Meludahi Jalan Malioboro

Karya . Dikliping tanggal 17 April 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
AKU mengagumi Yogya sejak aku menyukai puisi. Dulu seorang teman pernah menceritakan bahwa Yogya di setiap sudut jalan-jalannya ada banyak sastrawan, belok kanan ketemu penyair, belok kiri berjumpa prosais, toleh belakang ada gelaran diskusi sastra, melenggok sedikit akan bersua pertunjukan seni.

“Mardono, di sepanjang Jalan Malioboro, penyair-prosais ternama menghabiskan waktu mereka berbagi karya, saling membaca puisi, cerpen atau petikan novel karya sendiri sambil ngopi asyik, kemudian saling mengapresiasi, saling kritik, dan obrolan mereka ilmiah, objektif, tidak seperti kampung kita yang bila berkumpul suka menggosip tetangga.”

Masih banyak lagi ujaran teman itu, sehingga muncul rasa penasaranku terhadap Kota Yogya. “Kalau kau ingin menjadi sastrawan bagus, tinggal saja di Yogya, karena kota itu tempat berkumpulnya sastrawan-sastrawan hebat.”
Tak semudah meludah, keinginanku untuk berangkat ke sebuah kota yang membuatku penasaran itu tercapai, ibuku sering melarang bila aku berkata akan berangkat ke Yogya. Sejak tahun 2006 aku meminta restu untuk merantau ke Yogya.

“Yogya sering terjadi gempa, apa kau ingin cari mati, Mardono?” kata ibu selalu.

Kupikir gempa bukan alasan yang konkret tapi mungkin karena Ibu sudah tua dan aku sebagai anak tunggal harus merawatnya sampai senja. Tetapi malah hasratku merantau ke Yogya kian bergolak! Apalagi ketika banyak kujumpai buku-buku di pasar kampungku, banyak kutemukan nama-nama pengarang Yogya, penerbit-penerbit Yogya dengan buku-buku bagus. Di koran dan media massa lainnya kutemukan nama-nama Yogya lagi. Yogya, Yogya, Yogya. Nama dan karya yang semakin membuat rasa penasaran menjadi-jadi pada kota itu, ada apa di Yogya? Apa yang menjadi aktivitas para penulis dan sastrawan di sana? Apakah benar bahwa di sepanjang Malioboro menjadi tongkrongan seniman-seniman sastra ternama?

Sampai akhirnya, 24 September 2013 kuberanikan diri minta restu merantau lagi, mungkin ibuku sudah tidak tahan dengan permintaanku yang bertubi untuk ke Yogya, sehingga dirinya mengizinkan. Tapi tak semudah meludah, mungkin lebih supaya aku terlipur setelah lamaran pertunanganku ditolak oleh orangtua pacarku, Marsunah, seminggu sebelumnya.

Marsunah adalah seorang gadis yang amat kucintai ia pun begitu mencintaiku, pahit rasanya, apalagi orangtuanya menolakku dengan alasan status sosial, aku keturunan orang tidak jelas katanya. Pahit rasanya, persoalan silsilah dan keramat masih menjadi bagian kriteria untuk menjadi menantu dari orang-orang seperti itu. Kolot.

Ibu sempat menanyaiku sebelum berangkat, ”Kau akan bekerja apa di sana?”

”Saya ingin menjadi penyair, Bu.“ Mudah sekali kujawab.

Aku tahu, ibuku petani tak pernah sekolah, pasti tak paham apa yang dimaksud ’penyair’. Mungkin dikira sama dengan menjual gorengan. Tapi ia diam saja, ”Moga di sana kau bisa terlipur dan menemukan apa yang ingin kau cari, Mardono.”

Jalan Malioboro

PERTAMA kali menginjakkan kaki di kota Yogya, tempat yang kutuju pertama kali adalah Jalan Malioboro, cukup berjalan beberapa langkah kaki saja dari stasiun Tugu. Sesampainya, kuamati seksama hingga berjam-jam, aku berjumpa seorang penyair di sini, belum kutemukan apa yang kucari. Hari kedua juga begitu, hari ketiga sampai dalam satu bulan pertama aku datang setiap hari ke Jlana Malioboro, dalam bulan pertama hampir tak pernah absen, kuamati satu persatu orang-orang di sana, di sepanjang Jalan malioboro hanya penjual angkringan, pedagang oleh-oleh seperti pakaian dan makanan, mal, restoran, minimarket, pengunjung warung-warung kopi kebanyakan kalau tidak tukang parkir ya wisatawan. Dan obrolannya tidak jelas, kalang kabut, orang-orang baru datang dan pergi hanya untuk membuang pikiran jenuh mereka dari rumah dan menikmati wisata di sini. Busyeeet!

Sudah setahun aku di Yogya, bekerja sampingan sebagai pelayan kafe di dekat kampus UGM. Sungguh ternyata tak semudah meludah! Kukira apa yang diceritakan temanku dulu hanya sebuah romantisme sejarah! Kuketahui informasi tentang Malioboro setalah tak sengaja berjumpa seorang wartawan di warung burjo, sebuah istilah warung makan Sunda yang dikenal murah meriah.

“Memang benar, dulu Jalan malioboro penuh dengan sneiman yang hilir mudik, ada Umbu Landu Paranggi, Affandi, Rendra, Idris Sardi, Untung Basuki, Linus, Korrie, Ebiet, Emha,” ujar wartawan itu.

“Sekarang?”

“Sekarang sudah tidak ada lagi.” Lalu terkekeh-kekeh sendiri.

Benar sialan. Aku memutuskan urung untuk menjadi penyair, sebagaimana  niatku semula untuk belajar mengarang kepada para sastrawan yang katanya sering nongkrong di Jalan Malioboro

Penyair Muda: Sampah

DAN malam ini aku menjumpai seseorang yang katanya penyair muda yang sedang  membaca puisi di panggung kecil kafe tempat aku bekerja, kafe sedang disewa acara suatu komunitas literasi.

“Jadi Anda juga menulis puisi?” tanya penyair muda itu ketika duduk di kursi. Ia melotot mataku cekat sekali setelah kusodorkan puisi-puisi yang memang kucetak setahun yang lalu di kampung.

Si penyair muda itu tak sendiri, dua kawan semejanya turut mengambil puisiku. Artinya tiga orang sedang membaca puisiku.

“Bagaimana puisiku, Mas-mas sekalian?” kataku ketika mereka terlihat rampung.

Penyair muda itu menarik lenganku. “Kau tahu? Puis-puisimu ini, sampah! Hahaha…” Dia tergelak disambut kawannya juga terbahak-bahak.

Aku tersentak karena apa yang kubayangkan tentang keramahan penyair muda dan kawan-kawannya tak kudapatkan, malah tawa mereka kian keras dan seolah puisiku tak ada guna bagi mereka.

Ah, sudahlah, aku tak mau menjadi penyair! Titik.

Kuputuskan segera pergi dari kota ini, kota yang tak ramah menyambut tamu perantau sepertiku. Yogya berhati nyaman? Halah, berhati galau. Istimewa? Halah, puisiku yang kubuat susah payah mengapa dianggap sampah. Mengapa, memangnya puisi mereka seberapa bagus? Rugi aku, entah berapa rupiah kupertaruhkan demi hidup di Yogya untuk belajar sastra, tapi perlakuan orang-orang yang katanya penyair muda sebuah komunitas literasi itu tidak kumaafkan!

Keesokan hari, untuk yang terakhir kali aku datang kembali ke Jalan Malioboro. Aku teringat sebuah novel tentang ritual kepercayaan orang India salah satunya ialah meludahi setiap kota yang pernah disinggahi, entah untuk apa.

Jauuuuuuhhhh. Karena memang tak semudah meludah, aku meludahi Jalan Malioboro bersama harapan yang telah kecut, kemudiankubuang puisi-puisiku di tong sampah ujung jalan yang lurus ke pintu keraton itu, nama jalan dalam cerita teman kampungku yang ternyata hanya bualan keindahan kota ini dengan romantisme masa lalu.

“Terima kasih, Yogya, kau cukup membuatku ciut dan sakit hati untuk berproses!” Desahku. Lalu aku pulang bersama kereta ekonomi yang melaju ke arah timur, sungguh perjalanan paling menyakitkan selama hidupku.

Seminggu kemudian aku mendapatkan telepon dari manajer di kafe tempat aku bekerja semasih di Yogya.

“Halo, Mardono, apa kabarmu?” sapa manajer yang biasa kupanggil bos.

“Baik, bos, ada apa?”

“Ada penyair muda yang pernah kau temui di kafe semingguan yang lalu, tadi dia datang ke kafe mencarimu. Wah, kamu keren katanya, Mardono.”

“Ngapain penyair itu mencariku? Keren apanya, Bos? Bukannya orang itu mengatakan puisiku  puisi sampah.”

“Penyair itu membawa koran, katanya puisimu dimuat koran, penyair itu ingin minta maaf kepadamu dan katanya ingin belajar kepadamu supaya puisinya juga dimuat di koran dan dibahas profesor.”

“Apa?! Semua puisiku sudah dibuang ke tong sampah, kok bisa dimuat koran?”

“Entahlah, Mardono, aku juga bingung sekaligus takjub. Soalnya ketika aku membaca kolom puisi di koran itu, ada tulisan begini di bawah puisi-puisimu: Sajak-sajak Mardono ditemukan tergeletak di Tong Sampah Jalan Malioboro minggu lalu, dan diselamatkan oleh Prof Ragil (Guru Besar Ilmu Sastra). Prof Ragil akan membahas sajak-sajak Mardono di Jurnal Kebudayaan.”

November-Desember, 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raedu Basha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 17 April 2016