Membunuh Iblis pada Malam Tahun Baru

Karya . Dikliping tanggal 31 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

1. Cara Mengusir Iblis

Ada dua iblis di dalam rumahmu. Iblis-iblis itu terlihat mengerikan. Iblis-iblis itu memiliki taring-taring tajam, mata besar warna merah, serta jari-jari kasar dan berkuku runcing. Iblis-iblis itu selalu bertengkar dan mencaci-maki apa pun yang melintas di kepala mereka. Terkadang kau sering terkena damprat amarah kedua iblis itu. Mereka, apabila sudah tersulut emosi, akan mencaci-maki atau memukulimu. Maka, karena tidak ingin terkena tulah dari kutukan dua sosok mengerikan itu, setiap kedua iblis itu bertengkar, kau selalu menyalakan petasan.

Itu sering kau lakukan sejak dahulu. Pertama yang melakukan adalah kakekmu. Pria itu meyakini petasan dapat mengusir iblis. Kau pun demikian. Kau percaya petasaan yang kausulut dapat mengusir iblis-iblis, yang bersemayam di dalam rumahmu itu, pergi jauh. Suara petasan yang keras mampu menakutnakuti iblis-iblis itu, sehingga akhirnya kau tak lagi menjadi tempat amukan kedua iblis laknat itu. Malam ini pun, seperti malam lain, dua iblis itu kembali bertengkar. Mereka tidak lelah meributkan hal-hal yang sebenarnya sangat sepele.

“Hari ini pasti kau selingkuh!” kata iblis jantan. “Maka kau pulang malam lagi.”

“Kau yang main serong dengan perempuan-perempuan tak tahu diri itu!” dengus iblis betina.

“Dasar keparat!”

Suara tamparan terdengar seiring denting lonceng gereja di ujung gang kampungmu. Kau, karena tak mau terlibat, termenung di serambi rumah seraya menggenggam sebuah petasan. Suara kedua iblis itu semakin kencang. Dan ketika bendabenda, berupa kaca atau benda padat lain berbenturan, itu pertanda bagimu untuk menyalakan petasan. Suara petasan akan mengaburkan suara para iblis. Paling tidak kau tak mendengar lagi gerutu atau dengus laknat para iblis dari dalam rumahmu. Begitulah. Setiap pertengkaran dua iblis itu memuncak, kau menyulut petasan. Yang lebih penting lagi, suara petasan yang memekakkan telinga dapat menghentikan pertengkaran dua iblis itu.

Karena ulahmu menyalakan petasan, mereka mencarimu. Mereka memanggil-manggilmu.

“Lastari!” panggil iblis betina itu. “Di mana kau, Lastari!”

Kalau melesat kabur. Kau juga tidak jera menyalakan petasan. Sekali lagi kauhidupkan petasan di depan rumah. Suaranya yang keras mendengung hingga mampu membelah gendang telinga. Iblis-iblis itu tak lagi bertengkar, tetapi mereka kini malah memanggil-manggilmu. Kau pun berpikir: iblis-iblis yang bersemayam di tubuh ayah tiriku dan Ibu sudah pergi.

2. Para Iblis yang Pemalas dan Pesta-pesta Mereka

Kau acap muak setiap kali melihat iblis jantan itu bermalas-malasan di depan televisi. Iblis itu hanya menghabiskan puluhan kaleng bir beralkohol dan tertawa-tawa mengamati tayangan televisi. Rumah menjadi gaduh. Apalagi kalau iblis itu sudah mengundang teman-temannya untuk bermain judi, susana rumah seperti nereka. Mereka ribut mempertaruhkan uang masing-masing, dan terkadang meniduri wanita secara bergantian.

Melihatnya kau menjadi mengerti, mengapa Ibu, iblis betina itu, sering marah pada iblis laki-laki tersebut. Iblis betina itu jengah atas tingkah iblis jantan yang gemar mabuk-mabukan, bermain judi, dan bergonta-ganti pasangan. Kau juga pernah melihat Ibu ditiduri salah satu teman iblis jantan karena uang untuk berjudi habis.

Tak ada pula yang dapat kaulakukan untuk membantu. Kau hanya menyalakan petasan ketika keadaan sudah semakin gaduh dan kacau. Dengan menyalakan petasan, kau berharap iblis-iblis itu segera enyah dari rumahmu. Namun yang terjadi sering sebaliknya. Terkadang usahamu mengusir para iblis gagal. Kau malah menjadi sering terkena tamparan, atau amukan dari salah satu iblis itu. Dari semua yang pernah terjadi, kau acap tak habis pikir: mengapa Tuhan membiarkan makhluk terkutuk itu berkeliran di dalam rumahku? Apakah rumah ini telah dikutuk? Kau tak tahu.

Namun dahulu rumah ini tampak indah seperti rumah-rumah umumnya. Sayang, keharmonisan itu hanya sementara. Tepatnya setelah ayah kandungmu meninggal dan Ibu menikah lagi dengan pria asing yang tak kau suka. Tuhan menciptakan kesempatan, tapi apabila seorang salah mengambil, hal buruk bisa terjadi. Demikianlah yang dilakukan Ibu waktu itu. Ia salah memilih langkah di dalam hidupnya; hingga menentukan juga terhadap hidupmu dan kebahagiaan rumah.

Rumah yang bahagia menjadi sarang iblis karena Ibu memilih menikahi pria asing yang dia temukan di tepi jalan. Ibu yang semula lembut, perlahan berubah menjadi binal dan liar. Bahkan Ibu menjadi iblis betina pada malam tahun baru dua tahun lalu. Dan seorang keparat yang Ibu temukan di jalan itu, sering memaksamu memanggilnya Ayah. Namun kau tidak pernah mau, karena laki-laki itu bukan ayahmu. Kau menganggap laki-laki itu iblis liar yang baru saja melarikan diri dari neraka.

Sejak kejadian itu rumahmu menjadi sarang bagi iblis-iblis berpesta. Iblis-iblis itu seakan tak kenal waktu ketika berpesta. Ibu, iblis betina itu, entah mengapa, sejak dipaksa iblis jantan tidur dengan temannya karena kalah berjudi, sering pergi bersama salah satu teman iblis jantan untuk berkencan. Namun ketika Ibu kembali, pertengkaran dimulai. Mereka akan saling mengutuk. Bahkan seakan ingin saling membunuh. Maka kau selalu menyalakan petasan agar iblis-iblis itu pergi.

3. Rencana Membunuh Iblis

Malam ini rasa rindu bergelayut di dalam hati. Kau ingat Ayah, yang sudah lama meninggal; pria baik yang telah membusuk entah di mana. Kau tahu sebenarnya Ayah mati bukan karena kecelakaan, melainkan setelah Ibu menikamnya dari belakang. Ibumu menikam Ayah dengan sebilah pisau dapur dan membuang mayat Ayah di sebuah sungai. Ibumu melakukan itu karena sudah hamil satu bulan dengan pria gelap yang dia temukan di jalan dan berakhir dengan keguguran.

Air matamu meretas jatuh mengingat takdir muram Ayah. Kau ingin memeluk ayahmu atau bermain petasan, seperti kakekmu ketika masih hidup. Karena dahulu, pada waktu malam tahun baru akan tiba, kau selalu bermain petasan berdua.

“Kakekmu benar. Suara petasan dapat mengusir setan, Lastari,” kata ayahmu. “Itu sebabnya petasan dinyalakan pada malam tahun baru. Semua setan akan pergi, tidak mengganggu manusia pada kehidupan berikutnya.”

Kau bergidik ngeri mendengar cerita Ayah mengenai setan.

“Iblis memang dapat terus berkeliaran hingga akhir zaman,” lanjut ayahmu lagi. “Maka kita harus mengusirnya.”

Lamunanmu terus melambung hingga mendadak terdengar sebuah ketukan di pintu, yang membuyarkan segalanya. Ketukan itu semakin keras. Namun kau kukuh tidak membuka.

“Lastari, buka pintu!” ujar iblis jantan itu. “Cepat buka pintu!”

Kau tak menggubris. Kau mendekam di kamar dengan tubuh mengigil ketakutan. Kau tak dapat membayangkan kejadian buruk yang mungkin akan menimpamu bila membuka pintu.

Suara ketukan itu semakin nyaring. Bahkan iblis itu berusaha merubuhkan pintu kamarmu. Iblis itu memekik-mekik lantang.

“Lastari! Buka pintu! Ayah ingin bicara denganmu!” Pitam iblis itu. “Ada sesuatu yang Ayah berikan padamu!”

Di dalam kamar, kau terus berdoa. Namun iblis itu terus memaksa agar dapat masuk ke kamarmu. Gesit, kau meloncat dan mengambil sebuah petasan di dalam kotak kecil. Kau nyalakan petasan itu berulang-kali sampai suara yang mengentak-entak di luar pintu berhenti. Apakah iblis itu pergi? Tidak. Iblis di dalam rumah ini tidak akan pergi! Iblis itu malah masuk melalui jendela kamarmu. Iblis itu kemudian menubruk tubuhmu dari belakang dan melucuti pakaianmu satu per satu. Iblis itu kembali membenamkan kutukan di dalam rahimmu untuk kali kelima.

4. Cara Menyalakan Petasan dan Membunuh Iblis Betina

Malam ini adalah malam tahun baru terindah. Kembang api di langit tak henti berdentang pada tengah malam yang penuh doa. Hati-hati, karena dendam dan amarah, kau menyelinap ke kamar iblis itu. Iblis betina itu tampak tidur lelap dengan mulut terbuka ketika kau membekap dan menjejalkan sebuah petasan ke dalam mulutnya.

“Mari kita rayakan malam tahun baru tanpa tangis dan kesedihan!” katamu sembari menghidupkan sumbu petasan.Dan, dor! Petasan itu meledak menghancurkan mulut wanita itu. Kau pun menyeringai melihat tubuhnya terkulai tak bergerak.

5. Cara Menyalakan Petasan dan Membunuh Iblis Jantan

Petasan dan kembang api semakin nyaring di luar dan kau kembali memanjatkan doa. Seorang pria datang dengan langkah limbung. Iblis jantan itu mendekat dan menubruk tubuhmu. Ia kembali menyeretmu ke dalam lingkar kutukan. Namun malam ini kau tak melawan. Bahkan kau melayani hingga ia puas dan lemas.

Setelah bercinta, hati-hati, kau mengikat kemaluannya dengan sebuah petasan.

Dan, dor! Kemaluan pria itu hancur!

Kau tertawa melihat pria itu meringkik kesakitan. Namun kau belum puas menikmati malam tahun baru ini. Kau telan semua petasan itu sampai menyumbat tenggorokan dan mulutmu. Kausulut sebuah petasan yang bersemayam di tenggorokan dan mulutmu.

Dan, dor! Semoga iblis-iblis itu pergi. (28)

Risda Nur Widia telah menerbitkan buku cerpen tunggal Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016).


[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 30 Desember 2018