aku tidak ingin memenjarakan tukang kebun ini, karena dia begitu telaten merawat segalanya. Dia tidak marah walau kucaci-maki dengan kata-kata yang membawa nama para binatang. Aku suka kinerja dan caranya membereskan tetek bengek urusan kebun sekaligus membungkam mulut sendiri. Jadi, kuputuskan menyidangnya di ruanganku.

Waktu itu Kardi terpaksa mengganti nama menjadi Sapono karena takut ditembak oleh orang-orang yang dulu membantai keluarganya. Orang-orang itu, begitu menurut si Kardi, adalah orang-orang paling bengis sepanjang hidupnya.

“Ibu saya lagi bunting,” katanya menjelaskan, dengan napas patah-patah. “Dikejar di kebun-kebun, sampai masuk hutan. Waktu itu saya nangis, dan Ibu nyuruh saya diam. Kata Ibu, ‘Kalau berisik terus kuberikan kamu ke hantu-hantu.’ Setelah itu saya berhenti nangis, karena dengar dari kakek bahwa hantu-hantu hutan suka makan gigi anak kecil. Saya tidak ingin ompong seperti kakek, maka saya diam. Tapi akhirnya Ibu tertangkap. Saya lolos karena Ibu memasukkan saya tepat waktu ke lubang di sebatang pohon, dan menyuruh saya menggigit sebongkah kayu. Kayu itu rasanya pahit, tapi saya gigit saja dan saya tidak rewel, daripada ompong. Lalu saya mengintip dan melihat Ibu diikat, dan saya tahu perutnya masih besar karena adik saya belum keluar. Tetapi pada saat itu juga Ibu disembelih.”

Dengan masih tergagap-gagap, diiringi tangisan, Kardi melanjutkan cerita di masa kecilnya dulu dengan kematian ayah dan saudara-saudaranya. Mereka dibunuh karena bermasalah dengan seorang juragan tembakau, dan kebetulan juragan itu orang yang kebal hukum. Karena itu Kardi mengganti nama menjadi Sapono. Ayah dan semua saudaranya dibunuh lebih kejam: dipotong-potong sampai kecil, lalu direbus untuk makanan anjing.

Bagaimana dia menjadi Markoni, adalah ketika nama Sapono mulai dianggap tidak aman baginya. Sapono dikenal publik sebagai tukang gali kubur. Suatu hari yang celaka, tidak sengaja jam tangan Sapono tertinggal di dasar kuburan, dan ia balik ke sana pada malam harinya demi mengambil jam berharga itu.

“Itu jam dari pacar saya. Dia dapat nyolong dari majikannya yang kaya dan pelit. Dia tidak salah kok. Si kaya itu memang busuk, tetapi bukan berarti semua orang kaya jahat. Saya kenal banyak orang kaya yang baik hati, seperti Anda, yang mengayomi dan welas asih sebagaimana yang berbagai agama ajarkan. Mereka yang busuk dan jahat itu tergantung individunya, bukan suku atau agama atau status sosialnya.”

Saat Kardi berkata begini, aku ingin menelan ludah dan menamparnya dengan balok di dekat tanganku, tapi aku toh diam. Kardi tidak menyadari itu dan menjelaskan tentang arti jam tangan curian tadi dan bagaimana akhirnya pacarnya ketahuan mencuri oleh majikannya yang busuk, dan dibawa ke penjara setelah delapan hari berturut-turut dipasung dan dicekoki air sabun.

Nama Markoni resmi dipakai setelah dia tidak sengaja mencangkul jenazah kepala desa yang suka main wanita dan punya banyak teman pejabat. Dia sangat hafal tindakan orang-orang berduit dan membiarkan leher mayat itu koyak-moyak dan tidak berpikir perlu merapikan jasadnya sebelum dipendam sekali lagi untuk selamanya. Tetapi, batu nisan yang patah, karena ia buru-buru dan gugup saat mengembalikan kuburan tersebut ke kondisi semula, membuatnya harus kabur. Sejak itu ia jadi guru di kaki gunung dan mencabuli dua perempuan, lalu kabur lagi sampai menuju rumahku yang berada jauh dari tempat sebelumnya. Jam tangannya sampai sekarang masih ia pakai.

Kardi mengakui. Aku tidak memberinya hukuman, kecuali menyuruh si sinting ini mencatat penjelasan tentang sejarah hidupnya disertai tanda-tangan. Ia kusuruh kembali bekerja, tapi selama empat bulan murung.

Kardi suka mengadu burung-burung dara bersama para pengangguran. Dulu aku menganggur, tetapi aku punya duit warisan orangtuaku, sedangkan para pengangguran di sini umumnya orang-orang kere. Mereka tidak pernah akan pakai sandal bagus kalau bukan hasil perbuatan kriminal.

Kardi berkumpul dengan orang-orang macam ini, dan itu memang kusuruh, sebab memberi manfaat ketika keluargaku pergi jauh meninggalkan rumah. Mendekati para preman dengan cara yang tepat, memberi mereka minuman, membayari mereka untuk ke lokasi hiburan malam, adalah upaya agar mereka bersedia menjaga rumah dan segala perabotan dan aset milikku di dusun ini, tanpa berani merusak atau mencuri.

Ini simbiosis mutualisme. Jika ada oknum yang menyimpang, preman-preman lain bertindak. Sejauh yang kutahu, Kardi dapat mengontrol mereka. Kardi perwakilanku di pertemuan antara para manusia tak berguna itu. Ia juru bicaraku di antara mereka.

Aku memilih Kardi sebagai pelopor keamanan sekaligus tukang kebun justru oleh karena riwayatnya yang luar biasa. Ia bertahan hidup di masa-masa sulit, sewaktu masih terlalu kecil dan ibunya baru disembelih. Ia juga mencium bau gosong dan memualkan daging ayahnya yang dipotong-potong seukuran dadu. Benar tidaknya cerita itu, tentu aku tidak tahu, tapi aku memilih percaya saja.

“Saya tidak ingin makan daging dan bersumpah tidak makan daging sampai mati, kecuali daging orang yang ingin saya habisi karena status sosialnya,” katanya suatu hari di bulan ketiga setelah semua pengakuan atas pergantian nama yang ia lakukan.

Tetapi, Kardi jelas belum pernah melakukan. Ia bahkan tidak pernah melukai siapa pun.

Ketika mayat Kardi ditemukan di bawah pohon nangka di halaman rumahku yang besar, aku tahu alasannya. Jiwa pemberontak Kardi yang tidak padam barangkali bikin hati seseorang di luar sana ketar-ketir. Aku tidak tahu siapa itu, tetapi yang pasti Kardi tidak mungkin berkhianat. Aku memiliki bisnis-bisnis haram yang kukendalikan dengan sempurna, lewat orang-orang macam Kardi. Tidak kurinci siapa saja orang-orang ini, karena bisnisku di mana-mana. Aku cukup mengatakannya ‘mereka ada’, dan itu sudah menjadi rahasia antara aku dan istriku.

Kematian Kardi jelas karena orang tidak suka padaku. Ia tahu Kardi manusia yang tangguh, dan kematiannya sama dengan meledekku. Ia dirubung belatung dengan mulut terkuak dan lidah menghitam. Puluhan lalat merubung dan bau busuk terbang hingga ke ruang tamuku yang berjarak cukup jauh dari pohon nangka tersebut.

Aku terus meyakini bahwa setiap hari seorang pengkhianat, yang ada di antara para preman itu, sedang tersenyum dalam hati dan menyiapkan semacam pemberontakan di rumahku, juga pabrik-pabrik yang mulai kudirikan di desa ini. Beberapa rumah kontrak yang kubangun juga barangkali berada dalam bahaya.

Suatu hari, setelah mayat Kardi dikubur, seseorang datang dan mengatakan bahwa ia adalah saudara Kardi. Aku tidak percaya dan kujelaskan bahwa dulu saudaranya mati disembelih bersama ayahnya, dan dipotong-potong seukuran dadu dan direbus, sebagian dibakar hingga gosong, untuk santapan anjing-anjing.

Orang itu menolak ceritaku dan mengaku sebagai saudara Kardi yang sah, dan ia kini siap bekerja menggantikan posisi Kardi di rumahku. Karena ia terus memaksa dan lagi pula wajahnya kelihatan tidak berbeda dengan Kardi, dan sepertinya sama-sama kuat dan loyal, kuputuskan mengajaknya bicara lebih lanjut.

“Nama saya Sapono,” katanya.

“Kardi pernah pakai nama Sapono. Kamu jangan bohong.”

“Saya tidak bohong. Saya Sapono.”

Beberapa hari kemudian, seseorang datang dan mengaku bernama Markoni. Tetapi, dia tidak mengaku bahwa dia adalah saudara kandung Kardi. Markoni hanya memohon agar kuizinkan ia mengajari anak-anakku belajar ngaji agar tidak bejat seperti bapaknya.

Aku bilang, “Anak-anak tahu kalau saya tidak bejat, meski jarang shalat!”

Markoni terus mendesak agar aku menerimanya. Ingin kutampar wajahnya, tetapi Markoni kelihatan agak bungkuk dan kebetulan anakku yang kecil ada di teras waktu itu. Lalu kusuruh Markoni duduk dan kuperintah pembantuku membuatkan teh hangat buat Markoni. Orang itu minum dan dengan puas mengatakan bahwa ia merasa bahagia bisa ketemu denganku.

“Kita pernah ketemu, lho,” katanya. “Tapi dulu, waktu Anda masih kecil. Mungkin segini.” Ia menaruh telapak tangannya di udara dengan posisi menghadap bawah, dan menyejajarkannya dekat pot bunga dari keramik setinggi dengkul orang dewasa, seakan mengingatkanku bahwa aku pernah setinggi itu.

Aku tidak pernah bertemu orang ini, tetapi dia mengaku sungguh wajar aku tidak ingat, karena waktu itu aku masih kecil. Tapi, dia masih ingat waktu bapak dan ibunya disembelih, dan di hari yang sama, ia pingsan di halaman suatu rumah, dan di sanalah ia melihatku.

“Kalau tidak salah tepat di situ,” katanya seraya menunjuk pohon nangka. Sapono, yang kebetulan sedang membersihkan daun-daun mati di halaman sana, memandangnya dengan tatapan hampa.

 

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya sebuah novel berjudul Negeri yang Dilanda Huru-hara (Basabasi, 2018).

Zulkifli Faiz, pendiri dan pengajar di Rumah Seni Rupa Kakzulfa (#RSRZ), yang juga studio sekaligus sekolah seni rupa terbuka untuk semua usia. Ia menetap di Pondok Petir, Bojongsari, Depok.

 

 

[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Kompas” Minggu 5 Agustus 2018