Melepas Sajak – Sajak Tentang Hasan – Tak Berjudul

Karya . Dikliping tanggal 8 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Melepas Sajak

Anakku, pergilah
Sampai di sini aku mengantarmu
Tak mungkin lebih jauh lagi
Temui sendiri olehmu
Tuan Pembaca Nyinyir

Ia akan menatapmu
Memandangmu
         Dengan gayanya kurang ajar
Bernafsu melucuti segenap hurufmu
Sampai gigil terakhir
Ia ingin mengujimu langsung
Pada kesempatan pertama:
Adakah kau sungguh liat
Atau hanya geliat
         Mayat kata?

Ketahuilah
Ia mencurigai sngat
Silsilahmu kabur itu
Pun tak yakin ia
Pada luka-lukamu:
Seberapa masin darahnya
Cukup sepadankah
Sebelum terlebih jauh lagi
Kujelajah barahnya

Aku telah mencoba
Menempamu semampu bisa
Kurelakan rembulan
Menyembunyikanmu
         Sampai genap merihmu
Telah kurobohkan pula
Rapuh struktur kisahmu
Kusalin lantas bagimu
        Duka cerita bumi
Dan sangit aria langit
Aku tak tahu tapi
Adakah sekaliannya cukup?

Pergilah, anakku
Aku melepasmu di sini saja
Temui sendiri olehmu
Tuan Pembaca Nyinyir itu

2014

Sajak Tentang Hasan

Hasan ingin menulis sejuta puisi
Kelak dikirimkannya ke alamat sorga
Satu bilangnya ditulisnya buat saya
Mungkin puisi penghabisan

Hasan tiada saya kenal dekat
Ia mukin jauh di awan tinggi
Sedang saya melata di kolong bumi
Mengais ampas syair

Hasan dan saya bedalah sungguh
Ia wartawan saya gurem karyawan
Jika Hasan melambung saya meniarap
Dan jika ia meniarap, saya pun diam terkesiap

Hasan bilang mengarang gampang
Lancang ia! Saya kata mengarang gamang
Memaksa jemari bimbang, sungguh
Menorah judul itu membikinku gigil

Tak soal tapi, tetap saya sukai Hasan
Yang address-nya jauh di awan-awan lalu
Yang salamnya bising mengusikku pening
Ah, yang puisinya sejuta terkirim ke surga

2014

Tak Berjudul

Serigala punya liang,
burung ada sarangnya,
tapi kata-kata ini
bahkan tak berjudul–

tempanya berpaut
jika malam tambah larut.
Bakan tak paham saya,
dari stasiun mana gerangan

pengembaraan dimulai:
Bukankah ia tumbuh seiring musim,
mengembang bersama cuaca?
Kekal dalam peralihan–

seraya dilintasinya batas-batas rawan
kegembiraan dan kedukaan.
Tak ada kiranya liang yang cukup
bagi kisahnya yang degup,

malahan kini saya percaya,
ia menampik perhentian,
pelabuhan-pelabuhan singgahan.
Dalam sengit kecamuk penciptaan,

keluasan tema hanya menyeretnya
pada kemungkinan yang paling jauh,
kelam lurung-lurung bahasa,
sanubari manusia.

2014

Ook Nugroho lahir di Jakarta, 7 April 1960. Buku puisinya antara lain Tanda-tanda yang Bimbang (2013).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ook Nugroho
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar “Koran Tempo” 8 Maret 2015