Memedi

Karya . Dikliping tanggal 24 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
IBU meninggal dunia enam bulan yang lalu. Orang-orang bilang ibu kena teluh. Istri bapak yang pertama yang mengirim guna-guna kepadanya, menyebabkan nafas ibu terdengar seperti derit pintu yang berkarat. Dada ibu sesak. Sebagian lagi mengatakan, ibu kena flu burung. Sebelum ajal menjemput ibu, memang banyak ayam yang mati di kampung kami. Orang-orang pun semakin ramai bicara ihwal kematian ibu. Ketika satu minggu setelah ibu wafat, adikku yang baru berusia tiga tahun menyusul ibu pergi. Tapi, adikku tidak mati diteluh atau kena flu burung. Kata bapak, adikku mati dicekik memedi. 
SIANG bolong yang lengang, aku duduk bersandar pada pohon waru yang berdiri memagari halaman rumah. Di sinilah aku dan adikku biasa bermain menghabiskan waktu luang sampai malam menjelang.
“Jangan berada di luar rumah pada saat senjakala, pamali, banyak genderuwo berkeliaran mencarinanak!’ teriak ibu, waktu itu. 
Aku dan adikku akan saling mendahului untuk bisa masuk ke dalam rumah. Kami paling takut jika ibu sudah bercerita tentang genderuwo, kolong wewe atau sejenisnya. Kami tidak mau mengalami nasib serupa seperti yang dialami Ludi, seorang anak yang menghilang pada hari menjelang malam. Semua orang sudah mencarinya ke mana-mana, tapi Ludi seolah-olah raib ditelan malam. Sosoknya baru ditemukan pada keesokan pagi, di kandang kambing di belakang rumah kepala desa. Sedang tidur nyenyak sekali. Ludi bercerita bahwa ia didatangi seorang perempuan yang menyerupai ibunya ketika ia sedang bermain di tanah lapang. Lalu, Ludi pun pulang ke rumah bersama perempuan yang menjelma menjadi sosok ibu.
“Kamu dikasih makan apa di sana?” tanyaku. Ludi tidak menjawab. Dalam pikiranku, terbayang bahwa Ludi diberi makan belatung, cacing, dan kotoran kambing oleh makhluk yang menculiknya. Aku bergidik membayangkannya.
Sejak saat itu, anak-anak di kampung tidak ada lagi yang berani untuk bermain di luar rumah. Anak-anak takut dimakan banaspati atau diculik memedi seperti yang dialami oleh Ludi. 
Mereka tidak tahu, di rumahku ada memedi yang lebih menakutkan daripada banaspati.
Di bawah pohon waru ini, aku sering mendengar suara seorang bocah, sesekali mengaduh kemudian lenyap. Aku juga sering mendengar suara perempuan yang mengingatkanku pada suara ibu. 
Di bawah pohon waru inilah, tubuh ibu menggantung. Lalu, aku melihat bapak menarik tubuh ibu yang lehernya terikat seutas tali.
**
“JENDELA Hati” karya Asep Wahyu
SEMENJAK ibu pergi dan kemudian adik menyusulnya, rumahku sering didatangi memedi. Setiap malam, pasti ada memedi baru yang dibawa bapak ke rumah. Entah ia dapat dari mana. Mungkin dari kuburan, mungkin dari emper jalan. Rumahku terasa menakutkan daripada hening nisan. Apalagi saat kudengar memedi itu mulai tertawa-tawa kadang disertai rintihan yang membuat bulu kudukku berdiri.
Aku tidak pernah melihat memedi itu secara langsung. Mereka serupa arwah gentayangan yang kembali ke alamnya sebelum subuh datang. Aku yakin, ibu bisa melihat memedi yang dibawa bapak ke rumah. Hanya, ibu belum sempat mewariskan ilmu agar bisa melihat memedi kepadaku. Ia telanjur pergi.
“Ada baiknya kalau kamu tinggal bersama Mar. Di sana, kamu akan ada yang mengurus, lagi pula di sana kamu bisa memperolah banyak saudara,” kata bapak, menyuruhku tinggal bersama istri pertamanya saat aku sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Aku takut di sana aku akan betemu dengan lebih banyak lagi memedi. 
“Kamu tidak pernah bercerita mengenai sekolahmu sekarang. Buku pelajaranmu masih lengkap? Alat tulismu masih bagus? Lalu, nilai pelajaranmu, ada peningkatankah?” kata bapak seraya memberiku uang saku.
Sejak ibu dan adik meninggal dunia,bapak menjadi lampu lima watt yang nyalanya redup, tetapi mampu membuat rumah kecil ini menjadi hangat. Tidak seperti dulu waktu ibu masih ada, ia seperti seekor singa lapar yang bisa kapan saja menerkam
Bapak menjadi sosok yang ramah, tidak seperti yang aku dengar dari teman-teman di sekolah, yang mengatakan, bapak adalah preman pasar yang suka menagih yang setoran kepada para pedagang. Kata mereka, bapak tidak segan-segan melukai pegagang yang tidak memberinya uang.
**
AKU sudah berkali-kali bilang kepada bapak, janganlah mengantarkanku ke sekolah dengan sepeda motornya. Tapi, bapak tetap saja memaksa. Bapak tidak tahu bagaimana perasaanku ketika berada di ruang kelas dengan hanya ditemani sunyi. Tidak ada yang mau duduk sebangku denganku. Anak-anak itu takut berteman denganku. Di sekolah, aku seperti anak memedi yang harus dijauhi, bahkan oleh guruku sendiri.
“Kenapa bapak tidak menghukum saya? Padahal bapak tahu jika jawaban saya di papan tulis itu salah,” kataku kepada pak guru yang tidak memberiku hukuman meski jawabanku salah. Sementara anak-anak yang lain memperoleh hukuman dengan berdiri di depan kelas. Apakah karena aku anak memedi? Apakah pak guru takut kepada memedi?
Aku mulai membenci sekolah, bapak, dan para memedinya. Aku rindu pohon waru, ibu, dan kebebasanku.
**
SEPERTINYA kakiku tidak menjejak ke tanah. Lihatlah, aku melayang! Langkahku hari ini menjadi ringan tanpa lelah. Angin begitu baik hati menerbangkan tubuhku. Apakah ini karena kejadian semalam? Tadi malam, aku melihat sesosok anak kecil yang berkeliaran di halaman. Aku menghampirinya, menyapanya. Tidak berapa lama, ia pun mengajariku bagaimana caranya untuk terbang bebas.
“Hanya dengan seutas tali, lalu engkau akan terbang dengan sesayap peri,” katanya.
“Siapakah engkau,” tanyaku.
“Aku hanya anak kecil yang senang mengembara, tanpa orangtua dan tempat tinggal,” jawabnya. 
Di depan pagar rumah, aku melihat adikku sedang digendong oleh seorang perempuan, ibuku.
“Akhirnya kita bisa bertemu,” kataku. Lengan ibu meraih tubuhku ke dalam pelukannya.
“Kau tidak pamit dulu kepada bapakmu,” bisik ibu.
“Tidak usah, Bu. Lagi pula, tanpa kehadiranku pun, bapak tidak akan merasa kesepian. Bukankah sebelum pergi, ibu pun tidak pamit dulu kepada bapak?”
Di dalam rumah, banyak sekali orang yang datang, mengerumuni bapak yang terisak di depan mayat seorang gadis kecil dengan seutas tali di leher.
Aku ingat, semalam, aku coba mengingkatkan tali ke dahan pohon waru, seperti yang dulu dilakukan ibu, seperti yang disarankan sesosok bocah yang baru aku kenal, agar rasa sakit yang selama ini mendera bisa pulih. ***
Cianjur, 2014
*) Khoer Jurzani, lahir tanggal 22 Maret 1987. Ia memperolah beasiswa kuliah dari STAI Al-Azhary Cianjur hingga lulus S-1. Saat ini, aktivitasnya kuliah dan mengajar di SMA Pelita Madania, Pembina Sanggar Sastra Pelita Sukabumi (Sangsaka) dan tutor paket C PKBM Ummi kulsum. Tiga buku kumpulannya yang sudah terbit ialah Senter Adam Kaisinan (Buku Bianglala: 2012) Anak-anak Lampau (Komunitas Malaikat : 2013), dan Tidak Ada Lagi Emily (Sang Freud Press 2013). Tahun 2002 terpilih mewakili Indonesia pada Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Bidang puisi. ***
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Khoer Jurzani
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 22 Februari 2015