Episode Sari Bab Cinta Bobad – Toko Kaji Warsam Dikemat Semar Mesem

Karya . Dikliping tanggal 10 September 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Episode Sari
Bab Cinta Bobad

Bobad bersumpah cintanya seteguh tulang iga.
Tak ada cinta kembar dalam dirinya.
Ia mengunci hati Sari di kaos kembar bertuliskan:
“Aku dan Sari satu.”

Cinta Bobad disimpul di lidahnya
Sari menyimpul cinta Bobad di hatinya.

Cinta Sari dilumpuhkan Bobad
ia ngesot mencari suaka atas cintanya.
Namun nasib bertangan buntung
dipotong takdir yang punya untung.

“Dari sinilah nanti cintaku dibawa terbang.
Ketika sayapku patah
orang-orang akan melupakanku.
Mereka bilang :
Dari landasan ini cinta dan mimpiku akan terbang.”

Sari menangis, cinta menepuk angin
datang Wasta mengulurkan (t)angan.
Ditenung janji bualan
hatinya terbang ke bulan.

“Akan kutampung lukamu di sini, Sari.”

Tapi cinta Wasta gampang lupa.
Sering salah masuk rumah janda beranak tiga
yang ditinggalkan lakinya ke Jakarta.

Sari menjerit sendiri
tak ada lagi orang suka-Sari
orang bilang Sari gila
sebab cintanya dibawa terbang ke Jakarta.

#savesukasari

Yogya, 2017

Toko Kaji Warsam Dikemat Semar Mesem

Kunci sukses toko terletak pada seribu rupiah
lebih mudah dari angka togel yang tak pernah ketemu
buntutnya.
Sebab di kampung ini orang gemar memelihara
gambar binatang
bagi (b) untung-malang nasib dapurnya.

Baca juga:  Setelah Pertemuan - Pintu Kecemasan - Rumah - Ketika Hujan Mengetuk Rumahku

Perlu diingat
bahwa catatan belanja ibu-ibu
akan memilih harga hemat seribu.

Tapi buntung-malang toko Kaji Warsam
untung seribu dijambret tetangga warung swalayan.

Ruangannya adem
pikiran jadi ayem.
Senyum penjaga tokonya ramah
ucapan selamat datangnya seperti bel rumah.
“Kembaliannya mau disumbangin, kak?”

Warga kampung ini selain taat berhitung hutang bank
juga taat kredit motor tahunan
atau rayuan gombal cicilan bulanan.

Duh, duh… toko Kaji Warsam nyaris sepi pembeli
langganannya amblas digondol jin swalayan.
Maka ia datang ke Kiai Sadali
dengan harapan rizki bisa pulang sendiri.

Tapi sialnya rizki sudah pikun
dipelet gadis toko swalayan.

Yogya, 2017

Cintaku Sekonyong-konyong

Cintaku sekonyong-konyong terbang
ditiup janda sepocong .

Hatimu dangdut musim panen
basah di luar, kering di dalam.

Kamu gagalkan musim tanam
tapi bikin janji di musim hajatan.
Mulutmu semanis biduan
tapi hatimu keranjang pakaian.

Duh, Kakang, yang nanam di sepertiga malam
telah kubuka sawah untukmu.
Cangkullah garis takdirku
di antara galengan kecil hidupku.

Baca juga:  Pesan Suami Kepada Istrinya - Suatu Ketika di Depan Hotel Kozi - Cinta Yang Lupa Ingatan

Bila cintaku dibawa burung terik
pastikan ia pulang membawa hujan.
Bila hatiku kamu petik
pastikan pulang membawa mobil sedan.

Tapi kenapa Kakang bermalam di tubuh orang lain?
Adakah tubuh yang selicin lidahku?
Adakah hujan yang sederas ciumanku?
Adakah cinta yang semekar bungaku?

Cintaku sekonyong-konyong terbang
ditiup janda sepocong.
Ranjangku tiba-tiba bergoyang
dicangkul suami orang.

Yogya, 2017

Memasang Nomor Cantik

Ijinkan aku memasang nomor cantik
agar kelak angkanya berkembang biak baik.
Bisa ngobati dompet supaya tidak pilek melulu
bisa beli baju baru
anak-istri tidak bawel selalu.

Ijinkan aku memasang nomor cantik
agar datang nasib baik
piutang pulang balik.

Ijinkan aku memasang nomor cantik
agar harapan menjaga tidurku.
Anak-istri terjaga selalu
bisa nyawer bila undangan hajatan mengetuk pintu.

Ijinkan aku memasang nomor cantik
tambahan duit bila tiba paceklik
agar tangan nasib tidak mencekik.

Tuhan, tolong kabulkan doaku
setelah itu aku akan taat padaMu.
Tapi bila Kau tak mau,
kirimkan nasib bertangan baik.

Cikedung, 2017

Dapur

Kepul kompor serupa asap kemenyan
yang menyenandungkan puji-pujian.

Ladang ayah kusut
doa-doa bermekaran di rambut.

Baca juga:  Lebar-an

Di kota,
gedung-gedung menyimpan halimun
jalan-jalan hilang ingatan
harapan macet di setiap simpang
dan lalu-lalang kendaraan.

Besi-besi tumbuh lebih cepat
lebih lebat dari keinginan-keinginanmu
yang layu dan menyedihkan itu.

Jalan-jalan seperti galengan
di antara petak-petak sawah yang gersang.

Buruh-buruh memproduksi hujan
dan menanam pohon-pohon

yang terbuat dari beton dan baja.
“Inilah dunia baru! bersiaplah untuk masa depan.”
lalu orang berbondong-bondong meninggalkan
dapurnya.

Yogya, 2010-2017

Kedung Darma Romansha, telah mengenal puisi sejak di bangku SMA. Kumpulan puisi terbarunya berjudul Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu (Rumah Buku, 2018). Laki-laki kelahiran Indramayu, 25 Februari 1984, juga dikenal sebagai novelis, pemain teater, dan pemain film. Saat ini, penulis mengelola komunitas Rumah Kami Yogyakarta.

 

 

[1] Disalin dari karya Kedung Darma Romansha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 9 September 2018