Meminta Kado Malaikat pada Ibu

Karya . Dikliping tanggal 31 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

AKU ingin tahu berapa umur malaikat di tahun ini? Kalau tidak keberatan, bisa tidak ibu katakan berapa umur malaikat?

Ibuku hanya diam. Memperhatikan aku yang sedang bingung. Matanya menyimpan rahasia. Dia selalu menampakkan mata yang indah. Seakan kunang- kunang singgah di matanya.

Mata yang indah dan rahasia telah aku rebut dengan sebuah tanya yang tidak bisa ibu jawab. Bagaimana aku bisa menjadi anak yang patuh jika seperti itu. “Nak, malaikat itu diciptakan dan diberikan tugas khusus. Mereka bukan laki-laki dan juga bukan perempuan. Yang jelas Tuhan menciptakan malaikat sebelum menciptakan manusia.”

Aku tidak percaya kata-kata ibu. Aku ingin bukti. Bukti yang bisa membuat aku percaya dan tak bertanya lagi. Aku akan menunjukkannya kepada bapak. Kata orang-orang, nyawa bapak dicabut malaikat. Tapi, bapak kok justru menyuruh malaikat untuk menjagaku.

***

Tepat di ulang tahunku yang kesembilan, ibuku bertanya. “Nak, tahun ini kamu minta kado apa?” Aku langsung ingat malaikat. Sebelum detik-detik bapak meninggal di rumah sakit, tempatnya dirawat karena kecelakaan, ia bilang kepadaku, “Jika aku tiada. Nanti ada ibumu dan malaikat yang menjagamu, nak. Bapak harap kamu jadi anak yang baik dan patuh.” Begitu ucapnya. Setelah itu bapakku meninggal.

Kejadian itu membuat ibuku tak masuk bekerja selama satu minggu. Memikirkan bapak yang sudah tak lagi bersama-sama. Tak lagi menikmati hari raya Lebaran dengan naik delman istimewa, yang kata kusirnya, delman itu milik orang Belanda. Aku senang naik bersama-sama. Aku selalu duduk di pangkuan bapak sambil melihat ekor kuda yang berkibas-kibas. “Aku ingin memberikan kado untuk malaikat, bu. Kapan malaikat ulang tahun?”

“Ah itu kado yang rumit sayang. Ibu kasih kamu kado apa aja asalkan tidak meminta itu.” Raut wajah ibuku berubah. Ibu sedih melihat permintaanku itu. Aku juga ikut sedih. Tapi, aku ingin bertemu dengan malaikat. Aku ingin menanyakan akan kupanggil apa dia nantinya, om apa tante? Tapi, itu tidak penting. Aku hanya ingin tahu seperti apa orang yang bernama malaikat itu.

Ibuku bilang dia bukan manusia. Aku heran. Kenapa bisa malaikat itu bukan manusia? Kata pak ustaz, malaikat itu ada yang bertugas mencabut nyawa. Menjaga kuburan. Menjaga surga dan neraka. Mencatat amal baik dan buruk, dan lain sebagainya. Aku jadi bingung.

Tapi, aku percaya kalau dia itu manusia. Manusia bisa membunuh manusia lainnya. Bisa menjaga perilaku baik seperti tetanggaku yang selalu menanyakan kabarku yang selalu baik. Kalau aku nakal, tetanggaku itu juga menegurku.

Pamanku yang bernama Supri juga jaga kuburan. Katanya lagi, surga itu banyak taman dan air yang mengalir. Terus di desa sebelah ada taman dan air yang mengalir. Di situ juga ada penjaganya.

Terakhir, neraka. Neraka katanya banyak api berkobar-kobar, yang siap memakan kulit manusia. Di Api tak kunjung padam, di Desa Larangan Tokol juga banyak penjaganya. Lalu, apa yang bisa membedakan malaikat dengan manusia?

“Tidak, ibu, aku hanya ingin itu. Titik. Kalau tidak sekarang aku harap tahun depan ibu bisa memberikan kado itu untukku.”

Aku meringankan tugas ibu. Sebenarnya aku kasihan melihat wajah ibu yang semakin memelas. Ibu selalu baik. Merawatku penuh kasih sayang. Ibu tidak pernah jahat. Aku senang kalau ibu mengantarku ke sekolah. Dia ikut tersenyum jika teman- temanku menyapanya.

***

Hari ini langit berubah warna. Aku melihat warna abu- abu. Warna itu terbang dan berubah-ubah, ditambah bau amis ikan yang menyerbu hidungku.

Warna ini berasal dari alat pengebor minyak. Alat itu dekat dengan rumahku. Kemarin warga nelayan di sini sempat berkelahi dengan orang yang bekerja di alat pengebor itu. Ibuku bercerita. Mereka naik perahu nelayan dan perahu kecil. Katanya ini demi masa depan anak dan cucunya. Puluhan tahun dan ratusan tahun laut ini bakal jadi lumpur. Begitu juga katanya. Mereka bicara keras-keras. Sama seperti suara mesin. Raut wajah ibu muram saat bercerita. Seperti langit yang abu- abu.

Tapi, kata ibu, warga tidak berhasil. Mereka menyerah karena diberi janji sama ketuanya. Kesejahteraan para kampung nelayan akan diperhatikan betul katanya.

“Sekarang warga hanya diam saja. Menikmati pemberian itu tanpa tahu apa yang akan terjadi.” Suara ibu nyaris tak terdengar.

Mendengar cerita itu, aku jadi kasihan pada anak-anak yang berumur di bawahku. Nanti mereka menginjak lumpur. Bukan lagi pasir. Terus nelayan berhenti melaut karena ikan tidak melahirkan lagi. Kalau sudah begitu, para pemanggul ikan juga tidak bisa bekerja. Tidak bisa membayar uang SPP untuk anak- anaknya. Ibu memberitahuku kalau semua butuh uang. Aku tidak habis pikir kalau warga di sini kehilangan pekerjaan dan juga uang, tentu saja.

***

“Ibu… Kenapa ibu tidak tuntut malaikat yang membunuh bapak?”

Ibuku tersenyum. Sesekali sambil melepaskan tawa. Apa begitu cara ibu tidak sedih? Aku tidak tahu. “Ah… Meskipun aku melaporkan ini kepada Tuhan. Itu tidak akan mengembalikan bapakmu, nak. Lagian itu kan tugas malaikat. Perintah Tuhan!”

“Terus, Pak Sukirno yang tinggal di desa sebelah. Dia meninggal karena dibunuh temannya yang mencurigai dirinya selingkuh dengan istrinya. Apa itu juga perintah Tuhan, bu?”

Ibuku terus tertawa. Aku cemberut. Setiap kali aku bertanya, ibu selalu tertawa. “Itu perintah setan, nak. Bukan Tuhan!”

Aku tahu tentang setan. Kata guru ngajiku, setan ialah musuh manusia yang paling nyata. Bisa memasuki tubuh manusia dan berada di dalamnya. Kalau setan itu sudah masuk, bisa bahaya. Setan itu akan melakukan apa saja dengan manusia yang dimasukinya.

Sekarang sudah jelas. Setan itu beda dengan malaikat. Malaikat diperintah Tuhan dan setan tidak. Manusia juga diperintah Tuhan. Sama dengan malaikat. Jadi manusia dan malaikat sama.

Selama perjalanan, ibuku diam. Matanya menatap lurus ke depan. Entah apa yang dipikiran ibu aku tidak tahu. Tapi aku merasakan kalau ibu punya beban. Mungkin karena permintaanku itu.

“Ibu kenapa?”

Pertanyaan pertama tak dijawab. Ibu tetap termenung. Matanya berubah. Aku seperti melihat sungai yang disinari matahari. Pertanyaan kedua, dengan pertanyaan sama aku lontarkan. Wajah ibu memucat. Dia langsung memelukku. Dan mengelus- elus rambutku. Air matanya menetes. Urat yang berwarna hijau, yang kulihat setiap hari di pipinya itu, berubah. Memudar. Berubah menjadi abu-abu karena air matanya membasahi pipi ibu. Aku ikut menangis sampai ibuku berhenti mengeluarkan air mata. Dia terisak pelan. Sambil mendongakkan kepalaku di depan wajahnya yang sedih.

“Ibu ingat bapakmu, nak!”

“Kenapa dengan bapak, bu? Dia orang baik. Dia meninggal gara- gara dibunuh Malaikat. Tuhan pasti ngasih taman dan air yang mengalir. Bukankah begitu bu?”

“Kamu benar nak. Bapakmu orang baik. Tapi ucapanmu itu mengingatkan aku pada bapakmu.”

“Ingat apa bu?”

“Bapakmu pernah mengatakan sesuatu. Waktu dia sakit keras, tepat di ulang tahunnya yang ke- 48, dia menyuruhku memanggil malaikat. Dia ingin memeluk dan berpesan agar bisa menjaga anak dan istrinya. Setahun kemudian, di ulang tahunnya yang ke-49, dia dipanggil Tuhan.”

Ibuku menangis lagi. Aku bingung mau berbuat apa. Pelukan tidak cukup membuat ibu berhenti. Aku usap semua air matanya dengan bajuku.

***

Hari-hari dan berbulan-bulan berlalu. Ibu seperti biasanya merawat dan mengantarku ke sekolah. Dua hari lagi ulang tahunku yang ke-sepuluh. Ibu tampak tenang-tenang saja. Tidak berusaha mencari malaikat yang aku minta untuk ulang tahunku kali ini.

Aku sudah menyiapkan kado untuknya. Sebuah pisau yang siap aku tancapkan di dadanya. Aku sayang bapak dan ibu. Tapi, tidak kepada seorang pembunuh. Malaikat itu harus kubunuh. Biar tidak ada orang-orang yang terbunuh lagi. Diam-diam aku menyembunyikan ini pada ibu. Sehari menjelang ulang tahunku, ibu pamit keluar. Katanya ada tamu penting dari luar kota yang ingin tahu Madura. Bagiku, itu hanya alasan ibu yang ingin mencarikan malaikat untukku.

Malam ini membuatku gigil. Angin datang dengan kencang. Hal itu membuat para penjaga perahu nelayan datang ke tepi pantai untuk menjaga perahu mereka dari ombak besar. Mungkin mereka tidak mau ada perahu yang hancur seperti tiga tahun lalu. Tiba-tiba aku butuh pelukan ibu. Ibu belum juga pulang. Aku jadi khawatir. Ia tidak menelepon di HP milik bapak untuk bilang tidak pulang hari ini.

Aku semakin gelisah. Kegelisahan ini muncul ketika aku teringat dengan malaikat pembunuh itu. Jangan-jangan, ibuku dibunuh malaikat itu.

Satu jam kemudian HP milik bapak berbunyi. Ini dari ibu. Aku angkat telepon itu dan ternyata bukan suara ibu. Aku minta bicara pada ibu. Dia hanya diam tak bersuara. Aku berteriak, “Dasar pembunuh!”. Dia tertawa lepas dan menutup teleponnya.

Keesokan harinya, ibuku terbujur kaku di depan pintu. Aku seperti melihat kata-kata ‘ini kado untukmu’ di matanya. Aku menangis sejadi-jadinya. Ternyata, dugaanku benar. Malaikat itu membunuhnya lebih dulu sebelum ibu membawakannya untukku. Ibuku orang jujur. Sampai-sampai para warga kampung memberikan kepercayaan kepada ibu untuk mengurus perizinan hak tanah yang akan dijadikan pabrik. Apa salah ibu, Tuhan? (M-2)

Zainal A Hanafi ialah penulis yang berasal dari Pamekasan, Madura. Buku perdananya, kumpulan cerpen berbahasa Madura, Esarepo Bencong, telah diterbitkan di Halaman Indonesia pada 2017. Zainal juga pegiat literasi di komunitas Sivitas Kotheka.


[1] Disalin dari karya Zainal A Hanafi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 30 Desember 2018