Melupakan Oktober

Karya . Dikliping tanggal 1 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Melupakan Oktober

Pohon-pohon kampus telah menjadi riwayat kecil
yang akan selalu menggugurkan bunga pada Oktober.
Aku mengingat jalan-jalan kampus yang menguning 
dan satu persatu kelopak tetap melayang
dalam pelukan angin hingga tersusun rapi di tepian.
Kesendirian dan keterasingan kadang terasa begitu sakit
seperti rasa waktu membuat daun mengering 
kemudian menjadi tanah.
Dari lantai tiga, terpandnag bangku teman yang kosong.
Kita pernah menceritakan film, lagu, hingga filsafat
dan kuberikan buku-buku dari dalam tas seolah pesulap
yang berusaha membuat kejutan pada semesta.
Perkiraan sepi, mereka telah pergi
menjadi jejak lain dari diri.
Jauh. Jauh sekali dari sepeda motormu
saat kuhentikan dibawah pohon,
hidup kita seolah ditaburi bunga Oktober.
Aku berdiam di bawah pohon. Sepi sekali hingga
seolah mendengar berbagai kabar burung tentangmu,
tentang pesan-pesan yang terbawa angin tak menyisakan apapun selain hawa dingin.
Ingatanmu hanyalah ingatan ikan
yang mudah melupakan apapun,
kecuali kecupan di bawah kegelapan.
Dan aku di sini menyentuh ingatanku.
Rambutmu pernah hitam dan lurus
dan bau bunga kop pagi hari
yang masih menyimpan basah hujan soe hari.
Rambutmu tak pernah mengering seperti air terjun
dengan ujung-ujung yang sunyi
hingga selalu segar di mataku sepanjang Oktober.
Tiap Oktober, aku merasa jadi mahasiswa
berusaha datang ke kampus dengan naik bus
dan berjalan kaki sendiri, menuju kantin
sambil kusaksikan aku telah lanjut usia
dengan orang-orang telah melupakanku,
jalan-jalan berubah sembari mengusir masa lalu.
Pohon-pohon angsana telah tumbuh di tubuhku
sehinbgga setiap saat bisa menggunggurkan bunga kuning,
namun seketika itu membusuk tanpa jejak
bersama airmataku,
mungkin juga airmatamu (bila punya ingatan)
Oktober 2014

Oktober

Oktober, aku datang padamu
dengan membawa rerintik hujan.
Namun jalan menjadi sunyi
dan pepohonan mematung
seperti diriku kehilangan bahasa.
Hidupku pada janji.
Janji pada jalan-jalan kebun teh
dan tikungan yang berliku.
Hidup kadang tidak terduga
dan rencana dapat beralih pada kesia-siaan
Tak ada luka. Tak ada penyesalan.
Cinta kadang seperti cermin. Di kamar hotel ini:
berdebu dan tak meyakinkan setelah lama tak tersentuh
Aku bicara pada diriku sendiri
jendela terbuka menghubungkan dengan dunia yang jauh 
dan tetap terpisah.
Kata-kata jauh sekali dari ingatanmu.
Sudah lama kita tidak bertemu
maka aku menuliskan keyakinanku.
Pada cermin ini, pada cinta yang retak
dan bisa melukai siapa saja
Inilah, Oktober yang hanya setahun sekali.
Aku menanti sendirian di kamar hotel.
Kepalaku berat dipenuhi rindu. Cahaya yang menjauh.
Kita akan seperti bunga-bunga di halaman kampus.
Indah sesaat, hanya menjadi +30
ampah jalanan maka aku berjalan menjadi puisi
di dalam ingatan.
2014



Arif Hidayat Spd MHum, lahir di Purbalingga, Januari 1088. Dosen LB STAIN Purwokerto, Sekolah Tinggi Teknik Telematika Telkom Purwokerto.
Bergiat di Beranda Budaya. Buku puisinya antara lain, Pendapa 5: Temu Penyair Antarkota, Anak-anak Peti, Puisi Menolak Lupa, Catatan Perjalanan Narasi Tembuni. Tinggal di Banjarsari, Bobotsari Purbalingga. Tanggal 5 Februari 2015 mengakhiri masa lajang dengan memmpersunting Diana Tri Rahayu.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif Hidayat Spd MHum
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” pada 1 Februari 2015