Kutukan Rahim (7)

Karya . Dikliping tanggal 15 September 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
MEMANG suami Zul sudah mendengar perihal menghilangnya Zul. Malah dari istri narapidana lain yang kebetulan menjenguk suaminya dan mengikuti berita koran maupun televisi lokal. Kebetulan suami yang dijenguk itu adalah teman suami Zul satu sel karena kasus yang sama: narkoba. Maka, ketika Mos bertatap muka dengan suami Zul, suami Zul pun menyatakan terlebih dahulu bahwa ia sudah mendengar semuanya.
“Nasib tidaklah ada yang tahu, Pak Mos. Baik dan buruk yang akan terjadi besok tak satu pun orang yang dapat memastikan. Saya ikhlas dengan semua yang terjadi pada Zul. Tidak ada yang bersalah atas peristiwa ini.” Cukup lapang hati dan berbesar jiwa suami Zul menyatakan perasaannya kepada Mos.
“Terima kasih atas pengertian yang sudah diberikan kepadaku.” Demikian reaksi Mos. Wajahnya memelas. Mos tetap tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah.
Lantas, Mos menceritakan yang ia anggap sebagai bentuk teror dari kandidat yang lain ini bukanlah yang pertama dialami Zul. Mos menceritakan soal kiriman mutilasi kepala kucing dan dua orang malam-malam ke rumah Zul dengan membawa pedang. Mos pun yakin, teror menghilangnya Zul ini kelanjutan teror sebelumnya. Mos memohon kepada suami Zul agar kuat menjaani segala cobaan. Tak alpa, Mos juga berjanji ia akan terus berusaha keras mencari, menemukan, dan mengembalikan Zul.
Selain Mos dan manajemen sang kandidat yang terus mencari hilangnya Zul, pihak kepolisian juga ikut mencari. Tak disangka, hilangnya Zul justru menopang popularitas sang kandidat. Ini yang barangkali di luar perkiraan lawan politik sang kandidat. Maunya, lawan politik sang kandidat ngisruh dengan cara-cara penggembosan, namun karena pemberitaan hilangnya Zul makin membesar justru publik bersimpati pada sang kandidat.
Pada akun grup di Facebook dan twitter yang dibuka sang kandidat, setidaknya terpantau seberapa banyak respons dukungan kepadanya. Tentu, lebih banyak orang yang tidak setuju dengan cara-cara penghilangan semacam itu. Ada yang komentar dengan kalimat pendek: lawan penculikan! Ada lagi yang menuliskan: gaya teror Orde Baru harus diberangus! Macam-macamlah.
Popularitas sang kandidat sungguh meroket drastis! Kampanye di sejumlah kabupaten dan kecamatan selalu dipenuhi yel-yel yang menginkan Zul kembali. Misalnya, sampai ada yang menggunakan spanduk besar menuliskan simpati: kembalikan Zul, pejuang dangdut, penghibur hati wong cilik. Banyak lagi lainnya. Macam-macamlah.
Tentu saja, di setiap kesempatan kampanye tanpa Zul itu pula, sang kandidat selalu menjelaskan mengenai perkembangan pencarian Zul. Komunikasi terbuka  mengenai hilangnya Zul pun justru terbangun baik. Banyak relawan yang juga menyatakan mau membantu dan memang sebagian dari mereka sungguh-sungguh direkrut. Jadilah, popularitas sang kandidat benar-benar di atas angin, mengalahkan kandidat-kandidat lainnya.
***
SUDAH 14 hari Zul menghilang, hingga suatu hari, di depan rumah yang dijadikan posko pemenagan sang kandidat, Zul muncul! Wajahnya justru ceria. Ia muncul tepat ketika seluruh tim  pemenangan rapat koordinasi mingguan. Sontak kembalinay Zul membuat seluruh pendukung snag kandidat histeris. Histeria yang menunjukkan bahagia bukan kepalang!
Tak ada luka sedikit pun di badan Zul. Maka, pikiran Mos dan para pendukung sang kandidat lainnya mengira bahwa Zul memang sengaja sembunyi. Sesuai perkiraan, barangkali karena stres di-bully. Ternyata? Zul pun berdiri dengan manis di depan seluruh pendukung sang kandidat. Sang kandidat dan Mos menganga mulutnya tak habis pikir. Zul kemudian meraih mikropon lantas memberikan pernyataan.
“Mohon maaf dengan adanya saya membuat gerah perjalanan Pilkada ini. Saya senang bisa kembali di tengah-tengah kawan-kawan semua. Selama ini saya diculik.” Polos Zul memberikan pernyataan.
Suara gemuruh yang menunjukkan kegeraman dan sejenisnya menguar di tengah ruangan. Sang kandidat maju lantas menanggapi pernyataan Zul.
“Saya rasa, keterangan Zul sementara sudah cukup. Silakan nanti dalam forum yang tertutup Zul memberikan testimoni selengkapnya perihal penculikan itu. Kepada kawan-kawan semua saya imbau tidak memberitakan soal kembalinya Zul ini kepada siapa pun. Mohon dukungan kerahasiaan. Kita menunggu testimoni resmi Zul yang akan kita bagikan kepada Anda semua, pihak polisi, dan para wartawan secepatnya. Silakan sekarang bisa istirahat. Saya minta Pak Mos dan sekretaris saya tetap tinggal,” potong sang kandidat.
Rapat rutin mingguan mendadak bubar.
Berdelapan mata dalam satu ruangan Zul memberikan pernyataan. Sekretaris snag kandidat mencatat dengan seksama menggunakan laptop. Sang kandidat dan Mos mendengarkan dengan dada penuh suara dag-dig-dug.
“Saya memang diculik. Saya rasa saya dibius begitu saja di depan rumah oleh seseorang. Tiba-tiba saja ketika tersadar saya sudah berada dalam rumah cukup mewah. Ada seorang perempuan semacam pembantu khusus untuk saya yang menjelaskan bahwa saya memang diculik. Tapi, ia tidak jahat. Ia hanya diminta untuk menemani saya. Menyiapkan segala kebutuhan saya. Selama dua minggu saya hilang, saya justru benar-benar bagaikan ratu. Apa-apa disiapkan. Makan enak, tidur di tempat tidur busa super nyaman, nonton teve berparabola, pokoknya diculik hanya untuk kongkow-kongkow seperti sedang liburan. Saya hanya dilarang berhubungan dengan pihak luar kecuali dengan perempuan yang dibayar untuk menjaga saya itu. Saya tidak diberitahu pihak mana yang menculik saya dan ada di mana posisi saya saat itu. Pokoknya, saya ditanggung aman. Saya tidak diapa-apain.”
Cukup sudah testimoni Zul. Insting politik Mos dan sang kandidat rupanya sama: jelas apa yang dilakukan pihak penculik bermotif penggembosan kaitannya dengan Pilkada. Testimoni tersebut kemudian disebar melalui email kepada sleuruh tim pemenangan sang kandidat. Namun, mereka dilarang menyebarluaskan karena yang akan menyebarluaskan secara resmi hanyalah sekretaris sang kandidat.
Pihak kepolisian pun kemudian diberitahu mengenai kepulangan Zul itu. Namun tidak bisa segera ditindaklanjuti karena sulit dilacak secara cepat. Untuk sementara ditampung dulu. Jumpa pers juga segera diatur sang sekretaris, keesokan harinya.
Untuk sementara pula, Zul diminta menginap di hotel. Dalam perjalanan ke hotel, Zul yang lagi-lagi diantar Mos, cuma sampai lobi saja. Di dalam mobil menuju ke hotel itu, Zul justru berkali-kali menyebut bagaimana dengan nasib kucing-kucingnya. Itulah yang membuat Mos tidak habis pikir. Ia malah lebih menyayangkan kucing-kucingnya ketimbang pihak-pihak lain yang merasa sangat kehilangan karena dirinya diculik! ❑ (bersambung)-c
Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan – Bantul. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 13 September 2015