Memoar Sebuah Pasola

Karya . Dikliping tanggal 7 Januari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Apa yang kau tuntut dari sebuah kematian yang sudah direncanakan oleh leluhur, Todha? Hampir sebulan lamanya aku berusaha menahan diri dan diam seperti batu berlumut. Aku berusaha menganggap semua bualan yang kau katakan kepada orang-orang desa sebagai gelombang pasang yang akan hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata aku salah. Ocehanmu itu seperti derap kaki kuda yang selalu timbul di tanah Sumba. Dan aku bukanlah leluhur yang memiliki kesabaran seluas lautan, Todha. Aku hanyalah manusia biasa yang memiliki batas-batas kesabaran sepertimu. Maka, atas saran Rato1 Muana, hari ini kuputuskan untuk menemuimu.

Sebagai penganut Marapu2, seharusnya kau mengerti bahwa segala yang terjadi di dalam pasola3 adalah murni kehendak leluhur. Tak terkecuali kematian suamimu, Nono Malo. Apa yang menimpanya adalah takdir yang tak bisa dihindari. Dan bukankah Rato Muana juga sudah mengatakan kepadamu bahwa kematian Nono karena kesalahannya sendiri, karena ia telah merebutmu dariku? Karena dalam kepercayaan kita, apabila seseorang mati dalam pasola, berarti leluhur sedang menghukum kesalahan orang tersebut. Lalu, mengapa kau menyalahkanku atas kematiannya?

Diam, Todha. Jangan kau potong bicaraku. Biarkan aku-kali ini saja-memberi penjelasan kepadamu. Aku harus menunaikan saran Rato. Setelah aku selesai, terserah, kau boleh mengatakan apa pun tentangku.

Apakah dengan luka yang menganga di dadaku karena pengkhianatanmu masih belum cukup, sehingga kau mencaciku di hadapan orang-orang desa dengan menyebutku sebagai pembunuh, Todha? Tidakkah kau pernah memikirkan bagaimana perasaanku ketika mendapat kabar bahwa kau telah berbuat serong dengan Nono? Saat kabar perselingkuhan kalian sampai ke telingaku, aku segera mengemasi barang-barang dan meminta izin kepada mandor untuk pulang ke Sumba. Kepadanya kukatakan bahwa salah seorang keluargaku meninggal. Kau tahu, aku terpaksa berbohong, Todha. Padahal, berbohong bagiku adalah sesuatu yang nista. Aku terpaksa melakukannya demi bisa bertemu dan mendapat penjelasan darimu.

Dengan uang yang tidak seberapa, aku pergi ke pelabuhan dan membeli tiket kapal paling murah. Sejak kapal bertolak dari Jawa, kepalaku sudah berdenyut-denyut. Pertanyaan-pertanyaan mulai tumbuh dan memenuhi tempurung kepalaku. Mengapa kau mengkhianatiku, Todha? Bukankah dulu kau yang memintaku untuk lekas menikahimu, hingga keluargaku harus merelakan banyak harta karena belis4 yang ditentukan ayahmu sungguh tinggi? Apakah semua yang kuberikan belum cukup? Saat itu aku hanya duduk di kursi kapal dengan pandangan kosong dan kepala seperti ingin meledak. Tubuhku seperti terombang-ambing di tengah gelombang lautan. Dan selama tiga hari aku seperti kehilangan diriku sendiri.

Saat aku tiba, kau sedang duduk berdua dengan Nono di depan uma bokulu5. Kalian terkejut ketika melihat kedatanganku. Aku memang tidak memberi kabar kepada siapa pun tentang kepulanganku. Sesaat rumah kita telah dikelilingi orang-orang desa. Mereka seperti tengah menyaksikan sebuah upacara adat. Lalu Rato Muana muncul dari balik kerumunan itu. Ia menghampiriku lalu menatap ke kedalaman mataku seperti berusaha menyusuri kesedihan yang menderaku. Aku tiba-tiba merasakan keteduhan memancar dari matanya yang cekung dan membuat bara di dadaku sedikit mendingin. Setelah itu ia merangkul tubuhku sembari membisikkan kata-kata sabar untuk menenangkanku. Ia juga tak henti-hentinya bilang bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan musyawarah. Barangkali ia takut kalau mamarungu6 memasuki tubuhku kemudian membuatku menarik kabeala7 dari sarungnya, lalu menetakkannya ke leher kalian berdua. Tidak, aku bukan manusia bengis yang suka menyelesaikan permasalahan dengan mata kabeala. Aku dididik Rato untuk selalu percaya kepada takdir dan setia kepada adat kita. Dan karena aku menghormati adat, maka aku memilih menyelesaikan masalah kita dengan musyawarah dan meminta Rato untuk memimpinnya.

Baca juga:  Lintah di Kepala Ayah

Kita duduk melingkar di rongu uma8. Kau tentu mengingatnya. Karena kau dan Nono yang telah menimbulkan masalah, Rato meminta kalian untuk berbicara lebih dulu. Saat itu kau duduk di sisi Nono, menggamit lengannya. Dan apakah kau tahu, Todha, betapa remuknya aku saat itu? Kau yang masih sah menjadi istriku justru bergandeng mesra dengan orang lain. Saat itu aku ingin melolong seperti anjing malam. Namun, saat tangan Rato menyentuh pundakku, semua amarahku mendadak mereda. Lalu kau mulai berkata-kata. Hanya kalimat pendek yang kauucapkan, bahwa kau sudah tidak mencintaiku lagi. Dan saat kau meminta kita berpisah, seketika aku merasa seperti Umbu Amahu, leluhur kita, yang kehilangan istrinya sebab diboyong orang lain. Tapi kau lebih kejam. Apa yang menimpa Umbu Amahu adalah karena istrinya mengira bahwa ia telah mati. Sedangkan aku, aku masih hidup, Todha. Aku masih sering mengirimmu pesan dari Jawa. Tidakkah kau pernah berpikir betapa kejamnya dirimu? Dan saat Rato meminta Nono berbicara, aku hampir tidak mendengar apa yang dikatakannya. Tidak sama sekali. Aku telah tenggelam dalam sebuah pusaran yang mengerikan di tengah lautan. Tentu kau melihatku saat itu. Aku tertunduk dengan muka padam dan berusaha membendung air mata. Adakah yang lebih menyakitkan dari berusaha tidak menangis, sedangkan dadamu meledak-ledak dan air mata menyentak-nyentak untuk ditumpahkan?

Aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepalamu, Todha. Mungkin mamarungu telah bersarang di kepalamu dan membisikkan kata-kata jahat agar kau berselingkuh dariku. Pada akhirnya aku pasrah dan kita berpisah. Aku tidak lagi bisa mempertahankanmu. Saat kesepakatan perceraian telah kita ambil, Rato Muana lalu membicarakan tentang belis. Sejujurnya aku tak ingin menyinggungnya sama sekali, Todha. Karena belis yang kuberikan untuk meminangmu dulu adalah wujud cinta kasihku padamu. Bukankah untuk memiliki sesuatu kau perlu mengorbankan sesuatu pula? Dan perempuan adalah makhluk yang berharga. Ditambah perasaan cintaku kepadamu, maka berapa pun belis yang ditentukan akan kutunaikan-meski pada akhirnya membuatku terlunta-lunta.

Namun, saat Rato mengatakan bahwa dahulu Umbu Amahu meminta ganti belis dari Teda Gaiporana yang telah merebut istrinya, pikiranku pun berubah. Jangan kau berpikir kalau Rato memihak kepadaku sebab hubungan kekerabatan. Tentang belis itu adalah murni dari diriku sendiri. Aku menyadari alasan mengapa Umbu Amahu meminta ganti belis adalah perihal harga diri. Seorang laki-laki boleh menjadi budak bagi istrinya karena cinta, tapi ia tidak boleh melupakan harga dirinya yang telah ditakdirkan sebagai nakhoda bahtera. Dan aku tidak ingin kehilangan harga diriku setelah kehilanganmu, Todha. Oleh karena itu, aku mengikuti perkataan Rato. Dan kau ingat, tentang belis itu, Nono menyetujuinya. Ya, orang kaya seperti Nono tentu mampu menggantinya. Bahkan, kupikir ia mampu memberikan dua kali lipatnya jika aku menginginkan. Ketika semuanya telah mencapai kesepakatan, di depan Rato Muana, akhirnya kita berpisah. Saat itu juga kau pergi bersama Nono, meninggalkanku dipeluk kesendirian.

Tidak banyak yang kulakukan setelah perceraian kita. Aku masih sibuk merenungi nasib dan bersendiri dengan kesedihanku. Aku hampir tidak keluar dari uma bokulu kecuali pada fajar dan petang untuk melihat cahaya matahari terbit dan tenggelam. Warna kemerah-merahan yang timbul pada saat-saat seperti itu mampu meredam dukaku untuk beberapa saat. Aku juga tidak menghadiri pesta perkawinanmu. Dan memang aku tak ingin menghadirinya. Melihat kalian berimpitan hanya akan membuat luka di dadaku semakin dalam. Pada saat-saat itu, aku hampir lupa dengan berjalannya waktu. Aku tidak mengingat pergantian hari sama sekali.

Baca juga:  Empat Sajak nasehat - Iklan baris Sajak Duka - Sajak Penyair Hilang - Gelanggang

Selama sebulan aku seperti pelepah kelapa tua yang dipermainkan angin dan menunggu waktu jatuh. Namun, saat fajar, saat aku duduk dan mendengar ombak berderu tenang di bawah langit yang remang-remang, tiba-tiba orang-orang desa berbondong ke pantai. Ya, mereka akan melaksanakan upacara nyale9. Dari keramaian itu, seseorang lalu menghampiriku. Kau bisa menebaknya orang itu, Todha. Benar, ia Rato Muana. Rato menghampiriku dan mengatakan sebuah kalimat bijak, “Semuanya sudah ditakdirkan leluhur. Berdamailah dengan keadaanmu.” Saat itu kesadaranku seketika pulih. Aku mulai merasakan kembali waktu yang merambat pelan. Aku mulai merasakan kehadiran diriku sendiri. Lalu aku ingat, bukankah nyale diciptakan leluhur untuk menghilangkan kedukaan terhadap apa yang terjadi kepada Umbu Amahu? Rato kemudian menawarkan tangannya kepadaku. Aku meraihnya dan bangkit. Dibawanya diriku menuju kerumunan orang-orang desa yang dinaungi sukacita dari leluhur. Di pantai yang airnya menyetubuhi mata kakiku, seorang gadis kecil memberikan wadah nyale kepadaku. Kau tahu, gadis itu cantik dan manis sepertimu, Todha. Aku sempat kembali mengingatmu, tapi dengan segera kuenyahkan bayangan wajahmu dari kepalaku. Aku lalu ikut mencari nyale di bawah riak air laut, merasakan keriangan seperti kanak-kanak. Tiba-tiba aku merasa seperti dilahirkan kembali dari rahim ibuku yang sakral.

Kau benar-benar kerasukan mamarungu, Todha. Diamlah dan dengarkan aku.

Lalu, tibalah saat kita berkumpul di padang untuk melaksanakan pasola. Kami, para pemain, duduk di atas kuda dengan lima sola10 di tangan dan mengenakan kapauta11 seperti kesatria. Kau berdiri di sana, di tepi padang di antara ratusan penonton, meneriakkan nama Nono Malo dengan lantang. Aku melihatmu, Todha. Namun, aku sama sekali tidak mengacuhkanmu. Bagiku, kau telah seperti orang asing, seperti turis-turis yang ada di sampingmu saat itu. Sebelum upacara kebanggaan tanah kita dimulai, Rato telah lebih dulu menasihatiku-karena aku akan berhadapan dengan Nono. “Tidak ada dendam di dalam pasola, atau kau akan mendapat murka dari leluhur,” katanya kepadaku. Lalu pasola dimulai. Bunyi gemerincing lonceng kuda segera menggema di bawah langit yang biru. Kuda-kuda meringik dan kaki mereka berderap. Aku memacu kuda dengan hati-hati dan berusaha membidik lawan sembari mengelak dari sola yang mengarah padaku. Dua kali aku berpapasan dengan Nono dan kami saling melempar sola. Pada pertemuan yang pertama, sola kami lepas dari sasaran. Dan pada yang kedua, sola Nono berhasil mengenai bahuku. Sedangkan, ia berhasil mengelak dari solaku.

Setelah itu aku berusaha menghindar dari Nono. Aku tidak ingin sesuatu timbul dalam diriku dan mengakibatkan dendam di antara kami. Namun, suamimu itu justru selalu mengincarku. Ia beberapa kali melemparkan solanya ke arahku, tapi aku selalu berhasil mengelak. Kau tahu, ia seperti sengaja ingin melukaiku, Todha. Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Apakah ia ingin melukaiku karena takut kalau suatu saat kau kembali mencintaiku? Cinta selalu berubah-ubah, bukan? Namun, dalam sorot matanya, aku seperti melihat sesuatu yang jahat. Barangkali mamarungu telah bersarang di dalam tubuhnya.

Dan peristiwa itu pun terjadi. Saat itu aku sedang mengambil ancang-ancang untuk melemparkan sola kepada seseorang, Todha. Itu sola terakhir di tanganku sebelum seseorang memberikan yang lain kepadaku. Kau masih bersorak-sorai di sana. Aku mendengar lengkingan suaramu menyebut nama Nono. Lalu kulemparkan sola itu dengan kuat. Tombak kayu itu melesat kencang seperti burung elang ke arah kepala sasaranku. Tapi ia berhasil mengelak dengan membungkukkan badannya. Dan sungguh, aku tidak tahu bagaimana Nono dan kudanya dengan kebetulan melintas dan berada di balik orang itu. Solaku yang masih melesat kencang akhirnya mengenai Nono dan menancap di tenggorokannya. Ia kemudian terjatuh, sementara kuda yang ditungganginya melarikan diri. Aku melihat Nono berkelejatan memegangi tenggorokannya. Darahnya membuncah. Kau lalu menghambur dari barisan penonton, berlari sambil memekik menghampiri tubuh Nono yang terkapar. Seketika para Rato menghentikan pasola. Orang-orang kemudian mengerubungi tubuh Nono yang sekarat. Para Rato berusaha menyelamatkan nyawanya dengan membaca mantra-mantra. Namun, tak ada yang bisa mencegah kematian, Todha. Dan akhirnya Nono meregang nyawanya saat itu juga.

Baca juga:  Burung Merah

Kau mengingatnya, bukan, Todha? Jangan tanyakan mengapa dan bagaimana sebuah kayu tumpul bisa mengakibatkan luka semacam itu. Yang perlu kauingat bahwa di dalam pasola ada tangan-tangan leluhur yang bekerja. Apa kaupikir aku tidak berbelasungkawa atas kematian suamimu? Jika kau berpikir demikian, kau salah besar. Saat upacara pemakaman Nono, dengan tanpa sepengetahuanmu, aku datang secara sembunyi-sembunyi. Beberapa kali aku memandangi tubuh Nono bergantian dengan telapak tanganku. Di dalam benakku, aku bertanya-tanya, mengapa takdir leluhur harus bekerja melalui tanganku?

Saat itu aku ketakutan. Aku takut kau berpikir bahwa aku sengaja membunuh Nono dan kau akan membenciku, Todha. Dan ternyata ketakutanku menjadi kenyataan. Kau menyalahkanku atas kematian suamimu itu. Kau menyebutku pembunuh di hadapan orang-orang desa. Tapi orang desa bukan orang bodoh, Todha. Mereka secara turun-temurun telah dididik oleh adat kita yang luhur bahwa semua hal yang terjadi di dalam pasola adalah sebuah takdir. Dan darah seseorang yang mengucur di padang saat pasola, seperti darah suamimu, akan memberikan kesuburan kepada tanah kita ini. Itulah kepercayaan kita, Todha. Lalu, mengapa kau menyalahkanku atas kematian Nono, suamimu? Berhentilah, Todha. Berhentilah menyalahkanku. Kau hanya akan membuat dirimu sendiri terlihat bodoh. Kumohon, berhentilah.

Nah, aku sudah selesai. Sekarang kau bisa berbicara sesukamu, Todha. Namun, sebelum itu, aku undur diri dari hadapanmu karena permintaan Rato Muana telah kutunaikan. Aku tidak ingin berlama-lama di depanmu karena itu akan membangkitkan dukaku yang telah kutimbun dalam-dalam. Aku akan pergi. Selamat tinggal. l

Keterangan:
1. Sebutan untuk kepala atau tetua suku
2. Agama kepercayaan orang Sumba
3. Upacara adat pertempuran melempar lembing kayu
4. Mas kawin
5. Rumah adat Sumba
6. Roh jahat
7. Senjata sejenis parang
8. Tingkat kedua dari uma bokulu
9. Upacara adat mencari nyale/cacing di pantai
10. Tombak kayu berujung tumpul
11. Ikat kepala
________________________________________

Rosyid H. Dimas, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia terpilih sebagai salah satu emerging writer Ubud Writers and Readers Festival 2018. Ia tergabung di sebuah komunitas pencinta buku, Klub Buku Yogyakarta.


[1] Disalin dari karya Rosyid H. Dimas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 5-6 Januari 2019