Melewati Hutan Cemara – Mengabaikan Sungai dari Puncak Bukit – Berdiri di Belakangmu – Ecce Homo

Karya . Dikliping tanggal 10 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Melewati Hutan Cemara 

Aku butuh lima lembar langit, katamu.
Aku menyodorkannya sebagai bekal
Terakhir kita. Setelah sebuah siang,
Matahari kian meninggi dan kita
Sebenarnya sama-sama ragu, di mana
Kelak ia sandarkan punggungnya ketika
Yang ada di sekelilingnya hanya sisa-sisa
Dongeng yang memang usang.
Kita susuri tanjakan, menebas dahaga
Yang tiba-tiba menghadang setelah keluar
Dari dalam lubang hitam yang tak kita tahu
Dari mana asalnya. Abaikan gunung-gunung
Yang pernah diceritakan pada amsa kanakmu.
Kataku, kita tak sedang mencari kemuliaan
Dengan berlagak menjadi nabi yang mengalami
Transfigurasi serta emnjadi gembala yang ‘Mencintai domba-dombanya dengan segenap
Tubuh dan jiwa sambil merelakan maut
Menertawakan dirinya
Setelah lapisan ini kita mesti berhenti, katamu.
Kukira tanah begitu lapang menyembunyikan
Nyeri, dan bagian langit yang tersayat
Sebaiknya meniru darinya salah satu bagian
Penting yang kadang kita lupakan
Ketika masa-masa sulit datang menerjang.
Belukar demi belukar terus merintangi meski
Cemara-cemara yang tegak dengan ramah
Menyampaikan hati-hati sampai berjumpa lagi
Sambil menyentuh-nyentuhkan oksigen
Pada kulit kita yang merah karena darah.
Di luar sana kelak mungkin tak kita temukan
Tanah terjanji, katamu, tapi aku percaya
Ada yang akan berarti saat ini semua berakhir.
Aku sudah terlalu lelah untuk menimpalimu
Dengan kalimat kita memang sedang tidak
Mencari apa-apa ketika melakukan ini jadi
Berhentilah mengeluh dan simpan tenagamu
Untuk perjalanan yang masih panjang ini.
(Naimata, 2015)

Mengabaikan Sungai dari Puncak Bukit 

Jadi begini, Nona, aku sudah katakan kepadamu
Bahwa berlama-lama di tempat ini adalah sesuatu yan
Yang tidak lagi masuk akal setelah kau tahu bahwa
Aku memang benar-benar mencintaimu.
Tak ada lagi yang perlu dikenang dengan penuh
Haru biru sebab bahkan langit pun bosan menerima
Cahaya yang sama berulang kali dengan tubuh mudanya.
Tapi karena Nona tidka percaya, hari ini
Kita kembali ada di tempat ini berbincang tentang
Segala hal yang sudah kita percayakan sejak
Hari pertama tanpa pernah peduli pada apa yang
Ditemukan dua pasang mata kita yang terarah pada
Gerak sungai di arah timur tanpa pernah peduli
Pada mata sungai yang memandang kita
Dengan sorot yang mulai redup tanpa pernah
Peduli pada lambai tangan sungai yang kian
Melambat tanpa pernah  peduli pada suasana
Hati sungai yang mengubah mimik wajahnya
Tanpa pernah peduli bahwa sungai akhirnya
Tidak lagi peduli pada kita dan lebih senang
Berjalan seperti biasa ke tempat yang ditujunya.
(Naimata, 2015)

Berdiri di Belakangmu 

Biarkan keledai ini berjalan sesuai tenaga
Yang dikumpulkannya. Tak perlu takut
Hanya karena dikejar musuh, semalam
Malaikat telah mengingatkanmu, bukan?
Ia akan melahirkan pagi dari dalam rahimnya
Dan membuat orang-orang percaya
Pada cinta yang tanpa pamrih.
Itu juga yang dikatakan
Malaikat kepadamu?
Tentu saja. Kau tahu apa jawabanku
Jika malam nanti ia datang lagi.
Ya, dan itu akan ditulis orang-orang di dalam
Gulungan-gulungan mereka, dan diulang
Dalam doa-doa mereka.
Malaikat juga menceritakan apa yang akan
Terjadi padanya dan pada sepupunya
Apakah itu rahasia Tuhan yang dibocorkan
Kepadamu untuk menguji imanmu?
Aku tak tahu, tapi aku kini mulai
Ragu dapat menyimpannya
Kau baru saja bercerita kepadaku.
Karena kau suamiku. Kau adalah
Sebagian diriku
Ia seperti Musa yang membutuhkan Mesir
Untuk menemukan Tanah Terjanji
Aku pun akan rela menghanyutkannya jika
Itu satu-satunya cara menyelamatkannya.
Sekarang kita ada di atas
Rakit yang sama. Ia tidak sendiri.
Kita dapat kembali melanjutkan
Perjalanan jika kau tak keberatan
(Naimata, 2015)

Ecce Homo

Kupadamkan cahaya sekeliling untuk mengingatmu di tengah
malam yang cerah ini. Langit dan udara membawa jernih suaramu
masuk ke relung terdalam semesta diriku. Semesta diriku dulu
punya nama dan bahasa, dan seketika kehilangan sesuatu yang 
paling berharga dari dirinya. Tak lagi banyak yang ia punya kini, 
kecuali sesuatu yang tidak berarti apa-apa. Di ujung sana ada pagi,
dan matahari belum tentu dapat menyeka sisa kesedihan yang telah
merembes jauh ke dalam diriku. Kumiliki kesedihan dan alasan,
sebaik kumiliki kenangan dan dirimu. Orang-orang dapat berdiri di
pinggir jalan, berdesak-desakan dan kelihatan baik-baik saja tanpa
memasukkan kenangan ke dalam saku untuk mengusapnya setiap
kali kehilangan datang mengancam, tapi kau tahu  ke mana semua
kebahagiaan mereka terbang, menghablur, atau sekadar menjadi
bukan apa-apa. Aku hanya dapat berharap pada sesuatu yang tidak
berarti apa-apa itu jika semesta diriku akhirnya benar-benar
kehilangan kemampuan menghasilkan gaung dan memadamkan ingatanku.
(Naimata, 2015)
Mario F Lawi, bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Buku puisinya antara lain Lelaki Bukan Malaikat (2015).  Ia sedang mempersiapkan buku puisi terbarunya, Beate Amor.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mario F Lawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 9 April 2016