Mencari – Mata Coklat – Telepon

Karya . Dikliping tanggal 31 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Mencari

hari-hari tanpa puisi
serasa hati mati suri
ketika hari kehilangan mata
maka matahari menjadi buta
kemanakah mata?
Yogyakarta, 3 September 2014

Mata Coklat

apa bedanya sebatang coklat dengan
sepasang matamu yang
coklat? mengerjap-ngerjap
menerbitkan selera matahari lelaki yang
memandang penuh sedap, yang
panasnya tak ingin lelehkan mata coklat itu
hingga ngalirkan hati menjadi
kecoklatan, keruh seperti sungai, sayang
tersebab, lebih lezat mata coklat itu
menjelma permen, memaniskan rasa
kau aku yang tidak rosa
untuk menolak derasnya rindu
jangan katakan, cemburumu adalah
ketidaknormalan yang kelabu
lantaran jiwa wanita hanyalah
tahu bahwa lelaki itu adalah kebaikan
dan kebaikan tidaklah membutuhkan wajah
tersebab hati per
-empuan telah
leleh bagai mata coklatmu yang
kini mencair airmata, tetapi …
tidak untuk yang bernama kesedihan
airmata dan mataair
begitu tipis beda beningnya
tetapi yang aku tahu: mata, coklatmu
antara mengeras bagai batang
dan mencair bagai air
keduanya telah memenuhi
ruang waktu kekasih yang hilang batas, lantas?
apa bedanya sebatang coklat dengan
sepasang matamu yang
coklat? mengerjap-ngerjap
panasnya matahari lelaki
berpijar melelehlah seluruh diri
Yogyakarta, 31 Oktober 2014

Telepon

— gus munif

di pagi itu
aku dan kasihku diayunkan oleh waktu
di kabut itu
guruku menelpon hatiku
tetapi hatiku terlanjur berlumpur
tetapi telingaku seolah tuli
telepon guruku kuulur
-ulur
tidak ada jawaban, lalu mati
pada panggilan yang ketiga
jiwaku masih juga terjaga
telepon guruku kuangkat
tetapi tubuhku terikat oleh maksiat
di beranda yang bernama dunia
lalu lalang ilalang dan orang
sama jalangnya, sama gila
lalu lalang mobil menerjang
debudebu menebalkan wajahku
debudebu membatukan aku
debudebu menjadikan aku
debudebu merindukan aku
kepada sebuah cermin besar
sekalipun aku harus kesasar
di perbukitan yang
megah dan menghanyutkan
telepon masih juga bicara
guruku masih juga berjaga
dengan wasiat 40 fatihah
aku terperangah, lelah
kepada sebuah cermin besar
sekalipun aku harus kesasar
di perbukitan yang
megah dan menghanyutkan
dari perbukitan inilah
debu kau aku kelak
semoga berubah
menjadi serpihan cahaya
Purwokerto, 20 November 2014
*) Abdul W achid BS,lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur, alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM, dosen di Sekolah Tinggi AgamaIslam Negeri (STAIN) Purwokerto, dan sekarang sedang studi Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo. Buku antologi karyanya, Rumah Cahaya (1995), Ijinkan Aku Mencintaimu (2002), Tunjammu Kekasih (2003), Yang (2011), Kepayang (2012), Hyang (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abdul W achid BS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 31 Maret 2015