Memilih yang Selalu Ada

Karya . Dikliping tanggal 11 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
KINI kau datang kembali ke kehidupanku setelah 7 tahun kamu menghilang tanpa jejak. Aku senang kau kembali. Jujur waktu itu aku terkagum-kagum denganmu. Kagum dengan segala yang ada pada dirimu. Kulitmu yang putih, rambutmu yang keriting, tubuhmu yang tinggi, senyummu yang manis, dan sorot matamu yang tajam di balik kaca matamu itu tidak pernah hilang dari ingatanku. Aku sangat terpesona saat kau dengan sabar mengajariku PR matematika. Semenjak ada dirimu di kehidupanku, aku menyukai pelajaran matematika yang sempat aku benci karena perhitungannya yang rumit. 
Tetapi saat ada kamu, aku selalu senang ketika guruku memberi PR matematika, karena saat itu aku bisa bertemu denganmu dan bisa memandangmu lebih dekat.Berkat dirimu, nilai Matematikaku sangat baik. Tetapi sayang, kedatanganmu sangat singkat dan kamu harus pergi meninggalkanku karena harus melanjutkan studimu di perguruan tinggi dan tiada kabar. 
Selama kau pergi, aku merasa telah kehilangan dirimu.Aku merindukanmu. Aku merindukanmu dan entah apa yang aku rasakan. “Apakah aku telah jatuh cinta dengan dirimu atau hanya sekadar kagum saja?” Yang jelas aku suka kamu, tapi entah dengan perasaanmu. Aku tidak menemukan sinyal darimu sama sekali. Aku kesulitan melacak perasaanmu. Banyak cowok mendekat setelah kau pergi, tetapi hanya kamu yang aku inginkan. Aku menginginkan kamu, kalaupun bukan kamu, aku menginginkan pria sepertimu. Pria yang pandai matematika dan tampan, namun aku tidak menemukan pria sepertimu apalagi menemukanmu. Aku hanya bisa membungkam perasaanku. Mungkin saja kamu juga sudah bahagia dengan wanita lain di sana dan melupakan aku. Tahun berganti tahun, aku menjalani hidup seperti air mengalir. Hingga akhirya, aku menemukan pria yang pemberani, humoris, perhatian, dan memiliki beberapa talenta. Beberapa talenta yang membuat aku jatuh hati padanya.
***
SAAT aku telah bahagia dengan cowokku, kamu datang menghampiriku. Datang dengan cintamu yang tidak sempat kau ucapkan sebelum kau pergi meninggalkan aku. Kini kau sudah lebih dewasa dan mapan. Kini kau kembali siap meminangku, kau bilang: “Jujur, semenjak pertama aku melihatmu beberapa tahun yang lalu, aku telah jatuh cinta denganmu. Kini aku kembali. Maukah kamu menjadi istriku?”
Mendengar ucapan itu hatiku berdebar. Perkataan itu membuka memoriku yang telah lama terkubur. Perasaan yang dulu tak terbalas, kini terjawab sudah. Sebuah pertanyaan yang sulit aku jawab, namun dengan tegas aku bilang: “Terima kasih kau sudah mencintaiku. Tetapi akus udah bahagia dengan cowok lain. Cowok lain yang selalu ada untukku, peduli, perhatian dan tidak akan pernah meninggalkan aku. Lagi pula aku belum berencana menikah karena masih ingin menikmati masa mudaku. 
“Kalau alasanmu karena masih ingin menikmati masa muda, aku siap menunggumu hingga kau siap menikah denganku. Aku sudah mempunyai rumah, dan jika kau mau jadi istriku, aku akan membahagiakanmu.”
Aku tersenyum.
“Aku sangat senang mendengar kau sudah mapan dan mempunyai rumah. Semoga kau bisa menemukan perempuan yang lebih baik dariku. Aku tidak akan meninggalkan kekasihku. Dia cowokku yang selama ini mendampingi aku di kala aku sedang menderita. Semua wanita pasti senang ketika menemukan cowok sepertimu. Pria yang sudah mapan dan punya rumah. Memang kekasihku sekarang belum mempunyai rumah dan belum mapan, tetapi aku akan mendampinginya hingga dia mapan. Aku akan menikmati setiap detik proses awal kesusahannya hingga dia sukses.” Suasana hening. Kamu memandangku dengan tatapan matamu yang tajam itu. 
“Inilah mengapa aku kembali mengejarmu. Kamu adalah wanita yang menakjubkan. Wanita yang tidak mengejar harta dan aku semakin jatuh cinta denganmu. Kini aku menyesal karena dulu aku meninggalkanmu dan tidak pernah menanyakan kabarmu.”
Aku tersenyum getir dan sesak dadaku melihat matamu berkaca-kaca.
“Maafkan aku karena tidak bisa mendampingimu… inilah jalan yang aku pilih. Aku memilih dia yang selalu mendampingiku saat aku sedang terjatuh. Aku memilih dia yang selalu membopongku ketika aku tak sanggup berjalan. Aku memilih dia yang selalu ada.”
Kau menarik napas panjang dan meraih tanganku.
“Kini aku sadar bahwa keputusanmu itu adalah benar. Kamu memang lebih baik bersamanya daripada bersamaku. Jika aku beada di posisi kekasihmu, aku pasti sangat beruntung memilikimu.”
Aku tersenyum. Ucapanmu itu membuat hatiku lega.
“Cinta tidak harus memiliki, tetapi cinta itu merelakan seseorang untuk bersama orang lain demi kebahagiaannya.” []
Rugi Astutik
Soropadan CC XXI Condongcatur Depok Sleman
mahasiswi Universita Sanata Dharma Yogyakarta
prodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rugi Astutik
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 10 Mei 2015