Mencari Kematian

Karya . Dikliping tanggal 17 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

IA telah terlempar dari kematian. Dari ruang yang penuh dengan napas-napas terakhir, air mata kering yang membekas di sekitarnya menguap untuk memanggil kematian. Ia terlempar dari mobil-mobil besar yang menggaungkan penghakiman, asapnya menusuk-nusuk hati, mengajak siapa pun untuk segera pergi ke akhirat ia terlempar dari sungai-sungai yang mengalirkan darah, menciptakan aroma kemenangannya sendiri. Ia terlempar dari kematian.

TELAH lama ia mencari sesuatu, mencari kematian yang telah membuatnya bersalah begitu hebat. Terlempar dari kematian bukanlah jalan terbaik ternyata, terlempar dari kematian justru membuatnya ingin mati beribu kali lipat, sakitnya bukan main. Setiap hari ia harus memikirkan cara jika ada seseorang yang datang ke rumahnya, lalu menyeretnya dan menagih kematian yang pernah tertunda, ia harus menyusun berbagai cara baru yang bisa menyelamatkannya dari hunusan arit di lehernya.

Ia meraung-raung, meminta siapa pun untuk mengirimkannya seseorang yang bisa melindunginya. Inginnya seorang ibu, agar ia bisa melindunginya di balik tangan kecil dan kerudung panjangnya. Ia bisa masuk ke dalam kerudung panjang seorang ibu agar tidak terjun ke ke-matian. Ia tidak perlu berlari karena mereka tidak akan membunuh siapa pun yang berada dalam lindungan kerudung ibunya. Meskipun anaknya tidak berkerudung.

Kalau tidak ada seorang ibu, ia memikirkan untuk memiliki seorang ayah saja. Seorang ayah yang akan membangunkan rumah dengan kubah di atasnya. Ia dapat tinggal di dalamnya, tidur di atas seprai berwarna hijau atau merah, mem-bangun sendiri kebahagiaan yang ia impikan. Semua anak yang tinggal di dalam rumah berkubah tidak akan jatuh pada kematian, walaupun anak itu tidak tahu apa tujuan ayahnya menyimpan kubah di atas rumah.

Namun, seorang ibu dan ayah ter-lalu sulit untuk didapatkan, apalagi untuk seorang anak yang terlempar dari kematian. Tidak akan ada yang mengakui siapa pun yang terlempar dari kematian sebagai keluarganya, sebab mereka terlalu takutjika nanti kematian menjemput mereka pula.

Ia, yang terlempar dari kematian, masih bersembunyi di ruang kesunyian dan ketakutannya. Ia menulis ribuan puisi dan doa, ia menyesali kenapa ia harus hidup di tempat yang bahan pokok pangannya nasi, ia hanya ingin menolong sesamanya, tetapi ia yang malah terjerumus ke dalam jurang tanpa kemanusiaan. Ia menangis dengan sejadi-jadinya, ia menyesali semuanya. Ia menghapus bekas air matanya dengan air mata baru. Harus bagaimana lagi, tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis.

Ruang kesunyian semakin mengimpitnya, pori-pori dari din-dingnya membisikan angin yang bercerita tentang kronologis kema-tian. Ia meraung-raung kembali, sulit sekali baginya saat ini, bahkan do-ngeng sebelum tidur pun bercerita tentang bagaimana perihnya kema-tian seseorang yang terlempar dari kematian.

Keadaannya semakin parah, ia tidak bisa tidur saat ini, padahal ia selalu berharap bisa tidur nyenyak dan ketika tersadar ia sudah berada di alam lain dan terlepas dari kema-tian yang mengejarnya. Walaupun ia tahu, ia telah ditangkap kematian, ia tidak merasakan sakitnya.

Ruangan semakin menyempit membuat otaknya semakin sakit. Ia berpikir untuk segera pergi dan berlari ke mana pun yang tidak memiliki ruang agar ia dapat berna-pas dengan baik dan ia dapat berpikir lebih jernih untuk mencari seorang ibu atau seorang ayah. Ia berdiri, menghempaskan ruang yang menjepitnya, dinding-dinding menusuk hatinya, membuatnya sakit karena ketakutan. Akan tetapi, ia tetap menghempaskannya, ia berhasil lolos. la berlari meninggalkan ruang tempatnya bersembunyi. Ia berdiri di atas bukit, meneriakkan amarahnya agar terbang bersama angin yang selalu menghantuinya dengan bisikan-bisikan menakutkan.

Ia melihat sekelilingnya, hutan yang penuh dengan aroma kematian pula, lagi-lagi, kematian ada di seki-tarnya, tetapi saat ini ia merasa lebih bebas. Ia melihat kematian hanya tinggal jejak saja. ia melihat bayang-bayang temannya yang diseret, meronta-ronta, ditekuk, lalu disem-belih hingga kepalanya menggelin-ding ke sungai, sementara si penja-gal berbicara lagi, lagi, dan lagi sambil tertawa. la melihat bangkai temannya dari atas bukit, bangkai-bangkai yang mengambang di aliran sungai darah, kepala dan badannya terpisah berjauh-jauhan.

Ia masih terus melihatnya dari atas bukit, aliran darah itu mengalir ke sawah-sawah. Di sawah itu, ia melihat dirinya sendiri dan teman-temannya sedang bersemangat be-kerja, tanpa mereka sadari bahwa kematian sedang menuju ke sawah-nya. Darah-darah sudah menyentuh kaki ia dan teman-temannya, namun tak ada satu pun yang sadar akan kematian itu.

Mencari Kematian

Ia melihat dirinya lagi, ia melihat dirinya diringkus oleh banyak orang, diseret dengan paksa, ia melihat dirinya pergi meninggalkan sawah dan hilang dari pandangannya, lalu angin berbisik, angin mengajak matanya terbang menuju sebuah ruang, ruang di mana ia dikumpulkan untuk menunggu pergiliran pembunuhan. la meme-jamkan matanya, ia tidak ingin meli-hatnya lagi, ia tidak ingin melihat dirinya menunggu hal yang menya-kitkan dan menyesakkan.

Di atas bukit ia menangis, ia bersimpuh, sesegukan dengan hebat, lalu tertawa. Terlalu lucu un-tuk dirinya menakuti hal yang sudah berhasil ia lalui.

Angin semakin jahat, angin terus menceritakan kisah buruk, kisah pa-ling kelam dalam hidupnya. Ia tidak sanggup membayangkannya lagi, tetapi angina terus membawa ter-bang matanya, ia menutup matanya, menutup matanya dengan kuat menggunakan tangan keringnya, ia tidak ingin matanya dibawa berke-lana oleh angin, angin tetap meng-ajaknya, ia tidak bisa menahan matanya lagi, ia memutuskan untuk mencungkil matanya sendiri, agar ia tidak merasa kesakitan lagi melihat dirinya sendiri kesakitan. Matanya ia keluarkan dengan paksa, lalu menggelinding dari atas bukit menu-ju sungai darah yang pernah ia lihat.

Ternyata, sarafnya masih ter-hubung, matanya yang terjun ke dalam sungai justru melihat semua bangkai teman-temannya di dasar sungai, ia semakin menangis, tapi saat ini ia tidak bisa mengeluarkan air mata lagi, matanya sudah hilang dan penuh oleh mayat

Ia memaksakan agar otaknya tidak bekerja, agar sarafnya terhenti, tetapi sulit sekali menghentikan sesuatu yang terlindungi oleh sesuatu yang amat kuat. Ia menjerit lagi, menyesal telah menggelindingkan matanya ke dalam sungai.

Sesuatu yang bisa ia andalkan hanya tinggal kaki dan tangannya saja. ia berdiri di atas bukit, ia tidak akan bersimpuh, ia mengambil apa pun yang terpegang pertama kali oleh tangannya, ia mengambil batu besar, ia menekuk kakinya sendiri, ia ditekuk di atas bukit, ditekuk oleh kakinya sendiri, ia mengambil batu itu dan memaksa memecahkan kepalanya agar otaknya tidak berfungsi lagi dan tidak akan mendengarkan cerita buruk yang saat ini dikabarkan angin. la terus memukul kepalanya, menghan-curkan kepalanya hingga darah berlumuran dan kakinya yang tertekuk mulai lemas, dan angin membawa raganya terbang. Angin mengajaknya pergi menuju apa yang ia rindukan, kematian.***


[1] Disalin dari karya Faris Rega
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 16 Desember 2018